May 19, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at May 19, 2012 05:07 PM
I am so busy lately that i couldn't write anything to achieve weekly post target for this blog. Let me just post the image on my desktop wallpaper, the only 12 half writing rules you'll ever need. (source unknown, will be updated if i find the original source)
May 15, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at May 15, 2012 05:42 PM
Akhirnya aku pamit ke ibu untuk pergi ke Jogja, Jogja adalah kota terdekat kampung ayah yang bisa ditempuh dengan dua jam perjalanan, ibu merestui dan selalu mendoakan. Aku berangkat karena ingin merangkai harapan baru, mencari kehidupan baru, entah itu mencari pekerjaan, atau mendaftar kuliah S2, aku tak tau apa pastinya. Yang jelas, tujuan utamanya adalah agar aku bisa dekat dengan alm ayah, bisa sering berziarah dan bersilaturahmi dengan keluarganya.
Sambil melamar beberapa pekerjaan di Jogja akhirnya aku berangkat ke kampus UGM dan mencari informasi program master. Beberapa yang menarik minatku adalah arsitek dan transportasi, karena program di arsitek sudah lewat batas waktu maka kuputuskan untuk mendaftar transportasi saja.
Saat mendaftar, persyaratan yang diminta adalah membawa nilai Toefl dan TPA. Maka kuikuti test toefl dari lembaga bahasa dan test TPA dari Otto bappenas, Alhamdulillah keduanya memenuhi syarat. Saat membawa nilai tersebut ke Jurusan untuk mendaftar, petugas administrasi kelihatan terkesan dengan nilaiku, terutama dengan nilai TPA yang 660an dibanding persyaratan minimalnya 450. Lalu dia menghadap ketua jurusan, oleh ketua jurusan aku ditawarkan beasiswa unggulan dari Diknas dengan syarat lulus test psikotes, test akademis dan wawancara yang akan diadakan.
Saat wawancara, pengelola menanyakan motivasiku memilih kuliah di UGM, aku mengatakan dengan jujur bahwa aku memilih UGM karena lokasinya di Jogja yang dekat dengan kampung ayah. Beliau kelihatan bingung dengan jawabanku, namun apa daya.
Selang beberapa lama kemudian, saat sedang beribadah puasa mejelang lebaran, datang pengumuman bahwa ternyata aku diterima dengan mendapat Beasiswa Unggulan dari Kementrian Diknas. Padahal tadinya aku ingin membiayai kuliah sendiri dengan sisa tabungan selama bekerja, yang sebenarnya cukup diragukan akan bisa mencukupi keseluruhan biaya kuliah yang 38 juta ditambah biaya hidupnya untuk dua tahun. Nikmat Tuhan yang manalagi yang aku dustakan.
Saat mengikuti kuliah, ada pengumuman bahwa beberapa mahasiswa akan dipilih untuk mengikuti double degree ke luar negeri, pilihannya negaranya adalah Inggris, Swedia dan Australia. Hal ini menambah motivasi belajarku sehingga bisa mendapat IPK 4 selama dua semester. Pada waktu inilah, kunci lemari dari mimpi-mimpi tak terealisasi dari masa kecilku itu tiba-tiba muncul begitu saja, sehingga kubuka lagi lemari itu, kubuka lagi harapan untuk melanjutkan kuliah ke Inggris Raya.
Setahun setelah itu, akhirnya aku terpilih menjadi salah satu dari empat orang yang berangkat untuk kuliah di Univesity of Leeds, United Kingdom, untuk mendalami bidang studi transportasi. Jurusan Transportasi di universitas ini adalah salah satu terbaik yang reputasinya mendunia sehingga pelajar dari berbagai Negara di seluruh belahan dunia berkumpul di sini untuk mendalami materi atau melakukan riset.
Aku tak perlu bersusah-susah berkomunikasi dan melamar ke universitas karena sudah diatur oleh system yang baik di MSTT UGM, tak perlu bersusah mencari sponsor karena sudah ada yang menjamin biaya, tak perlu menunggu lama untuk pencairan uang beasiswa, semua mengalir dengan kelancaran nyaris sempurna. Maka nikmat Tuhan yang manalagi yang aku dustakan.
Aku tak terlalu pintar, motivasiku untuk keluar negeri tak terlalu besar. Saat ku evaluasi lagi kisahku, bertanya apa yang membuatku bisa sampai di sini, ku pandangi beberapa milestone yang telah kulalui. Jika aku tak putus dengan pacar waktu itu maka aku tak akan berhenti bekerja dan keluar dari zona nyaman. Jika ayah tidak berpulang dan dimakamkan di Wonogiri, maka aku tak akan pergi ke Jogja untuk mendaftar kuliah lagi. Jika aku tak mendaftar maka aku tak akan tau ada beasiswa dan tentunya tak akan mendapat beasiswa.
Sejak ayah tiada, aku menjalin silaturahmi yang baik dengan keluarganya, selalu memanjatkan doa untuk kebaikannya, sering berkunjung berziarah, membaca Quran dan tahlil untuk dipersembahkan kepadanya. Sepertinya Allah SWT menjawab doa itu dengan mengabulkan doaku yang lainnya.
Saat kujejakkan kaki di Inggris, saat kulangkahkan kaki berkeliling di Oxford Unviersity, terbayang lagi masa kecil, terbayang koper berisi paket pelajaran bahasa Inggris dari Oxford, terbayang ayah yang membelikannya, terbayang ekspresinya saat mengambil rapor juara umum di SMP, terbayang kesedihannya saat nilai-nilaiku turun, terbayang betapa senangnya dia saat aku masuk SMU Titian Teras, terbayang kebahagiaannya saat aku diwisuda di Sabuga ITB. Tak terbayangkan bagaimana perasaannya jika nanti (InsyaALlah) aku diwisuda dari University of Leeds, entah bagaimana perasaannya.
 |
| Oxford University |
Ada sebuah kutipan dari Andrea Hirata yang mengatakan bahwa “Ironi bukanlah persoalan substansi, ia tak lain hanyalah soal kompensasi. Itulah definisi ironi, tak kurang tak lebih.” Adalah ironi bahwa pada akhirnya aku berangkat menempuh studi di Inggris sebagai sebuah kompensasi atas kesedihan-kesedihanku karena kehilangan dua cinta yang porsinya besar dalam hidupku.
Dengan sekian banyak pengalaman beasiswa, terkadang aku berpikir, akan seberapa jauh kontribusiku bagi masyarakat sekitar atau Negara Indonesia nantinya. Sehingga dalam hati aku berjanji akan menjalankan amanah ini dengan sebaiknya dan kelak akan ikut berpartisipasi membangun masa depan yang baik bagi Indonesia dan orang-orang disekitarku. Dalam hal ini setidaknya ada sebuah prinsip yang kujadikan sandaran, jika tidak bisa membantu memperbaiki kehidupan bangsa, setidaknya aku tidak jadi bagian yang merusaknya.
Sekedar menutup dengan kesimpulan dan saran dari cerita yang panjang ini. Menurutku, intinya adalah berbakti kepada orang tua dengan selalu mendoakannya dan meohon doa restunya akan selalu menjadi salah satu penentu kesuksesan disamping segala daya upaya dan usaha. Juga untuk jangan pernah berputus asa dan larut dalam kesedihan jika mendapat musibah, selalu ada jalan keluar dari setiap masalah. Tentunya ditambah dengan jangan pula bersikap sombong saat mendapat anugrah. Penting untuk menjaga hati tetap membumi saat cita-cita melangit.
Ucapan terimakasih:
- Terimakasih kepada Biro SDM Departemen Perhubungan RI, atas beasiswa double degree di Unversity of Leeds, United Kingdom.
