August 31, 2010
Desti Utami - D Articles
Auro
by Takodok! at August 31, 2010 05:12 AM
You are allowed spicy food right? Then why this unnecessary sacrifice all the time for me? -Auro-
Bulan ini spertinya bertema India. Beberapa buku yang sedang saya baca (dan baca ulang) antara lain The Unknown Errors Of Our Lives, The Namesake, dan Interpreter of Maladies. Lalu ada film berikut yang cuma kebetulan saya tonton dan secara mengejutkan ternyata bagus dan menyenangkan.
Paa berkisah tentang seorang anak bernama Auro yang mengidap progeria. Para penderita progeria mengalami penuaan dini. Umur boleh kecil, tapi fisiknya serupa lansia. Ingat Benjamin Button? Kira-kira keadaannya seperti Benjamin saat lahir sampai usia kanak-kanak.
Auro memiliki kecerdasan luar biasa. “Wajar” mengingat orangtuanya bukan orang sembarangan. Ibunya, Vidya (Vidya Balan), seorang ginekolog dan ayahnya, Amol Parte (Abisekh Bachan) adalah politikus muda dan paling bersinar di India—dalam film ini. Hanya saja, si ayah tidak tau keberadaan Auro. Tipikal. Diceritakan Amol dan Vidya berpacaran ketika kuliah. Lalu Vidya hamil tetapi Amol tidak menginginkan bayi tsb demi kelangsungan masa depan mereka.
14 years ago Vidya told me that she was pregnant. And like every scared boyfriend, I asked her to abort the child. She aborted.. but not the child. She aborted me. -Amol Arte-
.
Film ini tidak hanya bercerita tentang hubungan keluarga. Ada muatan nasionalisme, keberpihakan media, tatanan sosial masyarakat India, pandangan kolot terhadap perempuan, maupun lembaga pernikahan sendiri. Penyampaiannya memang agak lebay, khas film India. Tapi jangan takut, durasi mengitari pohon tidak terlalu banyak kok.
Why are you already cheering so hard? We have just won the election. Let me prove myself first or next elections you will be curse me as hard. -Amol Arte-
.
Saya sempat melontarkan bahwa film ini lebih bagus daripada My Name Is Khan. Selera pribadi sih, karena tingkat kelebayan Paa masih bisa ditoleransi. Penokohannya pas, dialog-dialognya terutama yang dibawakan Auro cerdas dan memancing tawa. Boleh dibilang pemeran Auro lah nyawa film ini.
Lalu siapakah pemeran Auro yang sejak awal mencuri perhatian? Tak lain dan tak bukan…
.
.
.
.. Amitabh Bachan, legenda perfilman India. Kalau biasanya ia sering berperan sebagai pria berkuasa, ditunjang postur dan kharismanya, kali ini opa Ami *halah* sukses membawakan peran bocah 13 tahun. Disebut-sebut perannya mencuri perhatian publik mengalahkan Aamir Khan dalam 3 Idiots.
Abisekh si anak yang berperan jadi ayah tetap tinggi dan (katanya) ganteng
biasa, sesuai porsi. Pemeran ibu, Vidya Balan, sukses menjadi wanita mandiri, orangtua tunggal yang keras hati.
Raising a child alone hardens a woman’s heart. And when it melts, it’s only for her child. -Bum-
Dan, yang paling menyenangkan adalah… tidak ada adegan penindasan Auro di film ini. Diceritakan sekolah adalah tempat yang menyenangkan untuk Auro. Kepala Sekolah yang sangat mendukung, teman-teman yang lucu dan menerimanya, sistem pendidikan yang (kelihatannya) bagus. Surga bagi anak-anak nampaknya
Silahkan tonton di kala senggang dan nikmati dialog-dialog lucu di dalamnya
Women, they want to know everything! -Auro, 13 yo-
.
Kudos to R. Balki!
August 30, 2010
Yows, The Legendary of...
JIngga: Perjalanan ke India dan Thailand, Mencari Surga di Bumi (review)
by Yows (noreply@blogger.com) at August 30, 2010 05:10 PM
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at August 30, 2010 07:25 AM
Vishnu : Auro, who’s this bloody fool who discovered algebra? X= (2.57+6) x3… Y= (7.76-4) x6… Why so complicated? Why can’t it simple be (2.57+6) x3 + (7.76-4) x6? What is the need for X and Y?
Auro : What’s your name?
Vishnu : Vishnu
Auro : What’s my name?
Vishnu : Auro
Auro : Why so complicated? Why can’t i simply be 4 eyes, 2 ears, 1 nose, 2 hands, 2 legs, 1 stomach, 1 pancreas, 1 heart, 1 brain, zero hair? And why can’t you be 4 eyes 2 ears, 1 nose, 1 mouth, 2 hands, 2 legs, 1 stomach, 1 pancreas, 1 heart, zero brain, 100 thousand hair? What is the need for Vishnu and Auro?
Quote taken from Paa.
August 24, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at August 24, 2010 02:32 PM
Hari ini saya melakukan “ritual suci” bulan puasa; buka bersama teman(-teman). Saya sih lebih suka menyebutnya makan di luar. Toh cuma berdua makan di tempat langganan, hanya waktunya saja di bulan puasa. Tapi cincai lah ya. Biar seru mari sebut saja saya baru bukber. Tidak ada yang terlalu istimewa dari acara bukber kami. Cuma memperhatikan meja-meja lain sembari menunggu buka puasa, makan, ngobrol sebentar, pulang. Nah, di perjalanan pulang inilah saya dan teman bertemu orang yang melontarkan kalimat yang jadi judul tulisan kali ini.
Seperti biasa kami menyetop angkot hijau tujuan Pasar Baru. Kebetulan angkot tsb lumayan kosong. Hanya ada 2 penumpang; seorang ibu duduk di belakang sopir dan seorang pria duduk di pojokan membawa buntelan kardus dan tongkat. Si teman memilih tempat favoritnya, pojokan di seberang pria tadi. Saya sendiri duduk di dekat pintu angkot. Tidak berapa jauh angkot berjalan, ada penumpang lain yang naik. Saya pun pindah ke sebelah si teman agar lebih leluasa mengobrol.
Ketika pindah itulah saya menyadari asap rokok pria pembawa tongkat, mulai saat ini mari kita sebut PPT, mengganggu saya. Mulanya saya cuma membuka jendela lebih lebar. Jendela di dekat PPT itu juga sudah dibuka lebar-lebar. Tapi.. asapnya malah makin mengganggu karena menuju ke arah saya dan teman. Kami mulai terbatuk-batuk dan saya pun menghalau asap tersebut dengan tangan sembari menutup hidung. Saat itulah PPT tadi berkata, “Tolong ngertiin ya, dek! Seharian ini ga bisa ngerokok.”
Saya cuma bisa mengangkat alis sambil mengangkat bahu. Sesaat ada keinginan untuk meminta pria itu bergeser duduk, mendekat ke arah pintu saja jadi asapnya bisa langsung keluar dan tidak mengganggu kami. Tapi ada penumpang lain yang naik dan angkot berangsur penuh. Ya sudahlah. Pandai-pandai kami saja mengelak dari asap tsb. Tak berapa lama kemudian ia mematikan rokoknya. Mungkin benar habis atau karena segan. Saya tak peduli.
Angkot berjalan dengan kecepatan sedang. Satu per satu penumpang turun hingga hanya tersisa saya, teman, dan pria itu. Lalu si teman juga turun lebih dulu. Tinggal saya dan pria itu. Beberapa ratus meter kemudian ia berkata, “Kiri!” Dengan sedikit kerepotan ia mendorong bawaannya ke arah pintu, menurunkan tongkat lebih dulu, turun, mengambil buntelan kardusnya, lalu membayar ongkos.
Saat itu saya baru mengerti apa fungsi tongkat yang dibawanya. Kakinya buntung sebelah. Mau tak mau saya bersyukur tidak jadi “memaksanya” bergeser tempat duduk.
Alasannya? Entahlah. Mungkin.. saya saja yang terlalu picik dan terlalu malas berkonfrontasi.
August 23, 2010
Eko Putra
Epu
by Ekoputra Arif Budiman at August 23, 2010 06:37 AM
Halooo para FM Lovers sekalian, Buat yang masih berkutat di dunia FM 2010, yang dah mulai bosan atau sekarang malah udah mulai di musim 2045 ??. Ada kabar gembira ni. FM 2011 akan diluncurkan sebelum Natal 2010. Masih lama ya ? mudah mudahan akhir oktober (kabarnya rilis 29 Oktober 2010) dah mulai kita nikmati. Football [...]
August 20, 2010
Okto Silaban - Labanux
Kaskus di Sekitar Kita
by Okto Silaban at August 20, 2010 04:22 AM
Dari jaman kuliah, saya sering bercerita kepada teman – teman saya tentang dunia online, mulai dari startup – startup di luar negri, sejarah Google, Facebook, eBay, Digg, Flickr dll sampai dengan situs – situs lokal. Saya bercerita tentang Detikcom, dan beberapa situs “startup” dari Indonesia (kala itu). Tapi saya tidak pernah bercerita tentang Kaskus. Tidak ada orang dalam Kaskus, atau eks orang dalam Kaskus yang saya kenal kala itu, saya tidak punya informasi lebih jauh. Kala itu kebanyakan dari teman – teman saya cuma mendengarkan sambil lalu, beberapa cukup antusias (maklum kampus saya bukan kampus IT, isinya para calon engineer).
Kosakata di Kaskus memang sudah familiar dengan saya sejak tahun pertama masa kuliah saya. Sebutan Agan, Cendol, Repsol, dll cukup familiar, walaupun hampir tidak pernah saya gunakan, karena saya bukan kaskuser. Tapi tidak dengan FJB (Forum Jual Beli – Kaskus). Saya malah baru sadar keberadaan FJB sekitar tahun 2006.
Ketika saya mengisi sebuah sesi diskusi dengan mahasiswa informatika, di sebuah kampus di Jogja, saya bahkan tidak pernah menyebut Kaskus. Mereka yang sering saya sebut : Detik, Politikana, PortalHR, Penonton.com, DagDigDug, Asia Blogging Network, Cerpenista, dll.
Tapi lihat dan dengarkan sekarang. Tiga dari teman – teman kuliah saya yang bukan penggiat dunia online itu sekarang bekerja di Jakarta. Dan ternyata sudah pernah berbelanja di Kaskus. Dan anda tahu apa yang mereka beli? Ketiganya membeli sepeda motor di FJB ! Wow, saya cukup kaget mengetahui bahwa mereka ternyata sangat percaya dengan forum terbesar di Indonesia ini.
Itu masih untuk jual beli barang. Yang lebih terasa adalah faktor kultural. Di tempat saya dulu bekerja, saya dan teman – teman kantor bisa menyebut satu sama lain dengan panggilan standar : lu, gue. Tapi belakangan bergeser jadi : agan, ane, hingga sekarang. Saya tadi bertemu salah satu teman saya itu, dan tanpa sadar masih menggunakan : ane, agan. Uniknya, ini berlangsung di depan salah satu petinggi Kaskus.
Ok, mungkin ada yang berpendapat karena kami sama – sama aktif di jagad online, wajar kultur itu terbawa. Tapi, eitss.. nanti dulu. Barusan saya chatting dengan seorang teman lama. Dulu saya kenal teman saya ini di Jogja, waktu cewek ini masih duduk di kelas 2 SMA. Sedangkan saya waktu itu sudah berada di ujung tanduk (baca: semester akhir).
Saya sudah cukup lama tidak kontak dengan cewek satu ini. Tadi, via YM, chit – chat berlangsung kesana kemari dengan gaya bahasa yang berganti – ganti, hingga sampai di gaya bahasa Kaskus, dan sejak itu tidak berganti lagi. Ajaib! Seakan – akan tanpa sadar kami mengamini bahwa gaya bahasa ini yang paling cocok. Walaupun dia bukan tipikal penggiat dunia online seperti saya. (Yes, even girl speak Kaskus now..)
Saya dan teman – teman kuliah saya dulu itu (yang sekarang sudah menjadi engineer beneran), juga sama. Waktu kami main billiard, satu sama lain menggunakan gaya bahasa Kaskus. Yang entah mengapa membuat hawa permainan menjadi lebih menarik.
“Gan.., ane mau masukin bola sembilan gak bisa tuh gan. Mungkin bawah ane bisa gan..”
Di Facebook pun saat mengisi komentar di profil teman, seringkali keluar gaya bahasa Kaskus ini. Hanya kebetulan? Atau memang kultur dari Kaskus ini sudah mewabah dimana – mana (dalam arti positif)?
DEWA aja bikin lagu buat Kaskuser :
Agankuu.. Kumohon.. Tetap disini..
Temaniii.. Hot trit ku.., yang baru naik..
*kriukk..*
Link Terkait : Slank dan Kaskus
August 19, 2010
Desti Utami - D Articles
DSC01309
by Takodok! at August 19, 2010 12:47 AM
xy1 : Bertahan satu cintaaaaaa.. bertahan satu CE-I-EN-TE-A!
xy2 : Bertahan satu cintaaaaaa.. bertahan satu CE-…
xx : Lagunya yang lain dong!
xy2 : Oke.
xy2 : Cinta satu malam.. oh indahnya! Cinta satu malaaammm…
Saya: *gubrak*
.
.
Jadi.. begitulah. Sore kemarin saya kebetulan mendengar tiga anak kecil bermain di depan rumah. Mereka bernyanyi sambil bergaya menghadap kaca jendela. Centil setengah mati. Tapi begitu saya keluar hendak memotret mereka, salah satunya protes keras. Terpaksa jepret diam-diam, itupun ketahuan
Ah.. jadi kangen adik di rumah. Kalo dia (dan teman-temannya) sih malah ketagihan difoto.
Sayangnya, lagu yang mereka nyanyikan juga 11-12 dengan anak-anak di sini. Kalau bukan Keong Racun ya.. Cinta Satu Malam tadi. Saya justru update perkembangan musik dangdut dari anak umur 3 tahun ini
Kadang terbersit rasa khawatir juga mendengar anak sekecil itu menyanyikan lagu “dewasa”. Tapi.. mau bagaimana lagi. Lingkungan tentu berpengaruh. Jika teman main atau pengasuhnya terus menyodorkan tontonan A dan musik B, lambat laun si anak pasti terpengaruh. Mau memaksanya mendengar musik atau menonton tayangan yang “pantas” juga tidak mudah, apalagi jika kita tidak 24/7 bersamanya.
Jadi, bagaimana?
Ya.. anak kecil juga manusia yang punya kemampuan beradaptasi. Santai sajalah. Overprotektif malah akan menyusahkan si anak (adik). Usahakan saja memberi alternatif asupan hiburan lain yang (mungkin) lebih masuk akal untuk anak seusianya.
Duh… mengurus anak kecil tidak gampang ya? Anak kecil bukan malaikat yang selalu tertawa dan bermuka lucu. Mereka bisa menjerit dan bertingkah bagai setan kecil. Pantas saja saraf para orangtua makin getas. Lihat anaknya memanjat terali balkon, teriak. Lihat si anak mematikan laptop secara paksa, dan ada dokumen yang belum tersimpan, jejeritan frustasi *curcol*. Si anak merecoki sewaktu masak, pusing. Capek ya bok jadi orangtua?
Saya pribadi sekarang melihat orangtua pemarah juga tidak bisa terlalu menyalahkan, apalagi jika ia sendirian mengurus (beberapa) anak. Tidak semua orang dianugerahi kesabaran dan ketelatenan. Mengurus satu anak seorang diri saja rasanya… melelahkan. Makanya, jangan keburu menghakimi. Kamu punya teori perawatan anak? Terapkan dulu, 24/. Jika berhasil, selamat. Tapi saya percaya, bukan cuma orang dewasa yang mengurusi si anak, tapi yang dewasa juga diajari banyak hal oleh si kecil. Tak heran juga sih setelah tahu seabrek kerepotan ini masih ada juga yang nekat punya anak
Wah, melanturnya panjang juga. Padahal niatnya cuma menuliskan pengupingan sore kemarin
ps. baru sadar.. yang satu Lingua, yang satu trio kwek-kwek ya? *lihat gambar*
August 14, 2010
R. Ferdy Ferdian
DigitalFortress
by Ferdy F. Rahman at August 14, 2010 03:57 PM
Amazed by Dan Brown knowledge of America’s current science and security technology, surprised by how he played me with characters and who to trust, I thought another Dan Brown’s novel is exactly what I was looking for to continue my techno-thrill readings. So I came with this, Digital Fortress. NSA related matters and issues. Remind […]
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at August 14, 2010 04:25 AM
Love can be a many splendored thing, can’t deny the joy it brings; a dozen roses, diamond rings, dreams for sale and fairy tales. It’ll make you hear a symphony and you just want the world to see. But like a drug that makes you blind, it’ll fool ya every time..
