Serentak Bak Regam

Planet Alumni SMA Titian Teras

bacalah..

Planet IATT ini adalah aggregrator dari blog - blognya anggota IATT. Disini semua tulisan - tulisan para anggota IATT tertuang

February 04, 2012

Yows, The Legendary of...

Edensor

by Yows (noreply@blogger.com) at February 04, 2012 06:09 AM

Jikamenjejakkan kaki di tanah Inggris, maka salah satu tujuan wisata yang sudahdirencanakan sejak jauh-jauh hari seorang pembaca karya-karya Andrea Hirataadalah Edensor. Edensor adalah desa yang dideskripsikan Andrea Hirata di novelLaskar Pelangi dengan kutipan-kutipan dari buku If Only They Could Talk karyaJames Herriot, desa yang diceritakan menjadi tujuan perjalanan Ikal di bukuEdensor. 

Edensorberada di wilayah Peak District, dekat kota Sheffield. Perjalanan dari Leeds menujuSheffield bisa ditempuh dalam waktu satu jam dengan kereta yang tiketnya seharga7 Pounds. Bus yang melewati Edensor bisa didapat di Stasiun Bus yang jaraknya limamenit jalan kaki dari Stasiun kereta Sheffield. Frekuensi bus adalah setengahjam sekali pada hari kerja dan hanya sejam sekali pada hari libur dengan tiket pulang-pergi5 pounds.  

Perjalanandengan bus yang berhiaskan pemandangan kota-kota kecil yang di latarbelakangibukit dan lembah kehijauan berlangsung selama satu jam. Jalan berkelok-kelok persisseperti dalam deskripsi buku Edensor. Semakin lama ditempuh, semakin kota-kotatersebut beralih menjadi desa, semakin kecil, semakin hijau. 

Bus Stop at Chatsworth
Busberhenti di pemberhentian Chatsworth, dimana terdapat objek wisata Chatsworth House,adalah rumah besar tempat tinggal Dukes of Devonshire. Tempat yang menjadisalah satu setting adegan di film Pride and Prejudice, film yang diangkat darinovel berjudul sama karya Jane Austen. Bangunan kuno megah yang dikelilingidengan taman dan air mancur yang indah serta tetumbuhan menjalar yang berbentuklabirin besar merupakan daya tarik wisata utama di sekitar tempat ini. 

Chatsworth House
Namun,bagi orang Indonesia pembaca Laskar Pelangi, menemukan Edensor tetap merupakanprioritas utama, tak tergantikan. Dari Chatsworth House, Edensor bisa dicapai denganberjalan kaki melalui sebuah bukit. 

Autumn Leaves
Sejauhmata memandang terhampar landscape hijau diantara pepohonan dengan dedaunanyang memerah menjelang musim gugur. Hidup dari rerumputan hijau itu beribu dombayang bertebaran dan menjalani hidup dengan damai, tanpa beban, hanya perlumakan. Orang-orang yang memiliki penyakit sulit tidur sebaiknya segera datangke sini dan mulai menghitung domba-domba tersebut. 

count the sheep
Setelahberjalan menelusuri jalan setapak berbatu yang menembus bukit, berpapasandengan beberapa turis lokal yang ramah, akhirnya sampai di sebuah gereja denganrumah-rumah di sekelilingnya. Papan nama gereja itulah satu-satunya buktiformal bahwa ini adalah Edensor. Gerbang desa berukir ayam jantan dan papannama Edensor tak ditemukan, sehingga menerbitkan niat di dalam hati untukmembuat sendiri papan nama itu di rumah dan memasangnya di salah satu jalan kearah desa, lalu berfoto di sana. 

Edensor
Edensor Sign
Namundemikian, suasana desa, hawa sejuknya, udara yang sangat segar sehabis hujan, bebukitanyang menghampar tak beraturan, sungai berair tenang yang berliku membelah ladang,rumah-rumah petani yang terbuat dari batu berwarna kelabu, tanaman bunga dipekarangan dan pagar, aneka pohon apel yang bertebaran di antara rerumputanhijau. Semua terangkai dengan bingkai langit biru dan sekelompok awan sisahujan yang berarak mengejar burung-burung yang terbang bebas, melengkapigambaran indah yang menciptakan suasana damai. Edensor, sungguh tempat denganpesona surgawi yang dapat menentramkan hati, layaknya seorang kekasih. 

farm house
Jikamemiliki kekasih, maka tempat ini akan menghadirkan keinginan untuk membawanyaduduk dan bercengkrama di bawah salah satu pohon apel itu, di musim dimanabunga-bunga bersemi, mekar berwarna-warni yang harum semerbak mewangi.  

take you to there
Jikatelah berpisah dengan kekasih, maka tempat ini akan menghadirkan berbagaipengandaian bahwa mesin waktu bisa ditemukan untuk kembali ke masa lalu, sekedarmenculiknya dan membawanya duduk dan berbagi cerita di bawah salah satu pohonapel itu, di musim dimana bunga-bunga sedang berseri sehingga dapat membuatcinta bersemi kembali. 

the river knows
Jikamempunyai domba, maka tempat ini akan menghadirkan pengandaian untuk membawadomba itu dan melepasnya untuk bergabung dengan domba-domba lain yang sedang berbahagiamemakan buah apel yang jatuh sebagai kudapan diantara rerumputan hijau dantanaman berbuah ceri. 

shaun the peaceful sheep
Jikahanya seorang diri, tidak punya kekasih, tidak punya mantan kekasih, dan tidakpunya domba, betapapapun menyedihkannya, cukuplah duduk berdiam diri di bawahsalah satu pohon apel itu, dengan kemungkinan menemukan teori gravitasi baru, yangkabarnya ditemukan Newton karena di ilhami kejatuhan buah apel itu. 

to find gravity theory
Edensor,selalu akan menjadi sumber dari berbagai inspirasi. Menjadi inspirasi bagibanyak orang Indonesia untuk berkelana ke negeri Britania Raya, menjadiinspirasi untuk menulis novel dan film romantis, menjadi inspirasi untukmenemukan teori gravitasi, sebagaimana juga menjadi inspirasi untuk menuliscerita perjalanan di blog ini. Suatu saat di musim semi, kita akan kesana lagi. 

“Sure Love, It’s Edensor.” 

***

February 02, 2012

Yows, The Legendary of...

seribu kata untuk ayah

by Yows (noreply@blogger.com) at February 02, 2012 08:00 PM

Ayahku, sekarang sudah berpulangke tempat yang dituju semua manusia. Rangkaian peristiwa yang mengiringikepergiannya berjalan begitu cepat, sehingga kami sekeluarga terkadang masihmerasa heran, seperti sedang mengalami mimpi buruk dan berharap akan adaorang-orang yang terjaga yang segera membangunkan.

Ayahku, semasa hidupnya adalah orang yang polos dan sederhana. Beliau selaluberkata-kata dengan lugas. Memaksudkan apa yang dia ucapkan dan mengucapkan apayang dia maksudkan. Selalu mengajarkan kejujuran dan kerendahan hati. Seorangyang terkadang tak terlalu banyak bicara, tetapi sering mengajak kamibercanda-tawa.


Ayahku, semasa hidupnyaseorang yang selalu memiliki teman di mana saja, kemana kami pergi selalu adasatu dua orang yang akan bertegur sapa dengannya, selalu ada satu dua orangyang akan diajaknya berbicara. Selalu ada orang-orang yang memandang sukapadanya dan bercanda-tawa. 

Ayahku disamping pekerjaannya yang baru setahun menjalani pensiun, telahdidaulat menjadi seorang ketua RT seumur hidup oleh para tetangga, tentu sajabukan karena beliau sangat cocok untuk jabatan itu, tapi sejak beliau terpilih takdirelakan untuk melepas jabatannya dan tak ada yang mau bersusah-susahmenggantikannya. Seperti para pemilihnya memilih cuci tangan. Sehingga panggilanIbu RT masih melekat pada ibu sampai jauh hari setelah kepergiannya.

Ayahku, terlihat seperti sudah ingin memiliki cucu, selalu mengajak bermainanak-anak yang datang ke rumah. Sesekali menyindir abangku kenapa tak segeramenikah, juga menanyakan padaku apakah tak ingin segera punya anak. Aku yangtak terlalu menanggapi dan belum sanggup menyanggupi perkatannya dulu.

Ayahku, senang mendengarkan lagu-lagu berirama nostalgia, lagu-lagu berbahasajawa atau Qur’an Syeikh  Gomidi di waktusenggangnya. Sesekali mendendangkan lagu-lagu itu dengan cara yang sangatkurindukan, sesekali mengikuti melantunkan bacaan-bacaan Qur’an. Sekali waktudia akan menanyakan padaku ini itu ini itu tentang permasalah agama yang sedangdikajinya, yang kujawab dengan itu ini itu ini sepengatahuanku. Sesekali diaakan menanyakan apa-apa yang ku kerjakan, yang tak selalu ku jawab dengan carayang benar.

Ayahku, dalam pada itu selalu dalam kondisi sehat. Badannya yang berisi, yangselalu mengisi waktu senggang dengan berkebun. Beliau yang mulai menceritakan mimpinyauntuk kembali ke desa tanah kelahirannya yang katanya sangat subur dan hijau,untuk menjadi seorang petani. Sampai kami menyadari, ternyata dalam fisik yangterlihat sehat itu terdapat sebuah penyakit yang berbahaya, yang sudahmenggerogoti lima tahun lamanya. 

Ayahku, ketika keluar dari ruang dokter bersama ibu, terlihat tertekan karena diagnosetumor ganas itu. Namun dalam perjalanan pulang beliau hanya mengajak kamibersenda gurau dan tertawa-tawa, sehingga tak terasa pedih lagi hati kami akibatberita itu. Sehingga bisa kami tersenyum meski sebelumnya mata memerah. Sehinggakami belajar bagaimana tegar terhadap suatu masalah.

Ayahku, akhirnya berjuang dengan mencari berbagai pengobatan, tapi tak sabarmenunggu hasilnya karena tekanan perasaan sakit itu. Kejadian-kejadian rumityang sebegitu rupa sehingga pada akhirnya membuat kami menyerahkan semuanyapada ilmu kedokteran modern yang pada kenyataannya selalu mengutamakan opsioperasi dibanding yang lainnya.

Ayahku, akhirnya dirawat di rumah sakit pusat negeri ini. Sampai suatu waktu datang sebuahsurat persetujuan operasi yang terpaksa ayah dan aku tanda tangani untukmenerima semua resiko yang bisa terjadi. Hingga akhirnya beliau terbaring lemahtak bisa berbicara lagi setelah operasi yang kelihatannya berhasil itu. Hinggabegitu banyak dan macam obat yang harus diterimanya. Sampai ginjalnya gagalberfungsi, sehingga racun menyebar diseluruh tubuhnya. Air matanya menetes danhanya menggeleng setiap kali ibu usap. Sehingga kami yakin ada dosanya yangdiluruhkan karena perjuangan atau kesabarannya menahan perasaan sakit itu,selama dua bulan di rumah sakit itu.

Ayahku, seolah-olah hanya memikirkan kami pada masa terakhirnya, setelahbeberapa hari dinyatakan kritis itu. Sehingga ketika ibuku mengatakanmerelakannya, beliau baru bersedia pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya.Untuk menghilangkan sama sekali rasa sakitnya, dalam keadaan tenang. Selamamasa itu ibu menjaga dan memaninya tanpa pernah merasa lelah, tanpa pernah satukalipun mengeluh, juga tak pernah menunjukkan rasa putus asa akan sebuahkesembuhan.

Ayahku, mungkin tak tau isi pikiranku, bahwa aku merasa tak mungkin bisamenjadi seorang dokter yang layak untuk merawatnya. Yang sangat menghargai artisebuah nyawa. Yang bisa menganggap seorang pasien seperti keluarganya sendiri. Yangbersedia meluangkan waktu untuk berbicara seperti seorang teman. Yang tidakmembedakan seorang pasien berdasarkan uang yang dimiliki. Yang bersediamemberikan senyum yang tulus bukan karena pekerjaan. Yang bisa memilihkata-kata agar tidak menjadi bualan karena berusaha menentramkan dan tidak pulamenyakiti karena menyampaikan kebenaran. Yang tidak memberi solusi denganmemberikan obat bagi setiap gejala secara parsial. Yang memahami ada faktorpsikis dalam setiap tindakan fisik. Yang tidak menganggap memahami probabilitas,dan menyampaikannya dengan layak, sebagai kemewahan.

Ayahku, mungkin tak mengetahui perasaan anak-anaknya. Perasaan yang campur adukkarena kehilangan. Yang sedang belajar menerima setiap musibah meskikelihatannya selalu bertambah. Yang berusaha memandang semua dari sudut palingbaik yang mungkin dilakukan. Yang terkadang merasa menyesal karena belum bisamempersembahkan apapun yang terbaik seperti yang beliau inginkan.


Ayahku, mungkin tak bisamelihat. Masa-masa ketika aku memeluk dan menenangkan kakak perempuannya yangmeratapi kepergiannya. Masa-masa ketika aku menenangkan ibuku yang menangisikepergiannya. Masa-masa ketika kami terduduk lesu dan tak berdaya mengubah satudua tindakan di masa lalu. Masa-masa ketika mereka melamun sejenak ketikamembicarakannya. 

Ayahku, tentu tak bisamelihat rumahnya yang ramai didatangi oleh para tetangga selama seminggu penuh setelahkejadian itu. Tamu-tamu yang datang sampai memenuhi halaman pada hari ke-empatpuluh sejak kepergiannya. Orang-orang yang membacakan ayat suci Al Quran danmendoakan kebaikan baginya. Pak Lurah kenalannya yang selalu datang di setiapkesempatan. Teman-teman dekatnya yang turut menyesal merasa kehilangan. Anaknyayang berkelimpahan air mata saat mengingat dan mendoakannya.

Ayahku, pasti mengetahui betapa sempurna dan mulianya agama kami. Bahwa ketikabuku hidupnya telah ditutup masih akan ada amal jariyah, ilmu yang bermanfaat,dan anak yang sholeh yang bisa menambah catatan kebaikannya. Bahwa suatu saat akanada masanya ketika dia dan keluarganya bisa dipertemukan kembali. 

Ayahku, mungkin bisamerasakan kehadiran anak-anaknya di sekitar pusaranya. Yang terkadang berbicarasendiri seolah-olah beliau ada dan mendengar, yang dalam bicaranta sering mendadak terbata dengan mata berkaca-kaca, yang hanya bisa menyampaikanrindu dengan taburan bunga-bunga yang basah, yang hanya memperlihatkan baktidengan membersihkan rumput-rumput liar, yang hanya menyampaikan salam dengandoa dan harapan.

Ayahku, boleh jadi bukanlah ayah terbaik di dunia. Tapi tentu saja beliau tetapayah terbaik untukku, yang telah melimpahkan kasih sayang, perhatian, pengetahuan,harapan dan segala yang dia punya kepada anak-anaknya. Yang menatapanak-anaknya dengan perasaan senang dan bangga, meski tak selalu mengatakannya...


Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Ampunilah kesalahan dan kekhilafannya, dengan ampunanyang menyeluruh
Limpahkanlah rahmat kepadanya, dengan rahmat yang luas
Peliharalah dia dari siksa kubur dan azabnya dengannikmat, rahmat, cahaya, dan keindahan hingga hari berbangkit nanti.

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Jadikanlah Al-Qur’anul Karim dan amalnya sebagaipenghibur di alam kuburnya,
Sebagai pemberi syafaat di hari kiamat
Sebagai sinar, naungan dan penunjuk jalan pada hariperhimpunan semua makhluk
Sebagai pemberat amal baiknya pada hari penimbangan
Sebagai cahaya dan penuntunnya pada shirath
Sebagai penutup dan penghalang terhadap siksa neraka
Dan sebagai temannya di dalam surga.

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Engkaulah sebaik-baik pemberi peristirahatan,sebaik-baik pemberi nikmat, sebaik-baik pemberi rahmat.
Kami memanjatkan doa dengan penuhpengharapan kepadamu agar dia senantiasa mendapatkan syafaat, nikmat, danrahmat.

Amin, Yaa Rabbal’alamin

January 31, 2012

Yows, The Legendary of...

A Happy New Year (Sebuah Riset di Edinburgh)

by Yows (noreply@blogger.com) at January 31, 2012 10:18 PM

LATAR BELAKANG
Metode perpisahan dengan tahun lama dan penyambutan tahun baru biasanya identik dengan pesta kembang api. Sebuah pernyataan yang mencurigakan, yang perlu dibuktikan secara ilmiah kebenarannya. Benarkah bahwa tahun baru itu dirayakan? Benarkah bahwa perayaannya melibatkan kembang? Dan apa hubungannya semua itu dengan api? Berbagai spekulasi beredar sehubungan dengan masalah ini.

Ada dua pilihan cerdas untuk membuktikan kebenaran keberadaan kembang api di malam tahun baru di Britania Raya, berdasarkan informasi dari data sekunder yang beredar terbatas, pertama di London dan kedua di Edinburgh. Atas pertimbangan bahwa huruf E pada Edinburgh mendahului hurul L pada London dan keharusan memperhatikan urutan itu di halaman daftar pustaka, maka Edinburgh menjadi skala prioritas.

TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti kebenaran keberadaan perayaan kembang api di Edinburgh, dengan batasan biaya yang semurah-murahnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

METODE PENELITIAN
Dalam rangka menjawab tujuan penelitian yang mulia itu, yang tak semua penelitian bersedia menjawabnya, maka diperlukan sebuah pengamatan, pencerapan iderawi, pengolahan data secara kualitatif dan pengambilan kesimpulan secara empiris. Untuk sebuah pengamatan yang obyektif, diperlukan beberapa orang yang berbeda-beda tetapi tetap satu jua untuk menuju ke lokasi studi kasus ini, maka berangkatlah kami berempat ke Edinburgh. Tiga orang penghuni pent house apartemen balti: Tama, Andyka, dan Kiki beserta seorang bintang tamu asal Surabaya Om Irfan.

 
Figure I Research Team Member

Perjalanan dari Leeds memakan waktu cukup panjang, bahkan tak memandang fakta bahwa itu yang mengantarkan kami adalah sebuah mobil Ford Vista baru yang pintu sampingnya cuma ada dua. Mobil cantik berwarna biru ini cukup canggih, saking canggihnya dengan sedikit pencet kiri kanan jadi bisa berbicara, setelah terlebih dahulu mengeluarkan dering telepon. Tidak hanya itu, kecepatan tinggi terasa rendah saja baginya. Untuk mencegah mobil yang  biaya sewanya murah namun berharga tak terjangkau rekening tabungan itu tergores dan kemungkinan susah mencari Ketok magic atau tambal ban, maka kami menambahkan biaya asuransi.

 Figure II Speed CameraSejak awal berangkat, kami mencurigai bahwa kegiatan penelitian ini telah mengundang rasa ingin tahu dari banyak pihak, termasuk paparazzi yang biasa mencari foto-foto bintang tenar. Sehinggalah di sepanjang jalan terlihat kamera-kamera yang memantau kegiatan kami, saat dekat kamera otomatis langsung kita berikan senyum termanis dan ekspresi jari piss. Namun lama-lama karena terlalu banyak kamera di pinggir jalan, akhirnya kami tak acuhkan lagi, biarkan saja mereka mendapatkan foto kami.

Untuk menjadi penunjuk arah, dipergunakan GPS dari sebuah device Samsung Galaxy X2 milik Kiki device “luar biasa canggih yang dibeli dengan benefit maksimal dan harga minimal” (Untuk seorang Kiki the modern devicer, kata-kata dalam tanda kutip itu, tidak bisa dipisahkan, bahkan dengan alasan apapun). Jalanan di Britania raya tidak terlalu berliku seperti jalan menuju puncak gemilang cahaya dimana bertebaran aa vila, sejauh dari Leeds sampai ke Edinburgh terlihat begitu. Dengan papan informasi yang jelas, jalan-jalan besar Motorway yang seperti jalan Tol di Indonesia ini bisa dilalui dengan gratis saja, dengan free flow speed.

Bosan dengan motorway, berbeloklah mobil ke jalanan kecil. Sebentar-sebentar terlihat rambu kurangi kecepatan ketika memasuki kota-kota kecil, berikut tanda bahwa kamera siap mengabadikan. Sebenarnya perlambatan itu bukan tanpa tujuan, karena berdasarkan standard perencanaan jalan raya, sudah diperhitungkan bahwa ini adalah kecepatan maksimum yang sesuai dengan keadaan cuaca, lalu lintas, alignement, aspek geometri jalan serta layout perkotaan. Kota-kota kecil di tengah jalan ini sungguh sangat kecil, memadat di pinggir jalan, mirip dengan kota penuh zombie di film Shaun of the Dead, di kanan kiri terlihat bar-bar kecil dengan kedip lampu warna warni yang juga sepi mencekam.
 
Figure III Shaun of the Death City

Untuk memeriahkan suasana malam, maka diputarlah lagu-lagu mellow yang mengingatkan akan kampung halaman dari IPhone Andyka yang dengan jaringan Bluetooth disambungkan ke speaker mobil. Lagu Michael Buble Home dan Dewa Kangen menjadi hits, membuat Kiki the modern devicer menyanyi-nyanyi penuh penghayatan, rindu kampung halaman, rindu yang dirindukan.

Akhirnya saat-saat memasuki Scotland segera tiba. Hati berdebar-debar rasanya, menunggu gerbang besar di tengah jalan yang bertuliskan selamat datang di Scotland, menunggu tulisan “Scotland berhati Nyaman.” Atau yang semacam “Edinburgh kota berprestasi.” Tentunya diikuti tulisan “Hati-hati anak isteri menunggu di rumah.” Namun harapan itu harus sirna, di pinggir jalan hanya ada papan nama kecil bertuliskan “Welcome to Scottish Borders.” Sangat kecil, sehingga tidak layak dijadikan objek berfoto, padahal berfoto di papan nama itu merupakan salah satu legalitas dari penelitian ini. Sambutan yang agak mengecewakan dari pemerintah kota, mengingat sudah jauh perjalanan kami tempuh untuk meraih perbatasan ini.
 
Figure IV Border Sign

DATA DAN ANALYSIS
Akhirnya sampai juga di Edinburgh, kota yang merupakan salah satu World Heritage. Edinburgh merupakan salah satu kota yang berdasarkan survey, paling layak ditinggali di UK, dimana terdapat Edinburgh University yang terkenal dengan tokoh filsuf sekaligus ekonom nya Mr. Uadam Smith. Dimana JK Rowling biasa duduk di sebuah kafe dan menulis Harry Potter. Penduduk kota ini ternyata sesuai rumor yang beredar bahwa makin ke utara dari Inggris English dialeknya semakin semakin totok, asing, seolah-olah diucapkan dengan kecepatan suara yang tidak terdeteksi manusia Indonesia biasa. Daripada menanyakan alamat penukaran tiket Homanaya ke penduduk local, lebih efektif cari di web site dan gunakan GPS.

Edinburgh merayakan perpisahan tahun lama dengan serangkai acara Homanay Festival, mulai dari Torchlight procession, Hogmanay Stret Festival, Fireworks, hingga Loony Dook. Untuk membatasi lingkup penelitian, kami hanya mengikuti Street Festival dan Fireworks, yaitu sebuah jalan dari ujung ke ujung dimana terdapat berbagai panggung yang menampilkan performa artis-artis lokal sambil menunggu pertunjukan kembang api dari arah Castle. Untuk masuk ke festival ini harus membayar tiket masuk 15 pounds, demi tujuan mulia penelitian ini, biaya itu bisa ditolerir. Menjelang acara, Om Irfan memberikan peringatan untuk berhati-hati, bahwa biasanya di acara malam tahun baru ini, banyak pelukan gratis, Kiki menjadi lebih antusias, terlihat sudah lupa bahwa tadi baru saja menyanyikan lagu kangen dengan mendayu-dayu.

Padat merayap para penonton yang jumlahnya sampai 80ribuan beredar dari ujung ke ujung, dari satu panggung ke panggung lain di sepanjang jalan, beragam warna-warni rupa-rupi suku bangsa dan bahasanya dari berbagai benua, sebut saja nama satu Negara, sepertinya ada semua di sini, tumpah ruah di jalanan.

 Figure V a man and his bottleSuhu udara sekitar 3 derajat saja, entah itu celcius, atau lintang utara, atau lintang selatan, kurang paham juga. Karena keterbatasan dana dan upaya, tidak ada ahli cuaca atau ahli geografi dalam tim peneliti. Dalam udara yang sedingin itu, orang-orang terlihat membawa berbagai macam botol minuman, yang konon katanya bisa menghangatkan badan.

Penelitian ini hanya berlaku untuk suhu itu, karena jika suhu udara 30 derajat seperti di Jakarta, hasil penelitian ini tidak akan berlaku. Namun demikian, kami tak lupa pula membawa botol minuman, coke besar yang bisa membuat badan bertambah dingin, plastik mereknya disobek agar saat meminum bisa menimbulkan efek lebih dramatis seperti orang-orang sekitar.


 
Figure VI Mr Tama, The Ladies and their bottles

Detik-detik tahun baru, setelah semua orang menghitung mundur sampai nol, akhirnya roket-roket meluncur ke udara dan meledak dengan berbagai intensitas warna-warni rupa rupi kembang api, yang berlansung sekitar enam menit.
  
Figure VII FireWorks by Amateur Photographer

Oke, mungkin gambar ini kurang memuaskan. Berikut ini gambar yang lebih indah, dengan penerapan exposure yang tepat pada kameranya.
 
Figure VIII FireWorks by Professional Photographer

Setelah kembang api berakhir, orang-orang saling mengucapkan happy new year dan heboh berpelukan dengan pasangan maupun teman di sekitarnya. Kami hanya bergantian bersalaman, sambil menyaksikan sekeliling. Momen dimana menyaksikan hal-hal terindah dengan perasaan sepi karena tak ada orang spesial untuk berbagi.

Sing.. hening sejanak.. beberapa pertanyaan mengudara.. mana? ga ada pelukan gratis?

Ketika itulah sekonyong-konyon terasa pelukan  seseorang dari belakang. Seseorang.. sayangnya.. pria.. sayangnya.. seraya mengucapkan kalimat.
“You’re my favourite man, happy new year.” Ah, sedih rasanya.. ya sudahlah.. aku pun berbalik, balas menyalami, memeluknya dan mengucapkan.
“Happy new year, mate.”
  
Figure IX You’re my favourite man..

Lalu bergantian menyalami, mengucapkan happy newyear, dan memeluk rombongan teman-temannya. Lalu kami berdelapan, empat indonesian dan empat Scottish saling berpelukan berombongan sambil mengucapkan “HAPPY NEWYEAAR!” sambil melompat-lompat seperti anak kecil kegirangan. Sebuah momen dimana dinding-dinding pertahanan dan perbedaan-perbedaan melebur menjadi rasa bersahabat, dekat, hangat, bersaudara  bahkan dengan orang-orang asing.

Ternyata itu kata kuncinya, “happy new year”.

Pesta pun bubar, perlahan orang-orang berbondong-bondong pulang. Sambil pulang seringkali berpapasan dengan orang-orang yang mengucapkan happy new year, berpelukan, happy new year, berpelukan, serasa menjadi teletubbies. Tapi semua orang riang gembira.

Mendadak ada orang berbadan tinggi besar menarik tangan Om Irfan, dan lagi-lagi mengucapkan happy newyear. Beberapa orang pria wanita juga memeluk ku dan mengucapkan happy newyear, kami melompat-lompat sambil bernyanyi-nyanyi dengan lirik dan diaelek yang sama-sekali tidak jelas. Saat itulah pak Irfan menghilang..

Bahwa dia digendong dan dibawa kabur oleh pria bertubuh besar itu.. bahwa dia dengan pasrah dibawa berlari-lari keliling kerumunan.. kami ketahui kemudian..

Sambil menunggu Om Irfan yang masih menghilang entah kemana, kami menyaksikan pertunjukan musik yang kedengaran sangat irlandia, yaitu dengan dominasi suara biola berketukan cepat, di salah satu panggung, mendengar musik yang indah itu, dan atmosfir sekitar yang sangat ceria penuh dengan orang-orang berdansa, pertama-tama kepala ikut bergoyang, lalu kaki, lalu tangan, lalu badan.. dan resmilah aku dan Andyka berjoget mengikuti music, berputar-putar dengan ciri khas pada hentakan2 kaki.
 