- Terimakasih kepada Kementerian Pendidikan Nasional, Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri atas program Beasiswa Unggulan untuk pendidikan di Magister Sistem dan Teknik Transportasi (MSTT) Program Pascasarjana Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.
- Terimakasih kepada Yayasan Damandiri atas BMU-UMPTN 2001 yang telah memberikan beasiswa penuh dan uang saku untuk pendidikan di program studi Teknik Sipil ITB periode 2001-2006.
- Terimakasih kepada Yayasan Pendidikan Jambi atas pendidikan dan latihan disiplin gratis di SMU Titian Teras Jambi periode 1998 - 2001.
- Terimakasih kepada SMPN 16 Jambi atas kesempatan mendapat pendidikan.
- Terimakasih kepada SDN 150/IV Jambi atas kesempatan mendapat pendidikan.
May 13, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at May 13, 2012 07:07 AM
Dunia semakin mencurigakan.
Selalu saja ada hiruk pikuk, perdebatan, pertentangan, peperangan. Bagaimana tidak bisa dicurigai dunia yang seperti itu. Orang-orang berjuang untuk sesuatu yang sama sekali tidak diketahuinya, tak diketahui ujungnya, tak diketahui awalnya, tak diketahui benar salahnya, dalam ketidaktahuannya masih saja orang berani berjuang ke medan perang.
Seorang ilmuan bisa mengeluarkan suatu teori, menurunkan rumus, membuat berbagai pemodelan, tapi sejauh mana bisa mengatakan bahwa hasilnya akan benar. Hasilnya selalu mengandung bias, selalu hanya menghasilkan sanggahan dengan berbagai pendekatan dan pembuktian lainnya.
Pertarungan thesis dan antithesis tak akan pernah berhenti dan setiap pelakunya akan selalu merasa paling benar. Dalam keadaan seperti ini tidakkah orang menaruh curiga pada penglihatan, pendengaran, perabaan, pada persepsi dirinya atas sesuatu. Apa sebenarnya yang bisa dijadikan pegangan dalam dunia ini, disaat semua segala sesuatu saling simpang siur bertebaran dan bebenturan.
Tentunya hanya kitab kebenaran itu yang bisa dijadikan pegangan, yang mutlak diantara yang relatif. Telah ada garis besar petunjuk hidup dan arah pada kitab itu, namun selalu saja ada yang menentang dengan berbagai pembenaran untuk memuaskan keinginan-keinginan dan nafsunya. Ada yang menjadi lesbian, lalu mengklaim bahwa agama yang harus disesuaikan terhadap perkembangan kegilaannya. Lalu dimana lagi kebenaran dan kurang mencurigakan apalagi dunia ini?
Dalam pencarian kebenaran, pencarian makna hidup, pencarian esensi, kenapa harus ada manusia di bumi, terkadang diri merasa kecil, hampa, tak berharga dan fana. Diri bisa hilang dalam hitungan detik, bisa musnah bahkan sebelum memberi arti, mengisi kekosongan atau meremajakan kehidupan.
Tidakkah dunia semakin mencurigakan dan terkadang mengerikan?
May 12, 2012
by Takodok! at May 12, 2012 08:51 AM
“Siapa bilang penonton Indonesia tidak inginkan film Indonesia yang bermutu? Mereka teriak-teriak minta film bagus, film bermutu!”
“You maksud tentunya penonton golongan intelek. I agree! Tapi golongn ini, young man, cuma sepuluh persen daripada golongan publik film kita. Mereka yang paling cerewet, tetapi juga paling kurang nonton film indonesia. Apa you kira saya bijaksana kalau mau mengikuti golongan itu punya tereakan?”
*

*) Buku ini ditulis pada akhir 1950-an, diterbitkan tahun 2008, dan sampai ke tangan saya pada Mei 2012. Lucu sekali bahwa situasi 60 tahun lalu masih sangat sinkron dengan kondisi saat ini.
May 11, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at May 11, 2012 03:29 PM
Ada banyak orang yang bangun dari tidur dan mulai membangun mimpi-mimpinya setiap hari, mimpi menjadi orang besar, menjadi orang terkenal, menjadi ilmuwan, dsb seperti juga mimpi untuk sekolah di luar negri.
Untukku, yang dari keluarga sederhana di kota kecil Jambi ini, sekolah keluar negeri bukanlah salah satu dari mimpi yang kubangun, meskipun pernah sesekali mengkhayalkannya namun pada akhirnya kutepis lagi. Kutaruh di salah satu pojok bagian paling gelap di sebuah lemari di dalam gudang mimpi tak terealisasi dari masa kecil, gudang itu dikunci, kuncinya tak pernah kulihat lagi.
Kenapa aku bisa menjadi seperti orang yang pesimis begitu? Waktu itu kupikir itu bukan pesimis, itu hanya realistis, karena untuk sekolah ke luar negeri dengan biaya sendiri, aku tak mampu, sedangkan untuk sekolah dengan mendapatkan beasiswa pemerintah, aku bukan guru. Namun entah bagaimana, pada akhirnya setelah bagian-bagian tidak menyenangkan dari hidup, akhirnya aku justru sedang menikmati fasilitas menimba ilmu pengetahuan di luar negeri dengan beasiswa, seperti yang akan kuceritakan berikut ini.
Apabila belajar ke luar negeri, satu-satunya negeri yang ingin kudatangi adalah Inggris, United Kingdom. Karena universitasnya yang telah sejak lama menjadi barometer ilmu pengetahuan, karena kekayaan peradabannya, budaya, seni, sastra, sepakbola dsb. Terlebih karena ini merupakan khayalan semasa kecil.
Sewaktu masih SMP, ada seorang lelaki muda salesman yang kebetulan lewat jalan depan rumah dan mengetok pintu rumah kami, dia menawarkan dengan berbusa-busa paket pelajaran bahasa inggris dalam sebuah koper hitam besar. Ayah mendengarkannya dengan ketertarikan sewajarnya, lalu memanggilku, menanyakan ketertarikanku. Aku yang tak tau apa-apa hanya mengiyakan. Mungkin lebih karena kasihan kepada salesmannya daripada karena manfaat paket tersebut, akhirnya resmilah koper tersebut berada di rumah kami.
Paket pelajaran itu terdiri dari selusin kaset, beberapa buku dan satu kamus Oxford Dictionary. Di banyak tempat tertera tulisan dan logo Oxford University Press. Disitulah pertama kali aku mengetahui perihal Universitas Oxford. Di salah satu bagian awal listening section, ada percakapan antara turis dan guide yang menceritakan tentang London, Westminter Abbey dan Big Ben, disitulah aku menjadi semakin tertarik dan termotivasi untuk ke Inggris.
Karena Oxford adalah satu-satunya universitas yang kuketahui, akhirnya di buku cerita yang aku dan teman-teman tulis dan edarkan untuk jadi hiburan di kelas saat kelas dua SMP, aku menulis biodata sebagai berikut:
Penulis: Wahyu
Ciri: gagah, caem, mirip ngandi low dan ngaron kwok, agak sedikit pendek dibanding teman-temannya.
Profesi: Ilmuan terkenal dari SD 150, kemudian masuk SMP 16, kemudian ke Titian Teras (TT) dan akhirnya lulus dengan nilai terbaik di Oxford University. Saat ini menjadi guru besar perguruan kungfu.
 |
| Buku karya anak SMP 16 |
Tentulah tulisan itu hanya berupa sebuah komedi seorang anak SMP yang tak tau apa-apa, yang sedang keranjingan film kungfu cina, namun ternyata dua tahun kemudian aku diterima melanjutkan sekolah di SMA Titian Teras, SMU terbaik se provinsi jambi yang hanya menerima 60 orang dari sekitar seribu limaratus orang peminat dari seluruh Provinsi. Saat itu, biaya pendidikan sepenuhnya gratis, karena ditanggung oleh Yayasan Pendidikan Jambi. Orangtua merasa senang karena beban pendidikan untuk empat orang anak bisa berkurang, aku pun merasa gembira dan penuh kebanggaan.