The trouble with love is it can tear you up inside, make your heart believe a lie. It’s stronger than your pride. The trouble with love is it doesn’t care how fast you fall, and you can’t refuse the call. See, you got no say at all..
Now I was once a fool, it’s true. I played the game by all the rules. But now my world’s a deeper blue. I’m sadder, but I’m wiser too. I swore I’d never love again. I swore my heart would never mend, said love wasn’t worth the pain. But then I hear it call my name.
The trouble with love is it can tear you up inside, make your heart believe a lie. It’s stronger than your pride. The trouble with love is it doesn’t care how fast you fall, and you can’t refuse the call. See, you got no say at all..
Every time I turn around I think I’ve got it all figured out. My heart keeps callin’ and I keep on fallin’ over and over again. This sad story always ends the same; me standin’ in the pourin’ rain. It seems no matter what I do. It tears my heart in two…
It’s in your heart
It’s in your soul
You won’t get no control
August 13, 2010
R. Ferdy Ferdian
deception-point
by Ferdy F. Rahman at August 13, 2010 02:07 AM
Title: Deception Point Author: Dan Brown Language: English Genre(s): scientific thriller Preceded by: Angels & Demons Followed by: The Da Vinci Code Just finished reading Deception Point novel. Just like his following novel The Da Vinci Code, Dan Brown successfully assembled all factors of real life conditions, environments, technologies, current concerns, to a near true […]
August 10, 2010
Roby Nurismartian
admin
by admin at August 10, 2010 09:45 AM
Saya mau jual semua stok Buku Islam, bekas ikutan pameran buku.. soalnya mau pindahan rumah…
Semua buku baru, bahasa Indonesia dan Insya Allah ngga ada yang bajakan…
Untuk sekali angkut, ini judul2nya…
Jumlah Judul Harga
2 Holy Blood, Holy Grail 87000
2 Dajjal sudah muncul dari Khurasan 45000
3 Aisyah the Endless Love 40000
2 Dosa-dosa besar 48000
3 Membongkar kesesatan Reiki 30000
2 Kemunculan Nabi Isa & Imam Mahdi 48000
dll…
Detail ada di : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4481554
August 03, 2010
Desti Utami - D Articles
Weirdo
by Takodok! at August 03, 2010 03:41 AM
Bukan, saya bukan membahas San Diego Comic Con Internasional yang diadakan minggu lalu. Cuma tertarik beberapa gambar yang beredar terkait acara tsb. Salah satunya gambar di atas.
.
I.
Pernah merasa terjebak di kerumunan yang salah? Terasa tidak nyaman ya? Ada yang berusaha untuk kabur ada juga yang tetap bertahan dengan berbagai alasan, salah duanya kebanggaan tampil beda dan keengganan untuk kalah pada keadaan.
Nah, pernah tidak jadi orang aneh yang tidak tampak aneh. Bagaimana caranya? Dengan mengenakan topeng yang separuh mirip orang lain lalu bercampur di kerumunan dan menjalin kontak seadanya. Kamu “normal” bagi mereka, tapi perang ketidaknyamanan vs keamanan berlangsung hebat di dalam hati dan kepalamu. Aman? Ya, aman dari segala macam komentar maupun pertanyaan lingkungan seandainya keanehanmu terbongkar.
Lalu?
Lalu waktu mengkhianatimu. Perlahan tapi pasti kamu menjadi orang asing di antara mereka. Entah siapa yang memulai, interaksi semakin jarang, satu per satu kolega menjauh. Reaksi normal untuk tidak berurusan dengan si aneh. Alasannya bisa macam-macam; tidak mau ketularan aneh, takut menyinggung si aneh (dengan asumsi tingkat emosi orang aneh gampang terguncang), atau cuma menjaga jarak aman.
Sampai di sini ada dua jalan yang bisa kamu tempuh; bersikap cuek dan tetap berbaur dengan mereka atau menarik diri ke dalam cangkangmu. Kamu yang mana?
.
II –> I
Apa definisi aneh? Berbeda dari orang kebanyakan. Lelucon lawas; orang waras yang berada di kumpulan orang gila lah yang sebenarnya tidak waras. Ini setidaknya jadi alasan mengapa beberapa orang mati-matian memangkas keunikannya agar sesuai standar normal lingkungan. Di saat yang sama keinginan mereka untuk tampil bedar agar mudah dikenali juga menyeruak. Jadilah eksis tapi tidak dicap aneh. Aneh dalam konotasi positif boleh laaah… padahal “unik” sering dipakai untuk memperhalus keheranan orang atas dirimu.
Yang paling baik memang jujur apa adanya. Tapi lebih baik lagi pandai menempatkan jujur pada tempatnya demi keselamatan dirimu. Pakai topeng juga? Iya. Lalu lupakan kalau kamu bertopeng. Tidak tahan? Selamat bergabung wahai orang terkucil! Temukan orang-orang lain yang seaneh dirimu, sebanyak mungkin, maka otomatis kamu menjadi normal.
… on the journey of life, just find someone as normal as you—if not a whole bunch.
Ah, who am I to judge this better than that ya? Up to you lah boi
. . Gambar dari [9gag] Kutipan dari Mary Horowitz, All About Steve.
July 29, 2010
Desti Utami - D Articles
All About Steve
by Takodok! at July 29, 2010 11:04 AM
Jika sebelumnya saya menyangka The Proposal sudah cukup menggambarkan betapa senjangnya perbedaan antara tokoh wanita-tokoh pria, maka All About Steve membuat Sandra Bullock dan Ryan Renolds terlihat sangat mesra. Bradley Cooper memang cocoknya dipasangkan dengan pria sih.. *eh*
![]()
Film ini berkisah tentang Mary Horowitz (Sandra Bullock) yang bekerja di harian Sacramento Herald sebagai pembuat TTS. Ia (masih) tinggal di rumah orangtua selama apartemennya sedang mengalami pembasmian hama. Tidak punya pacar, ia lalu didorong orangtuanya untuk kencan buta dengan salah satu anak kenalan keluarga, Steve (Bradley Cooper). Mary pun jatuh cinta pada pandangan pertama pada Steve dan langsung mengambil tindakan agresif.
Steve yang seorang kameramen stasiun televisi CCN tentu gerah dengan kegigihan Mary. Kemana pun Steve pergi bertugas Mary akan selalu berusaha mendampinginya. Situasi diperparah oleh keusilan rekan kerja Bradley, Hartman Hughes (Thomas Haden Church), yang selalu mengompori Mary untuk makin mencengkram Steve. Maka terjadilah sederetan adegan kejar-kejaran yang (dimaksudkan) kocak. Endingnya? Biasa lah, tidak terlalu banyak kejutan tapi cukup menghibur. Cocok ditonton saat benar-benar senggang.
.
.
Oke, kalau jalan cerita biasa lalu apa keistimewaan film ini?
Quotes-nya tidak spektakuler, rating di Rotten Tomatoes jelas jeblok, perannya juga tidak ada yang mencuri perhatian. Thomas haden Church memang sukses tampil menyebalkan ala Prince Charming kebanyakan berjemur. “Hartman, for the love of God, stop tanning! You look like a Cheese Nip! You look like an orange with lips!” kata Angus (Ken Jiong)
Sandra Bullock memang cukup kocak, tapi rasanya kurang pas. Sewaktu menonton saya malah terbayang aktingnya yang hebat di The Blind Side. Saya cenderung merasa film ini lebih cocok jadi film Korea ketimbang film Hollywood. Bisa lebih puoolll bodor-bodorannya
Tentu ada beberapa hal menarik, kalau tidak ya tidak akan sampai saya tulis di sini.
Saya tertawa terbahak-bahak pada paruh akhir film, sewaktu beberapa stasiun televisi meliput kejadian yang melibatkan Mary. Semua saling berspekulasi bahkan sampai ke hal-hal kecil yang oh-ga-penting-amat-sih. Sangat dibuat-buat dan konyol. Demi rating tentunya. Familiar, eh?
Lalu penggambaran karakter Mary yang “aneh”. Ia cerdas, sangat cerdas malah tapi terlalu banyak bicara. Mirip ensiklopedia berjalan. Kalau Hermione diselamatkan oleh wajah cantik dan sifat angkuh, maka Mary tak punya itu. Mary ibarat Hermione untuk kecerdasannya, Luna Lovegood untuk kenyentrikannya, dan Lavender Brown untuk keagresifan dan selera noraknya, dicampur jadi satu. Jadilah film ini (berusaha) menggambarkan bagaimana seorang “aneh” berusaha meraih kenormalannya melalui seorang pria yang (ia kira) dicintainya.
New York Times crossword editor, Will Shortz, says, “We have a natural compulsion to fill empty spaces.” I like to think he means not just crosswords, but the empty spaces inside of us that come from making your way in a world that doesn’t always embrace unique. I tried to fill my empty spaces with words and puzzles—and Steve. But that wasn’t the answer. Now I know, on the journey of life, just find someone as normal as you—if not a whole bunch. (Mary Horowitz, All About Steve)
July 28, 2010
Desti Utami - D Articles
When Did You Last See Your Father?
by Takodok! at July 28, 2010 03:23 PM

When did you last see your father?
When did you last see your father?
[ Sumber ]
Yows, The Legendary of...
kereta malam
by Yows (noreply@blogger.com) at July 28, 2010 01:03 AM
Suara kereta yang mulai melaju terdengar sahdu. Gejes gejes gejes, kira-kira begitu bunyinya. Berangkatlah semua yang berada di kereta ini meninggalkan Bandung kota kenangan, atau yang lebih dikenal sebagai bandung lautan asmara. Asmaranya siapa? Asmara kita semua.
Aku melamun sendirian, hal yang lazim dilakukan daripada melamun masal. Teringat pengalaman beberapa tahun lalu, hampir sepuluh tahun, kalau ingatanku ini masih bisa diandalkan. Ingatan antara kejadian masa lalu, kejadian dalam mimpi, serta kejadian masa depan sering terasa penuh distorsi di benakku.
Waktu itu masih kuliah menjelang tingkat dua, aku sedang berlibur, meninggalkan Bandung menuju Jogja juga. Sejak aku kuliah di Bandung, kudengar abangku juga kuliah di Jogja, sehingga aku perlu datang untuk mengecek derajat kebenaran pendengaran itu.
Aku sendirian, cukup senang berperjalanan sendirian karena sangat banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Termasuk di dalamnya hal-hal yang membangkitkan adrenalin dan merefleksikan ego. Tapi, tentunya, pastinya, sudah barang tentu, lebih enak berperjalanan berdua bersama kekasih yang memahamiku, sehingga bisa berkomentar dan tertawa atas apa saja dengan serta merta tanpa dianggap gila.
Terlepas dari itu semua, disitulah aku, alih-alih berada di sebuah terminal aku malah berdiri di sebuah stasiun kereta. Alih-alih berada di Stasiun Hall Bandung, aku malah berdiri di Stasiun Kiara Condong. Alih-alih naik kereta eksekutif, aku malah membeli tiket kereta ekonomi eksklusif. Free seat, katanya di depan loket.
Disitulah aku, sedang berdiri bersama beberapa ratus orang yang memiliki tujuan sama, yaitu naik kereta. Yang sedang menghampar dengan bermacam gaya.
Ningnongnengnong nengnong ningnong
Pengumuman menunjukkan bahwa kereta sebentar lagi tiba. Tepat seperti yang bang iwan sampaikan, terlambat lebih sejam, dan itu tidaklah lama.
Saat itulah, langit terasa sangat pekat, sepekat aroma persaingan yang terbawa udara malam mengelilingi jiwa dan raga kami. Aku memutuskan mencari gerbong paling belakang, karena tingkat persaingan di gerbong tengah sangat tidak manusiawi. Maklum, musim liburan. Ternyata banyak orang beraliran sama, yang berbondong-bondong menuju lokasi yang diprediksi persis tempat gerbong paling belakang akan berhenti.
Dari kejauhan kereta terlihat berjalan menuju kedekatan. Kecepatannya masih cukup cepat. Akhirnya satu dua tiga empat gerbong melewati titik kami berdiri. Hingga akhirnya kami sama menyadari bahwa kami berada di titik yang salah. Gerbong paling belakang akan berhenti jauh di depan kami. Maka kami berlari-lari menuju gerbong itu. Salah perhitungan yang fatal. Fatal sekali.
Untung aku telah terbiasa berlari seminggu beberapa kali saat di ospek di kampus, sehingga cukup punya stamina. Sampai kami di pintu masuk. Ternyata untuk naik, kami harus meloncat setinggi satu meter. Sebelum kereta benar-benar berhenti aku sudah menggunakan ilmu meringankan tubuh meloncat, naik ke kereta.
Perihal ilmu meringankan tubuh itu, bolehlah ditanya darimana datangnya. Ilmu ini kudapat saat kelas dua SMA, sewaktu aku menjadi suhu bagi sekitar lima orang murit pake t yang merupakan kependekan dari murat-marit, yang menamakan perguruan kami: Perguruan Bebek Terbang. Bolehlah ditambahkan musik Jreng Jreng sebelum nama itu disebutkan. Misinya menyelamatkan bebek-bebek di seluruh galaksi. Mulia memang. Bayangkan, bebek yang bisa terbang, yang bisa menolong bebek-bebek tak berdaya lainnya, yang mengenakan celana dalam di luar. Saat itulah, saat mengajar disana aku jadi menguasai ilmu meringankan tubuh. Memang, seringkali cara belajar yang terbaik adalah dengan mengajar.
Tapi, jangan berpikir kesulitan berhenti disitu kawan, karena ternyata pintu kereta tidak dibuka. Alhasil aku menggantung begitu rupa, menggedor-gedor minta dibukakan pintu. Orang di dalam sana menggeleng, tidak mau membuka. Celaka, ini di luar prediksi kami semua. Tanpa putus asa, kami terus menggedor, kali ini dengan mempersembahkan ekspresi wajah campuran atara marah dan frustasi. Makin banyak yang menggedor, sehingga akhirnya luluhlah sang penguasa pintu. Pintu dibuka, kami menghambur masuk.
Aku menyelip melewati beberapa orang, yang entah dengan alasan apa, berdiri menyesaki pintu masuk. Berhasil. Aku berjalan mewati wajah-wajah lelah yang bersandar di kursi, akhirnya di ujung ada sebuah kursi kosong. Kursi terakhir di gerbong ini. Aku mendapatkannya dengan riang gembira. Seraya mengungkapkan Selebrasi dengan cengar-cengir tak karuan sambil salam kiri kanan.
Salah satu pesaing yag mengejar dibelakangku, cuma mendapati ruang kosong diantara deretan kursi kereta. Saat dia menatap iri padaku, aku mempersembahkan senyum simpati yang lebih-lebih kurasakan sebagai senyum mengejek. Seolah-olah berkata:
"Maaf kawan, dunia memang kejam."
Mas mas tersebut akhirnya terduduk di lantai. Yang lain mengikuti, sehingga penuhlah koridor itu.
Beberapa pemuda yang terlambat, terlihat kebingungan mencari sisa tempat. Mereka berjalan berjingkat-jingkat, akhirnya bergerak ke arah ruang yang boleh diasumsikan sebagai toilet.
"Naah, ini kosong." berkata salah satunya.
"Iya, duduk sini ajalah." berkata yang lainnya. Maka mereka yang sebayak empat orang itu, menguji nyalinya, duduk di dalam toilet.
Kereta akhirnya melaju, setelah semua persaingan yang mengharu biru itu. Udara dingin yang berdesir mengalir dari jendela yang kacanya sudah tidak ada, menerbitkan rasa ngantuk. Kulirik mas mas yang tadi, terbesit sedikit rasa antara bersalah atau iba, sehingga kuberikan kertas koran untuk dijadikannya alas duduk. Dia berterima kasih dan berbasa basi sejenak.