Figure VIII The hilarious performance

 
Figure IX Dancing

Dimana rimba Om Irfan masih belum ketahuan, maka sudahlah kami pulang saja menuju parkiran, dengan pebuh rasa tega. Ternyata di tengah jalan pulang justru bertemu lagi dengan Om Irfan, dengan kondisi yang patut disyukuri, masih selamat. Dalam perjalanan pulang masih selalu saja ada orang-orang yang mengucapkan happy newyear, hingga satu rombongan terakhir. Dimana salah satunya memeluk Om Irfan dan memberikan ciuman manis di pipi, lalu Om Irfan pun digendong, untuk kedua kalinya. Dia hanya meronta-ronta tak berdaya..hahahaha
 
Figure X He likes him, He’d like to take him home

Pagi menjelang, akhirnya bertemu dengan rombongan dari Glasgow dan Newcastle, dan di pagi buta itu, ternyata penelitian harus berlanjut ke St Andrews, tempat dimana Pangeran William dan Kate Middleton dulu kuliah. Maka beriringanlah tiga mobil, dengan muatan peneliti-peneliti dari Glasgow, Newcastle dan Leeds.

Di tengah jalan, karena Kiki sang Navigator tertidur pulas di bangku belakang, mobil sempat salah jalan, tertinggal dari rombongan. Saat baru memasuki jalan yang sepi menuju St Andrew sebuah mobil patroli polisi mengikuti dari belakang. Mobil itu terlihat mencurigakan, karena lampu nya berkedap-kedip, atau mungkin juga mobil kami yang terlihat mencurigakan. Curiga mencurigai sering terbolak-balik belakangan ini. Mobil kami terus melaju, mencoba tak mengacuhkan polisi di belakang. Mendadak mereka itu menghidupkan sirine, seperti akan mengejar penjahat, gawat.

Maka ku pelankan mobil, dan berhenti. Seorang polisi yang muda dan berwibawa keluar dan menghampiri lewat jendela. Kami diam saja, dengan wajah sok polos membuka kaca jendela dan menatapnya. Biasanya polisi Indonesia akan berkata. “Selamat malam pak, bisa saya lihat surat-suratnya?” yang biasanya dilanjutkan dengan “Anda melanggar bla-bla bla-bla, mau diselesaikan di sini apa dilanjutkan ke persidangan?”

Polisi yang ini, yang kemungkinan kecil namanya Kopral Ujang, malah berkata “Apakah kalian tidak apa2, mobil ini tadi terlihat goyang kiri kanan, jangan-jangan kalian mabuk?”
“Oh, tidak pak, kami hanya ragu-ragu karena masih mencari jalan menggunakan GPS.”Kira-kira begitu jawabku yang sedang di belakang setir sambil menunjuk device super canggih di tangan Kiki.
“Kalian mau ke St Andrew?” tanyanya sambil matanya menatap mataku sambil hidungnya mengendus-endus bau mulutku untuk membuktikan bahwa kami bebas alcohol.
“Benar sekali Pak.”
“Baiklah, hati-hati di jalan.” Katanya kemudian.
“Happy new year Sir.” Kataku, roda mobil kembali berputar untuk melanjutkan perjalanan. Jalanna yang sepi mencekam, kantuk yang melanda, dinginnya udara, kegelapan di luar, tak mampu menghalangi tujuan mulia kami  untuk meneliti matahari terbit sekaligus juga napak tilas kisah asmara Pangeran William dan Kate Middleton di St Andrew.

 
St Andrew

KESIMPULAN
Berdasarkan riset yang telah diselesaikan ini, maka bisa ditarik kesimpulan adalah benar bahwa ada perayaan kembang api pada malam tahun baru di Edinburgh, bahkan ada dugaan bahwa kata Happy Newyear merupakan sebuah mantra yang membuat orang-orang menjadi lebih bahagia dan berhadiah pelukan atau cium mesra..dari pria..

Hasil penelitian ini masih perlu diuji melalui komparasi studi dengan perayaan-perayaan serupa seperti di London, Amsterdam dan sebagainya. Namun demikian, kesimpulan sementara yang diperoleh sudah cukup untuk memuaskan rasa penasaran akan kebenaran ilmiah dari penyataan-pernyataan yang berkembang di kalangan masyarakat seputaran tahun baru dan perayaannya. Tentunya juga bisa menjadi seuntai kisah modern untuk masa lalu, kisah kontemporer yang diceritakan kepada seseorang di masa lalu.

Juga ada sebuah hipohesis sementara, bahwa rok pakaian tradisional yang biasa dipakai oleh  orang Irlandia dan Scotland itu memiliki fungsi utama, yaitu biar gampang dipakai pipis. Hal ini kami lihat dalam perjalanan pulang, dimana terlihat seorang pria mengenakan rok sedang menuntaskan hasratnya tersebut di pinggir jalan, di keramaian.

Terimakasih:
-        Untuk Andyka, Kiki the modern devicer dan Om Irfan
-        Untuk Aryo, Masagus Eron, rekan-rekan dari Glasgow yang baik hati dan rekan-rekan dari Newcastle yang cantik-cantik, yang telah menyusun acara liburan dan memberikan hiburan yang cukup untuk menurunkan intelegensia
-        Untuk orang-orang local yang memberikan kesan hangat dan bersahabat
-        Untuk Pak Polisi yang masih bertugas di malam tahun baru
-        Dsb

References:
Figure II http://www.navmanwireless.co.uk/speed-cameras-challenged.html
Figure III http://www.avclub.com/articles/shaun-of-the-dead,61446/
Figure IV, VIII http://www.facebook.com/dontbeatourist

January 30, 2012

Desti Utami - D Articles

the quitter

by Takodok! at January 30, 2012 02:10 PM

I’m definitely a quitter. But life goes on and at certain point i stop being quitter then make another dull-mistakes. Classy, huh?

Itu curcolnya. Yang jadi inspirasi curcol *halah* adalah komik yang baru-baru ini saya baca; The Quitter.

Pada masa kegelapan yang belum lama berselang, saya berkenalan dengan nama Harvey Pekar. Saat itu kebetulan saja membaca tentang American Splendor yang dipuji oleh sebuah majalah sebagai film yang “berbeda”. Dengan semangat yang selayaknya diaplikasikan di bidang akademis, saya mulai mencari informasi yang berkaitan dengan film ini. Ternyata ia adalah adaptasi dari komik yang cukup populer(?) di negara asalnya. Lalu potongan info ini meredup di tengah gempuran berbagai hal yang dipaksa masuk ke kepala. Sampai akhirnya yang teringat secara samar hanyalah nama Pekar (yang bagi saya) cukup unik.

Dua minggu lalu saya menemukan komik bersampul merah ini di tumpukan diskonan (!), 10 ribu saja. Sewaktu membeli, saya masih belum ingat pernah sangat penasaran terhadap America Splendor. Baru di ujung The Quitter saya berujar, “Ooooohh ini kan…”

Nah, ini bukti bahwa apa yang (pernah) membuatmu penasaran akan bertahan lama pesonanya.  Parah. :mrgreen:

Berhubung ini masih autobiografi, ceritanya tidak bombastis dan tokoh utamanya kurang menarik simpati. Boleh dibilang Pekar ini benar-benar menyebalkan, egois, selalu mencari pengakuan dari orang lain. Sungguh mengingatkan akan sebagian dari sifat saya sendiri.

Akhir cerita (lagi-lagi) dijabarkan tidak bombastis, seakan-akan punya sederetan karya berupa komik adalah hal yang biasa saja. Memang  Pekar hanya seorang pensiunan pegawai administrasi pemerintahan, tapi masa sih sebegitubiasanya? Film adaptasi American Splendor sempat dinominasikan sebagai Best Adapted Screenplay di Academy Award tahun 2003 lho. Apa ini termasuk jurus merendah untuk meninggi?

Malah nuduh yang bukan-bukan. *tepok jidat*

Hikmah dari komik ini: Pekar yang gampang menyerah bisa punya karya. Pekar yang tidak menyerah mungkin bisa jadi profesor di universitas kampung halamannya, tidak membuat komik, lalu tidak akan ada postingan ini dan saya pun kehilangan momen “Ih kok mirip eik yaaaaa…”

Permisi, mau merenungkan masa depan dulu.


Yows, The Legendary of...

berhenti merokok

by Yows (noreply@blogger.com) at January 30, 2012 02:46 AM

Semakin banyak pengetahuan mengenai akibat buruk rokok baik secara global dan lokal membuat banyak orang semakin antipati terhadap rokok. Sulitnya mengupayakan perubahan secara struktural, kultural dan sosial pada akhirnya membuat pergerakan bergerser ke ranah individual, wilayah yang paling kecil, yaitu bagaimana membuat orang per orang berhenti merokok. Ada banyak kisah sukses orang yang berhenti merokok sebanyak kisah gagalnya. 

Buatku, persoalan berhenti merokok ini dulu terasa sangat jauh di mata dekat di hati. Ada keinginan di dalam hati untuk berhenti secepatnya, yang sayangnya selalu berakhir dengan kegagalan. Seorang perokok sering berhenti merokok ketika sakit, ketika batuk, atau sakit yang agak parah seperti gejala tyfus dsb, biasanya rasa rokok menjadi tak enak. Sewaktu kuliah, beberapa kali aku berhenti merokok dengan alasan ini. Beberapa saat setelah sembuh, akhirnya kembali merokok lagi, begitu berulang kali. 

Salah satu yang membuat orang bisa berhenti merokok adalah alasan, latar belakang, motivasi. Motivasi bisa membuat orang melakukan hal yang sulit menjadi mudah, hal-hal yang kelihatan tidak mungkin menjadi mungkin.

Salah satu motivasiku adalah keluarga. Saat pulang ke rumah, di sana ada ayah, yang sudah berhenti merokok selama beberapa tahun terakhir. Beliau tak suka melihatku merokok, meski beliau tak menyuruhku berhenti merokok, beliau hanya mengatakan, “Kurangilah rokok itu, nanti badan terasa lebih enak”. Aku tak terlalu mengerti apa yang membuat ayah dulu secara tiba-tiba berhenti merokok, sementara teman-temannya di lingkungan pekerjaan maupun di sekitar rumah tetap dengan kebiasan merokok. Aku juga tak terlalu mengerti bagaimana caranya beliau dengan serta merta berhenti merokok.

Pernah suatu saat, saat ayah sedang di rawat di rumah sakit, satu ruagn dengannya ada pasien yang dirawat karena kerusakan paru-parunya, yang kelihatan sangat menderita. Ayah mengatakan: “Lihat, itu akibatnya karena kebanyakan merokok.” Lagi-lagi tidak menyuruh berhenti merokok. Akhirnya aku malah berjalan keluar dari gedung, mencari sebuah pojok, dan merokok. Adegan itu tersimpan di benakku dan pada akhirnya menguatkan alasan untuk berhenti merokok.

Setelah motivasi, faktor penting berikutnya untuk berhenti merokok adalah momentum, yaitu kapan kita akan berhenti untuk merokok. Momentum ku datang ketika berhenti bekerja dan memulai kuliah. Berhenti bekerja pada umur dua puluhan mengandung konsekuensi untuk menanggung biaya hidup sendiri berbekal tabungan yang sudah terkumpul.

Kuliah master membutuhkan biaya besar, mulai dari tempat tinggal, transportasi, buku, makan, hiburan dsb. Untunglah diterima beasiswa sehingga tidak harus mengeluarkan biaya 38 juta buat SPP. Namun, ternyata dengan pola hidup seperti masih bekerja, mengerucutnya uang tabungan tetap saja jauh lebih cepat daripada menggelembungnya, hal ini menambah motivasi dan menjadi sebuah momentum yang tepat untuk berhenti merokok.

Akhirnya aku memutuskan untuk mulai berhenti merokok, asbak yang baru seminggu dibeli langsung kusingkirkan. Namun, berhenti merokok ternyata cukup sulit untuk dilakukan dengan serta merta, aku menetapkan dalam hati tidak akan membeli berbungkus rokok seperti biasanya. Akan ku kurangi jumlahnya secara signifikan, jika biasanya sebungkus sehari, menjadi sebatang sehari.

Biasanya keinginan untuk merokok datang paling kuat saat selesai makan, maka setiap kali selesai makan daripada menyalakan rokok, aku mengambil permen. Bermacam jenis permen dengan berbagai warna dan rasa pernah menghiasi meja belajar. Padahal terlalu banyak mengkonsumsi permen tidak baik juga karena dapat merusak gigi.

Merokok juga memiliki hubungan dengan konsentrasi. Semakin rutin dan banyak mengkonsumsi rokok disinyalir akan mengurangi kemampuan berkonsentrasi. Mungkin karena merokok itu adalah kegiatan yang berupa kebiasaan, yang dilakukan dengan menggerakkan tangan tanpa perlu konsentrasi. Sehingga aku mencari cara untuk meningkatkan konsentrasi, dengan menekuni hobi seperti menggambar, menulis dsb.  

Merokok berhubungan erat dengan stress, setiap kali stress hasrat merokok biasa datang. Itulah kenapa kebanyakan orang miskin justru semakin sulit berhenti merokok seberapa mahal pun harganya, karena rokok membantu mengalihkan perasaan stress mereka. Maka aku harus mencari cara mengurangi stress, bisa dengan berbagai hiburan musik, film, buku, dsb.

Untuk membantu konsentrasi sekaligus mengurangi stress biasanya cara yang efektif berzikir, membaca Qur’an secara rutin, serta sesekali membaca Yasin dan Tahlil. Dengan demikian pikiran menjadi lebih tenang, lebih sedikit stress, dan konsentrasi semakin meningkat. Bisa dipakai buat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti belajar dan sebagainya.  

Merokok berhubungan erat dengan pergaulan. Banyak remaja yang memulai rokok dengan alasan pergaulan. Berkumpul dengan perokok akan menyebabkan kita ikut merokok, maka aku kurangi pergaulan. Jika biasanya pada kuliah S1 selesai kuliah segera nongkrong di himpunan melakukan kegiatan apa saja yang ramai-ramai, maka sewaktu kuliah S2 setiap selesai kuliah segera pulang ke rumah, kecuali jika ada ajakan makan siang dari teman-teman.

freedom!
Kesemuanya itu saling bantu-membantu untuk membuatku berhenti merokok. Pada akhirnya, pada hari itu, tanggal 28 Oktober 2010, aku tetapkan sebagai hari behenti merokok, sekaligus untuk memperingati hari sumpah pemuda. Dengan semangat para pemuda yang telah berjuang mempersatukan bangsa aku sepenuhnya berhenti merokok. 

Semua ternyata bisa dilakukan tanpa perlu biaya besar, tanpa perlu konsultasi ke dokter, tanpa perlu menggunakan hipnotherapi, tanpa alat-alat pengganti nikotin. Dan ternyata benar apa yang pernah ayah katakan, bahwa ketika berhenti merokok badan akan terasa lebih enak, lebih tenang, lebih jarang sakit, lebih hemat, aroma mulut lebih baik, dan bermacam kelebihan lainnya. 
Alhamdulillah.

January 29, 2012

Yows, The Legendary of...

merokok

by Yows (noreply@blogger.com) at January 29, 2012 06:34 AM

Setelah sebelumnya menulis tentang rokok dan bermacam hal yang berkaitan dengannya, kali ini aku akan menulis tentang merokok, berdasarkan pengalaman pribadi. Ada baiknya aku memulai cerita sedari awal.

Sewaktu SD, saat teman-teman mandi di sungai, beberapa orang mulai membawa rokok, entah kebiasaan yang berasal dari mana. Waktu itu aku mencoba, tapi langsung terbatuk-batuk tak menyenangkan. Sewaktu SMP saat beberapa teman semakin banyak yang merokok, aku juga tak mencoba, bahkan termasuk grup anti perokok. Sewaktu SMA, karena disiplin sekolah yang ketat bersama kehidupan asrama, aku pun dijauhkan dari rokok. 

Ada sebuah kecendrungan bahwa anak-anak muda belia yang masih berseragam dan bercelana pendek itu akan kelihatan lebih keren dan lebih berani bila mereka sudah mulai merokok. Anggapan yang sangat konyol memang, saat itu mereka merokok karena pergaulan. Hal yang tidak berlaku buatku. 

Namun, pada hari yang tidak baik itu, sekitar tahun ketiga kuliah di Bandung, aku duduk seorang diri diantara warung-warung makan di Gelap Nyawang. Itu adalah saat aku memikirkan persoalan yang seakan tak memiliki penyelesaian, sedang tak ada seorang teman untuk berdiskusi atau sekedar bercerita. Lalu kuhampiri abang di salah satu kios, membeli sebatang rokok, rokok Gudang Garam (garpit). Untuk yang tidak mengerti rokok, jenis ini ada pada tingkat yang lebih berat, lebih banyak kadar tar dan nikotinnya dibanding rokok seperti Sampoerna atau Marlboro. Kenapa kupilih merek itu? karena aku telah mencoba Sampoerna dan tak merasa ada sesuatu yang istimewa.


Sejak saat itu, rokok telah jadi salah satu teman saat sepi, saat membaca buku sambil menghirup secangkir kopi, saat mengerjakan tugas-tugas di malam-malam panjang, saat memikirkan hal-hal yang nonlinear. Lalu perlahan rokok juga menjadi teman di saat ramai, saat rapat-rapat di himpunan, saat diskusi-diskusi kemahasiswaan, saat obrolan malam-malam di kampus yang tak jelas juntrungan. Salah satu lagu The Doors favoritku kala itu adalah “Soul Kitchen”, dimana salah satu liriknya “Speaking secret alphabets, I light another cigarette, learn to forget”.


Perokok jenis garpit adalah yang terlangka di himpunan di zaman itu, dimana orang-orang selalu membawa rokok jenis Jarum Super dan mild. Tak ada yang menyukai rokok garpit selain orang-orang tertentu, aku menyebutnya rokok dengan idealisme, out of mainstream. Saat rapat dan biasanya orang melempar rokoknya untuk dibagikan ke forum, maka kulempar sebungkus penuh rokok garpit dengan maksud untuk berbagi, akan dilempar kembali kepadaku dengan penuh juga dengan imbalan cercaan.

Singkat cerita, kebiasaan merokok ini terbawa hingga saat bekerja. Semakin berat beban pekerjaan, semakin banyak merokok, sehingga aku tak terlalu menyukai bekerja di ruangan ber AC yang hanya bisa merokok saat istirahat makan. Saat bekerja di lapangan, semakin banyak pula konsumsi rokok, saat itu bisa mencapai dua bungkus sehari. Sebungkus mild dan sebungkus garpit.

Jadilah sebagai seorang Engineer, yang mengurus pekerjaan di kantor dan di lapangan, mengurus apa saja, selalu dengan dua bungkus rokok di kantong. Orang-orang di lingkungan proyek sudah mengetahui kebiasaanku, bahwa saat aku mengeluarkan garpit, berarti pekerjaan sedang sulit dan suasana hati sedang tidak bersahabat. Sedangkan saat aku mengeluarkan rokok mild, berarti pekerjaan lancar, dan pikiran sedang tenang.

Sebenarnya aku ingin berhenti merokok. Waktu itu aku pernah membuat catatan dalam hati, aku akan berhenti merokok jika sang pacar memintaku untuk berhenti, kemauan dari sang pacar mungkin bisa menjadi motivasi yang kuat untuk itu, namun ternyata sang pacar yang baik hati tidak memintaku untuk berhenti, meski juga tidak suka melihatku merokok. Maka, aku mengurangi kegiatan merokok saat sedang bersamanya. Saat berada di dekatnya, setidaknya dia tak akan terkena oleh asap rokok ku.

Aku pernah dengan konyolnya mengatakan bahwa rokok adalah salah satu bahasa universal, ada saat ketika seorang pria bertemu dengan pria lain, mulanya tidak saling tegur sapa. Salah seorang pria akan menghidupkan rokok, dan menawarkan pada pria di sebelahnya. Pria di sebelahnya tak perlu menjawab, hanya dengan memberikan isyarat tangan bahwa dia tak perlu rokoknya, lalu segera mengeluarkan rokok sendiri. Lalu mereka merokok bersama, dan percakapan pun dimulai, suasana menjadi lebih cair. Mereka menjadi bersahabat secepat frekuensi isapan dan hembusan asap dari rokok yang bergemeretak.

Jika di satu sisi faktor kesehatan dan sebagainya memberikan berbagai dasar dan argumen kenapa orang harus berhenti merokok, di sisi lain para perokok selalu bisa memberi berbagai argumen untuk tetap merokok. Ada sekian banyak argumen untuk merokok, sebanyak argumen untuk tidak merokok. 

January 23, 2012

Yows, The Legendary of...

rokok

by Yows (noreply@blogger.com) at January 23, 2012 04:24 AM

Baru saja bangun tidur tengah malam, membuka komputer dan mendapati postingan pada facebook mengenai rokok: Vanguard: Sex, Lies, & Cigarettes, "Smoking Baby" and Big Tobacco in Indonesia dari link youtube. Vanguard ini serial dokumenter yang mengeksplorasi tentang isu-isu global yang berdampak sosial luas seperti kriminal, perdagangan obat-obatan dan pemberontakan bersenjata. Dan ternyata kasus perokok di Indonesia termasuk salah satu bagian dari hal-hal diatas. 

Tayangan itu dimulai dengan menceritakan pusat kota Newyork yang penuh dengan semua jenis advertising, kecuali satu: rokok, yang sudah dilarang oleh pemerintah. Juga diceritakan bahwa harga sebungkus Marlboro 12 USD. Lalu reporternya terbang ke Indonesia dan mengatakan perjalanan itu seperti perjalanan menembus waktu, dimana dia kembali ke masa lalu di negaranya, masa dimana iklan rokok bertebaran dimana-mana dan industry rokok sangat berkembang. Harga sebungkus rokok hanya 1.2 USD saja. Indonesia adalah the new Marlboro country. 

Diceritakan tentang para perokok yang kebanyakan adalah anak muda, tentang anak usia 2 tahun yang sudah kecanduan rokok, tentang industry rokok yang ingin mendapatkan lebih banyak anak muda merokok sebagai investasi untuk masa depan perusahaan, tentang aturan tentang rokok yang selalu gagal disepakati oleh anggota DPR karena intervensi perusahaan, tentang orang-orang yang berjuang untuk mencegah semua itu terus berlanjut beserta pro dan kontra nya. 

Iklan rokok di Indonesia memang sangat banyak, bertebaran di sepanjang jalan dari perkotaan hingga pedesaan. Di perkampungan kecil antara Aceh dan medan saja balihonya sangat membius: “Ini Panamas Bung!”. Iklan televisinya selalu jadi salah satu yang terbaik, sangat masal dan keren yang tentunya berbiaya besar. Iklan dari setiap event juga tidak kalah banyak, setiap event musik besar selalu disponsori oleh rokok, sponsor untuk acara olahraga juga rokok, tanpa rokok entah bisa atau tidak orang Indonesia mengelar liga sepakbola indonesia atau menonton liga inggris. Sebuah fakta yang.. menggiriskan. 

Industri rokok memang agak susah dihilangkan dari Indonesia. Penyerapan tenaga kerja yang sangat banyak, sekitar 6.1 juta orang bekerja di Industri itu, sekitar 33.2 juta jiwa jumlah orang yang bekerja terkait langsung dengan industry rokok, belum lagi jumlah pedagang asongan yang mendapat penghasilan terutama dari menjual rokok. Dengan kata lain, keberlangsungan hidup banyak orang tergantung di situ. Jumlah para perokok yang terus bertambah, bahkan perkembangan perokok wanita meningkat pesat karena mengikuti perkembangan pergaulan. Pengharaman oleh MUI yang selalu menghadapi pro dan kontra, serta kemungkinan besar adanya campur tangan perusahaan-perusahaan untuk mengatur regulasi melalui anggota DPR. Belum lagi penghasilan Negara yang dihasilkan dari pajak rokok yang katanya mencapai sepuluh persen dari APBN. 

Akhir kata, berhubung pagi sudah menjelang dan perlu tidur lagi, aku hanya bisa menyimpulkan bahwa permasalah rokok ini, memang adalah permasalahan sulit, dilematis. Seperti dulu setiap kali seseorang mengingatkanku untuk berhenti merokok, aku selalu bilang. “Untuk memikirkan permasalahan-permasalahan sulit gw perlu merokok, untuk berhenti merokok gw perlu memikirkan kenapa dan bagaiman caranya, karena ini adalah permasalahan sulit.” Sehingga makin sering aku ingin berhenti merokok, semakin banyak aku merokok. Dan, begitulah seterusnya.. 

Referensi:
http://www.youtube.com/watch?v=hG8vw3MRRyM&feature=related 
http://current.com/shows/vanguard/93219795_sex-lies-cigarettes-vanguard-sneak-peek.htm
http://www.smallcrab.com/kesehatan/541-demi-uang-indonesia-korbankan-kesehatan-masyarakat
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/11/02/lu16en-industri-rokok-enggan-cantumkan-gambar-akibat-merokok-di-bungkus-rokok

January 20, 2012

Yows, The Legendary of...

menyayangi kalian

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:17 PM

Malam ini, barusan saja tadi.

Aku berjalan-jalan, keliling kota sendirian. Sendirian? ya biasalah, karena kebanyakan teman jauh, dan mantan kekasih juga jauh, sudah biasa aku keliling sendirian. Meski juga kota ini adalah kota kelahiran. Keliling kota sendirian biasanya hanya akan membuat kita merasa gundah, seperti tak punya teman.

Aku bertemu teman, namanya Eca. Teman baru, baru saja berkenalan. Kami bercerita-cerita sebentar, sebentar saja, tak berlama-lama. Dia bercerita tentang pekerjaannya, tentang keluarganya, tentang bagaimana dia merasa bosan dengan pekerjaannya dan ingin berkeluarga, lalu menjadi ibu rumah tangga saja. Umurnya baru 21 mungkin, dia sudah merasakan kegelisahan itu, apalagi aku yang sekarang sudah berumur... entah berapa, tak jadi masalah, hanya belum ketemu jodoh. Kami mempunyai keinginan yang sama, tapi aku tau, kami tidak akan menjalaninya bersama.

Lalu aku pulang, entah kenapa terasa perasaanku berbeda dari sebelum-sebelumnya. Aku mengamati sekeliling, kulihat ada orang-orang berjualan di pinggir jalan. Berjualan apa saja, padahal ini sudah malam, waktunya tidur. Mungkin jam kerja mereka berbeda dengan jam kerja kebanyakan orang lain.

Salah satunya ada yang berjualan martabak bangka, Bangka? Perasaan ku selalu sedikit bergetar mendengar kata bangka, sedikit saja, tak perlu banyak-banyak. Aku hampiri, meski tak begitu lapar, mungkin ada orang-orang lain di rumahku atau di mana saja yang nanti bisa ketemu, yang perlu ku belikan makanan. Kalaupun tak ada, aku tetap akan membeli hanya untuk membuat penjualnya senang.

Yang menjual seorang Bapak memakai kopiah, seorang ibu memakai jilbab yang mungkin isterinya, juga seorang anak perempuan yang sama mungkinnya adalah anak mereka. Mereka bekerjasama dengan sinergis untuk menyediakan pesanan. Aku senang sekali melihat mereka. Mereka berusaha hingga semalam ini, yang kulihat disepakati oleh hampir semua orang sebagai pukul 11 malam. Mereka berusaha mencari penghasilan dengan cara yang baik. Mereka terlihat ceria, dan sepertinya tidak sedang memaki kehidupan yang membuat mereka masih bekerja hingga semalam ini. Dan banyak orang-orang seperti mereka ini. Yang bekerja dari cinta, oleh cinta, untuk cinta. Cinta yang universal maksudku, cinta kepada kehidupan dan pemberi kehidupan, bukan cinta sempit menggebu-gebu yang kurasakan kepada mantan kekasihku sampai saat ini.