Namun, jika pada mulanya aku percaya akan kemampuan dan kecerdasan karena sering mendapat juara umum selama di SMP, maka di SMA itulah kepercayaan diriku luntur, karena berbenturan dengan kenyataan bahwa aku tak sepintar teman-teman. Ada orang yang keliatannya tak pernah belajar, namun langganan peringkat sepuluh besar. Ada orang yang kemampuan menghapalnya setingkat tape recorder, sekali saja membaca, maka sampai ujian tak akan lupa, sangat jauh dibanding kemampuan menghapalku yang setingkat amuba. Jangankan menghapal, membaca saja aku suliit, seringnya setiap membaca buku pelajaran IPS akan jatuh ketiduran.
 |
| Angkatan 5 SMU Titian Teras |
Saat itulah, seiring berjalannya waktu, aku tau bahwa kuliah di Oxford University merupakan sebuah kemustahilan. Saat itu di SMA, yang menjadi trend dan puncak pencapaian prestasi adalah apabila diterima di ITB atau sekolah kedinasan seperti Akabri, Akpol, STPDN dan STAN. Akhirnya pada tahun ketiga di SMA, kutetapkan target untuk melanjutkan kuliah di ITB, meskipun sebenarnya orang tua belum tentu sanggup membiayai.
bersambung..
by Tama (noreply@blogger.com) at May 11, 2012 03:05 PM
Saat itu, seorang kakak perempuan dua tahun di atasku dan kakak laki-laki empat tahun di atas juga sedang masa-masa mengenyam pendidikan tinggi, sehingga aku harus sadar bahwa akan ada kesulitan besar untuk membiayai kuliahku. Hal ini ditambah dengan kenyataan bahwa orang tua sedang kesulitan finansial disebabkan oleh adanya hutang yang harus di cicil dari Bank.
Alkisah, ada seorang teman ayah yang meminjam uang dari Bank untuk usaha percetakan, untuk meluluskan pinjaman tersebut dia meminjam sertifikat tanah rumah kami. Meskipun ibu menolak, ayah dengan kebaikan hati dan rasa percayanya mengiyakan untuk meminjamkan. Selang setahun, saat bisnis orang itu gagal, propertinya di akuisisi, dia mendadak kabur entah kemana, sehingga mau tak mau sisa hutangnya itu yang jumlahnya sangat besar harus kami bayar.
Demikian ibu bercerita, kisah yang waktu itu terlarang untuk aku dengar karena mereka khawatir akan mengganggu konsentrasi ujian nasional. Demikian, sehingga ayah memintaku untuk melanjutkan studi di STPDN saja, sekolah kedinasan yang menanggung semua biaya pendidikan. Setelah tiga tahun menjalani masa pendidikan disiplin semi militer di SMA, maka memasuki disiplin semi militer berikutnya bukanlah opsi yang menyenangkan bagiku. Namun, jika itu permintaan orantua, tentu seorang anak harus mematuhi.
Akhirnya aku mencari informasi pendaftaran dan untungnya (atau sialnya) usiaku terlambat dua bulan. Usia pendaftar minimal 18 Tahun per agustus 2001, sementara aku baru akan berusia 18 di bulan oktober. Akhirnya satu-satunya opsi untukku adalah perguruan tinggi negeri. Tetap tak ada jaminan bahwa jika aku lulus, orang tua bisa membiayai, terasa sangat sedih waktu itu, namun ibu membesarkan hatiku bahwa tak usah dipikirkan persoalan biaya, jika diusahakan selalu ada jalan.
Menjelang kelulusan SMU, ada tawaran beasiswa BMU UMPTN dimana dipilih dua orang untuk mewakili setiap SMU dengan kriteria tak mampu secara ekonomi dan mampu secara akademik. Yang boleh mengikuti seleksi adalah orang-orang yang tak pernah mendapat nilai di bawah tujuh untuk matematika dan bahasa inggris, setelah lulus UMPTN penerima beasiswa akan mendapatkan sumbangan biaya SPP sampai tamat kuliah. Beruntung aku termasuk salah satu yang layak untuk mendaftar dan lulus seleksi beasiswa.
Ketika teman-teman pergi ke Bandung dan Jogja untuk bimbingan belajar intensif, aku hanya mengikuti bimbingan belajar di Jambi karena keterbatasan biaya tadi. Jadwal bimbel hanya 1,5 jam di pagi hari, namun aku datang juga ke kelas sore untuk lebih banyak belajar dan berlatih.
Akhirnya pada suatu pagi aku mendapati namaku satu-satunya dari peserta UMPTN di Jambi yang lulus di ITB dengan jurusan pilihan pertamaku Teknik Sipil. Kelulusan itu sama artinya aku mendapat beasiswa dari masuk hingga lulus, meliputi biaya SPP dan biaya hidup. Akhirnya aku lulus dari ITB dengan predikat bisa saja, yang artinya bisa lulus saja sudah bersyukur karena panjang dan berliku perjuangannya.
 |
| Wisuda di Sabugha |
Singkat kata singkat cerita, hidup baik-baik saja. Pekerjaan setelah kuliah juga biasa saja, tak ada yang istimewa. Sepertinya aku belum menemukan suatu bidang pekerjaan yang benar-benar bisa dinikmati untuk ditekuni. Setelah setiap tahun berganti-ganti dan pindah lokasi pekerjaan, akhirnya aku bekerja sebagai Lead Engineer sebuah kontraktor di Jambi, seperti yang selalu aku idamkan untuk berperan serta membangun daerah.
Saat itu aku sedang pula membangun hubungan yang serius dengan seorang wanita, sudah hampir empat tahun lamanya. Sedemikian rupa, sehingga aku membuat rencana-rencana masa depan dengannya. Namun, suatu ketika dia memutuskan untuk berhenti karena perbedaan lokasi kerja, karena ada orang baru dan sekian hal lainnya.
Duniaku terasa jungkir balik, apapun yang kukerjakan seolah kehilangan esensinya. Hingga akhirnya proyek selesai dan aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Ternyata cobaan tak berakhir sampai di situ saja, karena mendadak ayahku mengeluh sakit dan setelah kami periksakan ternyata mengidap tumor ganas.
Setelah berjuang dengan berbagai pengobatan alternative kesana kemari, akhirnya mau tak mau kami memilih opsi operasi untuk ayah, di sebuah rumah sakit pusat di Jakarta. Sebulan lebih beliau dirawat sebelum operasi. Operasi yang kutandatangani persetujuan untuk menerima konsekuensinya. Setelah operasi, kelihatannya kondisinya membaik, sehingga aku pulang duluan ke rumah di Jambi.
Hingga akhirnya pada suatu subuh, ibu menelpon sambil menangis dan mengatakan bahwa ayah telah tiada. Terjadi dilemma untuk membawa jenazahnya pulang ke jambi atau ke jawa kampung halamannya. Semua orang menungguku untuk membuat keputusan, aku hanya ingin beliau di jambi karena dekat dengan rumah, sehingga kami bisa sering berkunjung. Namun, seorang tetangga yang dekat dengan ayah mengatakan bahwa alm selalu membicarakan keinginannya untuk pulang kampung, seperti sebuah firasat.
Andai beliau setidaknya bisa berbicara dan memberi pesan terakhir tentu dilema ini tak terjadi. Akhirnya kuputuskan untuk menganggap itu kemauan terakhir alm ayah, sehingga pergilah kami ke Jawa, Gunung Kidul, Wonogiri, ke tanah kelahirannya. Beliau mendapat tempat persis di sebelah makam alm kakek, ayahnya.