Dengan padatnya penumpang yag bergelimpangan, jangan pernah membayangkan akan sebuah adegan ala before sunrise di kereta dari Budapest menuju Vienna dimana Jesse bertemu Celline. Yang terganggu oleh suara pertengkaran pasangan rumah tangga, sehingga pindah untuk duduk nyaman di ruang makan dan menghabiskan malam bersama yang mengubah hidup mereka selamanya. Akupun tertidur dengan potongan adegan tersebut.
Sebagai catatan juga, karena kereta ini eksklusif, maka setiap stasiun yang dilewatinya akan memintanya berhenti untuk sekedar bertegur sapa. Berhentilah kereta di sebuah stasiun, aku segera terbangun oleh suara orang-orang menjajakan dagangan. Bermacam rupanya, bermacam dagangannya, bermacam warnanya, bermacam juga harganya. Aku terkesima mengamati satu persatu yang lewat. Karena melihat langsung akan ditafsir sebagai menaksir, tak jarang aku hanya melirik dengan sudut mata. Curi-curi pandang.
Mereka lewat dengan caranya masing-masing dan logat masing-masing pula.
nasi rames makan makan: logat bandung
aqua aqua ye: logat bandung
nasi ayam telor: logat batak
tahu tahunya sumedang tahu: logat sumedang
es es minum minum: logat sunda
kacang rebus kacang: logat dian sastro aadc
koran mas seribu: logat tegal
selai pisang goring: logat jawa
kopi susu pop mie kopi susu: logat indramayu
yang garut oleh-oleh garut: logat garut pastinya
rokok tisu basah: logat jakarte
sol patuk: logat cimahi
salak pondoh salak pondoh: logat jawa
Suasana ini, aku menyebutnya dengan istilah kerakyatan. Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Karena rasanya hanya rakyat yang berada di sini, tidak ada pejabat.
Sistem perdagangan ini, aku menyebutnya dengan sistem politik dagang salak dalam karung. Adalah, penjual salak membawa sekarung penuh salak. Lalu mulai menjual dengan harga 10ribu sekilo di awal gerbong. Beberapa orang membelinya. Lalu ditengah2 mendadak harganya turun menjadi 5ribu sekilo, beberapa orang lain membelinya. Lalu di ujung gerbong sampailah harganya pada kisaran 5ribu sekarung. Sungguh, sistem dagang yang amat sangat sensional, brilliant, two thumbs up. Salak dalam karung. Terbayang olehku, pembeli awal salak tersebut sedang meratapi takdirnya karena duduk di ujung depan. Terbesit juga pikiran bahwa sang penjual hanya berjualan sebagai wujud aktualisasi diri.
Selang beberapa waktu yang berlalu, akhirnya ada petugas yang bertugas memeriksa karcis. Menanyai satu persatu karcis penumpang. Kuberikan karcisku untuk diperiksa, selesai sekejap kemudian. Lalu pak petugas beranjak ke orang sebelahku, orang tersebut merogoh kantongnya untuk mengambil sesuatu, lalu berjabat tangan dengan petugas karcis seperti bertemu teman lama yang akrab. Setelah itu, petugas karcis langsung ikut merogoh kantong untuk menaruh sesuatu. Apakah gerangan sesuatu itu, masih menjadi pertanyaan besar bagiku. Yang jelas, semua terjadi dalam gerakan yang sangat harmonis, sinergis. Praktis aku terpana seolah menatap keteraturan alam semesta.
Waktu berlalu, kereta melaju dalam deru dan debu. Mendadak kurasakan sebentuk perasaan ingin buang air kecil. Kuberanikan diri untuk bangkit dan bergerak menuju toilet. Ada empat pemuda sedang duduk disana, bermacam gaya dan posisinya, salah satu menatapku dengan pandangan tidak wajar yang menghipnotis. Hasrat ku pun terlupakan sudah, segera duduk lagi.
Untuk apa yang disebut toilet itu, janganlah sekali-kali membayangkan sebuah tempat yang nyaman dimana orang bisa duduk membaca koran, sambil menghirup aneka wangi bunga. Cukup bayangkan sebuah kotak persegi saja, yang ada sebentuk closed yang dari lubangnya lintasan rel bisa terlihat. Untuk sebuah privasi, benda ini tidak direkomendasikan.
Tak berapa lama, seorang ibu tertular hasrat buang air. Berjalan menuju toilet, persis saat ibu itu berdiri di depan pintu, terdengar pertanyaan.
"Mo ngapain bu?"
Dari nadanya yang tak ramah, tentu saja boleh dibayangkan juga tatapan mengintervensi yang diberikan pemilik pertanyaan.
"Ini gimana sih, ko wc diduduki?"
Ibu itu pergi sambil ngomel. Dihampirinya petugas yang kebetulan lewat, dan mengadukan kekecewaannya. Petugas menjawab dengan sama kecewanya.
"Salah sendiri naek ekonomi."
Katanya seraya berlalu. Aku membeku di tempat duduk ku.
Kereta terus melaju, meski aku membeku. Lalu ditengah jalan terasa kecepatannya menurun dan sesaat kemudian berhenti. Tidak ada stasiun, berarti bisa diasumsikan bahwa kereta berhenti untuk menunggu kereta lain yang akan lewat, karena jalurnya berselisihan. Seperti junior yang akan dilewati senior, kereta menunggu dengan bersabar. Saat senior lewat, yang dalam hal ini dikategorikan sebagai kelas bisnis atau eksekutif, maka junior akan menghormat. Terdengar aba-aba.
"Hormat gerak!" Saat senior sudah lewat seluruhnya, terdengar lagi aba-aba.
"Tegak gerak!"
Yang biasanya berlaku seperti dalam sekolah kedinasan, prosesi ini dikenal sebagai PPM (peraturan penghormatan militer).
Aku masih membeku. “Salah sendiri naik kereta ekonomi” katanya, penghormatan terhadap kereta yang tiketnya lebih mahal. Mau tidak mau terasa juga perbedaan kelas sosial dalam negara yang berkeadilan sosial. Kelas sosial, rangkaian huruf dalam Madilog dan Das Capital memenuhi pikiranku, dalam untaian yang sulit dipahami seperti biasanya.
Memang, mengeluarkan uang senilai seribu rupiah untuk menempuh jarak sekitar 25 km termasuk murah, murah meriah. Sangat menolong bagi orang-orang yang keperluannya untuk mobilitas sangat tinggi dengan penghasilan sangat rendah, sehingga tidak menguras bagian penghasilannya yang seharusnya digunakan untuk konsumsi, sehingga patut juga aku berterimakasih pada pemerintah atas layanannya ini. Sehingga mahasiwa yang sisa uang kirimannya perbulan yang jika dilewatkan ke kasir Mc D hanya akan mendapat dua potong es cream cone juga bisa ikut melancong. Tak apalah, setidaknya ada ikatan emosional yang bisa kurasakan dengan sesama penumpang. Akupun tertidur lagi. Mas mas tidak dikenal, telah tertidur di lantai beralaskan koran. Dari posisiku, posisinya malah terlihat lebih nyaman.
Akirnya kereta tiba di Jogja, aku menggeliat bangun. Tak sabar melihat abang yang sejak aku lahir telah setia menjadi seorang abang. Akupun bergegas menuju pintu keluar. Aku menyelip melewati beberapa orang, yang entah dengan alasan apa, berdiri menyesaki pintu keluar. Berhasil. Aku berjalan melewati beberapa lajur rel. Celingak-celinguk mengamati sekitar, mampir ke warung yang ada di pojokan untuk membeli pengganjal perut. Kurogoh saku belakang dan demi daun yang jatuh dari atas pohon yang sudah tercatat di lauhl mahfudz, dompetku telah sukses mempelajari ilmu menghilangkan diri. KTP, SIM, KTM, ATM serta uang yang tak seberapa banyaknya juga turut serta.
Rentetan kejadian mulai dari naik kereta sampai turun barusan dengan cepat menghambur, tak kutemukan adegan di mana ia menghilang. Kuputar ulang lagi dengan fast forward pada beberapa adegan, tetap misterius. Lalu kutemukan slow motion pada adegan Aku menyelip melewati beberapa orang, yang entah dengan alasan apa, berdiri menyesaki pintu.
Kuhampiri aparat yang sedang bertugas. Akan kulaporkan perihhal jurus menghilang dompetku. Aku tau, peluangnya untuk ditemukan satu banding sejuta, peluang untuk aparat membantu mencari sebelas dua belas saja dengan yang sebelumnya. Tapi, aparat itu akan membantuku melewati hari, karena kuceritakan bebanku padanya. Karena mungkin dia akan mendengarkan, bahkan mungkin akan mencatat dengan penuh perhatian.
Aku terjaga dari lamunan. Masih di kereta. Tak ada orang-orang yang berserakan di koridor kereta ini. Suasana kerakyatan yang tadi kukenang cukup kurindukan. Tapi, kali ini, aku membeli tiket eksekutif...
July 24, 2010
Yows, The Legendary of...
maaf
by Yows (noreply@blogger.com) at July 24, 2010 11:56 AM
Aku lelaki dan engkau wanita, jelas itu berbeda. Dengan perbedaan itu, orang-orang menyatu menjadi keluarga dengan berbagai proses yang dilaluinya.
Bagiku, proses itu berarti, aku menyadari ada yang berbeda dengan perasaanku terhadapmu sejak pertama kali bertemu, lalu aku akan memutuskan untuk mulai mengenalmu dan itu tidak berlaku untuk sebaliknya, masih bagiku.
Bagiku, waktu pertemuan kita tidaklah ideal. Itu untuk mengartikan bahwa pada saat bertemu denganmu, aku sedang sangat mencintai wanita lain, yang kuharapkan menjadi ibu dari anak-anakku. Sehingga tidaklah mungkin menaruh sedikit perasaan terhadapmu diatas perasaan lain yang memenuhi hatiku.
Bagiku, mengejar cintaku adalah sebuah keniscayaan. Yang berarti dikejar-kejar perasaan cinta adalah kemustahilan. Tak perlulah mengirimkan kata-kata apapun atau melakukan tindakan apapun karena tak ada ruang untuk itu dalam diriku. Tindakanmu hanya mengingatkanku akan cintaku yang telah pergi dan masih ingin kukejar. Tak enak rasanya mengingat itu semua. Terlebih aku khawatir hanya akan menyalahkanmu atas kehilanganku.
Bagiku, meski masih sendirian melewati malam, dalam umur yang menua, dalam julukan yang membujang lapuk, tak akan bisa diartikan bahwa aku mengambil kesempatan yang mudah dibandingkan dengan berjuang dengan hal-hal yang sulit dan kemungkinan yang lebih melimpah. Yang berujung pada diriku menikmati malam, masih sendirian, dalam waktu yang lebih lama, yang melentur menjadi tak hingga.
Bagiku, engkau harus menemukan orang lain, yang akan mencintaimu dengan sepenuh hati. Karena penting bagi wanita untuk dicintai, dan penting bagi laki-laki untuk mencintai. Tak perlulah menyia-nyiakan waktumu yang berharga itu. Sebagaimana aku tak ingin menyiakan waktuku.
Bagimu, apalah artinya diriku ini. Diriku yang tak rupawan dalam wajah, yang seringkali terseok dalam langkah, yang seringkali gundah dalam arah, yang sering terlanggar dalam sumpah, yang akan sering kau dapati matanya memerah saat mengingat ayah.
Pada akhirnya, apa maumu, apa mauku, tidak memungkinkan untuk bertemu. Sehingga yang kuucapkan seharusnya adalah sebuah saja kata maaf, agar tidak akan menyakiti. Maaf.
July 19, 2010
R. Ferdy Ferdian
deception-point
by Ferdy F. Rahman at July 19, 2010 04:36 AM
Hello, world! Great Monday to start the work. Aside from humidity here at Kuala Lumpur, it’s actually have been a great day. So how’s your weekend guys? I’ve been busy reading novel lately, started when I was in MPH book store at Bangsar Village, “Deception Point” by Dan Brown. It’s been a while since I […]
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at July 19, 2010 01:43 AM
.. kemudahan teknologi bernama internet ini menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh [*]. Beberapa kali saya malah tidak mendengar suara sendiri sepagian, sesiangan, sesorean, sampai maghrib. Malamnya ketika mengucap “Terimakasih uda/uni” pada penjual makanan baru saya sadar suara saya lucu juga ya.
Kadang…
.. ingin juga bercakap-cakap dengan orang sekitar. Tapi mereka sibuk. Atau menganggap saya sibuk. Padahal tidak juga, tuh. Cuma mencoret-coret atau menandai beberapa kutipan, paragraf yang ingin saya satukan demi masa depan lebih baik. Salah saya juga. Tidak bisa memasang muka ingin disapa.
Kadang…
.. beberapa mencoba berbasa-basi, atau mencoba membangun percakapan. Tapi… saya bosan dengan alur percakapan mereka yang membahas hal-hal yang tidak saya mengerti, atau tidak mau saya mengerti. Lantas saya beranjak meninggalkan mereka, dengan sopan tentunya. Kembali ke ruangan sendiri. Diam lagi. Hanya ada lantunan merdu dari pemutar musik. Menatap kotak dengan icon kepala bulat nyengir lebar itu. Menanti dia, mereka yang biasa membuat saya tertawa, sebal, atau terkaget-kaget. Mendekatkan yang jauh, walau tidak akan bisa lebih dekat lagi.
Kadang…
.. saya tidak mengerti, mau dibawa kemana hubungan (antarmanusia) saya?
.
.
[*] pertama kali saya lihat di timeline twitter, dilontarkan penulis Adhitya Mulya.
July 18, 2010
Lindung P. Manik - ndung's blog
Bisnis Pulsa ICS
by L.P. Manik (noreply@blogger.com) at July 18, 2010 03:09 PM
Dear pembaca,
Bagi yang punya keinginan untuk bertransformasi dari pekerja menjadi pebisnis, ingin memiliki bisnis sendiri untuk pensiun muda, maka saya menawarkan suatu bisnis yang tidak padat modal, bahkan Rp.0 sekalipun, yaitu bisnis voucher electric. Sebagai modal anda pun diberikan pinjaman sebagai deposit awal. Dan harganya pun sangat bersaing dengan dealer-dealer yang lain. Sebagai contoh, berikut saya berikan list harga untuk voucher Indosat:
IM10/ME10 : 10150
IM20/ME20 : 19750
IM25/ME25 : 24450
IM50/ME50 : 47950
IM100/ME100 : 93650
Anda bisa bandingkan harga di ICS ini dengan harga di tempat lain. Jika Anda tertarik, maka silahkan hubungi saya melalui YM ataupun email ke ndoenks@gmail.com. Saya akan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosesnya ataupun kesempatan untuk mendapatkan harga yang lebih murah lagi serta keuntungan-keuntungan yang lain yang bisa didapatkan. Menarik bukan? Sampai berjumpa di kesuksesan...
Salam,
July 16, 2010
Eko Putra
Epu
by Ekoputra Arif Budiman at July 16, 2010 01:29 AM
Hey FM Lovers, Walau FM 2011 belum ada bau resminya kapan keluar, boleh dong udah ambil ancang ancang mau ngelatih tim apa ? Kalo saya sudah ancang ancang mau ngelatih JUVENTUS, kenapa ? Haha. Dah gemes liat yang aslinya, tau sendiri kan prestasi musim kemaren ? But, this season adalaj sebuah revolusi. Penasaran pengen liat [...]
July 11, 2010
Desti Utami - D Articles
bct
by Takodok! at July 11, 2010 04:17 AM
[ link ]
Silahkan mampir kalau berkenan
*
*update ga niat*
July 09, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at July 09, 2010 04:16 AM
Beberapa hal menampar kesadaran dengan cukup keras. Bahwa seseorang bisa belajar dari “kesalahan” para pendahulunya, tapi bukan berarti ia akan luput dari kesalahan lain. Bisa menghindari kubangan gajah tapi siapa tau besok tersandung kerikil tajam?
.
.