Aku seolah-olah mendapat sedikit perasaan dari mereka, tertular sedikit. Aku merasa nyaman, merasa dipenuhi perasaan sayang. Entah fenomena psikologi apa ini namanya. Aku berjalan pulang, mengucapkan terima kasih pada mereka. Aku jadi merasa menyayangi mereka, jadi merasa meyayangi kalian semua yang bekerja untuk untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik, aku menyayangi kalian yang berjuang untuk merawat anak-anak kalian, aku menyayangi kalian yang bekerja demi diri kalian sendiri, aku meyayangi kalian orang-orang yang lewat di jalan, aku meyangi orang yang tadi terlalu ngebut sehingga hampir menabrakku, yang menyadarkanku bahwa hidup perlu disyukuri, aku menyayangi kalian yang malam-malam begini sedang berkumpul di pinggir jalan, entah untuk tujuan apa. Aku meyayangi orang tuaku yang nanti akan terbangun untuk membukakan pintu. Aku meyayangi kalian semua teman-temanku, temanku yang sedang bersama anaknya yang kemarin ku datangi, temanku yang senasib dengan ku yang kemarin sama-sama mendatangi, teman-temanku lainnya yang jauh yang kadang-kadang mengirimkan pesan-pesan untuk menghiburku, juga teman jauh ku yang menceritakan kesedihannya untuk mendapat hiburan dariku. Orang-orang yang telah ku kenal dan yang akan ku kenal. Aku menyayangi kalian semua.

Aku sedang tak membenci kalian, pemerintahku. Karena toh kalian bekerja demi kepentingan banyak orang, dan selalu akan ada hal-hal baik yang kalian hasilkan. Hanya kami saja yang jarang menyadarinya, sehingga selalu mencari hal-hal buruk dari kalian untuk ikut kami sesali, karena sesungguhnya kami menyesali kehidupan kami sendiri, mungkin kami hanya mencari sesuatu dari luar diri untuk melampiaskan sedikit rasa marah. Aku sedang tak membenci artis-artis atau tayangan tentang artis ini artis itu yang sering terasa betapa tak pentingnya, kalian juga manusia yang perlu disayangi, yang perlu pencapaian. Aku sedang tak membenci orang yang telah merebut mantan kekasihku. Aku sedang tak membenci diriku yang tak berhasil menjaga perasaan mantan kekasihku. Aku sedang tak membenci apapun. Karena kita semua sama, hanya sedang menjalani peranan yang sedang dipilihkan untuk kita, jika kita menolak menjalani peran ini, berusaha saja, masih banyak peran lain yang bisa dimainkan.

Entah berapa lama perasan ini akan bertahan, aku sadar, mungkin tak lama. Karena jiwa masih berfluktuasi dan mencari titik kesetimbangannya. Karena selalu akan ada masalah di setiap hari yang kita lalui. Masalah yang selalu saja, jika diurai akan semakin panjang, dan jika digulung akan semakin pendek. Aku masih percaya, semua akan indah, kalau tidak pada saat ini, mungkin sekejap kemudian, atau beberapa kejap kemudian, tak perlulah jumlah kejapan itu kita hitung. Hanya percaya, itu saja yang kita butuhkan.

Aku meyangi kalian semua.

Salam.

Catatan 25 Januari 2010

mimpi

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:14 PM

Sedikit saja berbaring, saat sedang lelah, aku segera tersedot dalam pusaran yang meluruhkan diriku dan menyatukannya lagi pada suatu tempat yang baru kuketahui apa setelah aku tak berada di sana. Aku menjelma pada sosok yang tak kuketahui sebagai aku, aku menjadi sesuatu yang hanya kurasakan, bahwa itu aku.

Aku adalah burung, yang terbang mengepak-ngepak sayap menikmati awan, melayang melalui dorongan angin dan sewaktu-waktu memanjakan sayapku. Aku adalah burung itu yang mendadak jatuh berdebam ke rerumputan, dimana seorang anak kecil menemukanku dan membawaku pulang.

Aku adalah anak itu, yang berlari kegirangan membawa seekor burung tak berdaya yang kiranya terjatuh karena terlalu dalam mengukir jejak pada awan. Aku berlari-lari menuju satu arah. Ingin menujukkan apa yang kudapatkan kepada ayah, yang sedang menungguku di rumah.

Di tengah jalan, kulihat pohon-pohon mengembang meninggalkan gerak yang monoton. Mereka berjatuhan saling bersahut-sahutan membuat ku menghindar ketakutan dan menyelamatkan diri pada tempat yang tak pernah terpikirkan. Hanya satu yang ku tahu, aku terselamatkan.

Yang tak kusadari adalah bahwa pada saat berlari tubuhku mengembang menjadi seorang pemuda. Seorang pemuda yang pada saat melihat sekeliling, mendapari ternyata semua ruang, semua ruang yang ku pandang, hanya berwarna abu-abu. Aku tak bisa membedakan apa itu hitam, atau kah itu putih, semua hanya antara hitam dan putih. Sehingga dengan perasaan tak menentu aku mencari dimana sumber warna-warna berada. Siapa yang menyimpannya?

Aku menemukannya, pada seorang wanita, yang memberikanku setangkai kuas dan beberapa helai warna. Perlahan-lahan aku melukis komposisi sebuah pemandangan, tentu aku haru melukis ruang terlebih dahulu sebelum mulai melukis benda dan kata-kata. Tapi justru ku lukis hijau sebagai merah, biru sebagai kuning, dan hitam sebagai putih. Tidak bisa mewarnai sesuatu dengan komposisi yang sama dengan yang dipahami setiap orang lain.

Aku berlari lagi, ketika melihat bunga berwarna hitam yang berdaun jambu datang hendak menerkam. Mimpi apa ini? aku ingin keluar dari mimpi ini, dan memasuki mimpi yang lebih linear. Tentu harusnya aku berhak membuat dekorasi mimpiku dalam sebuah taman dimana suara air berpadu dengan hembusan angin meniup kelopak bunga ditunggangi lebah ke tempat mana saja yang mereka ingin suburkan.

Sampai suatu ketika kulihat seorang tua berwajah kejam, menatapku dengan sorot tajam, diiringi senyuman yang lebih mirip cibiran. Aku pernah melihat wajah itu, si tua penafsir mimpi sebagai Sigmund Freud, yang mendeteksi kegilaan orang lain dari obsesinya pada kegilaan diri sendiri. Apa kepentinganmu dalam mimpiku? Kusingkirkan manusia yang tidak relefan itu dengan kibasan tangan, dan kembali ke jalan. Kemana aku akan pergi? Bukankah aku tadi ingin pulang ke rumah, untuk menjumpai ayah? 

Dialog Isa AS dengan Iblis

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:09 PM

Yesus menjawab:  “Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, aku mempunyai rasa welas asih kepada setan, setelah mengetahui keterusirannya dan aku juga mempunyai welas asih kepada umat manusia yang tergoda oleh setan sehingga berbuat dosa. Oleh karena itu, aku berdoa dan berpuasa untuk Tuhan kita, yang telah berfirman kepadaku melalui malaikat-Nya, Gabriel: “Apa yang ingin engkau peroleh, O Yesus, dan apa permohonanmu?” Aku menjawab: ”Rabb, engkau mengetahui apa yang menyebabkan setan berbuat kejahatan, dan bahwa melalui godaan-godaannya, banyak umat manusia yang binasa; dia adalah makhluk-Mu, Rabb, yang telah Engkau ciptakan; oleh karena itu, Rabb, berilah dia Rahmat-Mu.”

Tuhan menjawab:  ”Yesus, perhatikanlah bahwa aku akan mengampuni dia. Hanya dengan mengucap:  “Rabb, Tuhanku, aku telah berdosa, berilah aku rahmat-Mu.” dan Aku akan mengampuninya dan mengembalikannya dalam keadaan semula.”

“Aku merasa sangat gembira,” Kata Yesus, “Ketika mendengar ini, merasa yakin bahwa aku telah membuat perdamaian ini. Oleh karena itu, aku memanggil setan, yang kemudian datang berkata: “Apa yang harus aku lakukan untukmu, O Yesus?”

Aku menjawab: “Engkau akan melakukan ini demi dirimu sendiri, O setan, karena aku tidak menyukai layananmu, tetapi demi kebaikanmu sendiri, aku memanggilmu.”

Setan menyahut: “ Jika engkau tidak menghendaki layananku, maka begitu pula aku, tidak menghendakimu; karena aku lebih mulia daripada engkau, oleh karena itu, engkau tidak layak melayaniku-engkau tercipta dari tanah, sedangkan aku dari ruh.”
“Marilah kita tinggalkan ini,” Ucapku, “dan jelaskan kepadaku apakah tidak sebaiknya jika engkau kembali kepada keindahanmu dan keadaanmu pertama kali. Harus engkau ketahui bahwa Malaikat Michael di hari pengadilan nanti, mau tidak mau, akan menebasmu dengan pedang Tuhan sebanyak seratus ribu kali, dan setiap tebasan akan memberimu rasa sakit yang pedih setasa dengan kepedihan sepuluh neraka.” 

Setan menyahut: “Kita akan lihat nanti, siapa yang dapat berbuat lebih; pastinya, aku mempunyai banyak malaikat di sampingku dan para penyembah berhala yang paling potensial. Yang akan mengganggu Tuhan, dan Dia akan mengetahui betapa besar kesalahan yang Dia buat dengan mengusirku demi segumpal tanah yang hina.”

Kemudian aku berkata: ”O setan, pikiranmu sangat lemah dan engkau tidak menyadari apa yang engkau ucapkan.”
Kemudian setan, dengan nada mengejek, menganggguk-anggukkan kepala, berkata: “Baiklah, sekarang marilah kita buat perdamaian antara aku dengan Tuhan, dan menurutmu, O Yesus, apa yang harus dilakukan, karena engkau berpikiran cerdas.”
Aku menjawab: “Hanya dibutuhkan dua kalimat untuk diucapkan.”

Setan menyahut: “Dua kalimat?”

Aku menjawab: “Begini: Aku telah berdosa; berilah aku rahmat.”

Setan kemudian berkata: “Sekarang, aku akan berdamai jika Tuhan mengucapkan dua kalimat itu kepadaku.”

“Sekarang, pergilah dariku,” kataku, “O makhluk yang terkutuk, karena engkau adalah dalang kejahatan bagi semua ketidakadilan dan dosa, tapi Tuhan-lah yang Maha Adil, tanpa suatu dosa.” Jawab Yesus.

Setan pergi sambil tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Tidak demikian halnya, O Yesus, tapi engkau menjelaskan suatu kebohongan untuk menyenangkan Tuhanmu.”

“Sekarang pikirkan,” kata Yesus kepada muridnya, “Bagaiman dia akan memperoleh Rahmat.”

Catatan:
Dialog ini adalah pengajaran Yesus kepada murid-muridnya, yang dikutip dari buku terjemah Injil Barnabas. 

sesuatu

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:17 AM

Jika sesuatu yang buruk terjadi, katakanlah itu sesuatu yang tak sesuai keinginan kita, biasanya kita akan bersedih. Itu naluri manusia, padahal seberapalah pengetahuan manusia ini, boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal sesuatu itu buruk bagi kita, boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita (1). Itulah kenapa kita dilarang untuk menyukai atau membenci sesuatu secara berlebihan. 

Dalam rangka mencegah diri dari bersedih, terhadap sesuatu yang tidak berdaya untuk diubah, beberapa teknik yang efektif untuk digunakan antara lain, beribadah dan berdoa, memikirkan hal-hal yang baik, melakukan hobi, mengingat kejadian menyenangkan, membayangkan sesuatu yang indah, berbicara dengan orang-orang terdekat, dsb. Ada banyak cara, saat ini mungkin aku perlu menerapkan salah satunya untuk mencegah diri dari bersedih. 

Salah satu yang sangat kuinginkan adalah bisa menceritakan sesuatu pada seseorang atau mendengarkan sesuatu cerita dari seseorang. Percakapan yang bermutu, adalah salah satu nutrisi penting bagi otak untuk menjaga agar kita tetap waras. Rumah sedang sepi, sehingga tak ada juga satu dua makhluk yang bisa diajak berdialog. 

Mungkin aku bisa melakukan cara lainnya, memikirkan hal-hal yang baik dan mensyukuri nikmat yang diberikan daripada menyesali apa-apa yang tidak ada. Sungguh, banyak sekali manfaatnya perasaan senantiasa bersyukur ini dan sudah seharusnya manusia selalu bersyukur. Jika kita ingin mencatat nikmat Allah yang diberikan kepada kita, maka tinta sebanyak air laut tidak akan cukup bagi kita, dan niscaya kita tidak akan sanggup menghitungnya. Itulah kenapa aku tidak suka pada orang-orang yang sering mengeluh dan menggerutu, apalagi untuk hal-hal yang kecil dan itulah kenapa aku ingin menghindari mengeluh. 

Sesungguhnya, apa yang terjadi pada manusia, bisa dipisahkan menjadi dua bagian. Ada realitas objektif dan ada realitas subjektif (2). Realitas objektif adalah sesuatu yang benar-benar terjadi, seusatu yang tidak bisa diubah, seperti musibah dan bencana, takdir, tidak ada yang bisa mengubahnya karena merupakan ketentuan dari Yang maha Kuasa. Sementara disisi lain, ada realitas subyektif, yaitu bagaimana manusia memandang sesuatu. Sehingga ada orang yang bisa tertawa saat sedang mendapat musibah, ada orang yang dilahirkan cacat yang bisa terus bekerja dan berkarya, dan ada juga orang lainnya yang ketika mendapat musibah terus meratapi nasib. 

Ada banyak kebaikan disekitar kita, dan kita seringkali hanya melihat sedikit yang buruk diantaranya, lalu terperosok terlalu dalam dengan meratapinya. Kejadian-kejadian buruk atau masa-masa sulit yang kita sedang jalani, ternyata hanya harus dilalui dengan berpikir positif. Kita sendiri yang bisa memilih untuk bersedih karena sesuatu atau memilih untuk selalu berbahagia. Jika kita tak bisa berpikir jernih tentang apa saja kebaikan yang kita dapatkan, ingatlah selalu kalimat: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (3).

Referensi: 
(1)    QS: Al Baqarah

(2)    Rakhmat, Jalaludin. 2004. Meraih Kebahagiaan. Simbiosa Rekatama Media, Indonesia. 
(3)    QS: Ar Rahmaan

metropoly

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:16 AM

Metropoly adalah sebuah permainan yang diselenggarakan departemen Institut for transport Studies di Leeds University untuk mahasiswa barunya. Aturannya adalah mahasiswa dibagi menjadi beberapa group kecil yang dibekali metro day rover family ticket. Ticket tersebut bisa digunakan untuk bepergian menggunakan public transport kemana saja  di seluruh area west Yorkshire selama satu hari penuh. Tiap kelompok berusaha untuk mendapat point sebanyak-banyaknya melalui setiap stasiun atau objek wisata yang dituju sesuai dengan peta yang diberikan. Tim hanya boleh menggunakan kereta, bus dan berjalan kaki dan memberikan bukti foto dengan latar belakang lokasi tujuan berdasarkan pepatah no pix=hoax, perjalanan dimulai dan berakhir di kampus dari jam 9.30 sampai jam 16.30.

Jadilah aku sebagai salah satu peserta, ambil bagian dalam sebuah group kecil bersama Lewis: asal Inggris, Vasileios: asal Yunani, serta seorang wanita cantik Jevgenija: asal Lithuania. Entah apa dan dimana itu Lithuania, yang jelas melihat dari penampilannya seperti orang-orang dari eropa timur.  


Beberapa website canggih sangat mendukung untuk merencanakan perjalanan ini, seperti metro website: www.wymetro.com, Transport Direct Journey Planning web site: www.transportdirect.info,  Nation Rail Web Site: www.nationalrail.co.uk atau web informasi lokasi wisata sesuai degnan yang tertera di peta. 

Dari Leeds, kami memutuskan untuk pergi ke Denby Dale demi mendapat banyak point dari mengunjungi tiap stasiun dengan kereta, sekian banyak kereta langsung menuju ke sana mengalami delay atau di cancel entah karena alasan apa. Sehingga itinerary yang sudah dibuat oleh Lewis dengan detail sampai ke menit harus diubah, kami memutuskan untuk memutar jalur. Kami menuju Wakefield dengan Kereta, lalu menaiki bus menuju Dewsbury, lalu ganti ke kereta lagi dari Dewsbury Huddersfield, dsb. Perjalanan yang rumit dengan nama-nama kota yang sulit, dan dengan pengalaman nilai geografi yang pas-pasan, tentu saja nama-nama itu sudah kulupakan lima menit setelah diucapkan. 


Singkat cerita singkat kata, sampailah kami di Huddersfield menjelang pukul satu siang. Hari sedang bernama Jum’at, syukurlah aku masih teringat pada salah satu ayat Al Jumu’ah yang memerintahkan untuk segera mengunjungi masjid dan meninggalkan segala urusan jika telah datang panggilan untuk sholat jum’at. Rekan-rekan seperjuangan menyetujui untuk meninggalkanku di Huddersfield dan bertemu lagi menjelang jam 3. Huddersfield adalah kota asing, tak ada peta, dan koneksi internet dengan BB yang canggih sedang error, sehingga ada kemungkinan aku tersesat.  “Do you know where the mosque is?” Tanya si british.  “No, but I’ll find the way.” Sahutku.

Saat mereka berlari menuju stasiun mengejar kereta berikut, aku berjalan menuju tempat segerombol taksi yang terlihat sedang mangkal. Kutanyakan masjid terdekat kepada seorang berwajah seperti India atau Pakistan, dia bilang akan mengantarku ke sana seraya mengajakku menuju taksinya. Sampai di pintu taksi ternyata ada seorang wanita yang ingin menggunakan taksinya juga, lalu entah kenapa dia menyuruhku menggunakan taksi di belakangnya, mungkin alasannya adalah ekonomi, mungkin pula sentimen agama. 

Sopir taksi di belakang, menggunakan Surban ala India, menanyakan padaku kenapa taksi di depan tidak mau mengantarku? “Entahlah.” kubilang. Dia lalu menanyakan masjid mana yang aku tuju? Ternyata ada banyak masjid di sekitar sana, terbagi-bagi sesuai jamaahnya. Aku minta diantarkan menuju masjid terdekat apa saja. Sambil jalan, dia mulai menginterogasi, kenapa sopir taksi tadi tidak mengantarku, dengan nada marah. Aku menangkap gelagat kurang baik, sehingga kukatakan saja “it’s oke, I have no problem with that.” “No, it is not oke, he is cheating!” Katanya. Demi menghindari konflik yang mungkin terjadi, yang mungkin melibatkan suku bangsa itu, kukatakan saja bahwa sopir tadi belum menyepakati untuk mengantarku, dia cuma  tau dimana masjid dan menyuruhku untuk mengikutinya. Bapak India ini masih kelihatan dongkol, entah kenapa. Sudahlah Pak, masalah kecil ini, pikirku. Tak berapa lama, sampailah di Masjid, ternyata sebuah Masjid jamah dari Pakistan. Dengan sukses ku ikuti khutbah berbahasa Arab yang dilanjutkan dengan bahasa Pakistan, dengan sukses pula usahaku menyimak berbuah kegagalan.  

Masih sesuai petunjuk Al Jumuah, selesai Shalat, maka betebaranlah di muka bumi untuk mencari karunia-Nya. Maka kulanjutkan perjalanan. Sesuai peta, ada beberapa objek wisata di Huddersfield yang bisa kutuju sambil menunggu teman-teman datang. Maka kutanyakan saja kepada salah seorang yang baru selesai sholat. “Oh, this Greenhead Park Conservatory is just 2 minutes from here, cmon brother, I’ll take you there.” Kata seorang berwajah mirip Thierry Henry dengan mobil sportnya. Demikianlah seharusnya persaudaraan sesama muslim di seantero bumi ini, maka dengan sumringah, tak kutolak ajakannya. 

Sambil jalan kami berkenalan dan dia bercerita soal ini itu tentang Inggris, Leeds dan Kota Huddersfield. Dia memberi petunjuk singkat dengan antusias mengenai cara menuju beberap lokasi seperti Emley Moor Transmitter dan Castle Hill, ternyata cukup jauh. “Goodluck brother” katanya saat sampai, sambil melambai tangan dan tancap gas. 

 
Maka berjalanlah diriku ke gerbang taman, minta di foto sebentar pada nenek-nenek yang kebetulan di sana, lalu berjalan lagi menuju terminal bis. Ternyata bis menuju ke Emley Moor hanya ada tiap setengah jam, tidak mungkin sempat, sehingga ku putuskan untuk berjalan kembali ke stasiun kereta menunggu teman-teman pulang dari  Denby Dale. Salah satu hal baik dari kota-kota di Inggris adalah integrasi antar modanya, dimana di setiap kota, stasiun kereta dan terminal letaknya berdekatan dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki mengikuti papan-papan petunjuk yang tersedia. Kota-kota di Indonesia perlu juga meniru yang seperti ini.

Setelah lama menunggu di stasiun akhirnya kelihatan sebentuk bayangan orang berbaju orange berlari dari kejauhan, ternyata si Vasileios (ampun deh susah banged namanya, selanjutnya dipanggil Sile) yang sangat bersemangat sedang berlari sambil melambai-lambai. Waktu sudah menunjukkan pukul empat, sehingga kami segera naik kereta dan terburu-buru untuk kembali ke Leeds karena keterlambatan akan dikenai pengurangan point. Sesampainya di Leeds si Sile masih bersemangat dan mengajak kami berlari menuju kampus. “Cmon run run, lets run”. Sebagai seorang asia berkaki pendek tentu usahaku berlari harus lebih besar daripada orang-orang bule berkaki panjang ini. Dengan ngos-ngosan, sampailah kami di depan jurusan, saat yang lain sudah berkumpul, kami grup terakhir yang finish, akhirnya kalah dengan nilai total 17000 sementara grup pemenangnya mendapat point 18000. Permainan yang melelahkan sekaligus menyenangkan, sementara kalah menang tak penting buatku. 

27 club

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:15 AM

Dalam dunia musik, ada yang disebut dengan 27 Club, yaitu kumpulan musisi jenius yang menjadi legenda dan berhenti pada usia 27 Tahun. Anggotanya antara lain, Brian Jones, Jimi Hendrix, Janis Joplin, Jim Morrison, Kurt Cobain dan yang baru-baru ini bergabung Amy Winehouse. Semua adalah pribadi independent yang menolak mainstream, yang secara musik menginspirasi sebuah generasi, menciptakan tren sendiri dan tanpa kompromi. 

Sejak 1997, Kurt Cobain bersama Nirvana adalah favoritku, waktu itu pikirku tak ada musisi yang sebagus dia. Lirik-lirik sarkasme berisi kemarahan, gitar yang kasar dan melodi yang tidak harmonis dalam Nirvana selalu menemaniku dan mengispirasi untuk membuat sebuah band serupa. Lalu sejak 2002, saat pertama kalinya mendengar Jim Morrison bersama The Doors secara kebetulan di rumah seorang teman, aku juga langsung jatuh cinta seperti pada Nirvana. Jatuh cinta pada musik yang merupakan perpaduan jazz, blues dan rock dilengkapi dengan lirik yang puitis filosofis dan mendalam. Mereka adalah sebagian dari musisi yang menyalurkan emosi dan refleksi dengan baik pada sebah lagu.

Lalu mulailah aku membaca artikel dan buku-bukunya, biografi Kurt Cobain: Heavier than Heaven serta biografi Jim Morrion: No One Here Get Out Alive. Dan disamping kekaguman, muncul pula keprihatinan betapa hancurnya kehidupan pribadi-pribadi ini, yang tak pernah merasa cocok dengan lingkungannya, yang merasa sosok diri mereka yang dikenal orang banyak adalah palsu, yang berujung pada rasa frustasi hingga mereka tutup usia pada 27 Tahun. 

Dulu, sesekali ada juga perasaan mencekam yang dalam, entahlah jika setiap seniman merasakan itu, bahwa aku tak terlalu cocok dengan lingkungan sekitar ini, bahwa semua kompromi yang kutunjukkan adalah palsu, hingga pernah terbesit bahwa mungkin saja aku juga akan berakhir seperti mereka-mereka itu yang berumur 27 tahun. 

Syukurlah seiring waktu semua perasaan galau itu hilang sendiri, dan sampailah aku pada hari untuk merayakan perpisahan dengan Jim Morrison dan Kurt Cobain. Hari ulang tahunku yang ke-28, sudah tidak muda memang, tapi aku sangat bersyukur bisa melalui usia 27 Tahun dengan selamat. Selamat tinggal Jim, selamat tinggal Kurt, aku tidak akan masuk dalam jajaran orang-orang yang menjadi legenda pada usia 27 Tahun seperti kalian. 

Kereta Pagi

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:14 AM


Pagi yang berseri, angin dingin menyapu wajah-wajah yang mengejar hari. Seperti angin, tak ketinggalan kusapu juga wajah-wajah disekelilingku, wajah-wajah yang menurut perhitunganku lebih kurang kekurangan pigmen.

Dari jauh terdengar suara sesuatu mendekat, cukup asing di telinga, sehingga susah pula dideskripsikan dengan kata-kata. Lama-lama terlihat sebuah kereta berwarna biru nyaris unyu yang, entahlah apa itu bisa dinamakan kerata api, karena tak kelihatan ada asap bergulung-gulung dari depannya, sejauh yang kutau jika tak ada asap maka tak ada api. Ketiadaan kuda di depannya juga menegasikan anggapan bahwa ini adalah kereta kuda. Bahkan bentuk bagian kepala dan bagian ekor sama saja, sehingga bisa dikatakan kepala itu adalah ekor dan ekor itu adalah kepala, kuketahui kemudian bahwa dia bisa berjalan kedepan dan kebelakang sesuka hatinya, sungguh janggal memang.

Sebenarnya, ini bukanlah kereta yang seharusnya kutunggu. Keretaku sudah berangkat tadi. Keretaku tercepat selama lima menit, yang sama artinya aku terlambat lima menit juga relatif terhadap kereta itu. Kereta itu tak mau menunggu, karena menunggu adalah pekerjaan yang membosankan baginya, padahal jika dia terlambat dua jam saja seperti di negeriku, aku masih mau menunggunya, menunggu adalah sesuatu yang lumrah buatku. Sehingga aku yang tadi berlari-lari mengejar merasa kecewa. Untunglah seorang petugas yang baik hati melihat raut susah pada wajahku, sehingga memberikan tanda pada tiket bahwa pemiliknya bisa berangkat dengan kereta berikutnya.

Sebenarnya sedikit banyak gara-gara tiket tercela itulah kenapa aku sampai terlambat lima menit. Metode pembelian tiket memanfaatkan teknologi internet yang cukup canggih dengan sedikit pencet-pencet, lalu datang ke mesin tiket otomatis. Namun ternyata sebagai seorang pemula pencet-pencet di mesin tiket otomatis tidak berjalan dengan lancar, sehingga mesin tidak mau mengeluarkan tiket, sehingga harus kuhubungi seorang petugas untuk meminta petunjuk praktis, sementara kereta itupun berlalu.

Beberapa orang yang sama menunggu kereta terlihat santai. Kereta lalu berhenti, pintu terbuka, beberapa orang keluar. Lalu dengan melenggang santai aku masuk. Sungguh aneh mereka ini, tidak ada yang berdasak-desakan, tidak ada yang berburu kursi, tak terasa aroma persaingan perebutan kursi kereta, masing-masing dengan dengan gerakan sewajarnya. Sehingga pengalaman memenangkan persaingan di kereta ekonomi di salah satu stasiun di Indonesia dahulu kala terasa tak berguna.  Pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga, pada tempat dan waktu yang bukan sekarang, tidak di tempat ini.

Ya sudahlah, aku duduk saja dengan agak menyesal, tak bisa mempertunjukkan ilmu meringankan tubuh atau ilmu belut putih menelusup diantara penumpang yang padat berdesakan. Duduk di sebelahku seseorang. Kali ini aku tak sendiri, karena di sebelahku ada teman seperjalanan, orang ini.. nanti saja diperkenalkan.

Di depanku terpisah oleh sebuah meja, dua orang anak muda duduk santai. Seorang membaca buku “the girl with the duck tattoo” atau yang semacanya, seorang membaca koran yang halaman judulnya “We can still rely on Robin, says Wenger”. Bolehlah ku paraphrasekan headline itu sebagai, “We don’t have anyone else except Robin to rely on, cries Wenger” hahaha aku, tertawa-tawa dalam hati. Kulayangkan pandang ke sekeliling, ada yang sedang menghidupkan laptop, ada yang melamun, seorang sedang menelepon dengan suara pelan, beberapa berbincang ria dengan logat british kental. Dengan dialek yang terdengar intelek, yang sering mengurangi dua huruf t pada kata letter atau matter dan menebalkam hurut r di ujung kalimatnya. Kecepatannya berbicara, bisa diasumsikan lebih cepat dari kecepatan suara, sehingga telinga terkadang tak bisa menangkapnya. “Yu be’e tu rimemba baut d nambe, d weda iz dazn ma’e.