Berbulan-bulan setelah itu, hidupku terasa hampa, tanpa pekerjaan, tanpa tujuan hidup, penuh perasaan kehilangan. Sulit rasanya merangkai harapan-harapan baru, tak tau kemana hendak melangkah. Sosok seorang ayah, selama ini adalah sosok yang selalu membangkitkan motivasiku untuk berkarya, yang membuatku tertantang untuk membuatnya bangga. Kehilangannya membuatku kehilangan motivasi, kehilangan motif hidup, kehilangan tantangan.
Salah satu yang bisa menguatkan adalah pedoman Ayat Quran, bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, yang bagiku artinya manusia tak boleh berputus asa terhadap suatu keadaan. Bahwa orang beriman akan selalu dituntun dari kegelapan menuju cahaya.
bersambung..
by Tama (noreply@blogger.com) at May 11, 2012 06:45 AM
Siang itu, saya kebetulan makan siang di kantin kopma kampus UGM, sedang sendirian. Dalam arah pandang saya, yaitu di depan jalan masuk ke kantin terlihat seorang nenek sedang duduk, di depannya ada sebuah gelas plastik yang berisi recehan pemberian dari orang-orang yang lewat. Gaya pakaiannya yang khas nenek dari jawa membuat saya teringat pada nenek di rumah. Terbesit perasaan sedih di hati saya.
Nenek ini sedang meminta-minta. Setiap melihat seorang yang meminta-minta, serta merta saya langsung mempertanyakan, apakah tidak bisa bekerja? Dalam tradisi yang saya pahami, orang yang meminta-minta merendahkan nilai kemanusiaannya, dalam artian gagal mengenali potensi diri dan tidak pandai mengejar kesempatan.
 |
| 24 Juni 2010 |
Dalam tradisi agama yang saya ketahui juga, orang yang tidak mampu tetapi menahan diri dari meminta-minta derajatnya lebih mulia daripada yang tidak mampu dan meminta-minta. Tetapi tentunya hal itu harus dalam kondisi berimbang dan ideal dimana orang yang mampu dengan sukarela memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.
Sistem di negara kita belum cukup ideal untuk hal-hal seperti itu, untuk pendistribusian tanggung jawab kesejahteraan, serta pengembangan kualitas kemanusian. Pada saat yang sama, manusia kontemporer semakin fokus pada kehidupan masing-masing disebabkan oleh semakin tingginya tuntutan dan kebutuhan hidup.
Tapi itulah warga negara, sering menyalahkan penyelenggara negaranya untuk hal-hal yang diluar kemampuanya. Sehingga dengan latar belakang itu, saya tidak bisa memberikan pernyataan sikap yang tegas dalam kasus meminta-minta tersebut.
Kembali ke nenek tadi, karena dia sudah berusia lanjut, tentu saja tidak relevan untuk menanyakan kenapa dia tidak bekerja? jadi saya hanya bertanya dalam hati, kemana anakmu? Di mana cucumu? Bagaimana keluargamu? sembari menyelesaikan makan.
Dorongan rasa penasaran menyebabkan saya menghampiri nenek itu untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya.
"Nenek, sudah makan?"
"Sudah." katanya, giginya terlihat sedikit gelap, mungkin karena sering mengunyah sirih.
"Nenek, tinggalnya dimana?"
"Di daerah bla bla bla, numpang sama tetangga, tidak punya rumah.”
“Kok bisa nek?”
“Suami saya sudah meninggal. Saya ini nasibnya buruk."
"Nenek anak atau cucunya dimana?"
"Tidak punya"
"Nenek asalnya dari mana?"
"Dari sulawesi tenggara."
"Udah lama tinggal disini?
"Udah lama, sepuluh tahun, diajak suami saya, waktu itu dia sudah sakit-sakitan, katanya ayo kita tinggal di Jogja.
Jadi saya ya nurut suami. Eh, waktu dia buang air di sungai darah tingginya kambuh, tau-tau dia sudah ngga ada"
"Nenek masih punya saudara?"
"Masih, di kampung."
"Kenapa ga pulang aja ke kampung?"
"Ndak punya uang."
"Berapa biayanyanya buat pulang nek?"
"Waktu itu, mungkin tiga juta, mana punya saya uang sebanyak itu.
“Nenek punya no telepon saudaranya?"
"Dulu punya, pernah dihubungi, tapi ngga diangkat.”
“Sekarang masih ada nomernya?"
"Udah ngga ada, nomornya di hape, hapenya saya taroh waktu saya tinggal tidur, eh pagi-paginya hilang. Padahal harganya 500rb."
Alamak sedih sekali saya mendengar cerita nenek ini..
"Anak asalnya dari mana?" Tanyanya, ternyata dia cukup komunikatif.
"Dari sumatera nek."
"Oh, ada juga adek saya di sumatra, daerah riau, kerja disana."
"Nek sebelum disini kerjanya apa?"
"Mana bisa kerja, udah tua. Kalau suami saya kerjanya ngangkutin kayu, sekubiknya dibayar 2500 rupiah."
"Nenek kalau punya uang, mau pulang?"
"Ya mau, disini saya ga punya siapa-siapa."
"Tapi nenek ingat jalan ke kampungnya."
"Masih ingat."
Kalau diturutkan perasaan hati, ingin rasanya saya membelikannya tiket dan mengantarnya pulang ke keluarganya. Tapi selain waktu, uang sebanyak itu masih cukup besar bagi saya, yang belum bebas dari materi dan prioritas pribadi, dan masih jauh dari mandiri secara finansial. Sehingga hanya saya ambil sedikit uang dari dompet dan memberikan kepadanya.
Dia lalu berkata:
"Anak, cita2nya apa? Apa mau kuliah, mau jadi dokter?" saya kaget ditanya begitu.
"Bukan nek, saya mau insinyur."
"Kalau gitu, nanti saya doakan"
"Jangan nek, jangan didoakan, biar saya ikhlas."
Oh boi, tambah sedih hati saya dibuatnya. Saya lalu cepat berpamitan dan mencium tangannya, sebelum mengucur air irisan bawang bombai.
Terbersit pikiran, bagaimana cara menolong nenek ini? Pertama-tama saya kemukakan alasan pada diri sendiri, kenapa nenek ini perlu ditolong, disini nenek ini tidak punya keturunan atau keluarga, yang bisa mengurusnya jika dia bertambah tua nanti. Sementara entah bagaimana negara mengatur pemeliharaannya saya belum mengetahui.
Dengan beban hidup yang dijalaninya, saya khawatir dia akan menyalahkan Tuhan atas penderitaannya, karena dia begini karena mengikuti ajakan suaminya yang merupakan ibadah baginya, karena ternyata meski dia masih sholat dan berdoa, tidak ada dampak terhadap kehidupannya di dunia ini, sementara orang-orang ternyata tak ada yang bisa menolong. Lalu, karena saya sudah mengetahui apa yang dialaminya, tentu menjadi wajib bagi saya untuk menolongnya, entah dengan perbuatan, dengan perkataan, atau dengan seminimal-minimal kemampuan, yaitu doa.
Lalu saya berpikir, secara kemampuan terlihat terlalu memaksakan diri bagi saya, untuk membiayai dan mengantarkannya langsung ke kampung seorang diri. Sehingga saya perlu solusi lain agar beliau tetap bisa ditolong. Sepertinya tak ada yang lebih baik selain memanfaatkan afiliasi dan kerjasama kolektif dengan orang-orang yang sama-sama menaruh perhatian, dalam lingkup yang lebih besar, kemampuan untuk tindakan juga menjadi lebih besar.