Hari ini kami belajar betapa berharganya komunikasi dua arah, pentingnya mengendalikan emosi (bukan memendam), dan bahwa mereka yang terhormat juga bisa bertingkah memalukan. Agak traumatis, tapi tumben-tumbennya bisa berkepala dingin jadi masih bisa diatasi. Cukup mengguncang juga rasanya, seakan bumi yang dipijak bergoyang hebat, apa yang dipanuti terbuka kelemahannya secara transparan. Tempat bergantung berbalik menggantungi kami.
Seperti petuah Dumbledore, mereka yang diberi kelebihan/tanggungjawab besar bila berbuat salah maka akibatnya jauh lebih fatal dibanding orang awam. Maka itulah yang terjadi. Dan bila orang tempat kami bernaung tak bisa berpikir waras, kami yang masih lemah dan belum berpengalaman inilah yang mau tak mau mengambil alih, terpaksa bertindak bak pemimpin. Padahal apa yang kami tau? Tak ada.
.
Sudah waktunya kami sadar sesadar-sadarnya, tidak ada lagi tempat aman bagi kami di dunia ini, tempat kami bisa bersembunyi di bawah ketiak penjaga kami. Cukup tak cukup bekal yang mereka berikan, sudah waktunya kami mengarungi sisa perjalanan kami sendiri.
Sampai tiba masanya kami menjadi seperti mereka, mencoba tidak berbuat kesalahan sama, dan akhirnya berbuat kesalahan lain yang bukan tak pernah orang lain lakukan. Mudah-mudahan saat itu kami punya tempat bernaung untuk sekedar menumpahkan beban kepada yang berkompeten, bukan kepada mereka yang seharusnya kami lindungi, mereka yang tak perlu tau kesusahan kami. Lalu penerus kami, mereka yang kami lindungi dan kami bimbing sepenuh hati dengan dedikasi tinggi, akan belajar dari kesalahan kami. Mereka pun berbuat kesalahan lain. Kerikil lain yang menyandung mereka. Begitu seterusnya sampai akhir masa.
.
.
tamat
July 06, 2010
Okto Silaban - Labanux
Online Content Strategy untuk Awam
by Okto Silaban at July 06, 2010 06:44 PM
Beberapa tahun lalu, sewaktu baru saja kenal dengan Pak Nukman, sering terlintas tulisan Online Strategy. Entah apa arti sebenarnya waktu itu, saya juga tidak begitu paham. Belakangan, istilah itu terlihat lebih jelas. Karena melihat begitu banyaknya pemain serius yang mau masuk ke dunia online, tapi tanpa strategi yang jelas. Dan walaupun mulai bergeliat, namun sangat lambat geraknya.
Online Stragtegy sendiri tak lepas dari beberapa strategi yang sudah ada dan umum di dunia offline, misal : Content Strategy, Brand Strategy, dll.. Dan hal istilah – istilah ini ‘lagi laris’ belakangan ini di dunia digital, khususnya dunia online.
Nah, berbicara tentang Content Strategy. Untuk yang awam dan mungkin blank tentang apa sebenarnya Content Strategy, silahkan baca disini. Itu sebagian gambarannya. Dalam level yang serius tentu saja masih lebih luas dari situ. (Saya baru sadar kalau saya pernah menuliskan tentang hal ini tahun 2007)
Di tulisan tersebut saya menuliskan tentang salah satu contoh kasus yang saya alami, dan cukup sederhana. Untuk masa sekarang, Content Strategy nya tentu akan lebih rumit. User sekarang sudah paham cara menggunakan media website. Mereka juga sudah tahu lebih banyak situs, dan bagaimana mencari konten yang diinginkan. Dengan kata lain, peluang user untuk meninggalkan situs kita semakin besar, jika.. tanpa didasari Content Strategy yang sesuai.
*intinya.. saya baru nyadar pernah nulis itu tahun 2007..
Terkait : Membangun Media Online – Yang Kasat Mata dan Tidak
R. Ferdy Ferdian
radenferdy
by Ferdy F. Rahman at July 06, 2010 05:31 AM
Followings are my style guideline when I go to work. It is not that important for some. But still, you can use some to make you look as cool as me You must have a PC or a laptop for work. Add another laptop to make you look capable of doing simultaneous job at once. […]
Yows, The Legendary of...
Padang Bulan (Resensi)
by Yows (noreply@blogger.com) at July 06, 2010 12:19 AM
July 03, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at July 03, 2010 05:58 PM
Saya ingin berbagi cerita, bukan kiat ataupun trik, malahan keluh kesah.
.
Sebentar lagi penerimaan mahasiswa baru. Wajah-wajah segar yang siap menaklukkan dunia akan membanjiri kampus. Belum tahu saja bagaimana rasanya terhimpit padatnya jadwal kuliah, serangan tugas bertubi-tubi, dan kontaminasi laboratorium *eh*
Beberapa dari mereka, sebagian besar malahan, biasanya masuk tanpa bayangan apapun tentang jurusan/fakultas yang telah mereka pilih. Beberapa dari beberapa tadi bisa cepat beradaptasi dan mengikuti laju perkuliahan. Sisanya terseok-seok dan sedikit terseret arus. Mudah-mudahan tidak mati kelelahan lalu tenggelam.
.
Sebelum bercerita lebih jauh saya ingin memperingatkan apa yang dibicarakan di sini lingkupnya adalah lingkungan universitas tempat saya bernaung. Beberapa cuplikan pembicaraan dengan teman, senior dan junior satu fakultas maupun lain fakultas, membangkitkan keinginan untuk berkeluh kesah. Saya tidak tau pasti dengan teman-teman di unversitas lain, walau rasanya permasalahan ini cukup umum sih. Mudah-mudahan tidak terkena pasal pencemaran nama baik karena menceritakan aib sendiri *halah*
.
Kembali ke sisa yang terseok dari beberapa yang buta arah tadi, menurut penuturan seorang rekan yang mengambil kuliah sastra asing (anggap ini sebagai contoh), kelemahan ia dan teman-temannya ada di penguasaan bahasa. Mereka tidak menyangka jalannya perkuliahan di sastra asing akan seperti itu. Lah, bahasanya saja kurang mereka kuasai, masih terbata-bata, bagaimana mau membahas linguistik, fonem, semantik, idiom, dsb?
Yang lebih saya sesalkan, masih menurut penuturan si rekan, adalah rendahnya minat baca satu kelas di jurusan sastra asing tadi. Apa yang mau dipelajari coba kalau membaca karya sastra saja malas? Ibarat mau bikin kue bolu tapi malas menimbang tepung. Lebih parah lagi, jangankan karya sastra asing, bahkan buku populer dalam negri saja tidak mau mereka cerna. Haduh..
Minat baca memang tidak bisa dipaksakan, tapi kalau ini terjadi pada bidang yang semestinya menuntut kejelian dan apresiasi pada karya tertulis, pantas saja dosen di jurusan bersangkutan marah-marah selalu.
.
Ah, saya taunya cuma mengkritik orang lain saja. Kamu sendiri bagaimana, des?
Yah, pernah dengar kalimat, “bila tidak bisa jadi contoh yang baik jadilah peringatan keras” ? Nah, saya adalah peringatan keras bagi orang-orang sekitar
Tapi secara umum, untuk jurusan saya, ada gunanya jadwal kuliah-praktikum padat dan tugas tiada ampun dari dosen (walau kadang menggerutu setengah mati sih, ga ada yang nempel di kepala soalnya). Mau tak mau kami dipaksa belajar, dan berusaha menjadi ahli di bidang ini. Kalau tak sanggup lebih baik loncat saja, jangan cari makan di bidang ini. Bukan hal membanggakan juga sih
Kekurangannya tentu ada. Banyak malahan. Mulai dari sistem, fasilitas, maupun motivasi dan penghargaan. Well, tidak enak juga membahasnya. Agak tidak adil ya? Maaf deh. Lain kali saja
.
Kembali lagi ke mereka yang tersisa dan terseok-seok dari beberapa yang buta arah tadi, kira-kira apa yang sebaiknya mereka lakukan di tempat yang tidak mereka ingini? Pertanyaan serupa sudah saya lontarkan di plurk dan twitter. Beberapa menjawab, berdasarkan pengalaman pribadi, menamatkan kuliah lalu belajar hal yang disukai. Faktor hutang budi ke orangtua?
11-12 dengan sambil kuliah sambil belajar hal-hal lain, yang rasanya agak berat walau bukannya tidak mungkin. Ada pula yang berani meninggalkan kuliahnya dan lanjut di bidang yang sesuai minat.
Bagaimana jika tidak betah di tempat kuliah tapi tidak tahu apa minat anda? Kasian.. saya juga gitu sih *eh* Mungkin ada baiknya pelajari saja dulu semua. Makan waktu memang, tapi ada gunanya juga banyak tau walau sedikit-sedikit. Atau ada yang punya saran lebih brilian? Silahkan dibagi. Mohon dibagi
.
Sebagai penutup, dan inilah isu utamanya, sungguh memprihatinkan melihat tiap tahunnya para (calon) lulusan SMA terbingung-bingung. Setelah ini mau kemana? Mau bagaimana? Yang beruntung memiliki jalur informasi, orangtua/sanak saudara yang membimbing, atau bimbel yang memberi pengarahan. Yang berasal dari daerah terpencil, tidak tahu apa-apa, hanya bermodalkan sawah luas di kampung dan keinginan kuat orangtua untuk mensarjanakan anaknya, dilepas sendirian ke arena kampus untuk menelan bulat-bulat segala macam teori yang tidak pernah ia mengerti apa gunanya. Bisa jadi ia suka, bisa jadi tidak. Bila tak suka, pada akhirnya kuliah hanya sekedar itu. Formalitas saja, menambah panjang nama di kartu undangan pernikahan (ini bukan saya yang ngomong, tapi pak dosen tersayang).
Berlebihan ya saya? Kan sudah dibilang ini hanya keluh kesah. Terimakasih sudah membaca ya
.
.
ps. Thank youu kak ai, mbak pupusscantik, mbak omith, kriyis, celo dan kak an sudah mau urun rembuk *halah* (cozy) (cozy) (cozy)
July 02, 2010
R. Ferdy Ferdian
radenferdy
by Ferdy F. Rahman at July 02, 2010 06:17 PM
I’m welcoming Roy Hodgson as Liverpool’s new gaffer. Do not know about him until Fulham. Is it for temporary until we find a new owner unlike the one we have now? Let’s see. But we don’t know that if this Roy mister can take us back to compete for the elite four. Sometimes surprise come […]
July 01, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at July 01, 2010 04:24 AM
-Dilema pertama; kopi atau teh?-
Kopi. Kelemahan: hidung saya mulai berair sejak semalam dan makin parah subuh tadi. Plus kurang tidur sejak beberapa hari lalu. Masalahnya apa? Bukankah setelah minum kopi biasanya saya malah mengantuk? Akhir-akhir ini kopi menjalankan fungsinya sesuai pameo umum, mengjrengkan mata dan membuat adrenalin saya terpacu. Efek relaksasinya malah berkurang. Mungkin sudah resisten *halah*.
Lalu? Bukannya bagus jika saya bisa bersemangat di pagi hari? Untung-untung bisa produktif. Tidak juga. Pengakuan: saya tidak akan pernah terbiasa bergadang. Saya selalu butuh tidur cukup (6-8 jam) dan berkualitas. Manja ya? Bayi ya? Memang. Kurang tidur beberapa hari (bahkan minggu berturut-turut) bisa membuat kemampuan berpikir yang sudah sangat terbatas ini makin melambat. Gerak motorik tubuh juga makin tidak sinkron dengan perintah otak. Makin sering typo, makin sering berceloteh tidak karuan, dan yang paling parah.. mood kacau balau.
OKI, saya sangat menjunjung tinggi hak tidur cukup dan berkualitas. Kemampuan curi-curi tidur di mana pun dan kapan pun sudah terasah sejak jaman SMA. Dan bila si kopi sudah turut berkontribusi mengurangi jatah tidur, sedangkan saya butuh tidur walau seiprit demi kewarasan dan kedamaian orang sekitar, sungguh berat memilihnya.
.
Teh. Kelemahan: teh manis gampang membuat saya lapar. Ini akhir bulan. Ummm.. maksud saya awal bulan, tapi awal banget. Gitu deh. Ditambah saya sedang berhemat demi rak buku idaman kemarin. Got it? Oh ya, saya kurang suka teh tawar.
Jadi… pilih yang mana?
.
.
Kopi dong! Karena target yang makin mendekat butuh konsentrasi, dan rasa lapar sangat tidak membantu kegiatan berpikir. Kopi membuat saya kenyang. Kopi membuat banyak hal berputar-putar di kepala sampai-sampai saya gagap untuk mengalirkannya melalui keyboard. Kopi membuat saya merasa keren. Aroma kopi, meski abal-abal, menenangkan hati saya yang sangat terenyuh ketika menonton wawancara idola saya di Mata Najwa semalam.
Lho? Setting cerita pagi ini kok ada acara teve semalam? Ya saya baru menontonnya pagi ini, secara terbata-bata karena koneksi internet yang kurang mumpuni. Tambah lagi yang berputar-putar di kepala. Itu -dilema kedua-. Duh…
.
.
-Dilema ketiga: ebook atau buku cetakan?-
Dalam keadaan normal saya cenderung pro buku. Ebook kurang praktis, meski gratis, karena saya belum punya ipad, kindle, atau sejenisnya, dan saya kurang suka membaca via handphone. Kalau cuma buku fiksi biasa masih bisa lah.. lah kalau textbook yang penuh diagram, struktur molekul atau gambar anatomi tubuh? Mabuk dong ah
Jadilah akhir-akhir ini waktu mempelototi monitor makin bertambah setiap harinya meski sebagian besar karena nonton dan browsing juga, yang mengakibatkan mata semakin cepat lelah. Jangan sampai nanti saya akhirnya pakai kacamata, cukup calon lelaki saja yang mengkerenkan diri dengan kacamata *eh*
.
.
Kesimpulan: saya curhat saja kok ini. Ga ada hikmah apa-apa. Selamat hampir akhir minggu, kawan! Saya libur tapi gak libur lho *sobs*
June 27, 2010
R. Ferdy Ferdian
radenferdy
by Ferdy F. Rahman at June 27, 2010 08:42 AM
Wow, it has been more than 1 month already since I’ve joined RBT. Aside from effort to adapt with Malaysian foods, I involve with project that requires technologies and tools which some unheard of since the beginning of my career. Typical with my tasks at KSEI, development tools are also quite the same. Eclipse and […]
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at June 27, 2010 05:36 AM
How much does your life weigh? Imagine for a second that you’re carrying a backpack. I want you to feel the straps on your shoulders. Feel them?
I want you to pack it with all the stuff that you have in your life. You start with the little things. Things on shelves, in the drawers, the knickknacks, collectibles. Feel the weight it all adds up.
Then you start adding larger stuff. Clothes, tabletop appliances, lamps, linens, your TV. The backpack should be getting pretty heavy now.
You go bigger. Your couch, your bed, your kitchen table, stuff it all in there.
Your car, get it in there. Your home, whether it’s a studio apartment or a two-bedroom house. I want you to stuff it all into that backpack.
Now try to walk.
It’s kinda hard, isn’t it?
This is what we do to ourselves on a daily basis, we weigh ourselves down til we can’t even move and make no mistake; moving is living.
Now, I’m gonna set that backpack on fire. What do you wanna take out of it?
Photos? Photos are for people who can’t remember. Drink some ginkgo and let the photos burn.
In fact let everything burn and imagine waking up tomorrow with nothing. It’s kinda exhilarating, isn’t it?
-What’s In Your Backpack by Ryan Bingham-
.
.
Buku bertumpuk dimana-mana. Di sudut kamar, di meja, di samping tempat tidur, bersusun dua tingkat di atas lemari, di dalam kardus. Sepertinya sudah waktunya saya mencari rak buku baru demi kesedapan mata dan keamanan para buku sendiri. Lalu suatu malam saya mendengar petuah Ryan Bingham di atas. Dia memang agak “menyedihkan” dengan segala ketidakpercayaannya pada hubungan dan prinsip hidup menetap (yes, I’m on Natalie’s side. By the way, we’re on the same age
), tapi dipikir-pikir lagi beberapa kalimatnya ada benarnya juga.