Agak jauh di sebelah sana terlihat seorang british dengan jaket almamater Cambridge University. Hooph, aku pura-pura tak melihatnya, takut jika suatu saat mata kami bertabrakan, takut dikenali keberadaanku.  Karena sudah menjadi aturan, adalah dilarang untuk menatap langsung orang yang mengenakan jaket almamater dengan strata lebih tinggi. Sehingga jika seorang dari Universitasku bertemu dengan orang dari Universitas Cambridge atau Oxford saat sedang mengenakan jaket almamater, maka sudah selayaknya orang itu memberi hormat. Itu belum seberapa, ada mahasiswa dari Universitas yang harus berjalan jongkok, bahkan kebanyakan harus merayap jika bertemu dengan mahasiswa dari Universitas Cambridge ini. Yang demikian ini adalah aturan yang baku, untuk menjaga kewibawaan dari salah universitas terbaik di dunia. Untunglah aku sedang tidak mengenakan jaket universitas, sehingga tak harus menerapkan aturan tersebut.

Duduk di sebelahku, adalah seseorang. Yah boleh juga jika hendak diasumsikan bahwa dia adalah seorang wanita melayu berambut sebahu dikepang dua yang bercerita sambil tertawa-tawa riang sepanjang perjalanan. Atau boleh juga jika mau dibayangkan bahwa dia adalah seorang yang wanita manis dengan kerudung bunga-bunga yang senyumnya indah merekah. Atau baik juga untuk dikatakan, dia adalah wanita berkulit kuning berambut pirang yang menghabiskan masa kecilnya yang berbahagia sebagai boneka Barbie. Nanti saja kuceritakan perihal orang disebelahku ini, untuk mengakhiri cerita dengan romantis.

Tak berapa lama datanglah seorang berseragam untuk mengecek karcis karcis. Petugas meminta karcis dengan sopan. Jika tak membawa tiket, jangan harap untuk membayar dengan cara sim salabin, karena petugas tiket ini juga membawa mesin yang dapat mengeluarkan tiket kapan dan dimana pun. Tinggal pencet pencet sedikit, maka tiket akan keluar diiringi bunyi tret tret. Saat petugas menghampiri, terinspirasi dari Amelia Poulain, refleks kukatakan “Without you, today's emotions would be the scurf of yesterday.” Petugas terbengong sejenak, “Pardon.. ticket please.”  Maka kuserahkan saja tiket berikut kartu sakti untuk mendapat diskon karcis kereta.

Kereta masih berjalan dengan kecepatan sedang, sekitar sekilo semenit, adegan-adegan di jendela datang dan pergi silih berganti, Sewaktu-waktu terlihat sapi yang berpadu dengan biri-biri diselingi kuda-kuda besar di padang rumput yang sunyi, di kali lain jajaran rumah kuno berwarna merah genteng yang berjejer rapi yang diiringi bunga yang warna-warni. Di atas sama, matahari bersembunyi di balik awan tebal yang berterbangan setelah diberi warna kelabu.

Melihat sapi-sapi di luar, kawan seperjalananku bercerita tentang temannya yang jatuh cinta pada seekor sapi, yang temannya itu seorang lelaki, bukan berarti tidak suka wanita, karena ternyata yang disukainya juga adalah sapi betinanya. Cinta memang tidak mengenal fisik, cinta memang perasaan yang murni yang muncul dari hati. Muncul pertanyaan penting dalam benakku, sehingga kutanyakan padanya. “Siapakah nama sapi betinanya itu?” Dia tak bisa menjawab, lalu segera menanyakannya kepada om google, tempat dimana hampir semua pertanyaan tidak essensial menemukan jawaban. Tak berapa lama diapun terlupa pertanyaan itu, karena terlarut keasyikan berselancar menggunakan blackberrynya. Alat yang sangat berguna memang, untuk mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Maka kucari saja sebuah lagu di kepala, dan mulai mendendangkannya dengan sumbang. Sebuah lagu dari Iggy Pop yang judulnya the passenger.
"I am a passenger
I stay under glass
I look through my window so bright.."

Kereta tak terlalu sering berhenti, tiap menjumpai stasiun dan harus berhenti, kereta ini hanya memakan waktu kurang dari semenit. Dia berhenti, membuka pintu, mengeluarkan penumpang, menutup pintu dan berjalan lagi. Cukup berbeda dnegan kereta kebanggaanku dulu yang terbiasa berhenti di tengah jalan dan lama sekali, sehinggalah tak kujumpai ada pedagang-pedagang yang datang menawarkan tahu sumedang, tak adalah orang yang menawarkan salak dalam karung, tak ada juga yang membawa gitar dan menyanyikan lagu roma irama. Sehinggalah terbesit juga sedikit rindu pada pedagang tahu sumedang, serta salak dan ksatria bergitar itu. Ingin kubawa kereta ini pulang sehingga bisa kuberikan kesempatan kepada pedagang-pedagang itu untuk mencoba peruntungannya di kereta seperti ini.

Akhirnya kereta melambat, stasiun besar terlihat di depan mata, dari jauh sekelompok remaja hooligan dengan kaos merah-merah sedang bernyanyi dengan bersamangat untuk menyambut pertandingan nanti siang.
"He's only a poor little scouser
 His face is all tattered and torn
He made me feel sick
So I hit him with a brick
And now he can't sing anymore!"

Kereta berhenti. Di papan informasi di luar sana terlihat kata Manchester, seperti juga tertera di papan informasi yang terdapat di dalam kereta. Teman seperjalananku yang lupa untuk kuceritakan, sedang tertidur pulas, maka kubangunkan dengan tendangan.
Jon, Joni, bangun Jon. Udah sampe.
Joni menguap lebar seraya celingukan kebingungan. Kami pun segera menyusul iring-iringan untuk turun dari kereta, mendapati kembali udara peralihan ke musim dingin yang terlalu sejuk dan langit yang terlalu sering dicat dengan warna kelabu.

related story: Kereta Malam

puisi (karya mengiring umur)

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:14 AM


Karya tulis seseorang bisa menggambarkan bagaimana perjalanan hidupnya. Jiwa manusia berubah seiring umur, ada yang mengerdil ada yang membesar. Bagi seorang penyair, dengan puisinya yang merupakan ekspresi jiwa, jiwanya bisa terbaca dengan syair-syair yang digubahnya.

Tanpa bermaksud mendaulat diri menjadi penyair, mungkin hal ini juga berlaku pada puisi-puisi yang pernah aku hasilkan. Sebutlah puisi-puisi ketika SD seperti.
Cabai
Alangkah pedas rasanya
Kenikmatannya mengundang petaka
Petakanya mengundang nikmat untuk kembali mencoba

Seiring dengan berlalunya waktu, menjelang masa puber saat SMP biasanya puisi seringkali mulai mengungkapkan perasaan cinta kekanakan yang menyembul malu. Berhubung masih malu-malu, tema puisi seringkali dialihkan pada hal-hal tidak penting yang terkadang jadi penting.

Tong sampah
Kepadamu dilemparkan sampah
Terkadang sambil menyumpah
Tapi tak semua singgah

Ketika masa SMU tiba, biasanya puisi semakin sering mengekspresikan rasa cinta yang romantis. Dan jika dilihat kembali, mengundang senyum sendiri, dan terkadang terasa memalukan.

Ku berjalan di tamanku
Selaksa pesona didalamnya
Tersebar dimana-mana

Kulangkah lebih dalam
Wangi menawan rasa
Kucerapi dengan resap
Semakin berupa pesona

Pancaran cahaya sayang
Sejuk merembes ke sanubari
Meski silaunya menusuk mata
Sungguh meruah warnanya
Bunga sepertimu ditamanku

Masa SMU berakhir, dan berakhir pula masa-masa memandang hidup dengan cara yang romantis, kehidupan kuliah seringkali membuat mahasiswa menjadi seorang realistis, apalagi jika harus berhadapan dengan realita, pergerakan, ditambah text book kaum kiri yang selalu menyuarakan hasrat Revolusi! Kampus adalah arena pertarungan dalam pembentukan jati diri.

Gelap! Semua terasa gelap!
Mentari yang menyala-nyala tak mampu mengusir pekat
Larut, aku terlarut,
Hancur jadi bagiannya kelam

Sedikit dari pasukan jiwa yang bertahan
Sebagian telah mati saat semangat terberai
Yang tersisa berlutut
Semangatnya remuk redam

Pena hampir kering
Saat hendak menulis bagian terakhir
Tangan telah keram

Jika ini mimpi
Seseorang bangunkan aku tolong
Tubuh menjerit ingin menari di atas sebuah hari
Meski iramanya lalu padam
Menjatuhkan yang tersisa dengan berdebam
Bantu! Bantulah aku!


Begitu selesai masa-masa perkuliahan, jiwa yang belum stabil bisa berubah bentuk. Thesis-thesis telah tersusun selama kuliah, dan setiap saat menemukan antithesis dalam kehidupan nyata, dunia kerja. Saat itulah jiwa seseorang menentukan akan seperti apa sintesis yang keluar daripadanya.

Detik yang terus berderik
Sadar tak sadar merangkai langkah
Berapa tirai mencoba terkuak di udara
Datangkah apapun yang dinanti
yang lalu melintas?

Jikalau belum tergenggam
Kembalikan pada keteraturannya
Kita dan semua menunggu
Masihkah mentari esok menerangi,
Bilakah menemukan diri

Rangkaian ini bisa dikatakan sebagai sebuah perjalanan menemukan jati diri. Dimana kita akan berdiri pada satu titik dan menatap balik, seberapa jauh perjalanan ini, sampai dimana hari ini. 

(Arsip Tahun 2007)

Sekapur Sirih Pernikahan Sahabat

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:13 AM

Boi,
Semoga keselamatan dan kesejahteraan senantiasa bersama kita boi.

Berdebar hati awak, ketika sepucuk suratmu itu tiba boi. Telah awak buka surat itu, surat undangan itu yang telah sekian lama kita nanti-nantikan, yang menandai titik baru dalam hidupmu boi. Hari ini, engkau bukan lagi dirimu yang dulu boi, engkau akan mengikat janji, seperti di pilem-pilem dan lagu-lagu itu boi. Seperti teman-teman kita yang terdahulu, dimana kita menghadiri undangannya.

Jika ditanyakan pada awak kapan akan menikah, maka akan awak jawab menunggu Firman. Jika ditanyakan padamu kapan akan menikah, maka akan kau jawab menunggu Wahyu. Sehinggalah dikala itu, di musim kawin yang lalu, terucap juga kutukan dari salah seorang teman kita, kenapa tidak kita berdua menikah saja? Sekarang boi, ketika ditanyakan pada awak pertanyaan itu, apatah lagi jawaban yang bisa awak berikan boi.

Mendadak teringatlah awak pada bermacam pengalaman yang pernah kita lalui, dari pelosok negeri, penjuru sungai, hutan, bukit dan lautan, yang pahit-pahit dan asam-asam, entah kenapa boi, kenangan denganmu jarang terasa manis. Sejak lama kita berteman boi, sejak pertama mendapat seragam merah putih itu.

Kalau saja waktu itu, waktu kita berenang di sungai Auo, berayun dengan akar yang menjuntai, kita terbawa arus yang deras karena konstruksi pada alur sungai, tentu kita telah hilang ditelan zaman boi.

Kalau saja waktu itu, waktu kita bermain bola di lapangan tak berumput, bola yang sedang diam itu kena engkau tendang boi, mungkin engkau sudah akan jadi timnas garuda sekarang.

Kalau saja waktu itu, waktu memancing ikan di sungai kecil di hutan liar di ujung dunia yang kita tempuh dengan berjalan kaki berpuluh kilometer itu kita mendapat ikan boi, mungkin kau sudah akan menjadi seorang nelayan sekarang.

Kalau saja waktu itu, buku cerita yang kita tulis sambil mengabaikan pelajaran berhitung itu tidak ditangkap ibu Liliyanti, mungkin kau sudah menjadi penulis Laskar enam belas sekarang ini boi.

Kalau saja waktu itu, sewaktu mencari buah kemang di pohon tetangga itu kau tidak bertemu Dedek Kusnadi, mungkin pikiranmu tidak akan terganggu seperti ini boi. Bahwa pikiranmu terganggu, sudah lama awak sadar sepenuhnya. Sejak kau bilang akan menjadi presiden untuk menggantikan Pak Harto idolamu itu. Saat itu, kupikir tali enam mu hampir putus boi.

Semua itu boi, hanya sedikit dari kemungkinan-kemungkinan, pilihan-pilihan dan pengalaman-pengalaman yang telah kita lalui. Meski tak pernah kita ketemu kata sepakat kecuali untuk hal-hal kecil tidak relevan yang berhubungan dengan Dedek Kusnadi yang kehilangan tali enam, Nopi Kohirozi yang perlu mentraktir empek-empek, Ichin dan Andi yang lumayan kribo, Adeks yang perlu mensuplai roti untuk pertandingan catur, serta Arman dsb, tak ada dari hal-hal itu yang esensial. Namun tak bisa dipungkiri, bahwa engkau adalah salah satu kawan terbaik yang awak punya boi, salah seorang jenius yang awak kenal, tidak salahlah jika engkau menjadi juara umum No.2 seSMP enam belas itu boi. Mari kita asumsikan saja bahwa orang-orang tidak akan menanyakan siapa terbaik no.1 nya..

Sungguh boi, sungguh benar berita yang disampaikan oleh Quran yang kita baca ini boi. Bahwa telah diciptakan pasangan-pasangan untuk segala sesuatu, untukmu pasanganmu. Meski untuk menemukannya pergi juga kau meninggalkan kampung halaman yang jalan-jalannya berlubang sedalam-dalam jurang, yang tanjakannya tidak dihitung oleh insinyur itu boi, menuju kota yang semanis masakan-masakannya ini yang salah seorang penghuninya memikat hatimu. Saat berpamitan, kau kan mencari ilmu, katamu boi. Ternyata selain ilmu ada hal berharga lain yang kau dapatkan, sebuah pembuluh rindu.

Jalin-menjalin dengan waktu, tangan takdir itulah yang telah membawa kita menjadi kita hari ini boi, menjadi engkau, yang sehari ini menjadi raja. Takdir boi, keberadaan kita, keberadaan manusia, sesuatu yang sudah seharusnya tak habis-habis menjadi penyebab rasa syukur kita.

Tentunya engkau sudah hampir lupa pada kutipan dari Hirata (2010) ini boi.. "..betapa memilukan keadaan kami. Dua orang bujang lapuk yang tak mampu berbuat apa-apa selain mengasihani diri sendiri, terpojok di sebuah kamar losmen murahan, di antara kecoak yang berseliweran, gemeretak bunyi tikus, dan gelak tawa para pelaut mabuk di lantai bawah."

Sebentar lagi salah seorang dari bujang lapuk itu akan mengalami transformasi menjadi seorang pemimpin keluarga boi, sungguh bahagia sekaligus sedih hati awak boi, bahagia karena akhirnya satu langkah maju akan kau tempuh untuk membuat hidup lebih bermakna dan sedih karena tinggal seorang saja kini yang terpojok di kamar itu, yang tak mampu berbuat apa-apa selain mengasihani diri sendiri.

Setelah hari ini, tentu awak harus menahan diri dari mendadak muncul di depan pintu rumahmu boi. Untuk segera beredar mencari Syahril yang hilang. Untuk segera meluncur menuju rumah guru mengaji kita. Untuk segera meminta jatah preman dari juragan timah. Atau untuk sekedar mendiskusikan hal-hal remeh seperti relevansi integrasi partisipasi indomi dalam birokrasi dan realisasi desentralisasi. Baiknya saat itu awak nyanyikan saja lagu DLloyd boi, Oh dimana, oh dimana kawan dulu, yang sama berjuang.

Setelah hari ini, kau adalah seorang pemimpin keluarga boi. Awal dari sebuah babak baru dalam kehidupan, hal baru bagimu boi, tentu kau masih harus belajar banyak untuk itu. Caramu mendidik kucing berbulu kuning dengan system militer itu, yang kau tuduh berbulu tapi tidak mau mengaku, dengan kepalan tangan di perutnya, agaknya tidak relevan untuk diterapkan boi. Soal yang satu ini awak pun tak punya pengetahuan, ada baiknya mendengarkan petuah dari ninik mamak dan tuo tengganai di kampung kita.

Ah, sungguh boi, sungguh besar penyesalan awak karena tidak bisa hadir untuk memenuhi undangan ini. Tentulah engkau maafkan awak, karena sedikit banyak ketidakhadiran ini disebabkan oleh satu dan lain hal seperti geografis, sosialis, politis dan ekonomis. Variable-variable itu boi, seringkali berada di luar kuasa kita. Namun, tentulah obat bagi penyesalan ini hanya jika doa dan restu awak bisa sampai:

Agar penikahan ini diberkahi Allah SWT.

Agar keluarga besar yang menyelenggarakannya berbahagia, dan keluarga yang akan didirikan ini menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Yang bisa membuat hatimu tentram, yang penuh cinta dan kasih sayang.

Agar kelak keluarga ini dapat memberlangsungkan keturunan yang sholeh dan sholehah yang membawa kontribusi positif pada bangsa dan negara ini, yang membawa kebaikan bagi umat dan mencegah manusia dari semakin banyak berbuat kerusakan di muka bumi.

Semoga keselamatan dan keberkahan senantiasa bersama kita boi.
aamiin..

Catatan:
Tentunya boleh awak asumsikan bahwa system klakson otomatis berbunyi saat ada wanita cantik di pinggir jalan itu sudah dinonaktifkan dari moda transportasimu..
Satu lagi boi, dengan resmi keluarnya dirimu dan beberapa anggota yang selama ini sangat kontributif bagi Persatuan Bujang Lapuk Nasional (PBLN), maka awak perlu merombak struktur organisasi dan mulai akan memperluas jaringan hingga mancanegara..

Wahyu
Leeds, 20112011.

30 days of drawing part I

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:13 AM

day 1: about your self 
"i'm so sleepy..." 
Belakangan ini sering sekali mengantuk di dalam kelas, untuk membuang kantuk akhirnya menggambar di buku catatan, sebentar gambar selesai dan kantuk pun hilang, aku ketiduran...

Day 2: your hobby
"eat-books"
Sebenarnya ada banyak hobi yang kumiliki, salah duanya adalah makan dan mengoleksi buku. 

Day 3: your family
"grandma n her peaceful sleep, there will be no me without my beautiful grandma.."
inilah nenek favoritku, yah... sebenarnya inilah nenek satu-satunya yang kupunya, nenek dari ibu. Sementara nenek dari ayah sudah tiada sejak ayah lima tahunan. Biasa dipanggil mbah, mbahku yang ini orangnya senang ngobrol, pekerja keras, disukai banyak orang. ini adalah ekspresinya saat tidur, menopang kepala dengan tangan. 

Day 4: your favorite place
"up on the hill"
tempat yang paling kusuka, tak ada yang tempat lain dalam pikiranku selain di atas sebuah bukit di dago atas. suatu tempat di bawah pohon, dimana kita bercerita tentang apa saja dengan bebas, sambil melihat peradaban manusia yang menyemut jauh di bawah sana. masa-masa itu salah satu bagian yang paling indah dalam hidupku.
Day 5: your favorite food
"shaun the soup"
domba atau kambing adalah salah satu favorite, saat umur masih muda dan belum ada larangan untuk makan itu, tentu harus diambil setiap kesempatan. Salah satu yang paling terkenal adalah sup kaki kambing pak udin di jalan depan bunderan UGM.
Day 6: your best friend
"laugh"
Sebenarnya ada banyak teman terbaikku dalam masing-masing fase hidup. Teman yang satu ini salah satu favoritku, karena tawanya yang lepas. Tipikal tawa yang menular, penyebar tawa, penyebar bahagia. Itu adalah salah satu manfaat memiliki teman.

Day 7: your inspiration
"the music of jim morrison"
Aku tau, sebenarnya pribada Jim Morrison bukanlah teladan yang baik. Tapi musiknya tetap yang paling sesuai dengan telingaku. Menemani selama bekerja dan belajar juga pengantar menuju mimpi-mimpi, definitely the best music in the world of all time. 

day 8: your favourite sport
"Chelsea"
yah, itu bukan sepakbola yang aku suka, tapi chelsea. aku jadi menyukai menonton bola karena menyukai Chelsea, kesukaan terhadapnya muncul begitu saja dengan alasan yang aku tak tau apa. setelah kupikir sering-sering, mungkin karena ini salah satu tim yang berjuang untuk menantang dominasi Manchester United di Liga Inggris, tim yang belum mapan.

day 9: something you like
"bunch of books"
salah satu obsesiku adalah memiliki perpustakan pribadi. di dalamnya akan ada berbagai buku tebal seperti tafsir Al Misbah, Biografi Nabi SAW, sejarah, filosofi, agama serta sastra. Potret tokoh nasional yang berdiri di depan lemari penuh buku kelihatan sangat intelek bagiku, sangat berkelas dan elegan.

day 10: someone you miss
"my beloved father (1953-2010)"
Ayahku, semoga keselamatan dan keberkahan dari Allah SWT senatiasa bersamanya. Sejak dia pergi, tak ada hari yang berlalu tanpa mendadak bayangan wajahnya muncul di kepalaku. Ayah, dalam hening sepi ku rindu...

30 days of drawing part II

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:13 AM


Day 11: Something you want today
"a smile" 
Hari ini, rindu pada senyum seorang wanita yang bisa membuat hati tentram. Seperti di gambar ini, gambar teman sekelas, sudah ada cincin yang melingkar di jari manisnya. 

 Day 12: Your breakfast today
"Fried rice of broken heart"
Memang gambar ini agak sedikit mirip amuba, padahal sebenarnya ini adalah nasi goreng. Dimasak oleh Chef Kiki sesuai dengan spesialisasinya, atau keahlian satu-satunya. Ditaburi potongan-potongan hati yang membuatnya lebih lezat. 

 Day 13: Scenery
"An old gloomy Parkinson Building @ university of Leeds"
 Kebanyakan pemandangan di Leeds adalah gedung-gedung tua dengan nuansa kelabu. Ini adalah trademark The University of Leeds, gedung yang merupakan perpustakaan, pusat bahasa, serta galeri seni, namanya diambil dari nama salah seorang peneliti di bidang ekonomi (kalau tak salah).

 Day 14: Your favourite fruit
"Apple"
Tentu saja, adalah apple buah favorit, buah ilmu pengetahuan, yang kabarnya menjadi penyebab Newton menemukan teori gravitasi, juga menjadi merek dagang produk elektronik berkelas yang sayangnya belum ada satu produk pun yang dibeli, bukan karena tidak bisa membeli, tapi karena belum ada keperluannya. 

 Day 15: Just drawing (anything you want)
"My self"
Diambil dari gambar lama, diri sendiri. Bagaimana rasanya menggambar diri sendiri? rasanya ya seperti ini, agak sedikit narsis. 

 Day 16: your turning point in life
"13 Desember 2009, No Distance Left to Run"
Menyanyi lagu Blur di atas batu karang di tepi pantai. Sampai di ujung jalan, harus pulang, mengevaluasi lagi hidup, membuat mimpi-mimpi baru.

 Day 17: your favourite superhero
"Kenji Goh, by Ryuchi Matsude and Yoshihide Fujiwara"
Ini dia tokoh idola, seorang anak SMA dari Jepang yang merantau ke negeri Cinta untuk mencari kakeknya yang hilang, akhirnya mempelajari berbagai kungfu yang utamanya adalah Kungfu Delapan Mata Angin. Sifatnya jujur, pantang menyerah dan berjiwa ksatria. 

 Day 18: Your signature
"It's actually a guitar"
Karena waktu SMA sempat bercita-cita jadi gitaris dan membuat band tenar, jadilah tanda tanganku mengikuti bentuk gitar. Gitar Ibanez warna hitam Kurt Cobain, suatu saat masih pengen punya. 

 Day 19: Your dream last night
"All the strange dreams"
Mimpi-mimpiku selalu aneh, selalu berbeda dari hari kehari, kalau diceritakan dalam bentuk sinetron entah sudah berapa episode yang tayang. Kali ini mimpi mendapat ikan di sungai, naik motor beramari-ramai, berkelahi dengan dikeroyok segerombolan orang, serta ditutup dengan acara makan.
 Day 20: Your favourite animal
"Happy and peaceful cows on a green grassland"
 Menyenangkan melihat sapi-sapi yang hidup dengan damai di padang rumput hijau yang luas, entah apa yang ada di pikiran para sapi ini. Tentunya mereka tidak berpikir bagaimana mencari makan dan penghidupan buat esok hari.

30 days of drawing part III

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:12 AM

Day 21: Something with stripe
"Bedding Set"
Di sisi tempat tidur selalu ada heater untuk menghangatkan saat dingin menyerang, tapi tidak terlalu efektif juga, sehingga masih perlu meringkuk di bawah selimut tebal. 


Day 22: what are you wearing today
"The Best University Hoodie"
Cita-citaku sewaktu kecil adalah kuliah di Universitas Oxford, kandas. Jadi semacam obsesi terhadap hal-hal berbau Oxford Unicersity, sehingga langsung ngeborong dua jaket, satu kaos, beberapa buku terbitan Oxford. Memakai hoodie nya saja sudah bisa membuat ku riang gembira. 


Day 23: something new
"New Drawing"
Seorang teman dari Iran, yang pandangannya masih netral terhadap Presiden Ahmadinejad, saat Iranian yang lain membencinya. Setiap kali bertemu orang Iran, maka yang pertama kali kutanyakan adalah padangannya terhadap Ahmadinejad, jika dia membencinya, maka itu merupakan akhir dari percakapan kami, karena aku termasuk penggemar Ahmadinejad, terlepas dari segala kontroversi dan politik dalam negeri Iran. 


Day 24: something outside your window
"The naked trees during the winter"
Disaat orang-orang mulai mengenakan pakaian musim dingin karena memasuki winter, maka pohon-pohon di halaman malah merontokkan daunnya. Hanya tersisa sebuah sarang burung di pucuk pohon, entah bagaimana cara mereka mencari kehangatan. 


Day 25: Something with your favourite color
"Chelsea New Player
Blue is the colour, Football is the game, Chelsea is the team. Sebenarnya nomer punggung sepuluh dipakai oleh MATA, tinggal dibalik-balik sedikit maka bisa jadi TAMA, anggap saja salah cetak.


Day 26: your shoes
"Brown nikeso"
Yang cocok dengan selera cuma sepatu-sepatu typical converse yang casual. Inilah pengganti converso yang dulu hilang, sebuah nikeso.


Day 27: Your eyes
"Inside the Eye"
Mataku, dulu agak sipit seperti mata orang cina, sekarang sudah mendingan. Mungkin karena mata juga, sering disangka orang Cina atau Jepang oleh orang-orang dari berbagai negara yang baru ketemu, padahal produk Jawa asli.


Day 28: your palm line
"Left Hand"
Ada seorang wanita pembaca garis tangan yang kata-katanya beberapa tahun lalu selalu terkenang. Dia bilang aku seniman dan menyarankan sebaiknya bekerja sesuai dengan bidang seni yang kusuka, kupikir itu saran yang aneh buat seorang engineer sepertiku. 


Day 29: Your imagination now
"Grows"
Imajinasi, seperti pohon, dia terus tumbuh memenuhi ruang-ruang kosong dengan arah yang tak terpredikis. Terus tumbuh dan tumbuh.


Day 30: What would you be someday
"Portrait on the wall"
Yah, sebuah potret di dinding yang bertulisan President Republic of Something kelihatannya keren. Suatu saat aku akan menggantung foto itu di dinding (bukan yang di dalam foto).