Jika berlama-lama dan tidak melakukan sesuatu saya khawatir akhirnya menjadi terlalu terbiasa melihat nenek itu duduk disitu, menganggap hal ini sebagai sebuah kewajaran dan bagian dari hidup sehari-hari.
Akhirnya, waktu berlalu, hampir setahun setelah pertemuan dengan nenek itu, akhirnya bahkan saya tak berbuat apa-apa untuk menolongnya. Saya datang lagi, hanya meluangkan waktu untuk bertegur sapa dan sedikit berbagai cerita.
 |
| 27 Juli 2011 |
Nenek itu kelihatan masih mengenali.
“Cu, lama tidak kemari, nenek sampai kangen. Kadang-kadang sampe nenek cariin.. kemana cucu ini..” katanya.
Oh, pandainya nenek ini menyanjung sekaligus menyindir saya yang kurang peduli ini. Membuat saya ingin minta maaf karena belum bisa menolongnya. Ternyata benar bahwa tadinya saya yang merasa sangat sedih melihatnya, lama-lama makin terbiasa, memandang bahwa itulah realita hidup. Orang-orang lalu lalang, juga seperti biasa saja, beberapa ada yang memberikan uang recehan, ada juga yang malah lewat sambil menutup hidung.
Akhirnya saya tidak berdaya lagi berbuat apa-apa selain memberikan sumberdaya seadanya untuk membuat nenek itu tersenyum beberapa saat. Untuk setidaknya membuatnya ada teman berbicara beberapa saat. Akhirnya saya pamit lagi dan entah kapan akan ke sana lagi.
Entahlah, mungkin meski kehidupan nenek itu di dunia kelihatan menyedihkan, kehidupannya di akhirat justru lebih baik dari kita. Namun, tetap saja melihat nenek yang tanpa sanak saudara di usia yang sudah renta duduk sendiri berpanas-panas di situ, terasa ada sesuatu yang tidak benar. Rasanya, tidak perlu membayangkan bagaimana jadinya bila kita, atau nenek kita, atau ibu kita, atau keluarga kita yang lain ada pada posisi si nenek untuk mendapatkan perasaan itu.
***
May 06, 2012
by Takodok! at May 06, 2012 10:42 AM
Saya punya kecenderungan untuk tidak belanja bulanan di swalayan besar. Kalaupun kebetulan masuk ke salah satunya, itu hanya keisengan semata. Memperhatikan label produk, daftar nutrisi, atau sekedar mengacak-acak tumpukan barang bagi saya adalah sebentuk kebahagiaan sederhana. Percaya kan?
Biasanya saya sekedar membeli mana yang persediaannya menipis di warung terdekat. Lebih boros? Saya rasa tidak. Toh bukan di pos ini pengeluaran harus ditekan. Yang paling menyita biaya adalah harga sosialisasi nan impulsif (“Bosan nih, nongkrong yuk!”).
Alasan lain, berbagi rejeki pada yang paling dekat. Kalau harganya cuma beda 500 perak ngapain jauh-jauh ke pusat kota cuma demi odol? Sambil belanja juga bisa update gosip ngobrol sedikit, hitung-hitung mengasah kemampuan komunikasi verbal yang makin menyusut.
Perkara lain yang hampir mirip adalah es krim yang dijual 500 meter dari rumah. Siang itu sedang panas terik dan kepala juga masih pusing akibat pola tidur yang kacau. Makin malas lah saya keluar rumah. Tiba-tiba lewat abang penjaja eskrim tenonet nonet beli dong beli dong abang udah capek dorong (i got this somewhere in twitterland
). Ya sudah. Saya beli saja. Harganya 20% lebih mahal. Naluri pelit hampir mendorong saya untuk bilang, “Gak jadi ah bang!”. Tapi sepintas lirik ke muka abang penjaja es krimnya saja saya langsung beli duaaaaaaaa *keplak Ayu Tingting*
Selain memang doyan, saya teringat sesuatu *tsaaaaahhhh*. Kerja itu susah maimen. Kerja door to door/ keliling kompleks termasuk. Entah sales panci, karet tabung gas, gorden, hiasan dinding, tikar, lemari (iya saya pernah liat ada yang angkut-angkut lemari keliling kok. Tidak terlampau besar memang, tapi keliatan berat), rak sepatu, sampai segala macam barang yang mungkin tidak orang butuhkan (saya pernah ditawari sejenis sendok besar yang entah untuk apa kegunaannya). Dan si abang es krim ini sungguh teduh mukanya. Maka terjadilah transaksi yang sah dan didasari keikhlasan. Maksudnya saya ikhlas banget yumyum dua cup es krim sambil ngomentarin pesulap yang kelebihan energi *ups*
Eh, jangan nuduh saya beli karena kasihan. Dari Downtown Abbey saya belajar bahwa menghargai pekerjaan seseorang, betapapun konyol menurut kita, adalah keharusan. Ada yang sudah nonton? Belum? Aduh. Baiklah. Di salah satu adegan, seorang calon bangsawan berkonsultasi kepada Lord Gratham (bangsawan pendahulu) mengenai valet-nya (pelayan pribadi). Si calon bangsawan ingin memberhentikan valet tsb karena menurutnya ia tidak membutuhkannya. Lalu Lord Gratham balik bertanya,
“Jika kau jadi penerusku nanti, berapa banyak pelayan di rumah ini yang akan kau pecat karena menganggap tugas mereka tidak signifikan? Seorang Lord harus memahami setiap orang mempunyai tugas masing-masing dan kepuasan menjalankannya adalah kehormatan tak terkira.”
Seandainya beberapa pihak juga memegang salah satu prinsip Lord Gratham bahwa pekerjaan adalah kehormatan mereka, saya yakin tidaklah serumit ini pengurusan beberapa hal *sigh*
Dan seandainya semua orang paham bahwa masing-masing pekerjaan adalah sama berharganya bagi tiap orang, mungkin mereka akan lebih menghargai sesama manusia dan tidak mempersulit orang lain *sigh*
Iya, ini curhat berbudaya yang sangat sopan. KAN? Tapi berbahaya karena terlalu banyak mengandung unsur “seandainya”. KAN?! Semua salah abang es krim!
Baiklah. Cukup sekian dan terima pitih.
May 02, 2012
by Okto Silaban at May 02, 2012 06:18 AM
[Ini adalah guest post dari Sherief Mursjidi (CTO dari Merah Cipta Media)]
Saya menulis ini karena salah seorang dari inisiator startuplokal baru-baru ini post di twitter hal yang menurut saya tidak mendukung startup dan kreatifitas, jadi ingat dulu juga beberapa orang dari inisiator startuplokal, termasuk orang yang sama, post di twitter juga untuk hal yang sama, walaupun yang di post agak berbeda.
Menurut saya di dalam startup tidak ada teknologi yang terlalu canggih atau berlebihan maupun ketinggalan jaman, selama tim sepakat, menguasai dengan baik dan nyaman menggunakannya, bisa langsung bikin proof of concept, dan bahkan bisa meluncurkan produk lebih cepat. Ya, daripada harus menggunakan teknologi lain yang mungkin harus dipelajari dulu karena menurut beberapa ‘mentor’ itu teknologi yang sekarang dipakai terlalu canggih atau ketinggalan jaman. Karena harus diingat, ide kita bisa aja dibuat oleh orang lain juga kalau kita tidak cepat.
Berdasarkan pengalaman saya kerja bareng beberapa startup, semua produk bakal berevolusi sesuai kebutuhan, pada evolusi itulah kita jadi tahu kelemahan dari teknologi yang digunakan saat itu, karena itu kita melakukan optimasi, atau bahkan beberapa bagian kita ganti teknologinya ke yang lebih cocok, that’s where the fun part, learn something new or amazed by what we have missed.