Bila ransel yang berisi semua barang di kamar ini (termasuk buku-buku tercinta tadi, hadiah-hadiah, surat-surat dari jaman SMA, kalender gratisan, bantal kesayangan) dibakar, apa yang akan saya selamatkan? Ijazah? Ya, itu pikiran pertama. Sebenarnya sewaktu isu gempa sedang gencar-gencarnya dulu saya sempat menyiapkan satu tas kecil berisi dokumen penting yang bisa segera dibawa lari jikalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Meski kenyataannya pada gempa 30 September lalu malah tidak terpikir untuk menyambar apapun, kecuali kaleng minuman yang kebetulan sedang dipegang.
Bagaimana kalau semua barang yang ada di kamar terbakar? Oh, kos-kosan beberapa puluh meter dari tempat saya terbakar beberapa minggu lalu. Bayangkan apa perasaan para penghuni kos tsb. Bukan melegakan pastinya, karena ini adalah musibah. Bagaimana kalau seseorang memutuskan untuk melepaskan semua miliknya dan memilih untuk hidup nomaden nan bersahaja? Bukan tidak pernah terjadi, tapi saya belum pernah kenal langsung orang seperti itu (ya, saya tidak kenal langsung dengan Darren Shan
). Beberapa kenalan hanya pergi saat lalu kembali. Tetap saja mereka terikat pada benda-benda duniawi miliknya.
Pada akhirnya saya hanya bisa berandai-andai, membayangkan apa rasanya putus hubungan sama sekali dengan kehidupan saat ini. Mulai dari nol, bukan cuma maaf-maafan sewaktu lebaran lalu sesaat setelah itu mulai melemparkan kata-kata sengit lagi
Mungkin melegakan. Mungkin juga tidak. Jika awal hadirnya seseorang di dunia melalui perantara seorang ibu, itu terjadi di luar kehendaknya. Ada orangtua (pada umumnya) yang menemani fase awal hidupnya. Tapi jika seseorang ingin memuali hidup baru, dengan meninggalkan semua benda duniawi yang pernah dia punya (dan hubungan tentunya), ia akan benar-benar sendirian sambil membawa kebiasaan dan ciri masa lalu.
Ah, terlalu panjang melantur gegara sebuah rak buku yang belum bisa saya miliki *pffft* Pardon me
.
.
-Ryan Bingham-
June 21, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at June 21, 2010 04:51 PM
Yang dulu pernah hilang kini telah kembali, tetapi saya memilih untuk tidak memilikinya dulu saat ini.
Waktu bergulir cepat dan beberapa momen yang terpatri di ingatan bisa membentuk pola unik. Satu tahun lalu, berlatarkan kantor imigrasi saya bertemu penyegar otak, tuan H. Satu tahun lalu, di depan kantor imigrasi seorang teman menawarkan benda yang kelak menjadi kesayangan, benda yang beberapa bulan kemudian hilang karena kecerobohan. Tepat satu tahun lalu saya “membuang” seorang kawan. Tepat satu tahun kemudian, saya mengambilnya kembali walau tidak ditempatkan di posisi semula.
Bukan waktu yang mengajarkan sesuatu, tetapi proses pembelajaran memakan waktu. Saya belajar bahwa kesabaran kadang berbuah manis, tapi kesabaran yang butuh terlalu banyak pengorbanan kadang tidak layak untuk ditempuh.
Yang hilang kadang pergi tanpa bekas. Kadang ia kembali untuk menyadarkan bahwa sebenarnya ia tak terlalu berharga untuk diberi pengorbanan mati-matian.
Yang kembali kadang memang berjodoh untuk mendampingi saya. Atau ia hanya menggoda selintas lalu, menguji seberapa jauh saya menghargai ia yang baru.
Ya, saat ini saya memilih untuk mengacuhkannya. Bila kita terbiasa hidup tanpa tangan, untuk apa membeli cincin?
June 07, 2010
Yows, The Legendary of...
children's delusion (bab sikok)
by Yows (noreply@blogger.com) at June 07, 2010 03:27 PM
BIODATA PENGARANG
Pemuda tadi yang ternyata bernama Wahyu langsung keluar dari persembunyiannya dan langsung berlari-lari kecil, berlari-lari sedang, dan kadang berlari-lari besar menuju SMP 16. Sesampainya di SMP 16 dia bertemu dengan salah satu makhluk aneh dan unik di SMP itu, yaitu Firman. Firman sedang member makan chachink nya yang bernama Alex, Alexander dan Alex Murphy.
BET BET DUAG PLAK TAK DUK BRUENG TENG TENG CTAR CTAR BLAAR
for complete stories, you can download at this link:
children's delusion complete
June 06, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at June 06, 2010 12:39 PM
17.46 WIB
Kakak : Dek, menurut lo gua perlu mandi gak?
Adik : Najis!
.
18.15 WIB
Kakak : Gerah ya? Menurut lo gua perlu mandi ga dek?
Adik : *diam tanpa kata*
.
18.18 WIB
Kakak : Duuuhhhh, geraaaahhhh! Menurut lo gua perlu mandi ga deeeekkk?
Adik : *menatap sinis sambil ancang-ancang melempar sendok*
.
.
16.20 WIB
Kakak Sulung : Dek, kamu kalo dipukul sama orang jahat jangan balas mukul.
Adik Bungsu: Si otong ya kak? Tadi adek didorong sampe jatoh. Sakiiittt..
Kakak Sulung: Nah iya. Kamu jangan balas dorong. Kamu pegang aja kakinya, trus kamu bilang ke dia,”Aku doakan kamu masuk surga. Besok berangkat ya!”. Gitu.. Ngerti?
Adik Bungsu: Ya! Adek mau beli pesawat yang gede!
.
.
.
[Bukan percakapan imajiner, hanya sedikit modifikasi di sana-sini]
June 03, 2010
Eko Putra
Epu
by Ekoputra Arif Budiman at June 03, 2010 06:49 AM
Oke FMlovers, Serie A, sampe Liga Super Indonesia pun udah berakhir musimnya. dan sebagai penggemar Juventus, gak sabar pengen secepatnya mengembalikan Juve ke peringkat 1 serie A, ma gelar gelar laennya. Lewat FM tentunya. haha. Nah ngomongin musim yang akan datang, tentu pasti juga ngarep Football Manager 2011 dong. Football Manager 2011 tentunya bakal dibuat [...]
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at June 03, 2010 03:41 AM
Cinta. Tidak ada argumen, walau seberapa pun kuatnya, yang bisa melebihi kata itu. Aku iri pada Bisma karena membangkitkan pemujaan seperti itu dalam diri suami-suamiku— tetapi dia sudah membantuku memahami sesuatu tentang para Pandawa, sesuatu yang sangat penting. Kelaparan masa kanak-kanak kita tidak akan pernah meninggalkan kita. Tidak peduli mereka menjadi termasyhur atau berkuasa, suami-suamiku akan selalu merindukan kasih sayang. Mereka akan selalu mendambakan untuk merasa berharga. Kalau ada orang yang bisa menyebabkan mereka merasa seperti itu, maka mereka akan mengikatkan diri kepadanya untuk selamanya. (Drupadi/Panchali; Istana Khayalan)
Kenapa saya merasa tertampar, eh tertohok ya?
May 28, 2010
Yows, The Legendary of...
children's delusion (preface)
by Yows (noreply@blogger.com) at May 28, 2010 11:22 PM
Okto Silaban - Labanux
Cari Developer Itu Susah Kawan !
by Okto Silaban at May 28, 2010 10:16 AM
Masih berkaitan dengan Indonesia di TechCrunch. Ada banyak poin yang bisa dijadikan catatan. Saya menyoroti satu hal : Ternyata yang sulit di Indonesia itu adalah mencari developer, bukan pendanaannya !
…Instead, the pain point is finding developers. In Indonesia, developers are considered an entry level position, not a lucrative career path. Most companies have to invest six months or so in training the talent they need, making scaling up a challenge.
Hah?! Dengan sekian banyak website bertema programming dan development (khususnya web), belum lagi milis – milis. Ternyata susah mencari developer?!!
Oohoo.. Bukan berita baru sebenarnya. Tanyakan pada mereka yang mencari programmer, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan programmer berkualitas? Sebuah perusahaan dari grup bisnis yang sangat besar di Indonesia, dalam waktu 6 bulan pun masih belum bisa mendapatkan satu orang programmer web, dengan spesifikasi standar.
Lalu apa penyebabnya ? Saya coba rangkum. (silahkan tambahkan di kolom komentar kalau anda punya masukan baru)
Gaji
Isu sangat sensitif ini. Dan seringkali jadi pertimbangan utama (ya sama lah dengan lowongan kerja lainnya). Ada yang menawarkan standar salary yang tidak masuk akal untuk standar hidup di Jakarta. Tapi berhubung perusahaan ini punya label nama yang mentereng, banyak yang rela mengantri (sebelum akhirnya pun mengantri untuk resign).
Ada juga yang minta minimal requirement kaya dewa (yah.., para developer pasti tahulah), tapi dengan gaji standar UMR.
Nama Besar
Lalu, apa tidak ada yang menawarkan gaji besar? Ohh ada.. Tapi minimal requirement nya tinggi ya? Tidak juga.. Tapi kok gak dapet – dapet programmernya?
Nah sama juga seperti lowongan kerja lainnya. Nama besar penting. Kalau perusahaan ini masih baru (khususnya startup) mereka yang punya kualitas tinggi pun tetap akan membandingkannya dengan lowongan sejenis dari perusahaan yang punya nama besar. Apalagi kalau multinational company. Apalagi kalau oil & gas company.. (jujur..!)
Ada juga yang mau bergabung di perusahaan kecil, untuk kemudian dijadikan lompatan untuk masuk ke perusahaan dengan nama besar.
Banyak juga yang lebih memilih jadi PNS (dengan gaji awal lebih kecil daripada di startup company), karena jaminan masa depan. *silahkan berdebat soal ini*
Kualitas
Dari sisi programmer sendiri, sebenarnya banyak juga yang cuma ‘programmer koboi’. Ini adalah tipikal programmer yang belajar otodidak, yang berprinsip : Yang penting jadi dan bisa dijalankan – lalu belakangan boroknya terbuka satu demi satu. Lepas dari konsep – konsep dasar pemrograman dan software engineering. Jangan salah, yang *ngaku* lulusan kuliah Informatika / Ilmu Komputer pun banyak yang ternyata programmer koboi.
Eitts.., tapi jangan salah, developer koboi ini juga banyak lho yang punya penghasilan jauh di atas developer yang bekerja di perusahaan besar.
Ada juga yang punya portofolio bagus. Dengan sederet pengalaman kerja yang keren, dan tempat bekerja yang juga keren – keren. Tapi setelah dites, tidak sebagus yang dibayangkan.
Lalu apakah tidak ada programmer yang bener – bener berkualitas, dan punya outstanding skill & knowledge? Ada.. tentunya ada. Tapi mereka yang sudah di level ini, tentunya preferensinya lebih ketat untuk memilih tempat dia bekerja. Apakah ini institusi/company yang bonafit? Apakah kesejahteraannya bakal terjamin di sini? Dst. Karena, mereka yang sudah berada di level ini, bisa dengan mudah mendapatkan proyek (khususnya dari luar negri). Lah bikin template Wordpress aja ada yang rate nya $700/template ! Masak mau digaji dibawah itu per bulan? *sori, nyebut angka*
Selain itu, mereka yang sudah punya kualitas bagus, apalagi kalau berasal dari software house, sebagian lebih memilih membuat perusahaan web development sendiri ketimbang jadi karyawaan di perusahaan / institusi lain. Atau justru pindah ke perusahaan besar yang jadi client nya dulu di software house.
Freelancer
Freelancer masih menjadi pilihan banyak programmer yang punya kualitas bagus. Karena pada dasarnya programmer model ini pengen *hidup bebas*, punya waktu yang lebih fleksibel, enggak usah ribet dengan birokrasi dan aturan tata kesopanan pakaian. Apalagi ditunjang dengan pemasukan yang menggiurkan.
Yah.., walaupun saya percaya pada kenyataanya : Every developer is a freelancer
Google AdSense
No comment
StartUp
Yap.. developer yang berkualitas juga sadar sekarang momen yang pas untuk membuat startup. Jadi dia lebih memilih bikin startup sendiri, ketimbang gabung di startup lain.
Sudah bukan rahasia, kehidupan para developer di Google, sering jadi sorotan media. Bagaimana mereka begitu dimanjakan disana. Bagaimana mereka bisa bebas berkreasi disana. Dan hal ini juga terjadi di Facebook. Ditambah isinya kebanyakan adalah anak – anak muda, orang – orang yang energik, dan lebih menyenangkan. Plus.., perusahaannya punya nama besar. Ada di Indonesia yang seperti ini?
Di Indonesia saya pernah dengar ada perusahaan yang seperti itu, lokasinya di Jogja, tapi bukan perusahaan IT, melainkan advertising & communication *tapi minus nama besar kayaknya..
*
Jadi, bagi perusahaan (khususnya startup) yang mau merekrut developer, biasanya developer yang berkualitas itu :
- Sudah bekerja di perusahaan dengan nama besar atau di luar negri
- Sedang jadi freelancer dengan penghasilan yang menggiurkan
- Masih kerja di perusahaan yang namanya tidak pernah anda dengar, tapi gajinya tidak bisa anda bayangkan
- Sedang membuat perusahaan web development sendiri
- Sedang bikin startup juga
- Nganggur dan nunggu Google buka kantor di Indonesia (ha..ha..ha…)
Kalau bisa bikin kantor ala Google atau Facebook di Indonesia dan bisa bikin nama perusahaannya besar, mungkin.. mungkin developer – developer berkualitas itu akan datang dengan sendirinya.
Jadi, posisikan diri anda jadi orang – orang seperti di atas. Apa yang bikin mereka tertarik untuk bergabung dengan anda? (di luar gaji dan nama besar).
NB: Disadur dari berbagai cerita teman, bacaan, dan pengamatan langsung di lapangan.
Indonesia di TechCrunch
by Okto Silaban at May 28, 2010 08:18 AM
Sekitar tahun 2007, saya tahu TechCrunch pertama kali. Waktu itu cuma bisa ngiler aja lihat berbagai startup diulas di TechCrunch. Sama juga seperti pembaca TechCrunch dari Indonesia yang lain, sebagian besar pasti berpikir : Kapan ya, startup dari Indonesia masuk TechCrunch [TC] ? Saya berpikir, ah paling cepat 5 tahun lagi.
*Yang belum tahu tentang TC, bisa dibilang TC ini kiblat informasi tentang startup (yang sebagian besar memang startup dunia online).
Dan akhirnya, beberapa hari lalu pertama kalinya TechCrunch membahas startup Indonesia (ya karena dibeli Yahoo tentunya). Dialah Koprol, sebuah microblogging berbasis lokasi, yang sering dibanding – bandingkan dengan FourSquare (yang memang jauh lebih besar). Hey.., ternyata gak sampai 3 tahun sampai akhirnya pikiran saya itu terwujud.
Dan hari ini, tepat saat hari raya Waisak, TC menulis spesial tentang startup di Indonesia. Silahkan baca lengkapnya di TC.
Pesimis ?
Saya sempat rada pesimis dengan desas – desus maraknya startup dari Indonesia? Kenapa? Sebagian besar *yang saya tahu* karena kelihatannya bukanlah pemain serius. Lebih ke arah kreatifitas developernya. Seakan – akan memang cuma ajang kreatifitas, bukan memang serius direncanakan dan diekseksusi sebagai bisnis. (Salut buat Tokopedia yang memang memandang startup mereka itu sebagai bisnis sejak dari awal diriset, direncanakan, hingga eksekusi).
Tapi, mungkin memang begitu jalannya. Mereka yang menuangkan kreatifitas mereka itu, tentu juga terbersit soal bisnis. Mungkin saja karena kurang pede, atau masih belum 100%, jadi masih menunggu waktu. Jadi setelah usernya besar, dan kelihatan arahnya, baru lebih diseriusi. (Flickr sendiri tadinya bukan ditujukan buat sharing foto, tapi akhirnya besar dan menjadi bisnis karena sharing foto. Kaskus pun awalnya buat diskusi, bukan buat jual-beli, tapi akhirnya FJB (Forum Jual Beli) -nya jadi luar biasa besar.) Mungkin model ini yang banyak diterapkan di Indonesia.