Yak, demikianlah 30 hari menggambar ini. Ternyata kegiatan ini cukup memakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal produtif seperti membaca buku dan jurnal-jurnal Ilmiah. Sehingga sejak saat ini, aku akan menggantung pensil seperti gitaris yang menggantung gitar. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terimakasih atas segala perhatian. 

a tribute to Uun

by Yows (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:12 AM

14 April 21.30 WIB

“We could be so good together - morrison”
Melihat tanggal dan jam di sebelah kanan bawah komputer, mendadak teringatlah gw kepada seorang teman yang hari kelahirannya akan berulang beberapa jam lagi. Namanya Uun, biasa di tambahkan awalan “Kang” di depannya dan dilengkapi dengan akhiran “Haseup” di belakangnya. Jadi selengkapnya bisa dibaca Kang Uun Ha…ha..hatchiin, aih, kok gw jadi bersin sebelum tuntas melafalkannya?

Okelah, terlepas dari masalah pengucapan tersebut, gw sedang berpikir keras, hadiah apa yang bisa gw persembahkan bagi sobat satu ini. Apakah itu cincin emas bertatahkan permata bersulam berlian bersimbah darah? rasanya dia bukan orang yang membutuhkannya. Apakah itu sebuah mobil mewah, rumah megah, jam tangan indah? Aih, gw percaya bahwa harta benda duniawi tidak terlalu berarti baginya, zuhud cuy, disamping alasan paling utama dan sebenarnya adalah gw sendiri belum memiliki harta benda duniawi yang tersebut diatas. Akhirnya, sebagai seorang teman yang masih cenderung self centered, gw coba membongkar ingatan gw tentang manusia satu ini dan menuliskannya dalam beberapa paragraf dalam ejaan yang tidak disempurnakan. Bukankah kita bisa berkaca melalui mata seorang teman, berbicara melalui mulut seorang teman, dan makan-makan menggunakan penghasilan seorang teman.

Pertama bertemu, pada zaman dahulu kala, sewaktu manusia masih mempertahankan hidup dengan berburu dan meramu, bertemulah gw dengan orang ini. Di kelas T12. Orang sunda asli pencinta persib boi, jadi wae bahasana sunda pisan. Kalau sudah berkumpul dengan geng sesama sunda, anak baru merantau seperti gw bakalan berpikir mereka ngomongin sesuatu yang tidak bisa di makan. Asalnya dari SMU 5 Bandung, yang setiap kali berhasil meluluskan orang aneh ke kampus paling diminati sejagat raya, jurusan paling dihormati sejurusannya.

Sejak awal melihatnya, dengan cem cem celana gunung dan sweater slipknot kali ya? Pokonya yang belel ga karuan dan biasa dipakai orang-orang anti kemapanan lah, dengan walkman di telinganya yang pilihan aliran musiknya tidak lebih dari hard core, punk, british dan indie label, gw yakin banget orang ini bakal jadi temen akrab gw. Seperti prinsip kehidupan: sama angkot bisa saling mendahului, sesama pendekar di dunia persilatan bisa saling mengenali, sesama orang gila bisa saling menyayangi. Maka jadilah kita memulai perkenalan dan persahabatan.  

“Cobalah lihat itu kelakuan, disaat gw berpose memperlihatkan wajah menyesal karena tak bisa berada disebelah rahima (3 dari kiri 3 dari bawah) dia berpose dengan tidak memperlihatkan wajah sama sekali (tertutup buku kalkulus). Gw yakin itu bukan karena wajahnya tidak layak difoto, hanya sebentuk firasat bahwa dia akan mengulang kuliah kalkulus”
Sewaktu tahun pertama kuliah, hal yang gw sadari dari orang ini adalah rasa setia kawan dan rela berkorban. Setelah kudeta angkatan yang memakan korban perasaan itu, diikuti pelantikan ketua angkatan seorang febi febiola (feri bebi feri bebi olala), gw diangkat menjadi koordinator kelas dengan tidak hormat sedangkan uun diangkat menjadi wakil koordinator dengan hormat. Berjuanglah kita menghadapi ospek yang penuh belaian kasih sayang dari para senior. Gw dengan riang gembira bisa mendelagasikan tugas-tugas yang sangat berat kepada Uun yang sangat setia kawan dan rela berkorban ini, salah satunya adalah mengantarkan seorang rekan wanita ke tempat yang sangat jauh di ujung Bandung pada malam-malam yang dingin dan gelap tiga kali dalam satu minggu selama hampir setahun.
 
“Motor legendaries dengan rajah Rage Again the Machine, yang menjadi saksi perjalanan Uun yang seharusnya juga bisa menjadi saksi kisah asmaranya."
Pada tahun-tahun berikutnya dari kuliah, kita mendapat musibah ditempatkan dalam ruang yang sama karena memiliki wajah tidak ganjil. Satu hal yang saya sadari adalah manusia ini memiliki motivasi tinggi untuk menjadi orang sukses. Jika untuk menjadi orang sukses harus memiliki nilai yang baik, dan untuk mendapatkan nilai baik harus rajin belajar, maka dia akan rajin belajar. Gw sadar dia sering menghadiri kuliah dengan duduk di jajaran terbelakang seperti halnya gw atau sahrial, dan sering menghabiskan waktu dengan ngobrol tak tentu arah dan tak jelas tujuan. Tapi gw juga menyadari bahwa di rumahnya dia mengulangi pelajaran lebih banyak daripada gw, dan pada detik-detik yang menentukan seperti waktunya harus menyalin tugas dari Oscar, dia selangkah lebih maju daripada gw, dalam artian mendapatkan salinan edisi kedua, sementara gw biasanya baru edisi keempat dan sahrial edisi kesepuluh. Jika pada waktu menjelang ujian terlihat kepanikan pada wajahnya yang bertentangan dengan ketenangan pada wajah gw, maka itu hanyalah sebuah kamuflase, karena pada akhirnya nilainya sama atau lebih besar daripada nilai gw.

“ekspresi wajah penuh kamuflase seolah-olah stress sesaat sebelum ujian, dan akan segera menunjukkan kebalikannya sesaat setelah ujian.”
Kehidupan bersama uun pada masa lalu bisa diringkas menjadi sebuah judul “realita, cinta dan rock n roll.” Kita bisa mendapati banyak paradoks dalam sebongkah diri uun. Cobalah lihat julukannya semasa tingkat empat “Uun si punk belajar”. Meski wajahnya menyiratkan radikalitas pemberontakan terhadap hak-hak yang tertindas, hasil kekejaman preman yang sering memalaknya sewaktu di sekolah, tapi perasaannya yang halus mudah tergerak terhadap hal-hal yang bisa menyentuh perasaannya. Bahkan untuk masalah kebersihan, jika melihat lantai yang kotor dan tidak ada wanita berhati mulia yang sudi membersihkan, maka uun dengan serta merta akan menyapu atau mengepel.

“Lantai Himpunan yang bersih dan kinclong yang sering menang lomba kebersihan sekampus raya, menjadi pelampiasan bakat uun untuk menjadi mbok inem (gambar ini adalah asli, bukan tipuan kamera belaka).”

Tentu saja bisa kita pahami dan kita lihat niat tulus Uun dalam menjaga kebersihan tersebut dari keringat yang membasahi dahinya. Hal ini sangat berbeda dalam hal motif, dengan kasus lainnya, yang bisa kita telaah dari gambar berikut:
 
"sebentuk ungkapan perasaan yang diwujudkan dengan sentuhan dari sang abang."
Setelah membicarakan tentang struktur yang menindas ditambah realita kehidupan dan kenyataan bahwa diperlukan revolusi dalam rangka mengakhiri kebobrokan di negeri ini, melalui pemusnahan terhadap generasi tua yang korup hingga ke akar-akarnya, dia segera akan mempertanyakan mengenai perbedaan islam sunni dan islam syiah, dan kenapa bisa terjadi pertikaian diantara mereka. Gw yang mendengar celotehnya hanya menganggap ada sedikit korslet dalam system sarafnya, dan bisa diperbaiki melalui terapi dengan disembur memakai air yang sudah dibacakan mantra-mantra.

“Ritual yang dilakukannya untuk memanggil arwah leluhur”
Meski dulu dia sering memakai kaos berwarna hitam atau merah terang dengan tulisan sick freak people atau lambang palu arit di siang hari, tetapi di malam hari mengajak kami mengikuti pengajian di Daarut Tauhid. Meski kami berangkat menuju perhelatan underground yang penuh wewangian alcohol, tapi dia segera menyeru ke masjid saat mendengar azan di Salman. Semua itu hanyalah sebuah contoh agar kita tak menilai sesuatu hanya berdasarkan penampakan luar.

Jika mendengar alunan musik yang menggugah hati, seperti irama kecapi suling, maka uun yang tadinya hanya duduk dan berhaha hehe di belakang, akan segera maju ke depan panggung, segera mengekspresikan diri dan emosinya dengan tarian yang oleh seorang pakar musik kenamaan berinisial bogel, disebut sebagai tarian lebah afrika, seperti gambar di bawah ini. Gejala yang dalam pandangan umum bisa disebut sebagai trance, bersentuhan dengan alam transcendental, bahasa orang baratnya siih kesurupan kali ya. 

“ups, sorry! Gw salah memasukkan gambar, ini sih orang yang ekspresinya rada-rada ‘gimanaa gitu’ ya. Kalo ketemu orangnya nanti gw complain deh ekspresinya yang rada ‘gimanaa gitu’ itu”
 
“ini dia yang benar, yiihaa! Lihatlah gayanya yang asyik dengan tunjuk kiri tunjuk kanan ituh (kaos hitam di depan panggung)”
Jika berbicara tentang cintanya pada wanita, orang ini pasti selalu mengidam-idamkan sesosok wanita cantik islami sholehah yang anggun perilaku, tuturkata dan penampilannya, tetapi pada saat yang bersamaan juga membicarakan seorang oriental yang berambut lancip dan berwarna merah dari film-film jepang atau korea. Pada waktu-waktu ini gw ingin menyembur lagi mukanya agar segera disadarkan. Namun demikian, saat pikirannya sedang normal, dia akan menunjukkan kebaikan dan kepeduliannya kepada orang-orang di sekitar. Salah satu hal terbaik yang pernah gw dapatkan dari uun adalah sebuah sms pada suatu hari: “Don’t ever u give up for love cause u have fuckn friend” untuk menghibur hati gw yang waktu itu sedang berhati-hati. Sementara itu, gw yakin dia akan bisa memperoleh apa-apa saja yang diinginkannya dalam kehidupan yang fana ini.
“Ciluuk baa!”
Pada intinya, kehidupan sosial gw di kampus sebagian besar adalah kisah persahabatan gw dengan uun, sahrial, sofyan, agung rock, febi, dsb. Pada tingkat akhir, kebersamaan kita mulai berkurang karena harus mengerjakan tugas akhir yang berbeda spesialisasi, serta kesibukan gw berkeliling kota dengan seseorang yang terlarang untuk disebutkan namanya. Hanya pada saat makan sianglah ada waktu untuk berkumpul di dodi derita, sekedar memesan nasi goreng telur kornet yang diikuti keributan tentang siapa yang akan membayarnya, sembari menceritakan tentang ini itu itu ini yang bisa mengurangi integensia, diakhiri dengan sholat bersama di masjid yang selalu menyejukkan hati kita.

“Foto keluarga: Seragam wajib bagi Uun (kedua dari kiri atas), jaket dan celana jeans belel, tapi ada bendera merah putihnya?
Pada akhirnya, setelah lika-liku kehidupan penuh canda duka dan tawa lara itu kita bisa menyelesaikan semua dengan baik, memulai kuliah pada hari yang sama, sidang kelulusan pada hari yang sama, dan diwisuda pada hari yang sama. Sebenarnya gw bisa lulus lebih cepat daripada uun, tapi atas dasar rasa setia kawan dan tepo seliro gw memundurkannya, oke oke, gw berbohong dengan pernyataan barusan. Takdir menentukan apa yang terjadi dalam periode itu dan setiap periode lainnya dalam kehidupan manusia, tanpa tergantung pada apakah kita menghendakinya atau tidak. Tapi suatu pernyataan yang bisa dicari derajat kebenarannya adalah, bahwa teman pada masa kuliah akan menjadi teman selamanya.

“Ekspresi kebahagiaan sesaat setelah kelulusan, lihatlah wajah yang so.. sok imut itu, menyatakan: silahkan tempeleng saya tepat di arah jari telunjuk ini, gejala masochism kali ya?”
Demikianlah seringkas lalu mengenai Uun dimasa sama-sama berkuliah dulu. Sekarang tentu saja dia telah menjadi orang yang lebih baik daripada di masa itu, karena kita semua sebaiknya begitu.

salam

(Arsip Catatan Facebook, 15 April 2010)

January 12, 2012

Okto Silaban - Labanux

Kamar Terbuka, Kamar Tertutup

by Okto Silaban at January 12, 2012 03:46 PM

Jogja – Bandung

Suatu hari, beberapa tahun lalu, saya main ke kos seorang saudara di Bandung. Waktu itu saya masih kuliah, di Jogja. Kos saudara saya ini khusus cewek, tapi tamu pria boleh masuk (belakangan saya tahu boleh nginep juga.. *asal ndak ketahuan yang jaga). Setelah melewati beberapa kamar, saya tertegun, ada beberapa kamar yang terlihat ada sepatu atau sandal lelaki di luarnya, dengan pintu tertutup. Spontan saya berbisik ke saudara saya “Ini ada cowok ya di dalam?”. Dengan santai dia jawab, “Iya kali.. Biasa itu mah.”.

Mungkin sebagian dari anda heran, kenapa saya mesti heran. Waktu itu masih tahun pertama saya kuliah, dan saya masih fresh dari “daerah” (istilah orang Jakarta untuk orang dari luar pulau Jawa :D ). Bagi kultur saya, hal itu agak “janggal”. Terlebih saat itu juga saya anak kos, di Jogja. Di daerah kos – kosan saya, kulturnya serupa dengan kultur di daerah saya. Jadi, kalau di kos – kosan cewek, ada tamu cowok masuk ke kamar, secara otomatis mengikuti aturan tak tertulis “maka pintu wajib terbuka”. Begitu juga sebaliknya, untuk kos cowok yang didatangi tamu cewek.

Saya waktu itu berbisik lagi ke saudara saya dengan polos, “Kok pintunya ditutup ya?”. Dijawab juga dengan polos, “Lha kalau dibuka ya malu lah.. Keliatan dong lagi ngapa – ngapain. Hahaha..”. Terbalik rasanya dengan yang saya pahami kalau itu terjadi di Jogja.

Jakarta

Sekarang saya masih jadi anak kos juga, tapi di Jakarta. Untuk masuk ke kamar saya, melewati beberapa kamar. Sambil lewat, sekilas saya melihat sebuah kamar yang pintunya terbuka. Kamar ini yang menghuni cewek, baru semingguan. Saya melewatinya sambil iseng melirik ke dalam (kepo..), ternyata ada tamunya, cowok. Saya ingat beberapa hari lalu juga pernah pintunya terbuka lebar, ada tamu cowok juga. Sambil melewatinya saya berujar dalam hati, “Lah.. si mbak ini, ada tamu cowok kok pintunya dibuka sih. Tutup aja lah..”.

Bukan kos saya saja yang berubah, sepertinya saya juga berubah. Entah kenapa.

Catatan: Ndak semua kos – kosan di Jogja seperti saya ceritakan tadi. Itu hanya di daerah sekitar kampus saya saja.

January 11, 2012

R. Ferdy Ferdian

radenferdy

by Ferdy Ferdian at January 11, 2012 04:13 PM

Well, it’s 2012. Listing out things that I want to achieve is pretty much make sense. In non-priority sequence, here goes: 1. Continue saving fund for further education. I’ve been doing this since I moved to Singapore. I spent quite a lot when I was working in Malaysia, partially because I was engaged at that [...]

January 09, 2012

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at January 09, 2012 01:20 PM

..If someone prays for patience, you think God gives them patience? Or does he give them the opportunity to be patient?

If he prayed for courage, does God give him courage, or does he give him opportunities to be courageous?

If someone prayed for the family to be closer, do you think God zaps them with warm fuzzy feelings, or does he give them opportunities to love each other?

–God in Evan Almighty

Jadi, (katanya) hal terbaik yang bisa kita dapatkan adalah kesempatan. Pertanyaannya, seberapa jeli kita melihat dan menghargai kesempatan tersebut?


January 06, 2012

Eko Putra

FMRTE

by Ekoputra Arif Budiman at January 06, 2012 11:36 AM

Hallo FM Lovers, Sudah memasuk bulan pertama tahun 2012, sudah sejauh mana pencapaian FM Lovers di jagat managerial klub Sepakbola anda ? apakah sudah treble ? membawa klub menjadi unbeatable ? sudah membawa divisi 3 promosi ke liga utama ? atau membawa Timnas Garuda ke Piala Dunia ? Well, saya teteeep menunggu sharing dari FM […]

January 04, 2012

Yows, The Legendary of...

akhir tahun

by Yows (noreply@blogger.com) at January 04, 2012 06:00 PM

Perkembangan tulis menulis ku semenjak aktif menjadi seorang blogger dari tahun ke tahun bisa terlihat dari catatan arsip berikut ini.
2005: 50 posting
2006: 16 posting
2007:   6 posting
2008: 10 posting
2009:   4 posting
2010: 17 posting
2011: 30 posting

Ternyata kecenderungan menulisku berfluktuasi dari tahun ke tahun, alias tidak konsisten. Pada tahun 2005 dimana baru mulai mengenal blog, terasa begitu bersemangat dengan dunia baru dan masih kaya akan ide-ide segar sehingga bisa menghasilkan 50 tulisan setahun, rata-rata seminggu satu tulisan. Lalu intensitas menulis mulai menurun seiring dengan kesibukan mengerjakan Tugas Akhir dan kelulusan.

Karena kesibukan bekerja sejak pertengahan tahun 2006 maka kegiatan menulis menjadi semakin berkurang. Selain faktor kesibukan itu, sepertinya punya pacar merupakan salah satu faktor yang juga dominan. Sampai dengan tahun 2009 sedang berpacaran dengan seseorang, sehingga dalam masa-masa itu berbagai remeh temeh dan cerita sehari-hari hanya kepada sang pacar itulah disampaikan. Hingga dulu pernah menulis surat yang panjangnya 20an halaman sebagai hadiah ulang tahun sang pacar yang ke-20an juga. Diperlukan waktu selama sebulan berangsur-angsur untuk membuat surat itu, serasa seperti mengetik laporan penelitian, laporan yang membuai-buai tentang cinta dan semacamnya.  

Jika melihat ke waktu yang lebih lampau, sebenarnya ini bukan pertama kali menulis, sejak kelas satu SMP aku sudah sering menulis. Waktu itu mulai menulis di kertas, dan diedarkan untuk dibaca oleh teman-teman sekelas, ceritanya melulu berisi lelucon dan humor yang panutannya adalah cerita Lupus oleh Hilman. Sejak kelas dua mulai menulis cerita bersambung di buku, bersama beberapa teman hingga menghasilkan dua buku tebal, selain mulai mengisi mading dengan berbagai pusisi abege dan gambar-gambar komik lucu.

Sewaktu SMA, aku menjadi staf OSIS untuk seksi keterampilan dan wiraswasta dimana salah satu pekerjaanya adalah mengurus penerbitan mading sekolah. Juga menulis untuk mading, beberapa buah cerpen dan gambar-gambar. Juga ditunjuk sebagai seksi dekorasi untuk membuat dan memasang rangkaian tulisan latar belakang panggung untuk berbagai acara-acara yang diselenggarakan.

Kembali ke masa kini, berhubung hati sedang sepi, tidak ada tempat berbagi, akhirnya blog menjadi salah satu media ekspresi. Mulai menulis lagi dengan panjang-panjang dan lebar-lebar. Mulai menggambar lagi di sela-sela waktu luang. Mulai membaca berbagai buku pegetahuan dan cerita berbahasa inggris. Mulai mendengar dan mengucapkan kata-kata bahasa Inggris sambil melatih logat british.

Tahun ini hampir berlalu. Setahun yang penuh warna-warni. Tahun depan sedang menanti, semoga membawa warna-warni cerita yang ceria. Akan kuceritakan lebih sering di sini, jika ada yang ingin mengetahui. Selamat tahun baru, sampai bertemu lagi, karena aku sudah harus bersiap-siap akan berangkant ke Scotland untuk merayakan akhir tahun di Edinburgh. Hal yang tahun lalu masih tak pernah terpikirkan akan terjadi tahun ini.

December 30, 2011

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at December 30, 2011 01:41 PM

Akhirnya bisa mengakses blog ini lagi! Entah koneksi yang kurang mumpuni atau sebab lain, 2 minggu kemarin saya sama sekali tidak bisa masuk ke dashboard. Proyek postingan per hari di bulan Desember pun gagal. *senyum-senyum karena punya alasan* :mrgreen:

Desember adalah bulan yang sangat menyenangkan. Dari sekian banyak alasan, salah satunya karena hari ini, 30 Desember 2011, adalah hari ulang tahun ke-4 Komunitas Blogger Sumatra Barat; Palanta.

Masih jaman ya komunitas-komunitas-an? Hohohohohohoho..

Tidak, kalo yang dicari cuma keuntungan semata.

Iya, ketika kita berniat baik dan berusaha tetap baik. Hehe.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya di twitter, ga nyangka setelah 4 tahun saya masih di kota ini, ketemu teman-teman lewat Palanta, dan menulis postingan ini. Dan kembali mengutip Ted Mosby,

“Friendship is an involuntary reflex. It just happens and you can’t help it.”

Saya mensyukuri teman-teman Palanta yang ada saat saya sedang kesusahan, mau ditodong bantuan, dan tentu saja siap sedia diajak berhuru-hara. Karena yang ingin saya temukan di sana adalah teman, maka saya mendapat teman. Memang ada pasang surut, orang-orang yang datang dan pergi, tapi di ujung Desember ini toh masih ada mereka yang bisa diajak berbagi tawa.

Besok kita akan merayakan pergantian tahun juga 4 tahun kebersamaan. Mau dibawa ke mana komunitas ini, biarlah angin yang menentukan. Walaupun si angin tak dapat membaca tapi ia sudah sukses jadi judul sinetron. Cukup bombastis, bukan?

.

Masuk ke area yang lebih pribadi. Tahun ini jelas banyak perubahan terjadi. Tapi biarlah Tuhan dan mereka yang berhak saja yang tau. Untuk resolusi tahun 2012;

BE A BETTER NINJA!

Yay!


December 25, 2011

Yows, The Legendary of...

the art of loving

by Yows (noreply@blogger.com) at December 25, 2011 06:40 PM

Dalam cinta, kebanyakan orang melihatnya sebagai persoalan dicintai daripada mencintai. Hal yang penting bagi seseorang adalah bagaimana agar dicintai. Demi tujuan itu orang-orang menembuh beberapa jalan. Bagi kaum laki-laki biasanya bagaimana agar sukses, kaya, berkuasa, dengan tidak melanggar batasan sosial yang ada. Sementara bagi wanita dengan membuat diri semenarik mungkin, dengan merawat tubuh, pakaian, penampilan dsb. Dan cara yang ditempuh keduanya adalah dengan mengembangkan tingkah laku yang menyenangkan, percakapan yang mengesankan, suka menolong, serta menjauhkan diri dari hal yang jelek dan norak.

Manusia juga cenderung menganggap cinta adalah objek, bukan sebagai kemampuan. Mereka berpikir bahwa mencintai adalah persoalan mudah, yang sulit adalah mencari objek yang tepat untuk dicintai. Pada manusia modern perasaan jatuh cinta biasanya berkembang karena adanya komoditas-komoditas yang bisa dipertukarkan. Jadi dua sosok manusia akan jatuh cinta jika mereka telah menemukan obyek terbaik mereka di pasaran, dengan mengingat batas-batas nilai tukar yang mereka miliki.

Pengalaman jatuh cinta biasanya dialami dalam kasus di mana dua orang yang sebelumnya merupakan orang asing satu sama lain, sepakat untuk meruntuhkan tembok yang selama ini memisahkan mereka, sehingga semakin dekat. Mereka merasa menjadi satu dan momen kesatuan ini menjadi salah satu pengalaman yang menyenangkan dan mempesonakan dalam hidup. Terutama bagi pribadi yang selama ini tertutup, terisolasi dan tanpa cinta. Keajaiban dari keintiman ini menjadi semakin dahsyat dipicu oleh daya tarik seksual serta pemenuhannnya. Dalam proses berikutnya dua pribadi itu akan saling mengenal dengan lebih baik, sehingga keintiman yang mereka rasakan akan kehilangan keajaibannya. Akhirnya segala pertentangan, kekecewaan serta perasaan bosan akan membunuh segala yang tersisa dan pesona yang sebelumnya menyelimuti mereka akan sirna. Namun hal ini sering tidak disadari karena tertutupi oleh hasrat akan birahi, cumbu rayu, saling terpesona dan tergila-gila, untuk menunjukkan betapa dalamnya cinta mereka. Padalah semua itu tidak membuktikan apa-apa kecuali rasa kesepian yang mereka derita sebelumnya.

Namun pada kenyataannya hampir tidak ada aktifitas atau usaha yang dimulai dengan bermacam impian dan harapan yang begitu luar biasa, namun mengalami kegagalan begitu saja sebagaimana cinta. Ada satu cara untuk mengatasi kegagalan tersebut, yaitu memeriksa sebab-sebab kegagalan tersebut, dan mempelajari cara untuk memperbaikinya. Harus disadari bahwa cinta adalah seni, jika kita ingin belajar bagaimana cara mencintai kita harus memulai dengan cara yang sama seperti mempelajari seni. Yaitu pertama, menguasai teorinya kedua menguasai prakteknya.

Manusia dikaruniai akal budi, adalah kehidupan yang sadar akan dirinya. Ia dilahirkan diluar kemauannya dan akan mati diluar keinginannya. Manusia menyadari kesendirian atau keterpisahannya, kelemahannya dalam menghadapi kekuatan alam dan masyarakat (disunited existence) ini merupakan sebuah penjara yang mengerikan. Sehingga dia harus keluar dari situasi tersebut dan mencari pertalian baru dengan manusia lain dan dunia luar. Bagaimana cara mengatasi keterpisahan ini, meraih kesatuan, mentransendensikan kehidupan? Salah satu cara yang kemudian ditempuh adalah menenggelamkan diri dalam keadaan orgiastic. Seperti trance yang bisa muncul dari dalam atau karena pengaruh obat bius. Pengalaman lain yang memberikan efek yang sama adalah dengan pengalaman seksual. Cara lainnya adalah dengan penyatuan dengan kelompok yang lebih besar. Untuk mencari ketentraman dan keselamatan, dengan prinsip: jika aku tak berbeda dari orang lain, hika aku tidak memiliki perasaan atau pemikiran yang berbeda dengan orang lain, jika aku menundukkan diri pada kebiasaan, pakaian, gagasan dan pemikiran yang serupa dengan orang lain, maka aku akan selamat dari situasi kesendirian yang mencekam (frightening experience of aloneness).

Cara lain untuk mendapatkan kesatuan terletak pada tindakan kreatif. Seperti yang dipraktekkan oleh seniman dan para tukang. Seeorang bisa menyatukan dirinya dengan bahan-bahan yang merepresantasikan dunia di luar dirinya. Namun demikian, hal-hal demikian hanya bersifat sementara, hanya merupakan jawaban parsial atas problem exsistensial. Jawaban atas problem ini terletak pada kesatuan intrapersonal, dalam peleburan dengan orang lain, dalam apa yang sering disebut sebagai cinta. Cinta adalah jawaban atas problem eksistensi manusia.

Beberapa jenis cinta antara lain:
Cinta orang tua dan anak, dimana cinta ibu merupakan peneguhan tanpa syarat terhadap hidup dan kebutuhan-kebutuhan seorang anak.
Cinta persaudaraan, cinta terhadap semua manusia. Merupakan sebuah rasa tanggung jawab, perhatian, pernghormatan serta oemahaman akan setiap manusia yang ingin kita majukan hidupnya.
Cinta erotis, penyatuan dan peleburan antar pribadi yang bersifat ekslusif dan tidak universal.
Cinta diri, yaitu cinta kepada diri sendiri identik dengan narsisme.
Cinta Tuhan, yaitu cinta kepada nilai tertinggi yang paling didambakan yang merupakan kebutuhan dasar dari manusia.

Cinta adalah sebentuk kapasitas yang terlahir dari karakter yang matang dan produktif. Namun kedudukan dari cinta yang sebenarnya digantikan oleh sederatan cinta semu yang mencerminkan terjadinya disintegrasi cinta dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Eksistensi masyarakat kapitalis didasarkan atas pasar, dimana segala sesuatu atau kepandaian yang dianggap berguna diubah menjadi komoditas yang diperjual belikan. Sehingga hasilnya adalah membentuk kepribadian manusia modern yang terasing dari dirinya, dari sesamanya dan dari alam semesta.

Manusia modern menjadi semacam komoditas yang menempatkan kekuatan dirinya sebagai investasi yang harus membawa keuntungan. Namun mereka tidak menyadarinya karena peradaban membuat rutinitas yang luar biasa ketat. Lalu sebagai akibatnya mereka berusaha mengatasi keputusasaan bawah sadarnya dengan cara menenggelamkan diri dalam hiburan rutin serta konsumsi pasif, membeli barang-barang dan kebutuhan untuk selalu tampil baru. Hal itu pada akhirnya menyebabkan manusia modern menjadi manusia yang tak sanggup mencintai, hanya bertukar paket kepribadian sambil berharap mendapat imbalan yang sepadan.

Dalam menyingkapi kegagalan tersebut beredar buku-buku tentang petunjuk dan nasehat tentang perilaku seksual. Hal ini terjadi didasarkan atas ide pokok bahwa jika dua orang saling memuaskan kebutuhan seksual masing-masing maka mereka akan sanggup mencintai satu sama lain. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Freud, yang menyatakan bahwa Pemuasan atas semua hasrat instingtual secara total akan membawa pada kesehatan mental dan kebahagiaan. Namun semua ini hanya ilusi karena cinta bukanlah hasil dari kepuasan seksual, melainkan sebaliknya. Konsep Freud itu bisa dibandingkan dengan gagasan psikoanalis lainnya bahwa bahwa cinta dimulai apabila seseorang merasa kebutuhan orang lain menjadi sepenting kebutuhannya sendiri.

Untuk menuju ke arah itu, kita perlu mempelajari apa-apa yang diperlukan untuk praktek mencintai. Untuk bisa mempraktekkan suatu seni, dalam hal ini, seni mencintai ini pertama-tama dibutuhkan kedisiplinan dalam mempelajari dan melatihnya. Disiplin bisa dilatih dengan tidak memanjakan diri, dan memanfaatkan waktu dengan teratur untuk kegiatan seperti meditasi, membaca, mendengar musik dan berjalan-jalan.

Lalu dibutuhkan konsentrasi, karena duduk diam tanpa bicara, membaca atau makan dan minum selain hanya berkonsentrasi merupakan hal yang sulit bagi manusia modern. Melatih konsentrasi dengan belajar berdiam diri, seperti dalam meditasi atau beribadah. Dalam mendengar musik, membaca buku, berbicara, atau menikmati pemandangan dimana perhatian seseorang dicurahkan sepenuhnya. Hal-hal yang penting dan tidak penting akan memperoleh dimensi baru. Berkonsentrasi berarti hidup sepenuhnya saat ini, disini dan sekarang ini. Aktif dalam pikiran dan perasaan serta menggunakan mata dan telinga sepanjang hari. Lalu dibutuhkan kesabaran, disaat seluruh sistem industri modern menekankan prinsip kecepatan yang sangat bertentangan dengan kesabaran. 
 
Disamping itu syarat utama untuk mencapai cinta adalah mengatasi narsisme. Yaitu orientasi dimana seseorang hanya menganggap riil, benar, dan nyata apa-apa yang ada dalam dirinya sendiri, sementara fenomena diluar dirinya dianggap tidak mempunyai realitas selain sejauh berguna atau berbahaya bagi dirinya. Yang harus dikembangkan adalah lawan dari narsisme adalah obyektifitas, yaitu kemampuan untuk melihat orang lain atau benda-benda sebagaimana adanya. Namun senantiasa harus ada cinta terhadap diri sendiri pada orang-orang yang mampu mencintai orang lain.

Kemampuan untuk mencintai juga tergantung pada kapasitas kita untuk tumbuh dan mengembangkan orientasi produktif dalam berhubungan dengan dunia dan diri kita sendiri. Mereka yang memperhatikan cinta sebagai jawaban bagi masalah eksistensi manusiawinya, harus sampai pada kesadaran bahwa diperlukan perubahan radikal dan berani dalam struktur sosial jika menginginkan cinta bisa terwujud sebagai fenomena sosial, bukan fenomena marginal yang ada dalam diri personal. 
 
Referensi:
Fromm, Erich. 2005. The Art of Loving. Fresh Book, Indonesia.

seribu kata untuk ibu

by Yows (noreply@blogger.com) at December 25, 2011 05:42 AM


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas ibu.. ibu..

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas.. ibu.. ibu..

Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas ibu.. ibu..

Ibu, Iwan Fals.


Ibu, semoga segala berkah selalu tercurah untuknya, adalah orang yang telah mengandungku dengan susah payah, orang yang melahirkanku dengan bertaruh jiwa, dan orang yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang. 

Ibu, semoga selalu dalam limpahan kasih sayang, tak pernah mengatakan menyayangiku, menyayangi anak-anak mereka, atau menyayangi siapapun, tapi menunjukkannya dengan tatapanya kepada anggota keluarganya. Menunjukkannya dengan ekspresi dan perbuatannya, dengan memanjakan kemauan anak-anak. 

Ibu, semoga senantiasa berada dalam keselamatan, seringkali terlalu mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya, sehingga melarangku mandi di kali yang airnya deras, melarangku bermain jauh-jauh, melarang pulang terlalu malam, melarangku mandi hujan karena akan membuatku demam. 

Ibu, semoga pengetahuannya cukup untuk menjadikannya bijaksana, tidak menyulitkan diri dengan membaca berbagai buku pedoman dan panduan. Semua peran dijalaninya seadanya dengan naluri yang sudah dimilikinya sedari awal. Dia mendapatkan perannya yang penting tanpa harus pula berteriak tentang emansipasi. Ibu tidak mencari peran dalam lingkup luas yang meliputi perjuangan nasional, pengentasan kemiskinan, pencerdasan bangsa, yang jelas semua peran untuk mendidik anak dengan baik telah dijalaninya dengan penuh pengabdian, dengan memberi kasih sayang dan tanpa pamrih. Dia yang hanya mencintai dengan sederhana, memberi contoh dengan perilaku, menjalani hidup dengan keikhlasan. 

Ibu, semoga selalu dimudahkan segala urusannya, merupakan pengelola kehidupan keluarga yang mengatur anggaran biaya dan berbagai perencanaannya. Perannya di rumah tidak hanya untuk mengasuh anak-anak dan memasak setiap hari, tetapi juga untuk membantu mencari nafkah untuk melengkapi kebutuhan keluarga. Langkahnya akan selalu tegar meski terkadang bersusah-susah.

Ibu, semoga yang terbaik selalu dilimpahkan Allah kepadanya,  selalu menuruti perintah dan kata-kata ayah, namun tidak jarang dia ada dibalik keputusan-keputusan penting yang ayah buat. Tidak jarang juga nasehat dan perasaannya terbukti benar, ketika ayah tak mendengarnya. Seperti ketika dia bilang untuk berhati-hati dalam menaruh kepercayaan pada seseorang, terbukti orang tersebut yang membuat kami sekeluarga harus bersusah-susah selama beberapa tahun.  

Ibu, semoga senantiasa bahagia dengan kesederhanaan, menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Bekerja, memasak dan membereskan rumah di siang hari, beristirahat di malam hari sambil duduk bercengkarama dan menonton cinta fitri. Sesekali dia akan berkomentar  ketika hal-hal tragis terjadi di televisi. 

Ibu, semoga tercukupi segala kebutuhannya, di sela-sela hari dia akan menanyakan masakan apa yang anak-anaknya inginkan, ia akan suka menatap keluarganya yang sedang makan dengan lahap. Sesekali dibelikannya kepiting, kerang, dan udang besar-besar favoritku. Sesekali dimasakkannya tumis ikan asin yang selalu kurindukan.  

Ibu, semoga selalu dimudahkan dalam urusannya, terbiasa dengan cara berpikir yang optimis yang selalu memandang ada jalan keluar dari semua permasalahan. Ketika aku dihadapkan pada pilihan antara keinginan ayah agar aku medaftar ke sekolah akademi seperti STPDN yang bebas biaya yang bertolak belakang dengan keinginanku untuk mendaftar perguruan tinggi yang membutuhkan biaya besar, Ibu mendukung kemauanku dengan tanpa syarat. “Dicoba saja.” Begitu selalu kata Ibu, hingga luluslah aku di ITB dengan mendapat beasiswa penuh.  

Ibu, semoga keselamatan senantiasa bersamanya, selalu mengkhawatirkan keselamatan anaknya yang kesukaannya merantau jauh-jauh ini. Ketika berpamitan, terbesit kesedihan pada tatapan matanya, meski dia hanya tersenyum dan mengikhlaskan. Dalam malam-malamnya tanpa diminta dia selalu mendoakan.

Ibu, semoga selalu dikelilingi orang-orang yang menyenangkan, sehingga ibu-ibu di sekitar rumah selalu menyempatkan waktu mereka di pagi hari untuk datang sekedar bertegur sapa dan bercerita apa saja, yang mungkin menjadi pusat penghiburan mereka untuk mengisi waktu diantara kebosanan rutinitas sehari-hari. 

Ibu, semoga selalu dalam lingkungan yang damai dan menyenagkan. Dia selalu membutuhkan kehadiran anggota keluarga di sisinya. Jika adik belum pulang hingga sore menjelang malam, maka dia akan bertanya-tanya sendiri kemana adik pergi, menyuruh menelepon dan mengirim pesan. Bila abang tidak pulang selama beberapa hari, dia bertanya-tanya apa saja kegiatannya. Untuk mengisi waktu kosongnya dia akan berkunjung ke rumah sanak family, bermain dengan cucu-cucunya yang lucu sekaligus nakal. Dia selalu senang mendengar rengekan anak-anaknya, yang menandakan bahwa kehadirannya sangat dibutuhkan, bahkan ketika semua anak sudah besar. Terhadapnya, semua anggota keluarga selalu merasa bisa bermanja. Meski entah kenapa, ketika beranjak dewasa kita jadi terlalu kaku untuk memeluknya. Kelak jika memiliki istri, akan kuminta supaya sering-sering memeluk Ibu, atas namaku. 

Ibu, semoga selalu dilingkupi oleh kabar baik, sering menelepon hanya untuk menanyakan makan apa anaknya ini yang jauh dirantau, sering juga menerima telepon untuk mendengar bahwa anaknya sedang kekurangan uang, atau untuk mendengar berita bahwa anaknya sedang sakit demam. Dan seringnya dia hanya memberikan tawa yang menghibur, bahwa sekali-kali sakit sudah biasa dalam kehidupan ini, dan itu tidak akan berlangsung lama. 

Ibu, semoga senantiasa diberi kesabaran dan ketabahan, dia yang tak pernah mengeluh ketika harus selama dua bulan lebih menunggu dan menjaga ayah di rumah sakit. Dia yang menjaga optimismenya untuk mengejar kesembuhan. Dia yang menemani ayah hingga saat-saat terakhir yang tak bisa dihindari. 

Ibu, semoga airmata kesedihan tidak sering menetes jatuh di pipinya, hampir tidak pernah kulihat menangis. Dia yang hanya menangis saat keadaan benar-benar tidak tertanggungkan. Akhirnya tak ada yang berdaya untuk mencegah airmata itu jatuh di pipinya, karena itu airmata untuk ayah. Saat itu, betapa setiap anak akan berjanji dengan segala upaya untuk mencegah airmata kesedihan seperti itu jatuh lagi dari seorang ibu. 

Ibu, semoga kelak bisa bertemu kembali dengan ayah di dalam surga, tidak mengatakan betapa dia kehilangan atau betapa dia merindukan. Tapi menunjukkan perpaduannya ketika menatap foto ayah atau saat mendadak terdiam dengan menekan perasaan yang membuncah. 

Ibu, semoga senantiasa berada dalam damai dan cinta, selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya. Setiap kali kami merasa kalah, lelah dan butuh tempat mencari damai, ibu akan selalu menunggu di rumah, tempat dimana segala damai berasal, tempat dimana segala motivasi terkumpul. 

Ibu, semoga selalu mendapati anak-anaknya menjadi orang-orang yang berbakti. Anak-anak yang mendengarkan nasehatnya, yang tidak akan menyia-nyiakannya pada masa tuanya, yang menggantungkan kebahagiaan pada kebahagiaannya, yang menyisihkan penghasilan untuknya, yang bersuara lembut dan santun ketika berbicara kepadanya. 

Referensi:
Gambar, http://marcestrin.blogspot.com/2010/05/happy-mothers-day.html

December 21, 2011

Yows, The Legendary of...

Sherlock Holmes: A Game of Shadows

by Yows (noreply@blogger.com) at December 21, 2011 07:18 AM


Premiere: 16 Desember 2011
Director: Guy Ritchie
Sherlock Holmes: Robert Downer Jr
Dr John Watson: Jude Law

Setelah sekian lama, akhirnya yang ditunggu datang juga. “Sherlock Holmes 2, A Game of Shadows”, sebuah film tentang tokoh ditektif terkenal di Inggris, yang ditulis oleh penulis terkenal Inggris Sir Arthur Conan Doyle dan difilmkan oleh sutradara inggris Guy Ritchie, serta tentunya didukung oleh pemeran film Inggris Jude Law. Akhirnya, kutonton juga film ini di Inggris. 

Dengan harga tiket bioskop yang setelah mendapat diskon untuk pelajar jika di kurs rupiahkan, setaraf dengan 90 ribu, maka kubuat catatan dalam hati untuk tidak sering-sering menonton film di bioskop. Tentunya jika ingin menonton bioskop sekali saja selama tinggal di Inggris, film itu adalah film asli inggris ini, Sherlock Holmes. 

Sementara Premiere di London berlangsung seru karena menghadirkan para bintang tenar di filmnya dalam berbagai wawancara, premiere di Leeds berlangsung biasa-biasa saja, tidak ada antrian sampai ke pintu keluar bioskop seperti yang biasa terjadi di Indonesia, juga tidak ada poster yang besar tempat untuk berfoto ria. Namun demikian, pada jum’at malam ini ternyata kursi cukup terisi penuh. Film pun dimulai, sialnya tidak ada subtitle, karena sudah sewajarnya ini film Inggris yang bebahasa Inggris dan ditayangkan di Inggris, sehingga mereka tidak perlu subtitle bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia. 

Di sini Sherlock Holmes (Robert Downey Jr) harus berhadapan dengan musuh besar yang kecerdasannya setaraf dengannya yaitu Professor Moriaty (Jared Harris), yang dikisahkan adalah seorang Professor jurusan Matematika dari Cambridge University. Moriaty yang juga seorang pemilik pabrik senjata, ada dibalik berbagai kejahatan yang bertujuan memicu terjadinya perang dunia pertama, demi meraih keuntungan besar dari penjualan senjatanya. 

Cerita dimulai dengan keterlibatan Holmes, tokoh detektif swasta yang terkenal dengan analisis yang tajam, kecerdasan dan pengetahunnya untuk menggagalkan salah satu kejahatan yang berasal dari Moriaty. Irene Adler (Rachel McAdams), wanita yang merupakan pasangan sejati Holmes, yang ditugaskan untuk misi itu oleh Moriaty harus berakhir dengan meminum racun. 

Perseteruan antara Holmes dengan Moriaty pun semakin memanas, Holmes menyelidiki kejahatan apa yang sedang direncanakan oleh Moriaty. Moriaty mengancam dan merencanakan pembunuhan terhadap Dr. Watson (Jude Law) pada saat dia berangkat untuk perjalanan bulan madunya. Kereta yang mereka naiki dibajak, bulan madu Watson beakhir dengan istri barunya Mary (Kelly Reilly) dilempar ke sungai oleh Holmes dari atas kereta ketika melewati sebuah jembatan. 

Dengan berbagai adegan perkelahian, yang seringkali dimulai dengan berbagai reka awal dan analisa oleh Holmes,  corak film ini masih seperti film “Sherlock Holmes” sebelumnya serta film-film seperti “Snatch” dan “Lock, Stock and Two Smoking Barrels” garapan Guy Ritchie sebelumnya, dengan plot yang berpindah-pindah dengan cepat. 

Ceritanya memang menyimpang dari cerita Holmes yang di buku atau yang sebelumya diadaptasi ke dalam berbagai film seri, dengan menghadirkan lebih banyak aksi dibandingkan analisis dan penarikan kesimpulan ala Sherlock Holmes. Bisa dikatakan ini adalah Holmes interpretasi dari Guy Ritchie dkk. Interpretasi yang menurutku menarik, menyenangkan dan mengundang gelak tawa. Secara umum, konflik dan intriknya tidak terlalu rumit sebagaimana seharusnya cerita detektif, akting tokoh Gypsy Simza (Noomi Rapace) juga terasa kaku dan tidak wajar. Sangat disayangkan peran artis di film “The Girl with the Dragon Tattoo” ini yang mungkin dipilih untuk memperoleh ke-Eropaannya. Namun aksen Robert Downer Jr cukup bagus dan aksen British Jude Law tetap brilliant seperti biasanya, sehingga tanpa subtitle banyak kata-kata yang lewat dari ditangkap telinga. Secara umum, tentu saja film ini layak ditonton demi mendapat hiburan segar dan pintar.

December 20, 2011

Okto Silaban - Labanux

Krisis Keuangan di Amerika itu Sebenarnya Gimana Sih? Ini Dia

by Okto Silaban at December 20, 2011 03:57 PM

Dulu saya mendapat informasi sepotong – sepotong soal kenapa ada Occupy Wallstreet (demo dimana – mana di Amerika), terus krisis keuangan di Amerika tahun 2008 silam (dan sekarang sepertinya terjadi lagi). Jadi kebanyakan nebak – nebak juga (dari hasil baca koran, nonton film dokumenter, dll). Nah animasi ini semakin memperjelas bagaimana semua proses itu terjadi.

Selamat menonton.

The Crisis of Credit Visualized – HD

[UPDATE]
Ada juga satu film full yang membahas tentang krisis ekonomi Amerika tahun 2008 tersebut, lebih detail lagi, lengkap dengan wawancara dengan pihak – pihak yang terlibat langsung. Saya tonton sekitar bulan Agustus lalu. Tadi malam mau nulis juga tapi lupa judulnya, baru inget lagi judulnya dari komentar di bawah : Inside Job. *terima kasih om Affan telah mengingatkan saya kembali :)

Di film Inside Job ini banyak istilah, nama – nama (perusahaan, orang), dan konsep yang mungkin tidak begitu populer di kalangan awam. Saya sendiri sempat mengulangi beberapa bagian untuk bisa mencernanya (dan sekarang pun lupa lagi) hahaha.. Animasi seperti di atas itu ada juga di film ini, tapi lebih detail seingat saya.

December 14, 2011

Okto Silaban - Labanux

Indonesia di Front Page Reddit.com

by Okto Silaban at December 14, 2011 06:14 PM

Jarang – jarang berita tentang Indonesia nyampe di  halaman depan Reddit, kalaupun ada biasanya bukan bernuansa positif. Hari ini sepertinya begitu juga.

*klik gambar untuk masuk ke tautan di Reddit

December 13, 2011

Okto Silaban - Labanux

Manajemen vs Pernak – Pernik

by Okto Silaban at December 13, 2011 01:47 AM

Sebuah perusahaan bisa memiliki komputer yang baru, meja kerja yang baru, kursi yang ergonomis, atau malah kantor baru sekalian, ditambah aneka permainan digital yang mengasyikkan.

Tetapi jika kultur, kebiasaan organisasi dan manajemen yang berantakan -nya tetap saja berlangsung, percuma.

Tapi ya.., selama manajemen yang berantakan itu secara de-facto tetap menghasilkan pundi – pundi uang yang nilainya tidak sedikit, apa mau dikata. Pada dasarnya ini adalah bisnis, yang obyektif nya adalah di akhir tiap periode, saldo di rekening perusahaan harus makin bertambah.

December 12, 2011

Yows, The Legendary of...

kesetaraan

by Yows (noreply@blogger.com) at December 12, 2011 05:54 PM

Beberapa waktu lalu, aku harus menghadap seorang koodinator disertasi untuk mendiskusikan topic disertasi dan calon pembimbing. Sampai di depan gedung jurusan, ternyata pintu sudah dikunci karena sudah pukul 5pm lewat. Setelah memencet bel, berharap orang di dalam gedung membukanya. Pintu lalu dibuka dari dalam oleh seorang pria muda yang tidak bisa melihat, tunanetra. 

Dia menyapa, kukatakan padanya bahwa aku akan menemui Jeremy. “follow me”, Katanya kemudian, sambil mencari jalan dengan menggunakan tongkat. Maka ku ikuti langkah kakinya, dengan perasaan lucu bahwa orang yang bisa melihat dengan normal dituntun oleh orang yang tidak bisa melihat. Dunia terbalik, orang-orang bertukar peran, dengan menyenangkannya.  

Setelah masuk lorong, belok kanan dan belok kiri, akhirnya dia menunjuk sebuah tangga dan menyuruhku naik dan mengetuk pintu di ujung tangga. Ku ucapkan terimakasih, lalu dia pergi. Kupikir mungkin dia salah satu karyawan di sini, atau mungkin salah seorang mahasiswa master tahun sebelumnya, atau mungkin mahasiswa program doctoral. 

Dua minggu kemudian, aku harus kembali menghadap calon dosen pembimbing, saat berjalan keluar berpapasan lagi dengan orang itu. Kali ini ku sapa dia, dan kami berkenalan. Kami berbicara sebentar yang menimbulkan kesan bahwa dia sangat ramah. Namanya Bryan, ternyata dia adalah salah satu seorang staf peneliti dan pengajar di universitas. Selain mengajar beberapa mata kuliah tentang equity dan transport ekonomi, supervisor untuk mahasiswa master dan Doctoral, dia juga pembicara untuk berbagai seminar. Usia masih muda, mungkin tidak sampai sepuluh tahun di atasku. Kelihat fakta itu, aku pun terbengong-bengong, menatap takjub, sumringah. 

Banyak orang-orang yang dilahirkan dengan sempurna, menjalani hidup dengan sempurna, tapi seringkali tak mau memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya, seringkali justru mengeluh pada hal-hal kecil. Ada juga orang yang dilahirkan dengan kekurangan tertentu, yang menyebabkan dia berputus asa akan berbagai kelebihan lainnya, yang lantas menyalahkan takdir buruk yang menimpa dan sering berharap belas kasihan dari orang lain, bisa dikatakan pandangannya negatif terhadap kehidupan. 

Sosok Brian ini, adalah sedikit dari orang yang berhasil mengendalikan dirinya, menerima kekurangan yang ada dan berjuang dengan memanfaatkan kelebihan yang dia miliki untuk mencapai sukses, orang yang pandangannya positif terhadap hidup. Sosok yang mengagumkan, sosok yang kuhormati. Suatu saat nanti akan ku upload foto bersamanya disini. 

Selain keberadaan dia yang istimewa, tentunya lingkungan tempat dia berada juga kondusif untuk mendukung kegiatannya, dimana orang-orang dengan kekurangan fisik tertentu memiliki akses untuk pendidikan dan pekerjaan yang setara dengan orang biasa, ruang-ruang yang accessible serta didukung oleh sarana dan prasarana lainnya. Prinsip kesetaraan untuk difabel sepertinya sudah sejak lama di aplikasikan oleh negara-negara maju, termasuk di universitas ini. Hal yang sudah “mulai akan” diperhatikan oleh Pemerintah negeriku, Indonesia Raya.

December 08, 2011

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at December 08, 2011 11:21 PM

Makin bertambah umur, makin akrab dengan makna kehilangan. Bisa jadi karena orang dewasa lebih mengerti “kerugian” yang timbul akibat kehilangan daripada anak kecil. Kalau ditanya siapa orang yang paling tidak ingin kau lepaskan? Tentu jawaban pertama adalah keluarga; ayah, ibu, adik-adik. Kemudian ada teman dan pasangan yang senantiasa “merecoki” kehidupan sehari-hari kita. Ketika ditanya lebih jauh, siapa yang paliiiingggg tidak ingin kau lepaskan? Maka kebingungan mulai melanda. Apalagi ditambah embel-embel “tapi ternyata mereka pergi juga”.

Teman datang dan pergi. Kadang bukan karena mereka suka, tetapi karena jalan sudah tak bersisian lagi. Setamat sekolah yang satu melancong ke sana, yang lain melenting ke sana kemari. Hubungan tetap baik meski tidak seintensif sebelumnya. Tak apa. Yang penting tidak backstabbing berantem.

Pasangan, bila sudah tercapai masa kadaluarsanya, maka ia kemungkinan akan jadi lebih asing, sampai masa tertentu. Lalu kita akan mencapai titik pemahaman untuk tidak saling mengganggu teritori masing-masing. (lo kata gangster?!) :mrgreen:

Maka hubungan yang tidak bisa ditiadakan adalah hubungan darah. Sejauh apapun hatimu dari keluarga, akan tetap ada “kewajiban-kewajiban” yang mengharuskanmu kembali pada mereka. Hanya takdir yang bisa memisahkan kalian.

Kedua nenek saya pergi ketika saya masih belum bisa jadi apa-apa. Sampai saat ini itulah salah dua penyesalan terbesar. Waktu bertindak kejam karena saya sering mengabaikannya. Nampaknya usaha terbesar manusia adalah berdamai dengan penyesalan-penyesalan yang ditimbulkan kebodohannya sendiri…


December 06, 2011

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at December 06, 2011 10:27 AM

Something you have to forgive someone for?

Their expectations, because oh because i’m falling quite hard over you expectation kills maifreeeenn.

Something you hope to do in your life?

Break Michael Fassbender’s heart *ditabok* :lol:

Something you hope you never have to do?

Kill zombies.

.

Why so serious, eh? ;)


December 05, 2011

Okto Silaban - Labanux

Profil Tech-Biz (mobile, internet, games) di Indonesia dan China

by Okto Silaban at December 05, 2011 01:55 AM

Heboh dengan Blackberry dan iPhone padahal duit yang sebenarnya berasal dari featured phone, henpon – henpon dibawah 1jt-an, karena kelas “elit” ndak mau beli barang digital, udah pinter cari gratisan. Lagian persentasi pengguna henpon low-end & featured phone itu 80% lebih dari seluruh pengguna henpon di Indonesia.

Kurang lebih begitu yang saya tangkap dari Andy Zain sewaktu dia jadi pembicara di salah satu seminar (CMIIW). Dan saya mengganguk setuju dalam hati waktu itu.

Tadi ketemu tulisan ini, membahas tentang “dua sisi” tech-biz di China, dan jika disandingkan dengan materi Andy Zain tadi, sepertinya memang kondisi market Indonesia dan China mirip. Saya rasa kalau di Indonesia ada yang menggali lebih dalam, hasilnya bakal sama seperti tulisan ini.

Enjoy : http://techrice.com/2011/06/07/the-story-of-wl-chinas-great-internet-divide/

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at December 05, 2011 01:52 AM

Graduation goggles: the relief and nostalgic feeling one has about a time in their life when it is about to end, even if the time was completely miserable.

Saya pertama kali mendengar istilah ini dari HIMYM S06E20, The Exploding Meatball Sub. Ketika mencoba mengingat-ingat, benar saja, sudah beberapa kali perasaan tsb muncul. Masa SMA mungkin tidak bisa dijadikan contoh karena sebenci apapun terhadap proses pembinaan dan tetek bengek senioritas rutinitas keras nan membosankan, saya punya teman-teman yang hebat dan guru-guru yang menakjubkan.

Errr.. tapi bisa jadi sih ini termasuk graduation goggles. Toh saya memang rindu masa lugu, naif, ketika optimisme masih berada di titik puncak, satu-satunya hal yang ditakuti adalah senior yang ganas :lol: Padahal kalo lebiiiiiihhhhh diingat-ingat, betapa menderitanya detik-detik menjelang UAN, tiap tahun khawatir bisakah mencapai nilai standar, atau sekedar olahraga jantung saat terlambat apel pagi.