Saran?
Kita sama – sama bisa baca, memang tidak ada rule pasti untuk membangun startup. Yang satu bilang : “Buatlah bisnis model sejak awal”. Yang lain bilang : “Hey.. just do it ! Kalo user udah banyak, duit datang dengan sendirinya !” . Ada juga yang bilang : “Fokuslah pada ide.. Karena ide itu mahal”. Lalu ada yang berujar : “Eksekusi lah..! Ide itu tidak harus original. Pebisnis itu adalah orang bisa menjalankan bisnis, sekalipun ide nya tidak original”. Pernyataan : “Cari Ide, temukan investor.., eksekusi” dibantah dengan “Cari ide, eksekusi, investor bakal datang sendiri “. Dst..
Jadi saya tidak akan menambahkan saran baru lagi. Selamat berusaha..!
Ah iya, selamat Hari Raya Waisak.. Semoga Semua Makhluk Berbahagia…
May 26, 2010
Desti Utami - D Articles
gosip
by Takodok! at May 26, 2010 03:24 AM
Ada yang tidak tau apa itu bergunjing? Mari saya kutipkan dari KBBI daring;
gun·jing n umpat; fitnah;
– gujirak berbagai umpatan dan fitnah; — gujirat gunjing gujirak;
ber·gun·jing v berbicara (beromong-omong) tt kejelekan (kekurangan) seseorang dsb;
meng·gun·jing v 1 membicarakan kekurangan orang lain; 2 mengumpat; memfitnah;
meng·gun·jing·kan v memperkatakan (kejahatan orang dsb): banyak orang yg ~ peristiwa perampokan bank itu;
gun·jing·an n yg dipergunjingkan; umpatan; pembicaraan: ia tidak ingin menjadi ~ orang, ia terpaksa menceraikan istrinya;
mem·per·gun·jing·kan v menggunjingkan;
per·gun·jing·an n perihal bergunjing: jangan dihiraukan ~ orang tt keluarga kita
Wow, konotasinya negatif semua ya? Idealnya memang tidak usah bergunjing. Tapi.. ayo akuilah siapa yang tidak pernah bergunjing?
Apa? Kamu tidak pernah? Baiklah. Saya percaya. Percaya-percaya saja.
Ibu saya dulu pernah bilang, ” Hati-hati dengan apa yang kamu katakan. Kamu bilang A bisa jadi yang tersebar Z-B-C-D. Orang itu bermacam-macam perangainya.” Prinsip beliau memang bicara yang penting-penting saja, mulutmu harimaumu. Berbeda dengan saya yang masih suka kongkow-kongkow dengan teman-teman sealiran dan bicara ngalor-ngidul, yang ujung-ujungnya ya… bergunjing
Tapi dalam bergunjing sepetinya saya punya aturan tersendiri. Yang paling utama adalah peserta pergunjingan yang “sealiran”. Bukan berarti harus selalu sependapat, tapi punya selera pergunjingan yang sama. Saraf tersinggungnya juga sebaiknya memiliki kelenturan yang sama. Tidak lucu rasanya bila sedang heboh-hebohnya bergunjing tiba-tiba seorang peserta melontarkan komentar bernada ofensif sekaligus membuat tak enak hati dan suasana.
Kedua, pemilihan tempat yang kondusif. Bergunjing di muka publik? Siap-siap saja terdengar oleh kuping beda aliran. Twitter dan status facebook juga termasuk tempat umum lho, mestinya kita semua sudah paham tentang itu
Milis dan plurk yang bersetting pribadi juga bukan tidak mungkin bocor ke lingkaran luar. Yang membawa kita ke aturan ketiga, less is more. Jangan kebablasan berkomentar. Mulut bilang A, yang ditangkap kepala lain bisa jadi A-B C, Z, XX atau GKNBIUUGJBHJG. Belum perulangan kepada pihak lain nantinya. Awalnya menggunjing, akhirnya malah dipergunjingkan. Lagi-lagi tidak lucu.
Mirip dengan omongan ibu saya di atas ya? Kalau begitu sama saja jangan bergunjing dong?
Situ tahan? Selamat! Saya sih tidak, hanya menambah dosis kehati-hatian dengan aturan di atas. Bila terperosok juga, misal omongan saya diputar balik padahal cuma angguk-angguk dan “hmm.. oya? Gitu ya?”, well.. shit happen lah. Berarti saya tidak cocok dengan komunitas pergunjingan tsb. Pindah channel! Gitu aja kok repot ya
May 24, 2010
Okto Silaban - Labanux
Programmer Sukses
by Okto Silaban at May 24, 2010 05:53 AM
Bulha sedang menunggu pesanan sego kucing dan es tehnya ketika seorang gadis yang membawa kamera DSLR, dengan tas ransel di pundak, kaos oblong, dan celana jins pendek mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Lokasi mereka nongkrong memang cocok untuk mengabadikan apa yang terlihat di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret, yaitu di depan Kantor Pos perempatan alun – alun utara, Jogja.
Bermaksud mengisi kesunyian karena Haran tak kunjung datang, Bulha bertegur sapa dengan gadis ini.
Bulha : Wah.. fotografer nih mbak?
Si Mbak : Ahh.. enggak kok. Cuma hobi aja. Keliling – keliling nyari objek bagus. Ini juga baru belajar.
Bulha : Oo.. Potongannya udah cocok lho mbak jadi fotografer profesional.
Si Mbak : (Tersenyum seraya membidikkan lensa kameranya ke arah turis domestik berwujud alay yang sedang heboh berfoto ria di depan monumen bersejarah itu.)
Bulha : Emang kerja dimana mbak?
Si Mbak : Oh.. saya programmer kok mas. Freelance.
Bulha : Emm.., sama kaya saya dulu. Dulu saya freelance juga di Jogja. Tapi sekarang kerja di Jakarta, programmer di bank swasta.
Si Mbak : Whuee.. asoy tuh gajinya, ha..ha..
Bulha : Gak juga standar kok. Eh, freelance sendirian ato ada timnya, Mbak?
Si Mbak : Sendiri aja. Tapi kadang kalo loadnya berat, ya di outsource ke temen – temen freelancer lainnya juga. Terutama desain. Selera desain saya jelek.., he..he.. (lalu memanggil si empunya angkringan, memesan susu jahe).
Bulha : Kenapa gak bikin tim aja, Mbak?
Si Mbak : Buat apa?
Bulha : Ya.., nanti kan bisa jadi lebih besar resource nya.
Si Mbak : Terus?
Bulha : Ya terus bisa ngambil proyek lebih banyak lagi. Gak kecapekan.
Si Mbak : Proyek lebih banyak buat apa?
Bulha : Ya biar pendapatan makin gede. Ntar bisa jadi perusahaan malah.
Si Mbak : Lah terus?
Bulha : Nah.., kalau udah jadi perusahaan kan enak. Ada timnya sendiri, punya anak buah. Sistemnya udah bekerja.
Si Mbak : Kalau sistem udah bekerja?
Bulha : Nah Mbak kan bisa jadi lebih nyantai. Bisa nerusin hobi fotografi. Keliling – keliling nyari objek bagus, nongkrong di angkringan sambil minum susu jahe..
Si Mbak : Lah ini saya lagi ngapain? (saat membidikkan kameranya, si empunya angkringan mengantarkan susu jahe pesanannya).
Bulha : *bengong*
Cuma sekadar sudut pandang lain. Hidupmu, pilihanmu.
NB : Cerita ini saya dengar dari kakak saya, tidak tahu siapa yang menulis aslinya. Cerita aslinya tentang nelayan. Saya sesuaikan jadi bertema IT.
May 21, 2010
R. Ferdy Ferdian
radenferdy
by Ferdy F. Rahman at May 21, 2010 05:07 AM
Sudah hampir satu minggu saya berada di Kuala Lumpur, Malaysia. Semenjak saya memutuskan resign dari BP Indonesia dan Pertamina Hulu Energi ONWJ dan menemani tunangan saya Rizka untuk study di ANU, saya merasa bahwa saya pun harus memulai hidup saya yang baru. Hidup baru dengan suasana baru, teman baru, tempat tinggal baru, dan tentunya mata […]
May 18, 2010
Okto Silaban - Labanux
Gunakan Partisi Terbesar di Server Amazon EC2
by Okto Silaban at May 18, 2010 07:25 PM
Untuk yang pernah menggunakan (me-launch) instance baru di Amazon EC2, biasanya mendapatkan setingan partisi default : 10 GB untuk sistem operasi, dan sisanya di /mnt. Beberapa waktu lalu saya juga membuat instance baru di Amazon EC2. Kali ini bukan Debian, tapi Ubuntu 10.04. Instance kali ni merupakan instance yang large : Prosessor AMD 64 (virtual tentunya), RAM 7,8GB, dan hardisk 400GB-an (lupa pastinya). AMI yang saya gunakan, yang resmi dari Canonical.
Sama seperti instance untuk server Debian. 10 GB digunakan untuk sistem operasi, dan sisanya (414 GB) dimount ke partisi /mnt. Nah berhubung website ini membutuhkan banyak space, dan space terbesar justru berada di /var, maka /mnt itu akan saya ganti jadi /var.
Catatan : /var banyak makan space, karena di dalamnya ada direktori untuk script web (/var/www), direktori untuk data MySQL (/var/lib/mysql), dan jangan lupa LOG ! Kasus saya dulu partisi utama cepat penuh justru karena Log Apache (Thanks to agan Yuda Nugrahadi atas petunjuknya). Ah iya, Log apache terletak di /var/log/apache2/
Nah. Kembali ke topik. Jadi ini langkah – langkah yang saya lakukan agar space 414 GB itu menjadi direktori /var sistem.
1. Login ssh ke server (karena pakai Amazon EC2, jangan lupa gunakan file key pairing nya *.pem, atau kalau tidak mau repot lakukan : ssh-add fileKey.pem).
2. sudo -s (biar jadi root)
3. pico /etc/fstab.
ganti baris :
/dev/sdb /mnt auto defaults,comment=cloudconfig 0 0
jadi :
/dev/sdb /var ext3 defaults 0 0
4. rsync -avz /var/* /mnt/
5. mv /var /var-old
6. umount /dev/sdb
7. mount /dev/sdb
8. Kalau mau lebih yakin : reboot
Nah langkah – langkah di atas berjalan dengan baik untuk 2 server yang saya sempat senggol. Tapi cukup riskan juga sebenarnya. Jika tidak yakin, jangan coba – coba.. He..he..
Yows, The Legendary of...
The Irreversible of Time
by Yows (noreply@blogger.com) at May 18, 2010 01:12 PM
What can I do now? To reduce the pain, I can tell someone about my sorrow, they maybe will listen at once, but if I keep telling them a same painfully story that stuck in both my head and my heart, I will lost this friend as I also lost the time. Without me telling the stories, they would notice the sorrow from my eyes. No matter how hard I have tried to hide it.
I have to face it. I have to accept, that because of my own mistake, I can’t keep my girl friend stay with me. I have to accept that because of my own decision, I no longer have a sweet time with my dad even for his last breath. I will not see my father again, I will never talk to him again even just for a minute to say how much I love him. Time is elapsed and it’s irreversible.
I have to accept the situation that my life has turn into a bitter chapter. It don’t give a care of how much I have beg and pray for the certainty of the universe to made a rule as human’s rule usually does. Like I have the sign if I do wrong, I will get such a warning, such a conversation and so on. So I can change my behavior to make the situation more comfortable for everyone beside me. But this fate, doesn’t follow the rule, it just happen as they should happen. There will be neither warning nor sign; there will be only me, the only one to face it, no matter how hard it is. No matter I can swallow the bitter taste or not. It just happens.
The only thing I just know, I have to give the best effort in everything, for everyone, for every decision, for now and a better end will present. So if something terrible happens, while it just happens as it always does, I will have no regret. I can’t have this regret, this sadness, frightened me for the rest of my life.
May 17, 2010
Yows, The Legendary of...
ar rahmaan
by Yows (noreply@blogger.com) at May 17, 2010 06:38 PM
Yang telah mengajarkan Al Qur'an (2)
Dia menciptakan manusia (3)
Mengajarnya pandai berbicara (4)
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan (5)
Dan bintang-bintang dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada Nya (6)
Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan) (7)
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu (8)
Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu (9)
Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya) (10)
Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang (11)
Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya (12)
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (13)
May 15, 2010
Desti Utami - D Articles
DSC01224
by Takodok! at May 15, 2010 01:04 PM
pedestrian n a person walking in the street, not sb in a vehicle (Oxford Advaced Learner’s Dictionary)
Sudah jadi rahasia umum bahwa kenyamanan pejalan kaki berada di urutan ke-sekian. Jangankan meminta trotoar yang layak, bahkan trotoar yang seadanya pun sering diserobot untuk berbagai kepentingan. Kalau berjalan di jalan tanpa trotoar, yah… harus ekstra hati-hati karena beberapa pengendara, baik motor atau pun mobil, merasa urusannya lah yang paling penting sedunia. Semua minggir! Beri saya jalan! Begitu kendaraan mereka menyerempet tubuh kita yang cuma seonggok daging ini, umpatan kasar yang keluar bukannya permintaan maaf.
Ah, tidak semua kok. Saya juga tidak hendak menggeneralisir. Masih banyak pengendara santun yang patuh peraturan dan tidak kesetanan maupun kecanduan adrenalin jalan raya. Saya yakin itu. Kali ini saya juga tidak bermaksud mengumpat lagi. Anggap saja yang di atas keluh kesah tak berujung
Jumat sore saya sempat JJPS di seputaran Jalan Sudirman dan Jalan A. Yani. Suasana saat itu adem dan basah. Maklum, sedang hujan. Ketika itulah saya menyadari bahwa trotoar di sini sama seperti kerabatnya di belahan lain muka bumi, masih kurang ramah terhadap pejalan kaki.
Trotoar di Jalan Sudirman berubah menjadi kolam kecil sedalam mata kaki. Menarik, kita bisa mendinginkan kaki di sini. Beberapa anak sekolah yang berpapasan pun memanfaatkan kolam dadakan ini sebagai sarana bermain. Bila kering jadi trotoar, saat hujan jadi trotoar plus plus.
Nah, trotar di Jalan A. Yani ini lebih bersahabat. Rindang pepohonan juga sangat membantu kala panas terik menghantam bumi Minang. Halah.
Apakah berlebihan kalau saya bermimpi bisa JJPS di daerah yang ramah pejalan kaki? Trotoar layak dan bersahabat, pepohonan rindang, laju kendaraan tidak seperti maling dikejar setan, dan minim bising klakson, apakah itu semua mustahil didapat? Tidak juga. Kampus saya amat sangat ramah pejalan kaki kok. Tapi.. kalo di sana mah bukan JJPS namanya
ps. JJPS=Jalan-Jalan Penghilang Suntuk
May 14, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at May 14, 2010 04:31 AM
#1. Mengapa disebut sebagai “tekad bulat/ membulatkan tekad”? Mengapa bukan “tekad kotak/mengkotakkan tekad”?
#2. Jika segala seuatu di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan, mengapa ada penderitaan yang sepertinnya tiada akhir? Mau contoh? Tuh, Timteng. Tuh, berita di infotainment.
#3. Jika yang paling penting adalah proses, mengapa hasil dipermasalahkan juga? Yang penting kan selesai, pak, bu.
#4. Jika kepuasan tidak ada batasnya, lalu mengapa ada saja pembatasan untuk berekspresi?
#5. Apakah pria hujan benar-benar ada?
#6. Ujian terhadap keyakinan itu siapa yang buat sih?
#7. Apakah di bulan benar-benar ada kelinci dan Putri Kaguya?
#8. Nawangwulan nyesel ga sih nikah dengan Jaka Tarub?
#8. Why do I write these things? Am I stupido?
#8. Kok nomornya triple ya?
May 07, 2010
Desti Utami - D Articles
read-more-books-than-blogs-analog-soul
by Takodok! at May 07, 2010 04:06 AM
Setuju?
Ya.
May 06, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at May 06, 2010 10:37 AM
In 198x, the world was a different place.
There was no Google yet. Or Yahoo. Or Plurk, for that matter.
In 198x, the year of your birth, the top selling movie was Top Gun. People buying the popcorn in the cinema lobby had glazing eyes when looking at the poster.
Remember, that was before there were DVDs. People were indeed watching movies in the cinema, and not downloading them online. Imagine the packed seats, the laughter, the excitement, the novelty. And mostly all of that without 3D computer effects.
Do you know who won the Oscars that year? The academy award for the best movie went to Platoon. The Oscar for best foreign movie that year went to The Assault. The top actor was Paul Newman for his role as Fast Eddie Felson in The Color of Money. The top actress was Marlee Matlin for her role as Sarah Norman in Children of a Lesser God. The best director? Oliver Stone for Platoon.
In the year 198x, the time when you arrived on this planet, books were still popularly read on paper, not on digital devices. Trees were felled to get the word out. The number one US bestseller of the time was It by Stephen King. Oh, that’s many years ago. Have you read that book? Have you heard of it? Look at the cover!

In 198x… Spain and Portugal enter the European Community, which later becomes the European Union. The Province of Flevoland is established in the Netherlands. The United Kingdom and France announce plans to construct the Channel Tunnel. The first PC virus, Brain, starts to spread. The first federal Martin Luther King, Jr. Day, honoring Martin Luther King, Jr., is observed. The Voyager 2 space probe makes its first encounter with Uranus. The Today national tabloid newspaper is launched in the United Kingdom, pioneering the use of computer photosetting and full-colour offset printing, at a time when British national newspapers still use Linotype machines and letterpress. A treaty ends the Three Hundred and Thirty Five Years’ War between the Netherlands and the Isles of Scilly. American college basketball player Len Bias suffers a fatal cardiac arrhythmia from a cocaine overdose less than 48 hours after being selected 2nd overall by the Boston Celtics in the 198x NBA Draft. Greg LeMond wins the Tour de France. The cargo ship Khian Sea departs from the docks of Philadelphia, Pennsylvania, carrying 14,000 tons of toxic waste. It wanders the seas for the next 16 months trying to find a place to dump its cargo. Average per capita income in Japan exceeds that in the USA. Australian singer John Farnham releases the album Whispering Jack, which becomes the highest selling album in Australia’s history. The video game of the day was Arkanoid.
That was the world you were born into. Since then, you and others have changed it.
The Nobel prize for Literature that year went to Wole Soyinka. The Nobel Peace prize went to Elie Wiesel. The Nobel prize for physics went to Ernst Ruska from West Germany for his fundamental work in electron optics, and for the design of the first electron microscope. The sensation this created was big. But it didn’t stop the planets from spinning, on and on, year by year. Years in which you would grow bigger, older, smarter, and, if you were lucky, sometimes wiser. Years in which you also lost some things. Possessions got misplaced. Memories faded. Friends parted ways. The best friends, you tried to hold on. This is what counts in life, isn’t it?
The 1980s were indeed a special decade. The Soviet-Afghan war goes on. Eastern Europe sees the collapse of communism. Policies like Perestroika and Glasnost in the Soviet Union lead to a wave of reforms. Protests are crushed down on Tiananmen Square in China. Ethiopa witnesses widespread famine. Nicolae Ceausescu is overthrown. The AIDS pandemic begins. The role of women in the workplace increased greatly. MTV is launched in the US. There is opposition against Apartheid in South Africa as well as worldwide. Heavy Metal and Hard Rock bands are extremely popular. The rise of Techno music begins. Originally primarily played on campus radio stations, College Rock enters the scene with bands like the Pixies, REM and Sonic Youth. The Hip Hop scene continues to evolve. Teletext is introduced. Gay rights become more widely accepted in the world. Opposition to nuclear power plants grows. The A-Team and Seinfeld are popular on TV. US basketball player Michael Jordan bursts on the scene. Super Mario Bros, Zelda’s Link, and Pac-Man gain fame in video games. People wear leggings, shoulder pads and Ray-Ban sunglasses.
Do you know what was on the cover of Life that year?

Do you remember the movie that was all the rage when you were 15?Pearl Harbor. Do you still remember the songs playing on the radio when you were 15? Maybe it was Fallin’ by Alicia Keys. Were you in love? Who were you in love with, do you remember?
In 198x, 15 years earlier, a long time ago, the year when you were born, the song Rock Me Amadeus by Falco topped the US charts. Do you know the lyrics? Do you know the tune? Sing along.
Amadeus Amadeus, Amadeus
Amadeus Amadeus, Amadeus
Amadeus Amadeus, oh oh oh Amadeus
Er war Superstar
Er war populär
Er war so exaltiert
Because er hatte Flair
Er war ein Virtuose
War ein Rockidol
Und alles rief:
Come on and rock me Amadeus
…
There’s a kid outside, shouting, playing. It doesn’t care about time. It doesn’t know about time. It shouts and it plays and thinks time is forever. You were once that kid.
When you were 9, the movie The City of Lost Children was playing. When you were 8, there was The Next Karate Kid. When you were 7, there was a Disney movie out called The Lion King. Does this ring a bell?

6, 5, 4, 3, 2, 1… it’s 198x. There’s TV noise coming from the second floor. Someone turned up the volume way too high. The sun is burning from above. These were different times. The show playing on TV isThe Real Ghostbusters. The sun goes down. Someone switches channels. There’s The Hogan Family on now. That’s the world you were born in.
Progress, year after year. Do you wonder where the world is heading towards? The technology available today would have blown your mind in 198x.
No no no, 198x there’s Roos on my feet
I’m riding in the back seat
Staring at the back of my momma’s head
I’m daydreaming my day away
…
That’s from the song 198x by Discover America.
In 198x, a new character entered the world of comic books: The Tick. Bang! Boom! But that’s just fiction, right? In the real world, in 198x, Amanda Bynes was born. And Lindsay Lohan. Charlotte Church, too. And you, of course. Everyone an individual. Everyone special. Everyone taking a different path through life.
It’s 2010.
The world is a different place.
What path have you taken?
April 28, 2010
Desti Utami - D Articles
Meet The Robinsons
by Takodok! at April 28, 2010 04:47 AM
Around here, however, we don’t look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we’re curious…
And curiosity keeps leading us down new paths. (Walt Disney)
Saya suuuka mengutip kalimat-kalimat motivasi meskipun tidak langsung termotivasi karenanya
Saya juga suka menonton film-film, biasanya animasi, yang mengangkat tema “sederhana” dan akrab dengan permasalahan hidup/sehari-hari. Sudah banyak film bagus yang membuat saya berteriak lebay “Ih! Gue benjet!” lalu menangis tersedu-sedu setelahnya. Mau contoh? Ada The Curious Case Of Benjamin Button, The Year My Parents Went On Vacation, Bridge To terabithia, UP, dan Love Phobia.
Lho? Contohnya malah ngaco
Oke. Contoh seriusnya; film animasi keluaran Pixar biasanya mempunyai jalan cerita yang aduhai-jleb-jleb, dikemas secara asik dan menarik. Wall E? Toy Story? A Bug’s Life? Cars? Ratatouille? Dan tentu saja, UP. Tidak semua dimonopoli Pixar. Keluaran Dreamworks juga banyak yang keren. Shrek, Madagascar, Shark Tale, daann.. Bee Movies! Tapi tetap lebih nampol Pixar sih
Nah, kutipan di atas saya ambil dari Meet The Robinsons. Film lama, tetapi baru saya tonton secara penuh setelah membaca everlasting movies-nya mas kuro.
Beberapa potongan adegan, percakapan, dan lagu di film ini membuat saya, dan mungkin semua penonton merasa tersentil. Biasalah. Tema penyesalan, kekhawatiran tentang masa depan, keluarga seperti tiada habisnya. Goob itu saya; dulu dan sekarang. Lewis adalah versi yang kadang saya lakoni di hadapan teman-teman. Clue: mempertanyakan keputusan.
Bagaimanapun,
… Our lives are made in these small hours, these little wonders, these twists & turns of fate. Time falls away, but these small hours, these small hours still remain. All of my regret, will wash away somehow. But i can not forget, the way i feel right now… (Little Wonders-Rob Thomas)
.. penyesalan akan selalu berdampingan dengan kenangan. Dan hidup, mau tak mau, melaju ke depan. Sekali-sekali boleh lah melihat ke belakang dengan alasan evaluasi. Mau mundur juga boleh, toh resiko tanggung sendiri. Tapi saya tetap percaya arus kehidupan akan memaksa siapapun untuk bergerak; ke depan, ke depan serong-serong kanan sedikit, miring-miring ke kiri depan, mundur lalu mental ke depan dengan kecepatan tinggi.
Damn! My last line sounds so cheesy. But who cares? Whether you’re cool, or cheesy, you need to be alive. You have to be alive!
.
.
Aaahhh.. inilah sebabnya saya suka film-film cantik nan memotivasi. Setidaknye si tokoh bahagia di akhir film, atau mendapat akhir yang melegakan. Tapi seperti om Rob bilang, “our lives are made in these small hours, these little wonders, these twists & turns of fate. Time falls away, but these small hours, these small hours still remain.”
Dan tentu saja, all of my regret, will wash away somehow. But i can not forget, the way i feel right now…
Selamat melaju teman-teman! Boleh mundur, tapi sekali-sekali saja. Ingat; tepat waktu, tepat dosis! Ting!
April 12, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at April 12, 2010 02:49 PM
Topik National Geograpic Indonesia bulan ini adalah Air, Dunia Yang Dahaga. Ada artikel tentang bagaimana sungai yang membentang melalui wilayah Yordania-Israel-Palestina bisa membawa sekelumit perdamaian. Ada pula cerita para wanita di Etiopia yang harus menempuh berkilo-kilometer untuk mendapatkan air bersih. Cerita langkanya air bersih juga tidak melulu dimonopoli desa nun jauh di Afrika sana. Penduduk Gunungkidul bagian selatan juga mengalaminya. Tanahnya yang berupa tanah gamping menyerap air di permukaan lalu menyerapnya ke perut bumi. Seberapa banyak curah hujan, air akan tetap kurang.
Data perbandingan penggunaan air antara daerah perkotaan dengan daerah langka air cukup membuat terkesima dan bisa mendorong siapa saja untuk terjebak euforia menyelamatkan bumi. Tapi mari tidak berpanjang-panjang membahas itu. Untuk menghemat sumber daya alam butuh faktor kesadaran yang tidak bisa dipaksakan, betul?
Yang menarik adalah ide penanggulangan kelangkaan air yang nantinya bisa menaikkan taraf hidup masyarakat setempat. Bagaimana? Bila akses ke air bersih lebih lancar tentu waktu yang tadinya digunakan untuk si air bisa dialokasikan ke kegiatan berguna lain; bertani, sekolah. Masyarakat yang lebih maju tentu lebih efisien menanggulangi hal-hal sepele mereka bisa lebih produktif berkarya. Setuju?
Sekarang, definisikan sepele!
.
.
.
.
Baiklah. Saya butuh waktu lama untuk memilah mana yang sepele mana yang penting bagi saya. Penentuan skala prioritas sangat tidak saya sekali .
Ujung-ujungnya malah curcol ya?
Baiklah. Selamat mengerjakan hal-hal sepele secara efisien. Selamat hari Senin (malam)!!
April 10, 2010
Okto Silaban - Labanux
Aplikasi Mobile untuk 21 Cineplex
by Okto Silaban at April 10, 2010 02:53 AM
Sebenarnya kalau di Nokia E series, udah ada aplikasi resmi dari OVI Store untuk melihat jadwal, lokasi dan harga tiket film di jaringan 21 Cineplex. Tapi saya rasa aplikasi itu masih jauh dari nyaman. Kesannya tidak seperti native application. Ya, karena memang beberapa bagian akhirnya memang cuma menjadi shortcut ke web mobilenya. Ujung – ujungnya detail film dan jadwal harus tetap dibuka di browser mobile.
Beruntunglah ada bung Cahyo Wicaksono, yang telah membuatkan aplikasi mobile serupa. Ada dua versi, yang Java version, dan Blackberry. Saya pakai yang Java version. Dan sejauh ini, hasilnya sangat memuaskan. Ini baru native application. Mangstab gan..!
Silahkan download disini aplikasinya, gratis.
April 09, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at April 09, 2010 05:44 AM
Dalam setiap keluarga selalu ada si kambing hitam. Entah dia yang paling bandel, manipulatif, “bodoh”, ataupun pembangkang sekaligus paling disayang. Biasanya yang terakhir hanya terjadi pada kumpulan sifat bandel-pembangkang-manipulatif- tapi sebenarnya baik hati
Mari ambil satu contoh si kambing hitam. Di antara saudara-saudaranya ia tidak terlalu cantik, pendidikan sedang-sedang saja (bila dibandingkan saudara-saudara lain), tidak terlalu pandai mengambil hati orangtua, serba biasa tanpa kelebihan apapun yang bisa dibanggakan dalam pertemuan keluarga besar karena yang lain sudah menancapkan prestasi mereka sedemikian tinggi. Kelebihan saudara kambing hitam ini, bila itu bisa dikatakan kelebihan, adalah rajin, bisa dan mau mengurus pekerjaan rumah tangga, serta masih tinggal bersama orangtua. Yang terakhir entah bisa disebut kelebihan atau tidak karena;
- a) ia belum bersuami, jadi wajar tinggal serumah dengan orangtuanya,
- b) ia belum juga bersuami, padahal usianya sudah sangat cukup untuk membina rumahtangga-begitulah pandangan orang-orang di lingkungannya, jadi wajar masih tinggal bersama orangtua,
- c) ia tidak punya pekerjaan apapun padahal pendidikannya sudah cukup untuk mencari karir sendiri di luar rumah, tapi kenyataannya ia masih tinggal bersama oranguta, di rumah keluarga, karena saudara-saudara lain toh sudah punya kehidupan dan keluarga yang mesti diurusi sedang ia tidak, eh belum punya keluarga (baca: suami-anak) untuk diurusi,
- d) sudahlah. Bayangkan saja varian dari alasan-alasan di atas.
Tapi mari sebagai manusia bermartabat dan berpikiran bersih (percayalah saya selalu memutar bola mata setiap selesai menuliskan poin-poin di atas. Kita ini manusia berpikiran maju dan tidak picik, ya kan? Ya kan?
), anggap saja kenyataan si saudara kambing hitam masih tinggal serumah dengan orangtua di usia sekian-sekian dan bla bla bla sebagai kelebihan. Ia mau mengurusi orangtuanya, entah karena keterpaksaan atau alasan lain, adalah kelebihan. Titik.
Nah, masalahnya kelebihan-kelebihan si saudara kambing hitam di atas, terutama yang terakhir, tidaklah dipandang kelebihan oleh Ibu suri. Mungkin karena sudah terlalu lama hidup bersama, yang terjadi hampir setiap hari adalah keributan kecil sampai besar yang diakhiri dengan hujan airmata, lebih sering di pihak si saudara kambing hitam. Terhadap saudara-saudara lain sikap sang Ibu suri jauh lebih manis. Mungkin karena mereka lebih jarang bersama. Mungkin lho ya.
.
.
Sekarang mari modifikasi cerita. Saudara kambing hitam di keluarga lain sudah punya kehidupan sendiri, entah sudah menikah atau belum. Kambing hitam yang ini pembangkang, manipulatif, licik, tapi anak kesayangan. Ia hanya punya satu saudara. Si anak baik, tapi bukan kesayangan. Meski selalu dipuji di depan keluarga besar, pusat perhatian tetaplah kambing hitam si pembuat onar. Menyebalkan ya? Entah. Kan saya yang tanya.
.
.
Modifikasi lain. Keluarga dengan segambreng anak. Entah yang mana yang kambing hitam karena sepertinya semuanya sama-sama bermasalah. Tapi di antara mereka, ada dua yang paling sering membuat orangtuanya mengurut dada. Yang satu tangannya panjang sedang yang satu tidak bisa mengurus diri sendiri. Kedua kambing hitam ini tentu menguras perhatian orangtua mereka karena masalah yang mereka timbulkan kadang sampai batas tidak main-main bahayanya. Segambreng saudara lain berusaha mengatasi masalah mereka sembari sedikit kecewa karena perasaan tidak diperlakukan adil sejak kecil. Tentu saja, ada satu-dua yang tersilap dan melontarkan kemarahan karena kecewa mereka kepada orangtua yang sudah sepuh. Hebatnya, salah satu kambing hitam tampil sebagai “pahlawan”. Lucu? Entah. Kan saya masih dalam rangka bertanya.