Graduation goggles, like with high school. It’s four years of bullies making fun of all the kids with braces, even after the braces come off and they can walk just fine. But then, on graduation day, you suddenly get all misty because you realize you’re never going to see those jerks again. –Robin

Yeah, beberapa bulan setelah tamat SMA saya memang mengalami momen I will remember youuuuu~ Wajar lah ya. Memang cukup menyenangkan kok masa-masa itu. Setidaknya bisa lumayan beradaptasi.

.

Ilustrasi singkat di atas menjadi pemanis bahasa (baca: excuse) tentang hal yang harus saya maafkan pada diri sendiri. Kalo Landon Pigg bilang I can’t let go oh i can’t let go of you, maka bagi saya kata you mengacu kepada past. Saya punya kecenderungan terikat pada masa lalu hal-hal yang sudah seharusnya dilepas. Kadang masih dalam tataran normal, seringnya malah terdengar bodoh bila diceritakan ke orang lain.

Misal nih, beberapa detik keraguan saat akan menghapus nomor mantan menghibahkan beberapa baju lama kesayangan yang dibeli & dipakai saat masih sedikit lebih kurus liburan. Ilusi bahwa bulan puasa tahun depan baju tsb akan bisa saya pakai dan rasa sayang memang sempat membuat ragu, tapi suara tajam di kepala “TURUN SEKILO NAIK TIGA KILO” berhasil membuat akal sehat bekerja. Terimakasih Tuhan.

Silahkan anda putuskan contoh di atas normal atau bodoh atau normal dan terdengar bodoh. Hehehe.

Tingginya frekuensi mengalami momen mirip graduation goggles bisa membuat kepercayaan diri menurun, kemampuan membuat keputusan melemah, dan omelan teman serta dijauhi rekan karena kebiasaan mengulas masa lalu hal-hal yang seharusnya sudah dilepaskan dan tak usah sering dibicarakan lagi.

Uh oh. Bahaya kan? Kabar buruk bagi pengidap chronic graduation goggleser *halah*. Salah-salah malah dituduh terkena post power syndrome. Tuaaaaa :lol:

Kabar baiknya, baru-baru ini pun sepertinya saya kembali mengalami graduation goggles. Ga kapok juga. Yang berarti, bila ada di antara teman-teman yang hobi mengenang masa lalu hal-hal yang seharusnya tak usah sering diingat-ingat lagi, kamu tak sendiri kok. Ada akyuu di sini~

Mari maafkan saja sifat satu ini lalu terima dia sebagai bagian dari diri kita. Makin ditolak, makin merajalela dia. Perkara keputusan menyangkut masa depan sangat dipengaruhi sifat ini, ingat, yang paling penting restu orang tua. Bila restu mereka menyertaimu, ditambah saran beberapa pihak yang kompeten (jangan banyak-banyak, cukup 2, 3,4. Lebih dari 4 mah harom! Bikin bingung! :P ), dan yang paling utama, semangat dan kefokusan untuk membuat keputusan ini benar insya Allah jalannya lancar.

LAGI NGOMONG SAMA CERMIN, DES?! :evil:


December 02, 2011

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at December 02, 2011 02:28 PM

… “to over think things to the point of it either being annoying or ruining your relationships with people.“~

Bahasa gampangnya; berburuk sangka. Atau bisa jadi terlalu berbaik sangka karena takut memikirkan yang sebaliknya. Bingung?

Contoh: kamu punya waktu satu minggu untuk menyelesaikan sebuah proyek. Beban terlalu banyak untuk ditanggung sendiri. Seseorang menawarkan bantuan. Kamu terima dengan janji tiga hari dia akan menyelesaikan bagiannya untuk kemudian kamu evaluasi, akan diadakan perbaikan bila perlu. Empat hari kemudian dia belum menghubungi. Kamu mulai kesal, menggerutu dan mengutuki dia yang tidak bisa memegang perkataan sendiri, tidak profesional, dan kamu berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi memakai jasanya. Tengah malam ia menghubungimu, meminta maaf sekaligus meminta waktu tambahan. Pukul 2 siang ia akan mengirimkan hasilnya padamu.

Hari kelima, jam 5 sore, kamu masih ketar-ketir menanti bagian bolong yang belum ada. Otakmu kini merancang berbagai excuse yang menyebabkan keterlambatan janji seseorang tadi. Yang hambatan ini lah, itu lah, sampai keadaan kesehatannya yang memang kurang baik sebulan belakangan ini.

“Ah mungkin kucingnya lagi sembelit.”

“Oh, mungkin neneknya minta diantar ke reuni 3 hari 3 malam”

“Hmmm… tetangganya sedang ada hajatan. Bisa jadi suara organ tunggalnya begitu mengganggu konsentrasi”

“Ia orang yang sensitif. Carut marut dunia politik dalam negri mungkin mempengaruhi keseimbangan batinnya.”

“Sapi bisa terbang. Ia terlalu takjub dengan fakta yang baru diketahuinya ini.”

Baik sangka sekali kan?

Akhir cerita, proyek rampung dengan satu bagian bolong tadi diajukan tanpa evaluasi. Syukurnya tidak ada hambatan berarti. Semua senang, tapi kesehatan mental satu pihak diragukan keseimbangannya.

True story bro.

.

Setiap orang pasti pernah overanalyze. Kalo contoh di atas belum mengena, coba ingat hubungan anda di masa lampau. Seberapa sering masalah timbul karena berbagai prasangka yang mencuat. Yang cewek-cewek paling sering nih. Sampai dijuluki ratu drama pun bukannya sadar malah bangga *buang muka*

We do overanalyze something because we care THAT much so we want it goes perfectly.

Iyaaa ke?

No. I often overanalyze many things because it’s fun fun fun.
Masokis.

:evil:

And that’s, my friend, the story of how i met my printer guy one thing i hate about myself.

Overanalyze, bukan masokis.

Beuh.


December 01, 2011

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at December 01, 2011 01:53 AM

Banyak yang bisa diperingati di tanggal 1 Desember ini. Hari AIDS sedunia, hari lahirnya Organisasi Papua Merdeka, hari Muhammad Hatta mundur dari jabatannya sebagai wakil presiden (hail twitter! Tempat potongan informasi berseliweran, dan tidak membuat saya seratus langkah lebih pintar). Pada tanggal ini beberapa tahun lalu, banyak orang besar terlahir ke muka bumi. Sebut saja Brad Delson, John Schlimm, Billy Childish, Pierre Arditi, Georgios Kasassoglou, dan masih banyak lagi. Siapa mereka? Ga tau. Saya juga nyontek wikipedia yang sedang minta sumbangan .

:lol:

Poinnya, setiap hari selalu ada peristiwa “besar” terjadi. Tinggal  masalah keberuntungan (kerja keras, doa, terserah bagaimana anda menyebutnya) saja, apakah kita terlibat di dalamnya. Anda ingin mencatatkan nama dalam sejarah? Gampang. Hiduplah sebenar-benarnya hidup setiap hari. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, tapi siapa sih manusia yang mau jadi gajah?

.

Cukup melanturnya. Kali ini saya ingin menasbihkan janji (cieeeeee) untuk mengikuti proyek Desembernya Fhia. Sederhana, cukup menulis satu postingan setiap hari selama bulan Desember dengan tema yang telah ditetapkan (oleh Fhia sendiri? Saya ga tau. Lupa nanya :mrgreen: ). Awalnya ragu mau ikut atau tidak. Selain masalah laten nan klasik; kecendrungan tidak suka berkomitmen, takut terserang penyakit malas akut, atau ehem.. prokras, saya khawatir dengan penjabaran tema per hari yang nantinya akan makin mengekspos diri sendiri. Jadi ga anonim lagi dong :(

HAHAHAHAHAHA *ketawa sarkas*

Tapi semua keraguan di atas disapu bersih oleh angin segar berlabel “iseng“. Dan inilah salah satu hal yang saya cintai tentang diri sendiri, yang sesuai dengan tema pertama “something you love about yourself“. Sebenarnya ada banyak. Mulai dari kegantengan, kedermawanan, keloyalan, keramahan, kesabaran, sampai kedigdayaan yang niscaya menjadikan saya sebagai menantu idaman Mr. Fassbender :oops:

Nah, who am i kidding? Saya cuma berusaha melucu, dan sepertinya gagal. Mohon maaf, kadar kelucuan sudah menurun drastis. Sekarang kan udah dewasa. Orang dewasa harus serius.

HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHA *ketawa lebih sarkas*

Apa yang kau sukai tentang dirimu, simpan saja di dalam hati sembari berdoa ia tetap seperti itu. Sekali saja kau bisikkan pada udara bebas, ia akan meneriakkannya ke penjuru dunia. Kau tau kan manusia berubah, disadari atau tidak. Dan ketika kau meratapi dirimu yang tak seperti dulu lagi, ketika usia memaksamu menjadi orang yang tak kau sukai, perlahan dunia memantulkan bagian dirimu (yang sangat kau sukai) yang kini telah hilang darimu.

Maka kau akan makin larut dalam kehilangan. Perkara akankah ia kau raih kembali atau kau biarkan dirimu berkubang ratapan, semua terserah padamuuuu aku begini adanyaaaa~

.

Iya, iya, aroma curcol memang kental. :|


November 22, 2011

Roby Nurismartian

admin

by admin at November 22, 2011 04:50 AM

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.

“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis

” Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.

source : http://adriannugraha.wordpress.com/2010/01/08/patut-dijadikan-anutan-nih-biar-bahagia-dunia-akhirat/


November 20, 2011

Desti Utami - D Articles

Homeland

by Takodok! at November 20, 2011 03:04 AM

1. Band of Brothers (2001)

Jajaran pemainnya bikin bingung. Pertama nonton, MUKANYA KOK ITEM SEMUAAAA? Cuma ngeh dengan David Schwimmer dan Simon Pegg. Histeris liat kelebatan Michael Fassbender. Ih jedar-jedornya keren, kencengin volume. Sekalian menghalau maling. Iya, saya nonton di tengah malam dan masih parno dengan peristiwa minggu lalu. Sudah 4 hari ga bisa tidur nyenyak :( *loh kok malah curcol*

Tonton ulang, mulai ngerti ini siapa, apa pangkatnya, who run into enemies like a boss [insert troll face here]. Mulai whooaa whoaaa lirik-lirik yang ganteng lalu cari profilnya di wikipedia. And yes, i fell into new eye candy; Damian Lewis!

Luntang-lantung di google cari info film apa saja yang sudah dibintangi. Ya ampun! Sudah pernah nonton Dreamcatcher kok ga ngeh ada Om Damian ya? Maklum, belum cinta sih. Lalu ketemu fansite-nya, eh ada info TV Series terbarunya. Lirik jalan ceritanya, ah cukup “standar”. Mirip-mirip Brothers (2009). Ayolah kita coba saja liat…

2. Homeland TV Series

Baru tayang 2 oktober 2011 dan sejauh ini sudah ada 7 episode. Episode Pilot-nya cukup menjanjikan sodara-sodara! Bercerita tentang tentara Amerika (marine, diperankan oleh Damian Lewis) yang telah hilang 8 tahun di Irak, dinyatakan meninggal, tapi ternyata ditemukan masih hidup. Pulang-pulang disambut sebagai pahlawan karena bisa bertahan selama itu dalam sanderaan teroris. Tapi tidak semua senang dengan kembalinya sang pahlawan. Ada istri yang gamang, teman baik yang canggung (cheater! Eh ga ding :P ), dan seorang agen CIA (diperankan dengan sangat oke oleh Claire Danes) yang curiga si tentara sudah berubah :’( tak seperti yang dulu lagi syalalalala membelot.

Cukup menjanjikan ya? Mudah-mudahan ceritanya tetap bagus, mudah-mudahan koneksi saya juga makin lancar :mrgreen:

3. Heartbreak Library

Nah yang ini selingan dari kehiperaktifan aktivitas fangirling. Idiiih.

Selayaknya film romantis asal Korea dengan aktris cantik binti imut dan aktor ganteng tinggi hampir selalu berkostum jas, film ini cukup menghibur dengan santainya. Tidak meletup-letup, tidak banyak adegan komikal ataupun sedih berurai airmata. Setting perpustakaan cukup menarik dan membuat saya makin iri karena sepertinya nyaman dan lengkap sekali.

Jalan cerita mah standar lah ya. Cowok ditinggal pacarnya, dibantu cewek lain yang juga lagi patah hati untuk menuntaskan ilusi dan obsesinya, lalu mereka akhirnya saling jatuh cinta. Plok plok plok! Detilnya silahkan tonton sendiri :D

4. Paradise – Coldplay

Heartwarming yak. Apalagi pas adegan Chris John Martin ketemu Johny, Will & Guy di tengah padang rumput, rasanya ingin ikut lompat-lompat. Sempet juga liat video konsernya di Madrid akhir Oktober kemarin. Meriah tata panggung, pencahayaan dan ada kembang apinya. Penontonnya pun cantik-cantik *melenceng*

Lagi kebanyakan waktu luang, des? AH NGGAK KOK! Kan dalam program pelestarian spesies Stressus procrastinatus.

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.


November 11, 2011

Eko Putra

Epu

by Ekoputra Arif Budiman at November 11, 2011 10:52 PM

Halo FM lovers, Baru selesai satu musim dengan memainkan Juventus F.C. tapi Wonderkids dah banyak bertebaran kedetect ma scout ane. So wajib di shre dong kalo gitu . Ini Artupoke’s 11 wonderkids list yang patut dicoba. GK – Luis Guilherme umur 19, Botafogo. Masih nggak terlalu bagus kalau langsung beli. Tapi melihat potensial ratingnya 4. […]

Okto Silaban - Labanux

Sebelas Sebelas Sebelas

by Okto Silaban at November 11, 2011 04:11 AM

Diposting tepat pukul 11.11 tanggal 11/11/’11.  #abaikan

Btw, blog ini sudah berusia 7 tahun ternyata.. #abaikanlagi

November 09, 2011

Eko Putra

Epu

by Ekoputra Arif Budiman at November 09, 2011 10:46 PM

Hallo FM Lovers, Posting ini sengaja dibuat untuk jadi tempat ngumpulin segala tips dan trik di FM 2012. Akan di update selalu.  Jika ada yang mau sharing tips mengatasi permasalahan FM 2012. Boleh di share dimari. Siapa tahu ada FM lovers yang butuh atau sebaliknya, kalau ada yang nanya monggo tanya di comment dibawah ini. […]

November 05, 2011

Eko Putra

Juventus (Overview_ Profile)

by Ekoputra Arif Budiman at November 05, 2011 07:10 AM

Halo FM lovers, Sepertinya sudah banyak ya, yang sudah maen FM 2012 saat ini, bahkan rata rata sudah update ampe 12.03. Yup, akhirnya saya menjadi salah satu dari FM lovers yang sudah memainkan FM 2012. FM tahun ini cukup berbeda dari tahun sebelumnya, apabila tahun lalu FM 2011 sudah beredar versi “sawah”nya terutama versi rusia. […]

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at November 05, 2011 12:20 AM

Dua minggu belakangan ini hampir sepanjang hari hujan deras mengguyur kota Padang dan tampaknya Sumbar secara keseluruhan. Hujan juga menyebabkan longsor di beberapa titik di Sitinjau Laut, jalur utama yang menghubungkan Padang-Solok dan kalau mau pulang ke Jambi juga pasti lewat sini. Tapi berhubung kali ini saya tak pulang, ya sutra lah *eh*

Hujan. Hujan. Hujan. Saya suka. Tapi bila terlalu tinggi intensitasnya tak urung saya rindu matahari juga, dari mulai sebab kecil (pakaian tak kunjung kering) sampai banyak kegiatan yang terpaksa dipangkas karena alasan cuaca. Dan kemarin sore, seorang teman membawa berita lain yang masih berkaitan dengan hujan. Ya, tentang musibah yang menimpa salah satu kabupaten di Sumatra Barat.

Ketidakpedulian pada pemberitaan di media televisi membuat saya terlambat mengetahui berita banjir yang melanda Pesisir Selatan, Sumbar. Beberapa jam sebelumnya saya hanya sempat melihat selintas hashtag #pedulipessel berseliweran di timeline twitter. Selintas, yang memang hanya sedikit sekali.

Entah banyak atau sedikit, yang penting bantuan untuk para saudara kita di pesisir Selatan bisa tersampaikan dengan cepat dan mudah-mudahan tepat. OKI, bila di antara teman-teman yang membaca tulisan ini ingin turut membantu, bisa melalui gerakan yang digagas Save Street Child Padang, Komunitas Blogger Palanta, dan Komunitas GatheringIS yang diberi nama Komunitas Peduli Pessel. Berikut saya kutip tulisan di web Palanta:

.

Komunitas ini akan menampung dan akan membantu menyalurkan bantuan berupa Makanan, Pakaian Bekas Layak Pakai dan lain-lain dari teman-teman semuanya. Bantuan dapat diantarkan langsung ke Posko :

Jalan Tarandam VI No. 4 Padang – Sebelah PMI Sawahan Padang

Atau juga dapat dilakukan melalui rekening :

BNI A/N GEMALA AYU : 0051-0893-43

CP :

  • 0813-3471-2961 (Ayu – Save Street Child Padang)
  • 0856-6900-4118 (Hatta – Save Street Child Padang)
  • 0856-6904-8797 (Rian – Komunitas Blogger Palanta)
  • 0831-8133-0815 (Annisa – GatheringIS)

Bantuan dan dukungan kita semua akan sangat berarti untuk saudara kita yang terkena musibah di Kabupaten Pesisir Selatan.

.


November 02, 2011

Okto Silaban - Labanux

Auto Completion “Kenapa …” di Google

by Okto Silaban at November 02, 2011 08:17 AM

:D

November 01, 2011

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at November 01, 2011 10:30 AM

Ia memang retak, cantik, kesayangan walau berbahaya. Ia mewakili periode hidup yang tidak terlalu ku banggakan, yang sudah mengajari banyak hal. Bagiku ia adalah simbol kehidupan yang pernah ku dambakan setengah mati. Khayalan mengawang-awang karena terlalu malas berusaha keras.

Cantik, aku selalu berpikir bahwa sampai kapan pun kamu akan ku pertahankan. Karena kamu satu-satunya tali penyambung ke warna-warni mimpi tanpa perlu usaha selain tingginya imajinasi.

Tapi taukah kau, Cantik, hari itu aku terhenyak ketika ibu berkata, “Ini sudah pecah. Buang saja ya?”
“Jangan!” sentakku. “Itu hadiah.” lanjutku dengan suara tercekat.
Ibu terdiam.
Lalu aku menyesal. Menyesal karena tingginya nada suaraku. Menyesal karena merasa beliau benar. Mimpi yang rusak sudah seharusnya dibuang saja. Masa kadaluarsa keegoisan masa kanak-kanakku sudah tiba. Kau bukannya tidak penting, hanya saja ada mereka yang lebih mendesak untuk ku perhatikan.

Ah, alasan cemen. Baiklah, Cantik. Aku jujur saja. Kau memang tidak penting. Kau retak, rusak, dan membahayakan masa depanku.

Selamat tinggal cantik. Aku membuangmu dari hidupku. Bila nanti kita berjumpa lagi, pastikan kau mempersiapkan diri melihatku jauh lebih hebat tanpamu.


October 31, 2011

Yows, The Legendary of...

25 jam sehari

by Yows (noreply@blogger.com) at October 31, 2011 12:11 AM

Mungkin ada beberapa orang yang diantara pekerjaannya yang menumpuk dan waktu yang mendesak, akhirnya mengucapkan doa, harapan, atau pengandaian.

“Seandainya aku punya waktu lebih dari 24 jam sehari..”

Tadaaa!

Mendadak harapannya itu terkabul. Karena hari ini, beberapa Negara di Eropa dan Amerika memiliki waktu 25 Jam sehari. Hari ini pada pukul 2 dini hari, jam akan diputar kembali ke pukul 1, sehingga resmilah dalam satu hari ini kita memiliki waktu 25 jam. Aneh.

Sebenarnya ini adalah sistem yang diterapkan oleh beberapa Negara dengan alasan terutama untuk memaksimalkan aktivitas yang memanfaatkan cahaya matahari pada musim panas. Sistem ini dikenal sebagai Daylight Saving Time, dimulai menjelang musim panas yaitu ketika jam di majukan satu jam dari standar waktu setempat dan diakhiri menjelang musim dingin dengan memundurkan kembali satu jam dari waktu yang ada. Di United Kingdom, system waktu ini dikenal juga dengan British Standard Time (BST) atau sama dengan GMT+1. Hari ini adalah hari dimana jam itu dimundurkan kembali, kembali ke standar awal yaitu GMT+0 yang menandai dimulainya musim dingin.

Sebenarnya pengguna komputer dan handphone canggih tidak merasakan perubahan apa-apa karena penambahan jam itu dilakukan pada pukul 2 pagi dan software di hp akan menyesuaikan waktunya secara otomatis. Hanya pengguna tangan dan jam dinding yang perlu mengubah setelan jamnya secara manual.
Suatu saat nanti, mungkin ada beberapa orang yang diantara harinya yang membosankan, tak sabar menunggu hari besok, akhirnya mengucapkan doa, harapan, atau pengandaian.

“Seandainya hari ini cepat berlalu.”

Tadaaa!

Mendadak harapannya itu akan dikabulkan juga, karena hari itu hanya memiliki waktu 23 jam satu hari. Hari dimulainya musim panas yang pada tahun depan jatuh pada tanggal 25 Maret 2012. Namun, saat harapan itu tercapai mungkin tak banyak manfaat yang bisa kita rasakan, karena itu terjadi saat kita sedang tertidur..

References:
http://www.timeanddate.com/worldclock/clockchange.html?n=136
http://www.webexhibits.org/daylightsaving/b.html

October 12, 2011

Eko Putra

Epu

by Ekoputra Arif Budiman at October 12, 2011 09:39 AM

Hello FM Lovers, Apa kabarnya semua ? masih betah maen FM 2011. Anyway, jika ada yang masih betah maen FM 2011 dan ingin memainkan FM 2011 dengan update transfer paling baru. Mungkin FM Lovers bisa liat ke blognya Football manager punya agan Handy di sini. As you know, FM2012 akan mulai kita nikmati 21 Oktober […]

October 09, 2011

Desti Utami - D Articles

fav movies

by Takodok! at October 09, 2011 01:46 AM

Sewaktu belajar bahasa Inggris semasa SD dulu, hobi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan saat senggang. Bila ditanya apa hobi saya, biasanya saya menjawab, “Reading and watching TV, miss!”

Beranjak SMP jawaban atas pertanyaan hobi tadi terpangkas menjadi membaca saja. Terdengar pasaran memang, tapi mau apalagi.. kenyataannya memang demikian. Hobi resmi saya ini bertahan sampai SMA dan pertengahan kuliah. Sekarang? Nampaknya sudah bergeser menjadi menonton film. Lebih santai dan bisa dilakukan sambil menyetrika, masak indomie, mengerjakan laporan, atau jadi pengantar tidur :mrgreen:

Bila bisa dilakukan sambil mengerjakan berbagai pekerjaan maka film itu (bagi saya) masuk kategori film ringan atau film favorit (karena sudah diputar berulang-ulang sampai hapal dialognya).

Kategori berikutnya adalah film penyedot perhatian, yang tidak bisa di-multitasking-kan. Akhir-akhir ini saya jarang menemukan film kategori ini. Maka senang sekali rasanya saat bertemu film jenis ini. Dan berikut adalah tiga film plus dua serial yang masuk kategori penyedot perhatian:


Ketiganya pilihan acak dan sama sekali tidak mengecewakan. Dua film pertama, Haeundae/Tidal Wave & Fair Game, adalah pemanasan bagi film ketiga, Conspiracy.

Haeundae/Tidal Wave adalah film produksi Korsel, laris, bercerita tentang ancaman tsunami di kota wisata tepi pantai berbumbu konflik beberapa penduduk-turis-profesor ahli bencana *halah*. Sebagai penduduk kota tepi pantai yang juga berpotensi bencana, saya cukup berjengit di beberapa adegan. Beberapa tahun sebelumnya mungkin saya akan sebal setengah mati pada tokoh otoritas pemerintahan dan menganggap si profesor sebagai pahlawanyang disepelekan. Sekarang, coba aja didatangi orang yang ujug-ujug bilang, “Rumah lo bakal diguncang gempa 9SR! Patahan di sekitar kepulauan mentawai! Tsunami! Bla bla bla bla”, sebagai masyarakat awam (plus pribadi yang denial) otomatis saya akan mengabaikan seruan orang pintar ini dan berujar, “Ya kalo ajalnya mau gimana lagi…” Tentu, orang yang ada di posisi penentu keputusan semestinya lebih pintar dan bijak karena ia dibekali berbagai ilmu yang bisa membantunya menentukan langkah terbaik bagi masyarakatnya.

Cakep banget yak kalimat barusan? :mrgreen: *perlahan aroma serius menguap*

Film kedua, Fair Game, diangkat dari kisah nyata seorang mantan agen CIA berkaitan dengan invasi Amerika Serikat ke Irak. Banyak detil yang tidak terlalu saya pedulikan dan kehadiran Sean Penn semata yang mendorong saya menonton film ini.

Sedangkan film ketiga, Conspiracy, adalah salah satu film terbagus yang pernah saya tonton. Selama 96 menit disuguhi “reka ulang” suasana Wannsee Conference, pertemuan para petinggi Nazi untuk menentukan langkah yang akan mereka lakukan kepada para keturunan Yahudi. Saya tidak familiar dengan banyak nama (cuma pernah dengar Heydrich), apalagi banyak detil yang entah benar fakta atau imajinasi pembuat filmnya saja. Tapi, selayaknya film-film bagus, ia menarik perhatian penonton dan membuat mereka mencari tahu lebih jauh tentang berbagai detil yang menarik sepanjang film.

Kesimpulan:

  • Kenneth Branagh keren. Kesan pertama pas nonton Harry Potter and The Chamber of Secrets yaitu Profesor Lockhart yang konyol begitu melekat di mata saya sekarang berganti menjadi k-e-r-e-n.
  • Stanley Tucci cocok jadi penjahat bermuka lempeng. Sesuai lah perannya di The Lovely Bones.
  • Ada Colin Firth. Kyaaaaaa!
  • Selalu menyenangkan melihat aktor favorit di peran-peran awal mereka. Saya ngomongin Tom Hiddleston yang di film ini cuma muncul beberapa detik sebagai operator telepon.
  • Orang Jerman sinting. Efisiensi dan komitmen pada pekerjaannya itu lho.. mengerikan *peluk mas Michael Fassbender*

Aduh. Sudah kepanjangan. Padahal masih ada dua serial yang belum digosipin dibahas. Singkat saja, How I Met Your Mother season 7 sudah sampai episode 4 (yang beredar ilegal :mrgreen: ) dan setiap episode quoteable. Supernatural season 7 sudah sampai episode 3, dan uh.. trio Dean-Sam-Castiel ini masih labil saja *eh*.

Nah, minggu depan nonton apalagi ya? Ada saran?


September 28, 2011

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at September 28, 2011 03:56 PM

Zikir itu artinya mengingat. Bukan yang disebut-sebut setiap habis sholat itu saja. Zikir dilaksanakan hanya pada tiga hal: saat berdiri, saat duduk, dan saat berbaring. Nah, berenang itu dikategorikan berbaring lho bapak-bapak. Jadi sambil berenang ya berzikir juga. Pas berdiri sedang manggaleh (berjualan) di pasar juga hendaknya sambil berzikir. Sewaktu sedang duduk-duduk santai sambil bergosip ya disambi zikir juga. Ya, ibu-ibu?

Zikir bukan tentang selalu menyebut nama Allah di mulut saja. Umpanya begini.. ada sepasang pengantin baru. Sebelum berangkat ke sawah sang suami berpesan ke istrinya, “Ingat-ingatlah uda yang karajo di sawah yo diak.”

“Yo, da” kata istrinya. Lalu baru saja sang suami keluar rumah, istri lalu berlari ke jendela, menatap punggung suaminya sambil berujar, “Suami ambo karajo di sawah, suami ambo karajo di sawah, suami ambo karajo di sawah, suami ambo karajo di sawah, suami ambo karajo di sawah, suami ambo karajo di sawah, suami ambo karajo di sawah, suami ambo karajo di sawah, suami ambo karajo di sawah, suami ambo karajo di sawah, suami ambo karajo di sawah, (x33)”.

Bukan begituuu maksud suami, kan ibu-ibu-ibu, bapak-bapak?

– Pak Ustad entah siapa namanya, ba’da maghrib, di sebuah masjid di Pasar Raya

.