.
.
Perlu modifikasi lain? Eum.. lihat sekeliling saja lah. Mungkin anda sendiri kambing hitam. Mungkin anda adalah tokoh saudara yang tidak diperlakukan adil oleh orangtua yang pilih kasih. Mungkin anda sendiri orangtua pilih kasih yang mengelak dan berkata, “Oh tidak. Aku sayang semua anakku. Hanya saja, beberapa dari mereka ku kasihi dengan cara keras.” Mungkin salah satu tokoh dalam contoh-contoh di atas adalah anda. Curiga saya menggosipkan anda? Hehehe, mungkin ya. Yang jelas cerita-cerita di atas memang beberapa pernah terlihat oleh saya dan diceritakan kembali dengan penambahan bumbu disana-sini. But don’t take it personally, kesemuanya cerita generik. Sering terjadi pada siapa saja kok.
Jadi?
Jadi saya hanya menceritakan ulang beberapa kisah kehidupan anak manusia. Tsaaahhh. Memang tidak enak diperlakukan tidak adil. Tapi, siapa sih yang bisa benar-benar adil? Dan, bagaimanapun darah lebih kental daripada air. Seberapa benci dan sakitnya benturan dengan keluarga, toh si orang akan tetap kembali pada akhirnya. Lagipula setahun sekali kan sudah lebaranan *eh*
Tidak, tidak. Saya tidak bisa menarikkan kesimpulan apalagi mengambilkan hikmah. Anggap saja saya mendongengi anda dengan dongeng buruk dan berpotensi membawa mimpi buruk. Gpp lah malam ini mimpi buruk, toh besok libur kan ya? Selamat akhir minggu!
April 05, 2010
Okto Silaban - Labanux
Ide : HargaHarga.com ?
by Okto Silaban at April 05, 2010 07:05 AM
Setelah membaca tulisan Rama yang menyinggung Blippy.com saya jadi teringat tulisan saya beberapa waktu lalu tentang ide – ide website yang mau saya tulis disini. Karena toh saya tidak mewujudkannya, dan pasti ada juga yang kepikiran dengan hal yang sama, jadi di share disini mungkin bisa membantu mereka yang sedang mewujudkannya.
Dari tulisan Rama tentang Blippy.com tadi, konsepnya kurang lebih kaya Twitter. Kalau Twitter bertanya : “What are you doing?”, Blippy menanyakan : “What are you buying”. Jadi nanti di situs ini kita bisa dapat informasi tentang barang – barang yang sedang laris dibeli, harganya, dimana membelinya. Rama sendiri dulu pernah ikut membangun situs yang punya ide dasar sama, walaupun tidak jadi diteruskan.
Saya pun dulu punya ide yang agak – agak mirip. Sekitar dua tahun lalu. Konsep saya dari dulu selalu sama untuk membuat website : Buatlah sebuah website yang membantu orang menyelesaikan masalah mereka, seperti saran dari errr… kalo gak salah Paul Graham dari Y Combinator. Nah waktu itu masalah yang paling kerasa buat saya : sulitnya menemukan informasi harga barang yang cukup akurat, untuk lokasi tertentu.
Terbersitlah ide untuk membuat sebuah website yang bisa mengakomodir hal itu. Kebetulan waktu itu saya baru ngulik CakePHP. Jadilah dibentuk dummy webnya dengan desain copy-paste plek.. dari delicious.com.
(cuma di localhost kok).Waktu itu sempat terpikir akan dinamai HargaHarga.com *he..
Cara Kerja
Konsep webnya : Setiap orang yang sudah register, bisa memasukkan informasi sebuah produk (barang/jasa), lengkap dengan harganya (wajib) dan lokasinya (baik online ataupun offline). Dengan begitu ketika ketika mencari informasi harga sebuah produk di sebuah daerah, kita bisa mendapatkan kisaran harganya.
Tidak semua input user langsung publish, tapi dimoderasi. Awalnya tim dari web ini sendiri. Belakangan dengan mengangkat user yang aktif untuk menjadi moderator. Mungkin kaya Digg atau Kaskus kali ya?
Masalah
Masalah paling besar tentu saja SPAM. Website dengan user generated content itu adalah gula yang tertumpah dilantai dan siap diserang semut – semut SPAM. Terutama Human-SPAM. Selain itu masih disulitkan dengan akurasi. Bisa jadi kebanyakan user cuma akan memasukkan informasi produk, tidak dengan detail harga. Semata – mata untuk promosi dan berbagai alasan lainnya. Ya, lebih ke masalah teknis sih (walaupun sebetulnya masih bisa diatasi dengan upaya yang tidak super sulit).
Model bisnis
Tentu saja.., jawaban paling mudah dan paling gampang ditebak : Iklan. Selain itu kerjasama untuk penyediaan data, entah lewat API atau apapun. Masih banyak beberapa model lagi. Tapi yang paling masuk akal dan paling cepat direalisasikan, tetep : iklan..
Konsep
Intinya, kalau orang – orang ingin nyari informasi harga sebuah produk (barang / jasa), datanglah ke web ini. Ah iya, situs ini ditujukan buat lokal Indonesia.
Lalu kenapa saya tidak jadi meneruskannya? Entahlah
Ada yang mau merealisasikannya? Atau justru ada yang sudah mulai? Kalau iya tinggalin komentar di bawah yah..
[Update]
Dari info bung Benny Chandra, ternyata memang udah pernah ada situs sejenis, dan domainnya? HargaHarga.com ! Ha..ha.. Ini halaman webnya yang sempat terekam : http://web.archive.org/web/20030210191706/http://hargaharga.com/
Tapi sepertinya masih belum user generated content. Dan entah mengapa sekarang situs itu udah mati. (yang ada sekarang, domain parking)
R. Ferdy Ferdian
stairs
by Ferdy F. Rahman at April 05, 2010 05:01 AM
Seorang Ferdy F. Rahman akhirnya memutuskan untuk terjun bebas ke titik zenith dan terbang kembali naik ke titik nadir. Azimuth diantara keduanya tidak begitu jelas, terlihat samar karena selisih paralaks. Kesombongan dalam keramah-tamahan yang remeh. Inilah cerita yang mutlak terlihat determinatif, pemaksaan terhadap suatu kekuatan yang maha. Marilah kita lihat dari retina mata seorang yang […]
April 02, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at April 02, 2010 01:16 PM
Percakapan via sms antar anak-orangtua di suatu sore *halah*;
Anak : Ayah, ATM-ku hilang. Kirimin no.rekeningku dong. Lupa.
Ayah: Kenapa hilang?
Anak : bla bla bla lalalalaalala.. dst..
…
.
.
_______________________________________________________
Beberapa menit kemudian;
Anak : Ayah, udah keblokir kartuku.
Ayah : Oke. Hati-hati ya. Sekarang banyak orang pandai.
Anak : Yoi. Aku juga gak kalah pandai kok, yah hehe
Ayah : Ya dong. Anak ayaaaahhh!
Anak : …
______________________________________________________
.
.
Ga jadi sedih deeehh. Jadinya update blog deeehhh. Hehehehe.. *meringis sambil harap-harap cemas*
March 28, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at March 28, 2010 05:20 AM
All the single ladies, All the single ladies
All the single ladies, All the single ladies
All the single ladies, All the single ladies
All the single ladies
.
Now put your hands up,
Up in the club, we just broke up
I’m doing my own little thing
Acting up, drink in my cup
I can care less what you think
.
I need no permision, did I mention
Don’t pay him any attention
Cause you had your turn and now you gonna learn
What it really feels like to miss me
.
Cause if you liked it then you should have put ring on it
if you liked it then you shoulda put ring on it
Don’t be mad once you see that he want it
if you liked it then you shoulda put ring on it
Oh, oh, oh
.
.
Pasti tau cuplikan lirik di atas ya? Nah, hari Minggu saya iseng memburu beberapa klip Single Ladies. Penampilan langsungnya, awesome! Parodinya.. iyuuuwwww! Lalu tersasar ke teaser serial ini;
Yah, saya tidak mengikuti Glee, tapi.. O-EM-JI I LOVE KURT!! Kyaaaaa!
March 26, 2010
Desti Utami - D Articles
Takodok!
by Takodok! at March 26, 2010 04:35 PM
There’s diamond growing in the mountain beneath the pressure of all time. They grow in hope and expectation, waiting for your hands to find. Cause only you could reach inside me and figure out the worth, of a life I lived providing, what it was you needed the most.
And if everything is measured by the hole it leaves behind. Then this mountain has been leveled and there’s no more diamonds in the mine. Go on now just leave it. The timing wasn’t right. And the force that swept us both away was too strong for us to fight.
Fantasy man you are always one step ahead of me. Well I never heard the warning. I haven’t got things right. Yet the sun came out this morning and filled my room with light.
So go on now you are forgiven. Let’s put it down to life. The story of two lovers who danced both edges of the knife.
In the station you’re standing not knowing what you want. And the secrets we’re defending have become only our bond.
Just be patient while I wait here. Our journey is out of sync. While you’re out there running in the chaos, I need some time to think.
Fantasy Man you are always one step ahead of me. Well I never heard the warning. I haven’t got things right. Yet the sun came out this morning and filled my room with light.
So go on now you are forgiven. Let’s put it down to life. The story of two lovers who danced both edges of the knife.
Fantasy Man – The Swell Season
March 22, 2010
Suryati Rey - irey's Site
wonderfullife
March 22, 2010 12:26 AMmy
March 17, 2010
Desti Utami - D Articles
Cake
by Takodok! at March 17, 2010 06:07 AM
Kau punya sepotong kue. Ukurannya cukup besar sehingga perutmu tidak mampu menampungnya. Tapi kue tsb harus segera dihabiskan agar tidak basi. Maka kau ingin membaginya dengan seseorang, atau beberapa orang.
![]()
Kau lihat sekeliling, tidak ada siapapun. Kau berjalan beberapa langkah, tak ada orang. Beberapa langkah lebih jauh, masih tak ada orang. Lebih jauh lagi, tetap tak ada orang.
Kau hanya bisa menatap sekeliling, dengan tatapan nanar, sembari memegang paruhan kue yang ingin kau bagi. Berkali-kali kau kerjapkan mata untuk meyakinkan diri bahwa memang tidak ada siapa pun di sekitarmu. Memang tak ada.
Sedih ya?
Tidak? Baguslah kalau kau rasa begitu.
Ya?
Sekarang ganti kue dengan pemandangan indah, kesuksesan, prestasi, pekerjaan baru, kelulusan, apa saja yang membuatmu senang. Sedih?
Tidak juga?
Baiklah. Tapi ada beberapa orang yang menganggap hal di atas cukup mengganggu;
“… Wish I had someone right here to share it with.” - Christin
.. Harry, yang belum pernah memiliki sesuatu untuk dibagikan atau, malahan, orang lain yang bisa diajak berbagi. Senang rasanya, duduk bersama Ron, makan pastel dan bolu sepanjang jalan… – Harry Potter dan Batu Bertuah.
.
.
Nah, sekarang mari berganti posisi. Pernah ditawari kue? Bila kau terima mungkin kalian bisa senang makan bersama dengan riang. Selamat. Tapi bila kau tolak, apa alasanmu? Sudah kenyang? Curiga kue tsb beracun? Atau cuma segan, malu tapi mau? Gengsi?
Apapun alasanmu, kau tak dapat kue. Mungkin kau menyakiti sang pemberi kue. Mungkin tidak, karena kue hanyalah kue, atau ia memang cuma berbasa-basi. Mungkin kau menyesal karena sudah menolak kue. Mungkin juga tidak. Yah, itulah hidup. Kue-kue datang dan pergi. Dan setidaknya bersyukurlah ada yang pernah menawarimu kue, ada yang mau berbagi denganmu. Dan itu akan terasa menyenangkan karena kau tau ada yang tau kau ada, walau mungkin nantinya dilupakan.
.
.
.
*) draft berbulan lalu yang akhirnya terselesaikan dengan perubahan sana-sini. Thanks to tretnya mbak memeth di plurk, dan kriyis. A ‘lil bit sad, karena tulisan setelah sekian lama cukup sesuai dengan beberapa keadaan masa kini. Tidak beranjak dong berarti ..
Gambar dari sini.
March 08, 2010
Yows, The Legendary of...
dia, engkau, aku
by Yows (noreply@blogger.com) at March 08, 2010 03:55 PM
Berjalan melintasi peradaban, sesekali mengomentari, sesekali melibatkan diri. Tiada yang lebih dia dan aku nikmati, selain bisa berjalan berdampingan. Senyumnya tertebar dalam arah pandang, akulah yang mendapat kehormatan untuk selalu merasakan indahnya, karena berada di sampingnya. Air matanya pernah menetes, akulah yang mendapat kehormatan untuk berusaha menghapusnya, karena berada di sampingnya.
Sedang berjalan setelah sekian bilangan waktu, dia sempat ingin berhenti, aku menyanggupi, kekhawatiran akan arah tujuan yang berbeda menimbulkan sebentuk perasaan yang menyebabkan keinginan itu. Kami istirahat sebentar, berusaha mencermati pemandangan di dalam diri sembari melihat jejak-jejak yang telah ada di belakang, pada warna-warninya. Di dalam diriku hanya ada dia, di dalam dirinya masih ada aku. Jejak-jejak yang manis di belakang itu, ada saat kami berdua. Aku tertawa mendalam melihat itu, dia tersenyum menyadarinya. Kami lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, masih berdua, dengan langkah-langkah kecil yang menurutku tak akan membuat tergelincir.
Sedikit-demi sedikit kekhawatiran yang tadinya ada padanya, perlahan-lahan mereda. Kekhawatiranku juga segera berlalu. Kami terus berjalan, sembari mempersiapkan diri untuk apa yang akan ada di depan, terus berjalan bersama. Kami akan segera menemukan tempat tujuan kami, di dalam pelukan takdir.
Hingga suatu saat, pada waktu aku semakin ingin lebih dekat dengannya dan hari-hari hanya seperti biasa saja, aku salah melangkah. Persimpangan kecil, yang karena berhubungan dengan arah, semakin lama semakin membuatku terpisah dengannya. Aku melihat ke belakang, mencari pada titik mana langkahku menjadi salah. Aku melihat ke belakang, berharap bisa berjalan mundur melawan waktu. Tapi tak ada yang pernah bisa melakukan itu. Aku melihat ke samping, dia telah semakin jauh. Aku melihat ke depan, tak ada apa-apa. Aku tak tau harus melangkah kemana, karena terlanjur kutitipkan kompasku padanya.
Aku mulai memikirkan tentang engkau, dirimu. Mungkin dia melihatmu, sehingga tak sempat memanggilku ketika aku salah jalan. Dia segera bertemu denganmu, dan engkaulah yang akan menemaninya melanjutkan perjalanan. Mungkin, engkau bisa membahagiakannya. Aku harap dia lebih bahagia denganmu.
Aku mulai memikirkan tentang engkau, dirimu. Mungkin aku akan menemukanmu, sehingga bisa melupakan dia. Dan engkaulah yang akan melanjutkan perjalanan bersamaku. Aku harap bisa membahagiakanmu. Mungkin aku lebih bahagia denganmu. Tapi maafkan aku jika aku tak bisa, maafkan aku jika aku akan mencari dirinya dalam dirimu, maafkan aku jika aku akan melihatnya ketika melihatmu, maafkan aku jika aku akan mendengar dia saat engkau berbicara, maafkan aku, maafkan aku sebelum melakukannya.
Aku berhenti, mematung, merenung, menyesali. Dia, engkau, dan aku, semua hanya diri sendiri. Aku tak bisa melihat engkau sebagai dirimu, aku tak sepenuhnya bisa melihat dia sebagai dirinya, tentu saja engkau dan dia tak juga melihat aku sebagai diriku. Dunia tetap akan berada dalam ironi karena manusia tak bisa saling memahami. Aku berhenti, mematung, merenung, menyesali.