Kesuksesan itu hanya 30% yang berasal dari kita pribadi. Selebihnya di tangan orang lain. Makanya jangan sungkan minta bantuan orang ya, nak?

– Ayah yang mengutip Hatta Rajasa, di sebuah pagi cerah yang berbanding terbalik dengan suasana hati

.

Kok cepet banget naiknya house value-mu? Ngepet yo?

– Seorang teman via twitter, TheSimsSocialOD juga

.

Hidup memang terasa lebih bewarna kalau kita mau sedikit saja menajamkan perhatian pada lingkungan sekitar. Pemahaman mungkin terbatas, tapi kesungguhan hati pasti suatu hari diganjar setimpal juga. Tetap percaya pada hal ini yang mungkin bisa membantu kita melewati hari-hari yang tidak selalu lancar.

Oh, yang barusan ucapan saya kok. Tumben ya (sok) bijak? Ah, pada dasarnya semua manusia punya wisdom masing-masing, sebangke apapun.

Percaya, kan? ;)


September 23, 2011

Yows, The Legendary of...

pesan moral

by Yows (noreply@blogger.com) at September 23, 2011 04:41 AM

Seminggu ini musim sudah masuk ke autumn, dimana angin bertiup dengan sangat kencang. Sehingga adalah wajar jika menemukan perkiraan cuaca memberikan kata “windy”. Dengan angin yang kencang dan rambut yang cukup panjang, maka setiap kali keluar rumah, rambutku  selalu ditiup-tiup angin hingga berantakan. Sehingga pudarlah keinginan untuk memanjangkan rambut sampai sepunggung, rambut ini harus dipotong. 

Maka berjalanlah aku ke sebuah barbershop, menanyakan harga potong rambut untuk pelajar, lalu keluar lagi dari barbershop itu karena harganya terasa kemahalan. Maka berjalanlah aku ke sebuah barbershop lainnya, menanyakan harga potong rambut untuk pelajar, lalu kuputuskan untuk menyelesaikan permasalahan ini di situ, seharga 7 pounds, setaraf dengan seratus ribu rupiah. Yaah, harga ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan potong rambut di pangkas rapi Jogja seharga lima ribu rupiah (kalimat yang terasa cukup tidak logis). 

Lalu Bapak barber menanyakan model yang kuinginkan. Satu saja model yang terlintas di kepala, model rambut Damon Albarn bekas vokalis Blur, akan tetapi agak ragu juga bahwa Bapak ini tau model rambut itu, maka kukatakan “ just make it short” dengan English yang pas-pasan, aku tak tau kosakata untuk memotong pendek dibagian tepi dan sisakan lebih panjang berikut sedikit jambul di bagian tengah, apa bahasa inggris untuk jambul?  

Lalu sambil dipotong (rambutnya), kuajak si Bapak barber bercerita basa-basi. Kami mulai membicarakan tentang sepakbola, bahwa aku ingin menonton pertandingan bola. Lalu Bapak barber bercerita tentang anaknya yang ikut klub bola dan berharap bisa jadi pemain professional, meskipun sulit. Lalu Bapak barber bercerita tentang klub bola idola di kotanya, Leeds United, yang musim ini tidak membeli pemain baru. Bapak barber mulai akan memotong rambut bagian atas, ketika beliau memasuki emosi tingkat tinggi saat mengatakan bahwa manajemen klub kesayangan hanya mementingkan uang dan bukan meningkatkan kualitas klubnya. Bicara Bapak barber menjadi sangat berapi-api, sehingga aku jadi tidak berani menyelanya untuk mendiskusikan model rambut, yang tidak relevan dengan topic pembicaraan. Sehingga hanya sekejap saja, habis sudah rambutku dibuatnya. Terlalu pendek, tidak ada sedikit jambul, tidak mirip Damon Albarn dan jauh sangat dari Jude Law. Habislah sudah..

Saat berjalan keluar barbershop, ku catat sebuah pesan moral dalam hati, “Saat sedang berlangsung sebuah peristiwa penting , jangan pernah membicarakan topik yang sangat sensitif yang tidak relevan.”

September 17, 2011

Eko Putra

Epu

by Ekoputra Arif Budiman at September 17, 2011 06:50 AM

Hallo FM Lovers, Seperti Retweet saya ( Ya pemirsa, saya sudah mengenal twitter kok), FM 2012 secara resmi akan diluncurkan pada tanggal 21 Oktober 2011. Ya mengingat dunia internet saat ini yang begitu menggelora. Tampaknya tanggal segitu juga sudah ada FM lovers Indonesia yang sudah memainkannya di PC/Laptopnya. Kalau bisa beli yang asli ya (kalau […]

September 15, 2011

Yows, The Legendary of...

edensor

by Yows (noreply@blogger.com) at September 15, 2011 03:58 PM

Wahai, sudahkah kamu membaca buku Edensor dari Andrea Hirata? Andrea adalah salah satu yang terbaik dari panulis-penulis yang ada di Indonesia, kata-katanya selalu indah, penuh makna dan membangkitkan imaginasi, salah satu favoritku. Malam ini, kubuka lagi lembaran-lembaran dari buku ini, yang dulu sejak pertama terbit sudah ku baca. Buku ini menceritakan tentang perjalanan Ikal dan Arai ke Eropa, mungkin karena sekarang aku sedang ada di Eropa juga, sehingga ku buka kembali buku ini. 

Kalimat yang tertera di halaman mukanya sebagai berikut:
Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan”, (Hirata, 2007). Rangkaian kata yang cukup menawan untuk mendefiniskan sebuah kata saja: takdir.
Cerita di buku ini masih sama, tentang pencarian cinta Ikal terhadap A Ling, serta pemujaan Arai terhadap Zakiah Nurmala.
Nanti, akan kujelajah separuh dunia, berkelana di atas tanah-tanah asing yang dijanjikan mimpi-mimpi, akan kutemui perempuan yang membuat hatiku kelu karena cinta, karena rindu yagn menyiksa..” (ibid)

Adalah Arai yang menjadi sahabat sekaligus pemicu semangat Ikal, Arai yang pantang menyerah, yang katanya memperlihatkan jiwa yang besar, lebih dari siapapun yang dia kenal.
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu", (ibid). Kata Arai suatu ketika. Adalah kebetulan, sama sepertiku, Arai ternyata adalah penggemar Jim Morrison, “Penyanyi kesayanganku Kal.. karena aku akan berjumpa dengannya, walau hanya pusaranya, di Perancis!” , (ibid).
Dan bahkan jauh sebelum membaca buku ini, sekitar tahun 2004 sudah besar keinginan ku untuk berkunjung juga ke Perancis sana, ke pemakaman Pere Lachaise, untuk mempersembahkan sebuah puisi kepada Jim Morrison, seperti yang Arai dan semua penggemar Jim Morrison dan The Doors lakukan setiap tahun di bulan Juli. Dengan anehnya, pernah suatu ketika aku bermimpi datang berkunjung kesana, ketika tak berapa lama kemudian kubaca di Koran Kompas bahwa minggu itu adalah hari untuk mengenang Jim. Seperti yang Arai lakukan ketika itu, membaca puisi.
Tak ada yang paham kalau puisi itu bukan untuk Jim. Namun, Jim Morrison dan Zakiah Nurmala adalah belahan hati Arai. Keduanya menempati kamar yang menyesakkan dadanya. Hari ini, Arai mengguncang-guncang kamar itu dengan cinta, rindu, harap dan putus asa yang lama bertumpuk di sana, terburai-burai, tumpah ruah di atas pusara Jim Morrison”, (ibid).

Selain tentang kuliahnya di Sorbonne, buku ini juga berisi tentang petualangannya menjelajahi Eropa. Darimanakah judul Edensor itu berasal? Ternyata itu adalah nama sebuah desa di Inggris. Dalam buku kenangan dari A Ling untuknya, If Only They Could Talk, karya James Herriot. Desa itu diceritakan dengan gambaran:
Lereng-lereng bukit yang tak teratur tampak seperti berjatuhan, puncaknya seakan berguling ditelan langit sebelah barat. Bentuknya laksana pita kuning dan merah tua. Pegunungan tinggi yang tak berbentuk itu lalu terurai menjadi bukit-bukit hijau dan lembah-lembah nan luas. Di dasar lembah sungai berliku-liku diantara pepohonan. Rumah-rumah petani Edensor yang terbuat dari batu-batu yang kukuh dan berwarna kelabu bak pulau di tengah ladang yang diusahakan. Ladang itu terbentang seperti tanjung yang hijau cerah di atas lereng bukit. Di pekarangan, taman bunga mawar dan asparagus tumbuh menjadi pohon yang tinggi. Buah persik, buah pir, buah ceri, buah prem, bergelantungan di atas tembok selatan, berebut tempat dengan bunga-bunga mawar yang tumbuh liar…” , (Herriot, 1970 dikutip oleh Hirata, 2007).
Bus merayap, aku makin dekat dengan desa yang dipagari tumpukan batu bulat berwarna hitam. Aku bergetar menyaksikan nun di bawah sana, rumah-rumah penduduk berselang-seling di antara jejarak anggur yang terlantar dan jalan setapak yang berkelak-kelok. Aku terpana dilanda déjà vu melihat hamparan desa yang menawan. Aku merasa kenal dengan gerbang desa berukir ayam jantan itu, dengan pohon-pohon willow di pekarangan itu, dengan bangku-bangku batu itu, dengan jajaran bunga daffodil dan astuaria di pagar peternakan itu. Aku seakan menembus lorong waktu dan terlempar ke sebuah negeri khayalan yang telah lama hidup dalam kalbuku.
Kepada seorang ibu yang lewat aku bertanya, “Ibu, dapatkah memberitahuku nama tempat ini?
“Sure lof, it’s Edensor”, (ibid).

Begitu katanya, ketika mengakhiri novel ini. Edensor, tentu saja, sudah dekat sekali tempat itu dengan tempatku berada ini. Hanya sekitar dua jam perjalanan saja jauhnya. Dan tentunya, suatu saat nanti, akan ada usahaku untuk ke sana. Mungkin akan kudapati tak akan seindah seperti yang digambarkan dalam kedua buku ini, Herriot dan Hirata, namun tetap layak untukku mengalami sendiri menemukan pedesaan itu dalam arah pandang, menghirup udaranya, menikmati suasananya, mengabadikannya dalam bentuk foto untuk dikirimkan kepadamu atau merangkumnya dalam seuntai kisah untuk diceritakan padamu. 

Ref:
Hirata, Andrea. 2007. Edensor. Bentang, Indonesia.

September 11, 2011

Desti Utami - D Articles

sims

by Takodok! at September 11, 2011 03:36 AM

Awalnya saya termasuk barisan pencibir mereka yang bermain The Sims Social di facebook. Padahal itu karena kedengkian semata akibat koneksi yang tidak memungkinkan untuk turut serta dalam keriaan permainan yang adiktif ini. Namun sejak 4-5 hari lalu saya berpindah haluan menjadi salah satu yang berujar;

maaf ya… saya lagi sibuk main sims social di facebook *dibakar massa* (Ira Hairida, mahasiswa baru sebuah perguruan tinggi di Sumatra Selatan)

:mrgreen:

Debong Karempong & rumahnya

Apa yang membuat permainan ini menarik? Banyak. Salah satunya adalah kemiripan dengan berbagai permasalahan hidup;

  • mulai dari kesempatan yang terlewat begitu saja,
  • keharusan memilih antara keinginan dan kebutuhan (butuh 20 Muse untuk membuat rak buku demi memenuhi Quest sedang di saat bersamaan butuh sekian Muse untuk unlock skill Art. Pret dah ah!),
  • cinta ditolak (sampai saat ini belum ada yang bersedia diajak dating. Huh. Dan oh, flirtingan lebih mempan ke sims cewek ketimbang cowok oh entah mengapa, merasa kalah ganteng dari saya barangkali :lol: ),
  • sampai keberuntungan, eh kesempatan yang belum berpihak sekeras apapun kita sudah berusaha (snag melulu kakaaaaaaakkkk). Kadang aku ingin menyerah saja tapi apa daya aku tak kuasa. Perih Alfonsooooooooo!

Oke. Kebanyakan curcol.

So yeah, saat ini saya lagi sibuk menata hidup. Di The Sims. Wish me luck!


August 21, 2011

Desti Utami - D Articles

extremely loud and incredibly close

by Takodok! at August 21, 2011 09:52 AM

I had a productive weekend. Yay!

Aish. Siapa juga yang ingin saya kibuli? Produktif dalam bersenang-senang maksudnya. Sudah cukup lama tidak melakukan kegiatan yang membuat saya tetap waras; nonton & baca buku. Yep, prioritas sudah bergeser. Kasian ya? Hibah kulkas dong.

Seperti biasa, saya ingin membagi sumber kesenangan saya dua hari belakangan ini. Siapa tau bisa menginspirasi para pembaca. Menginspirasi untuk leyeh-leyeh dan bersenang-senang. Nyahaahahahahahahahaha!

Psstt! Behave! Gaya-isi tulisan kok ga sesuai dengan template blog.

Baiklah. Yang pertama; akhirnya bisa menyelesaikan buku ini. Yay! Total 4 bulan waktu yang saya perlukan untuk mengunyahnya. Lama banget sih? Soalnya dibaca sebagai sambilan mengerjakan 16 halaman yang hasilnya bagai neraka ini itu. Kabar baiknya; makin jatuh cinta dengan tulisan Jonathan Safran Foer.

Oke, memang baru baca dua buku dengan genre yang cukup berbeda jauh. Yang satu nonfiksi-ilmiah-berbau sosial kesehatan & psikologi, yang lain fiksi-drama. Bila di Eating Animals saya cuma mengangguk-angguk sembari mengernyit kurang setuju di beberapa bagian, maka di Extremly Close and Incredibly Close emosi saya bagai dilontar ke atas trampolin. Ketika saya kira tidak bisa melambung lebih tinggi, nyatanya (emosi) saya terlempar jauh ke atas lalu jatuh-naik-jatuh-naik lagi dan beku di udara sesaat. Kemudian terlihat pemandangan dari sudut yang saya pikir tidak akan saya temui lagi.

Bingung? Mau tau sensasinya? Coba lompat dari lantai 37 tanpa parasut. Tapi sebelumnya coba janjian dengan Superman atau Spiderman sebagai tim pencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan Batman, doski lagi sibuk syuting dengan mas-masnya saya; Joseph Gordon-Levitt & Tom Hardy.

Hehe.

Kalau mau tau cuplikan favorit saya silahkan ke sini. Atau yang terbaru;

How could anything less deserve to be destroyed? I thought we would be awake all night. Awake for the rest of our lives. The spaces between our words grew.
 It became difficult to tell when we were talking and when we were silent. The hairs of our arms touched.
 It was late, and we were tired.
 We assumed there would be other nights.
 Anna’s breathing started to slow, but I still wanted to talk.
 She rolled onto her side.
 I said, I want to tell you something.
 She said, You can tell me tomorrow.
 I had never told her how much I loved her.
 She was my sister.
 We slept in the same bed.
 There was never a right time to say it.
 It was always unnecessary.
 The books in my father’s shed were sighing.
 The sheets were rising and falling around me with Anna’s breathing.
 I thought about waking her.
 But it was unnecessary.
 There would be other nights.
 And how can you say I love you to someone you love?
 I rolled onto my side and fell asleep next to her.
 Here is the point of everything I have been trying to tell you, Oskar.
 It’s always necessary.
 I love you,
 Grandma

.

Agak tidak adil ya kalau cuma pamer kutipan favorit tanpa menyertakan ringkasan ceritanya? Buku ini bercerita tentang seorang anak yang menemukan kunci beserta kertas bertuliskan “Black” dalam vas bunga peninggalan ayahnya yang meninggal pada tragedi menara kembar, September 2001. Anak yang bernama Oskar Schell tsb kemudian berkeliling New York untuk mencari para Black demi menggali informasi tentang ayahnya. Buku ini juga menggunakan sudut pandang kakek dan nenek Oskar melalui surat-surat yang mereka tulis untuk Oskar dan ayah Oskar; Thomas. Seperti buku JSF yang lain, Everything Is Illuminated, juga memasukkan Holocaust sebagai latar keluarga Schell yang tercerai-berai dan timpang dalam banyak hal terutama mengungkapkan kasih sayang.

Bisa ditebak kan mengapa buku ini cukup menguras emosi dan melegakan secara bersamaan? Plus, gaya penulisan dan kata yang digunakan sampai ke hati. :)

.

Nah, setelah terharu karena buku di atas, malamnya saya termewek-mewek karena dorama Mother. Topiknya apalagi kalau bukan tentang kompleksnya hubungan ibu-anak dan kdrt.

I think the love little children give to their parents is unconditional. Even if they’re abandoned or nearly killed by their parents, they will still love them. No matter what. That’s why parents shouldn’t let their children go, no matter what. (Suzuhara Nao)

:cry:

Ekspresi ibunya… :cry: Muka Nao yang melankolis… :cry: Terutama usaha Rena untuk tetap ceria, tidak mau mengeluh karena trauma ditinggalkan orangtuanya… :cry: Klop dah. Memang baru sampai episode 3 dan tak sabar menuntaskannya. Apa daya, trio Dean-Sam-Castiel lebih menggoda. Hitung-hitung menetralkan haru biru dengan histeria fangirling :mrgreen:

Dan ohhhhh… ada episode 6 (Happily Ever After) season 4 How I Met Your Mother yang dialognya cukup menampar (bagi yang sukarela tertampar).

When someone give us pain, we push it down. And when that pain come to starts up again we push more pain down. Why confront something when we can avoid it? And I will live a happy life..

Oh..

but then.. it just all went away. And that was it. At that moment I wasn’t angry anymore. I could see Stella was meant to be with Tony. Kids, you may think that your choice is only to swallow you anger or throw it at someone face. But there’s a third option. You can just let it go. And only when you do that it’s really gone and you can move forward.  And that, kids, was the perfect ending to a perfect love story. It just wasn’t mine. Mine is still out there, waiting for me.

OH. Right O, Ted!


August 10, 2011

Okto Silaban - Labanux

Spesialisasi di Industri Web (Indonesia)

by Okto Silaban at August 10, 2011 02:24 AM

Membuat website itu sendiri paling basicnya, sudah butuh beberapa teknologi, sebut saja :

  • Web server (Apache/Nginx/Tornado, dll)
  • Database server (MySQL/CouchDB/MongoDB, dll)
  • Server side programming (PHP/Python/Ruby, dll)
  • HTML

Jadi.., untuk bisa bikin satu web utuh, anda harus memahami 4 jenis teknologi itu. *Eh, ini konteksnya menggunakan tool – tool yang open ya.., bukan pake tool2 enterprise ala Visual Studio, dkk itu.. Agak beda sepertinya, CMIIW.

Nah, dulu.., kalau bisa ke-empat hal ini sudah bagus. Tapi makin lama tuntutannya bertambah. Jadi seperti ini :

  • OS (biasanya Linux, karena biasanya Apache, Nginx, Tornado dkk itu jalannya emang untuk di *NIX platform)
  • Web Server
  • Database Server
  • Server Side Programming
  • HTML
  • CSS & JavaScript

Lalu berkembang lagi jadi begini :

  • OS (ini bisa install OS, konfigurasi OS + install (compile) software + konfigurasi lho ya..)
  • Web Server
  • Database Server
  • Server Side Programming + Framework (CodeIgniter/Django/Pylons, dll)
  • HTML
  • CSS & JavaScript + JavaScript Framework (JQuery/Mootools, dll)
  • API (Facebook/Twitter, dll)

T : Beuhh.. banyak aje om?? Segitu yang harus dikuasai baru bisa jadi web progremer?

J : Ho oh..

T : Berarti rate web-developer makin lama makin tinggi dong ya? Kan spec nya makin rame aja tuh..

J : Eeeeh.. jangan sedih… Spec sih nambah, rate mah teteup..!  Kalu dulu pas – pas UMR.., sekarang.. ya pas – pasnya UMR sekarang. Itu belum lagi kalo ada tambahan spec pamungkas : Photosop & Flash.

T : *pengsan*

Jaman semakin berkembang, jangan pingsan dulu dong. Spec sekarang sudah berubah jadi kurang lebih seperti ini :

  • OS (install, konfigurasi, maintain) + Monitoring (Nagios, Munin, dll)
  • Web Server (IOLoop/WSGI/FastCGI) + Load Balancer + Reverse Proxy
  • Search Engine (SOLR, Sphinx, dll)
  • Database Server + Replication/Sharding/dll
  • Server Side Programming + Framework (CodeIgniter, Django, Pylons, dll)
  • HTML(5)
  • CSS & JavaScript + JavaScript Framework (JQuery, Mootools, dll)
  • Webservice (API, OAuth, dll)
  • API (Facebook, Twitter, dll)

T : Omm… Ini beneran dipegang satu orang om? *mata berlinang*

J : Beneran lah..

T : Gini ya om.. Kalo di luar negri, masing – masing item itu kan dipegang oleh orang (bahkan tim) yang berbeda om.. Gak mungkin deh satu orang disuruh bener – bener nguasain semua item itu dari atas sampe bawah.. Itu bukan spesialisasi namanya. Harusnya ada server admin sendiri, network admin sendiri, system engineer sendiri, front end engineer sendiri, gitu..

J : Lho.. siapa bilang kalau nguasain semua ini bukan spesialiasi…??

T : Kalau nguasain semuanya itu, walopun cuma kulit – kulitnya doang.., terus spesialisasi dia apa dong Om?

J : Ya WEB DEVELOPER.. Piye toh? *krompyaaaaang….

(BONUS) : Pada kenyataanya, masih ada ini : ***(jika diperlukan sebaiknya bisa juga, atau bahasa halusnya : preferably having knowledge in …) seperti berikut :

  • OS (install, konfigurasi, maintain) + Monitoring (Nagios, Munin, dll)
  • Web Server (IOLoop/WSGI/FastCGI) + Load Balancer + Reverse Proxy
  • Search Engine (SOLR, Sphinx, dll)
  • Database Server + Replication/Sharding/dll
  • Server Side Programming + Framework (CodeIgniter, Django, Pylons, dll)
  • HTML(5)
  • CSS & JavaScript + JavaScript Framework (JQuery, Mootools, dll)
  • Webservice (API, OAuth, dll)
  • API (Facebook, Twitter, dll)
  • *** Photoshop + Flash, CorelDraw, Adobe Illustrator
  • *** J2ME, Android, BlackBerry, iOS
  • *** Setting printer, install driver, setting wifi, setting USB modem
  • *** Social media strategy
  • *** Bikin anak.. #uhuk

*oke.. saya memang lebay..  Boleh dooong.. kan blog saya sendiri :D

Kesimpulan

Menurut saya sih.., spesialisasi itu akan dibutuhkan, jika industri-nya memang sudah matang. (Spesialiasi dengan kompensasi yang memadai lho ya..).

T : Jadi industri web di Indonesia itu belum matang gitu om?

J : Sepertinya begitu.. Sistem kerja dan penghargaan terhadap sebuah spesialiasi itu baru bisa terwujud kalau industrinya sudah matang. Bagaimana perusahaan (web) mau menerapkan sistem kerja berbasis riset dan memberikan penghargaan yang sesuai untuk sebuah spesialisasi di sebuah bidang (web engineering), kalau perusahaan itu sendiri masih meraba – raba bisnis modelnya sendiri.

Dalam bahasa Jerman nya : “Mosok kene arep mbayari sampeyan nguprek – nguprek CouchDB, padahal banner-e kene gak payu – payu mas… Ono – ono wae sampeyan iku.. Wis toh.. gek ndang dirampungke web-e.. Ojo lali, gawekke desain nggo presentasi nang client sesuk yo.”

August 08, 2011

Desti Utami - D Articles

Takodok!

by Takodok! at August 08, 2011 05:05 AM

Acara gosip pagi menayangkan mantan artis cilik yang terjerat kasus narkoba. Pengacaranya berkata, “Ya… mbak Anu kan tidak terbukti sedang memakai. Hanya kedapatan membawa barang itu saja”

What the

Variasi lain; “Mas Ini kan cuma pemakai, bukan pengedar. Kita sedang berusaha mendapat keringanan hukuman. Lagipula ada pasal blabla yang menyatakan negara harus memberikan kesempatan rehabilitasi bagi tersangka yang hanya sebagai pemakai.”

Oh. Mungkin saya hanya salah dengar atau salah kutip. Tetap saja berbagai pikiran sinis berseliweran.

“Sudah berbuat mesti berani bertanggungjawab dong!”

DEG!

Apa saya sudah mengamini kalimat di atas dengan perbuatan? Belum. Belum bisa sepenuhnya. Bahkan tawar menawar peraturan telah saya lakukan.

Pada akhirnya saya cuma bisa bengong sambil bergumam, “Ya, Saya mengerti.” Saya mengerti rasanya berusaha membengkokkan peraturan demi kesempatan kedua, ketiga, ke-sekian. Saya mengerti rasanya tidak bisa menjawab ketika orang bertanya alasan mengapa sampai berbuat salah. Saya mengerti rasanya ingin berteriak ke orang-orang “Urus saja masalah kalian sendiri! Jangan liat saya yang kalian cap bersalah ini. Senang kan melihat orang yang punya kesulitan lebih parah dari yang kalian punya? Selamat. Sekarang, balik kanan sana! Shoooo!”

Halah lebay curangnya. Curang. Curhat terang-terangan. Curahan hati terang-terangan. << Kalau ada yang tidak tau apa artinya. :)

Begitulah cerita hiburan pagi saya yang lagi-lagi berujung agak menyesali diri sendiri. Kasian ya? Hibah kulkas dong. *teuteup*


August 07, 2011

Desti Utami - D Articles

rendang

by Takodok! at August 07, 2011 08:16 AM

… itu berupa

rendang

http://en.wikipedia.org/wiki/File:Lamb_rendang.jpg

Alasan bosan?

Untuk merasa bosan perlu alasan ya? Baiklah. Saya akan coba menjabarkan perasaan bosan saya.

Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan. Bosan.

Hus! Di luar sana masih banyak yang kelaparan mungkin seumur hidup belum ketemu rendang lho.

Oh maaf. Tidak ada maksud sama sekali untuk menyinggung perasaan orang-orang lapar maupun orang-orang yang peduli akan kelaparan. Bila bertemu orang lapar atau orang-orang yang peduli kelaparan dan mau serta tau cara menyalurkannya, dengan senang hati akan saya sumbangkan rendang penyebab kebosanan saya ini.

Serius.

Tapi sayangnya kenyataan tidak selalu bersahabat baik dengan keinginan mulia. Pun tetap menyumbangkan sebagian rejeki, tetap saja ada rejeki yang tersia-sia, terbuang percuma karena tidak mampu menghabiskannya sendiri. Contohnya ya rendang tadi.

Hus! Riya’!

Maaf. Balik bahas rendang saja ya?

Bagi segelintir orang, rendang bak makanan surga. Bahkan ada yang sampai kesal bukan kepalang pada negara tetangga yang mengklaimnya.

Hus! Bahasan basi!

Baeklaaaaahhhhhhh… Toh saya cuma mau pamer kalo saya punya persediaan rendang berlebih. Tidak ada teman berbagi karena saya sedang sendirian di rumah dan/atau para teman serumah saya juga punya rendang masing-masing. Terus terang saya bosan makan rendang selama waktu buka-sahur beberapa hari ini. Ingin mengganti menu dengan makanan lain tapi sayang juga kalau bentuk manifestasi kasih sayang ibu sampai terbuang percuma.

Lho, rendang kan tahan lama? Paling lama 2 hari, lalu mesti dipanaskan dengan api kecil (magic com saja tidak cukup, tonto!) atau dimasukkan ke dalam kulkas. Saya tidak punya kulkas. Kasian ya? Hibah dong.

Hus! Malah minta-minta!

Namanya juga usaha. Dan saya akan tetap berusaha menghargai manifestasi kasih sayang ibu ini. Lebay? Tidak. Dalam setiap kelapa yang terpakai dalam pembuatan rendang ini ada cucuran keringat ibu ketika mempersiapkannya.

Errrrrr…. nyoba romantis kok malah aneh :|

Pokoknya anak rantau jangan belagu soal makanan. Prinsip i’ll take what i can get harus diterapkan dan dihayati dengan seksama. Gitu…

Iya. Gitu.