Bahkan Twitter, karena yang di post adalah soal Twitter, memang masih menggunakan MySQL sebagai database mereka, walaupun tidak semua bagian, bukan berarti mereka tidak mencoba teknologi lain, bahkan sampai mereka akhirnya membuat FlockDB dan Gizzard untuk membantu kinerja MySQL itu juga hasil evolusi. Dan jangan lupa, Twitter juga menggunakan Cassandra, Hadoop dan Vertica untuk bagian lain itu juga karena setelah menemukan kelemahan dari teknologi yang digunakan saat ini. Saya yakin Facebook pun melakukan hal yang sama, bahkan Facebook membuat beberapa compiler untuk membantu kinerja kode program dan database.
Untuk para ‘mentor’ itu, karena saya menghormati mereka dan banyak orang melihat mereka, mungkin ada baiknya untuk melihat lagi esensi dari startup yang mereka sendiri angkat, yang menurut saya, do with what you have now, technology, time and money and have fun.
Thanks buat Okto, sudah dibolehin numpang nulis di blog-nya
[Tambahan dari saya ]
Kalau menurut saya pribadi, intinya penggunaan teknologi itu balik lagi ke tim foundernya. Kalau memang sanggup, ya monggo, silahkeun. Sanggup disini dalam artian timnya memang benar – benar mengerti apa yang dilakukan (sampe ke dalam – dalamannya, bukan cuma pengguna tool). Lebih baik lagi kalau tim foundernya itu adalah kontributor dari tool opensource yang dia pakai.
Disclaimer : Saya pernah memiliki hubungan kerja dengan MCM
April 24, 2012
by Takodok! at April 24, 2012 02:38 PM
Salah satu topik yang menarik perhatian saya di situs WHO adalah 10 facts on ageing and life course. Beberapa di antaranya:
- Antara tahun 2000 sampai 2050, proporsi populasi dunia dengan umur di atas 60 tahun akan berlipatganda dari 11% menjadi 22%. Jumlah orang berusia 60 tahun atau lebih akan meningkat dari 605 juta menjadi 2 milyar pada periode ini.
- Jumlah orang berusia 80 tahun dan/atau lebih akan meningkat empat kali lipat pada periode tahun 2000-2050. Pada tahun 2050 populasi dunia akan memiliki 400 juta orang yang berusia 80 tahun. Sebelumnya tidak pernah sebanyak ini jumlah orang paruh baya yang masih memiliki orangtua.
- Pada 2050, 80% lansia akan tinggal di negara berkembang. Chile, China dan Iran akan memiliki proporsi lansia lebih besar daripada Amerika Serikat. Jumlah lansia di Afrika akan meningkat dari 54 juta menjadi 213 juta.
- Bahwa di negara berkembang penyakit yang sering diderita oleh lansia adalah penyakit jantung, stroke sedangkan penyebab utama ketidakmandirian adalah dementia, menurunnya daya dengar, dan osteoarthritis.
- Lingkungan yang suportif bagi orang-orang tua bisa memaksimalkan kontribusi mereka, menciptakan lingkungan sosial dan fisik yang bersahabat bisa meningkatkan partisipasi aktif dan kemandirian para lansia.
- Penuaan yang sehat berawal dari perilaku sehat di masa muda. Hal ini termasuk apa yang kita makan, seaktif apa kita dulu secara fisik, dan kebiasaan-kebiasaan “berbahaya” seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, atau bahan-bahan toksisk lainnya. Tapi tidak pernah terlambat untuk memulai. Contohnya, jika seseorang berhenti merokok antara usia 60 sampai 75 tahun maka resiko kematian prematur berkurang sampai 50%.
- Kita harus menemukan kembali asumsi tentang usia lanjut. Masyrakat perlu memikirkan kembali streotip usang dan membangun model baru tentang “tua bagi abad 21″. Semua orang bermanfaat bagi komunitas, tempat kerja, dan lingkungan yang menstimulasi dan menghargai partisipasi nyata dari orang-orang tua.
Sedikit banyak fakta-fakta di atas mempengaruhi pengambilan keputusan untuk masa depan. Apa gaya hidup saat ini sudah cukup “sehat”? Sudah siapkah menerima konsekuensi di masa tua nanti (ingat, lansia di atas mengacu pada kita yang sedang dan/atau hampir berada pada usia produktif saat ini)? Masih berpegang pada keputusan untuk tidak menambah kepadatan penduduk dunia? Sudah cukupkah bekal untuk terjun langsung pada permasalahan akar rumput?
Demikian salah satu kegelisahan singkat bulan ini. Semoga tidak menular.
April 20, 2012
by Okto Silaban at April 20, 2012 02:39 AM
Quote yang menarik :
“Most people telling you we are not in a bubble have something to gain from it.”
Enjoy –> http://sfard.posterous.com/we-are-in-a-bubble
April 19, 2012
by Okto Silaban at April 19, 2012 04:15 AM
Sean Parker di film “The Social Network” bilang dia benci iklan, intinya iklan itu “not cool”. Dan kita sama – sama tahu, sekarang bisnis model Facebook (yg diakui) adalah Iklan juga (entah itu targeted user, bla..bla..), intinya itu iklan.. Walaupun rumornya mereka jualan data user mereka.
Twitter pun begitu, saya pernah baca (gak inget linknya) : Salah satu dari co foundernya itu bilang, rasanya kalau meletakkan iklan itu akan mengganggu timeline user, jadi ndak jadi opsi mereka. Sekarang, saya pribadi sudah 2 kali lihat iklan dari Twitter di timeline saya. Ini belum termasuk promoted hashtag.
Founder Tumblr pun begitu juga.. dulu dia bilang : “We’re pretty opposed to advertising. It really turns our stomachs.” Daaan.. akhirnya sekarang mereka pasang iklan juga. -> http://mashable.com/2012/04/18/tumblr-ads/
Intinya, model bisnis iklan itu masih jadi alternatif yang valid. Jangan malu kalau “startup” kita sumber pendapatannya adalah iklan hanya karena para “pakar” startup berkata hal itu tidak keren. Tapi memang, pasanglah iklan di saat yang tepat, dan jangan menempatkan iklan yang menggangu pengunjung situs anda sendiri.
Eh.., tapi gak harus juga sih pasang iklan. Kalau sudah terkenal, di-bahas dimana – mana, bisa “jual” startupnya ke investor atau pihak lain yang mau bayar lebih mahal kok.
#sarkasme
Link terkait : Mengapa terjun ke bisnis online ?
April 17, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at April 17, 2012 06:02 PM
Banyak macam persoalan terkait dengan menjalin hubungan, memilih pasangan hidup, menikah dan membangun keluarga. Berbagai macam tuntunan, standar, norma dan etika terkadang tak lagi dijadikan acuan, karena hal yang satu ini sangat terkait dengan perasaan.
Dewasa ini, makin banyak saya temui dalam lingkup hidup saya orang-orang yang menjalin hubungan yang menjurus ke pernikahan dengan perbedaan agama. Makin pluralnya masyarakat Indonesia, makin bebasnya pola hidup masyarat modern, makin tingginya mobilitas manusia dan interaksi antar budaya, semua mengarah ke peningkatan probabilitas pernikahan beda agama.
Berikut ini saya akan mencoba menyajikan pandangan dari berbagai sisi mengenai hal ini.
Peraturan Negara
Secara administrasi ada kesulitan untuk melangsungkan pernikahan beda agama di Indonesia, karena urusan pernikahan diakomodir oleh kantor urusan agama, sehingga KUA untuk orang beragama islam tidak mau menikahkan orang yang berbeda agama dengan islam, demikian pula kantor urusan agama lain, sehingga salah satu harus beralih ke agama pasangan. Atau harus melangsungkan pernikahan di luar negeri untuk kemudian mencatatkannya ke kantor catatan sipil.
Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini bisa dilihat pada referensi berikut ini.
Psikologi
Perbedaan agama, dari sisi psikologi dinyatakan sebagai sesuatu yang rawan konflik. Banyak pelaku pernikahan beda agama yang datang ke psikolog untuk mendiskuskan mengenai pernikahannya yang sedang bergejolak karena berbagai permasalahan.
Pernikahan adalah penggabungan dua keluarga, bukan sekedar dua orang. Jika pernikahan antara dua orang dengan akar budaya yang berbeda sering mengalami friksi, apalagi dengan nilai agama yang berbeda. Ada kecendrungan bahwa pihak keluarga tidak merestui pernikahan itu, konflik ini biasanya terus berlanjut.
Menikah adalah penggabungan pola hidup dan kebiasaan-kebiasaan, dari sendiri-sendiri menjadi bersama-sama, sehingga apabila agama berbeda, maka pola kebiasaan ibadah akan menjadi sendiri-sendiri, jika muslim akan sholat, puasa dan berlebaran sendiri, jika Kristen akan ke gereja dan merayakan natal sendiiri. Hal ini disinyalir mengurangi kebahagiaan dan rasa kebersamaan.
Setelah memiliki anak, akan terjadi konflik antara orang yang berbeda agama, ayah ingin anak itu mengikuti agamanya, ibu ingin anak itu mengikuti agamanya, sehingga jika suatu saat anak memilih salah satunya, salah seorang pasangan akan merasa kecewa.
Konflik-konflik itu cenderung perlahan-lahan mereduksi perasaan cinta, sehingga pada akhirnya menyebabkan mati rasa dan berujung pada perceraian. Penjelasan lebih lanjut mengenai masalah ini bisa dilihat di referensi berikut ini.
Islam
Bagaimana pandangan islam untuk pernikahan beda agama? MUI sudah memfatwa haram pernikahan beda agama, dengan keputusan MUI Nomor: 4/MUNAS VII/MUI/8/2005. Seperti dalam link berikut ini.
Sumber hukum untuk fatwa haram tersebut diungkapkan dengan jelas di dalam Al Quran surat Al Baqarah: 221, Al Maidah: 5 dan Al-Mumtahanan: 10.
Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan prempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran. (QS Al Baqarah: 221)
Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) ahli kitab itu halal bagimu, dan makanmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan diantara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman maka sungguh, sia-sia amal mereka dan si akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (QS Al Maidah: 5)
Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu Telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) berimanMaka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang Telah mereka bayar. dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang Telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang Telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Mumtahanah: 10)
Pernikahan beda agama untuk wanita muslim dengan lelaki non muslim adalah HARAM, sedangkan pernikahan lelaki muslim dengan wanita ahli kitab masih menjadi perdebatan. Salah satu yang mendebat adalah kelompok Jemaah Islam Liberal (JIL) dengan beberapa argumen yang tidak jelas. Yang biasanya menjadi perdebatan adalah pendefinisian kafir, musyrik dan ahli kitab. Berikut ini salah satu link nya. Yang jika diteliti, membenarkan ketakutan umat muslim di Indonesia bahwa JIL adalah sekelompok orang yang berbahaya bagi kehidupan beragama umat islam.
Konsep pernikahan beda agama dalam islam ada di link berikut ini dan ini.
Pribadi
Dan.. bagaimana dengan pendapat saya pribadi? Kali ini, saya hanya akan menguraikan pendapat pribadi berdasarkan pemahaman dan pengetahuan saya selama ini.
Perasaan manusia adalah sesuatu yang rapuh, manusia bisa merasa suka pada sesuatu saat ini dan beberapa waktu kemudian membencinya, manusia sering memandang baik apa yang buruk baginya, dan memandang buruk apa yang sebenarnya baik baginya, sehingga menurut hemat saya, perasaan dan pikiran manusia tidak bisa dijadikan pegangan yang kuat untuk selamat. Sehingga hanya agama yang bisa dipercaya, untuk dijadikan pegangan.
Untuk mahasiswa Indonesia yang tinggal di luar negeri yang banyak berinteraksi dengan orang barat kasus-kasus ini semakin sering terjadi. Orang Indonesia kebanyakan adalah islam, orang barat kebanyakan adalah Kristen dan sebagian lain adalah atheis. Sehingga setiap kali melihat ada orang Indonesia yang sedang menjalin hubungan dengan bule saya selalu menaruh curgia menanyakan, apa agamanya?
Setiap kali mendengar ada orang berpacaran beda agama, hati saya menjadi sedih. Terlebih lagi ketika mendengar seorang wanita muslim yang menikah dengan seorang non muslim, hati saya jadi bertanya-tanya apakah wanita ini masih dengan akidahnya. Beberapa waktu kemudian, wanita yang dulu saya kenal mengenakan jilbab dengan sopan ini lantas tidak lagi mengenakan jilbab, sehingga semakin perih lagi hati ini.
Menurut saya, ada beberapa faktor kenapa pernikahan beda agama ini harus dihindari, yaitu faktor perasaan cinta yang tidak bisa diandalkan, faktor pengabdian terhadap orang tua, dan faktor pernikahan sebagai ibadah.
Setiap melihat pasangan beda agama dalam hati saya sering timbul pertanyaan, apakah tak bisa lagi kita mencari pasangan yang seagama? Katakanlah itu kualitas fisik, kualitas kekayaan, kualitas kebaikan hati, kualitas perasaan, apakah tak ada lagi sesama muslim yang bisa memenuhinya? Apakah alasannya itu perasaan cinta, yang katanya tak bisa dicegah bisa datang dari dan kepada siapa saja. Alasan yang menurut saya sangat naïf, karena perasaan cinta adalah sesuatu yang rapuh yang sama sekali tak bisa dijadikan acuan atau standard. Berapa kali seorang manusia mengalami perasaan jatuh cinta dalam hidupnya? bukankah rata-rata lebih dari sekali. Menurut saya, perasaan cinta bisa dibangun melalui proses, yang bisa hilang melalui proses lainnya.
Yang kedua adalah faktor orang tua, menurut saya seorang anak harus berterimakasih atas karunia dilahirkan dan dibesarkan oleh orangtuanya, ucapan terimakasih itu berupa bakti untuk membahagiakan mereka, menuruti sejauh apa keinginan mereka selama tidak bertentangan dengan tuntunan agama. Yang saya pahami, salah satu yang diajarkan agama islam adalah bahwa anak menjadi penerus amal orangtuanya, dalam bentuk doa dari anak yang sholeh. Sehingga tentu saja orang tua (yang menjadikan agama sebagai pegangan) tidak akan merestui anaknya menikah dengan beda agama, apalagi jika sampai anaknya pindah agama, karena itu akan berarti sama saja orang tua tersebut tidak memiliki anak yang biasanya menjadi tumpuan harapan untuk menjadi penerus amal kebaikannya kelak jika dia telah tiada.
Yang ketiga adalah konsep pernikahan sebagai ibadah, apabila telah dinyatakan haram, maka pernikahan yang bagi umat muslim bisa menjadi sarananya untuk beribadah tentu akan kehilangan esensinya. Katakanlah jika berhubungan badan, karena tidak sah secara agama maka yang seharusnya berupa ibadah menjadi haram atau dosa untuk selamanya. Bagi orang yang percaya kehidupan akhirat, sungguh mengerikan hal ini, semoga kita semua selalu dijauhkan darinya.
Saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang sudah menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama dengan sebaik-baiknya. Namun, menurut saya, yang konservatif namun agak moderat ini, tak apa jika seseorang berbuat salah, sesekali berbuat dosa, sesekali melanggar aturan, karena bagaimanapun itu manusiawi, asal jangan melanggar akidah, atau mendekati melanggar akidah.
Dalam kehidupan dunia yang fana ini, dimana terdapat simpang siur aturan, norma, argumen, pengetahuan dsb hanya satu yang bisa dijadikan pegangan, yaitu nilai agama. Dalam kehidupan yang fana ini, salah satu yang harus dijaga adalah agar senantiasa dalam keadaan beragama islam hingga akhir hayat.
Referensi gambar:
http://www.wartakota.co.id/read/news/56907
April 13, 2012
by Okto Silaban at April 13, 2012 03:23 AM
Agak aneh ini rasanya, karena blog ini kebanyakan ngomongin soal Linux, tapi kali ini saya coba posting pakai Windows Live Writer.
#abaikan
April 10, 2012
by Okto Silaban at April 10, 2012 04:41 PM
Coba baca dulu ini : “Instagram’s founder had no programming training. He’s a marketer who learned to code by night”
Link -> http://thenextweb.com/2012/04/10/instagrams-ceo-had-no-formal-programming-training-hes-a-marketer-who-learned-to-code-by-night/
Salut dengan para founder yang mau turun tangan “mencicipi” bagaimana mengerjakan coding.
Founder yg punya pengalaman teknis, bakal lebih bagus memanage tim developmentnya, setidaknya menurut saya. Kalau tim teknis nya ditangani dengan baik, secara otomatis jadi magnet buat talent – talent teknis terbaik di luar startup tersebut (dengan PR yg bagus tentunya).
Dan PR terbagus untuk orang teknis itu adalah Github nya, or at least blog tim engineering mereka. Flickr, Digg, Twitter, Instagram, Yahoo, Google, Facebook, dll.. mereka punya blog (PR) khusus untuk engineer mereka. Ini yg membuat para developer termimpi – mimpi untuk bergabung bersama mereka. Jadi dengan sendirinya talent – talent tersebut akan berdatangan.
“Talk is cheap, show me the code” ~ Linus Torvalds.
Kalau para developernya masih dianggap sebagai “mesin” saja, tidak heran saat bergabung dengan perusahaan / startup anda, mereka tetap sibuk dengan side-job di luaran sana.
April 06, 2012
by Okto Silaban at April 06, 2012 04:12 PM
Berita soal Yahoo memecat seluruh tim developer Koprol menggema tadi pagi. Yahoo sendiri sudah memutuskan untuk fokus menjadi Digital Media Company. *iya.. bener.., kaya Detik gitu lho.. (Berarti TransCorp sudah berada di jalur yang benar?).

April 04, 2012
by Ekoputra Arif Budiman at April 04, 2012 10:57 AM
Halo FM Lovers, Saya tergelitik (geli geli gimana gitu…) mau buat artikel mengenai Football Manager secara khusus dilihat dari sudut pandang saya selaku pecinta Football Manager 2012. Sebelum masuk ke FMnya sendiri, mungkin ada bertanya tanya (mungkiin ya) kenapa Jargon yang beredar di Blog ini adalah FM Lovers. Simple kok bro. Ane belum sanggup beli […]
March 31, 2012
by Takodok! at March 31, 2012 11:32 PM
Pertama, saya ingin pamer berbagi memaparkan beberapa penguasa playlist belakangan ini.
- Civilian – Wye Oak
- Sweet Dreams – Eurythmics
- La Danse Macabre
Ketiganya pertama kali didengar lewat serial The Walking Dead (Civilian) dan Grimm (Sweet Dreams & La Danse Macabre). Untuk La Danse Macabre, aduh, ceria sekali. Eh, saya tidak akan dikutuk kan gara-gara mendengarkan ini?
Kedua, beralih ke serial lain. Ada Touch yang baru jalan 3 episode. Sejauh ini masih enak diikuti. Cerita tentang benang merah yang menghubungkan orang-orang dari berbagai belahan dunia memang selalu menarik. Apalagi jika ditunjang dengan gambar yang memanjakan mata dan karakter yang kuat.
Benang merah, saya lebih suka menyebutnya begitu ketimbang istilah matematika yang ditonjolkan di serial tersebut. Tidak terlalu sulit memang, but hey i’m a hopelessly romantic person kan?
…There’s an ancient Chinese myth about The Red Thread of Fate. It says that the gods have tied a red thread around everyone of our ankles and attached it to all of the people whose lives we are destined to touch. This thread may stretch or tangle, but it will never break.
Katanya arti aslinya tidak persis seperti ini. Toh saya cukup terpesona. Kalimat “..it may stretch or tangle, but it will never break.” bagai sumur di tengah ladang, tapi jangan lekas numpang mandi. Bila satu orang dengan orang lain benar-benar terhubung oleh “benang nasib”, bagaimana pun berkelok-keloknya jalan yang tertempuh, pada satu masa mereka akan berpapasan dan saling mempengaruhi hidup masing-masing. Itu sumur pengharapan di ladang optimisme.
Nah, tapi si bodoh ini mempertanyakan waktu yang dihabiskan, keletihan dan berbagai perasaan yang muncul selama perjalanan tersebut. Yang mana persimpangan yang benar? Bagaimana jika nanti berselisih jalan? Maka jangan lekas menumpang mandi.
Human beings aren’t the strongest species on the planet. We’re not the fastest, or maybe even the smartest. The one advantage we have is our ability to cooperate to help each other out.
We recognize ourselves in each other, and are programmed for compassion, for heroism, for love.
And those things make us stronger, faster, and smarter.
It’s why we’ve survived.
It’s why we even want to.
Meski saya tidak terlalu setuju dengan pernyataan di atas, tapi narasi Jake Bohm ini lah salah satu alasan kenapa saya memutuskan untuk melanjutkan hidup mengikuti serial Touch.
I was born 4,161 days ago on October 26, 2000. I’ve been alive for eleven years, four months, 21 days, and 14 hours. And in all that time… I’ve never said a single word.
I used to say; he speak in math, i speak silence. Now i’ve found someone who really great at both language. Jake Bohm.
March 30, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at March 30, 2012 04:43 PM
Dua minggu lalu memposting cerpen berjudul kereta malam ke suatu forum di facebook, ternyata cukup banyak yang membaca dan memberi tanggapan positif. Walaupun kebanyakan yang me-like kemungkinan merupakan abege-abege begitu rupa, tapi ada perasaan bahagia ketika tulisan kita dibaca banyak orang dan diapresiasi, sehingga menambah motivasi untuk menulis lebih banyak lagi.
Cerpen tersebut bisa dibaca di
sini..
March 23, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at March 23, 2012 06:14 PM
Migrasi dari kampung halaman nun jauh dimato menuju negeri seberang mengandung sekelumit konsekuensi logis dibalik seabrek manfaatnya, salah satu disbenefit itu adalah kesulitan melampiaskan pola konsumsi yang konservatif terhadap ketersediaan kuliner lokal.
Konsekuensi tersebut diperparah dengan kenyataan manis bahwa pengeluaran untuk makan di luar terlalu tinggi untuk diterapkan sebagai pola konsumsi harian. Sebagai contoh, sebuah menu nasi kari kambing ala Pakistani di kantin kampus harganya £4 yang setaraf dengan 56 ribu rupiah, nilai tersebut jika dilewatkan di warung nasi padang doa mande di depan kampus ITB, akan telah mencukupi untuk lima kali makan ditambah es jeruk panas.
Dengan latar belakang itu semua, maka hadirlah sintesis bahwa untuk bertahan hidup dan menyisihkan sedikit tabungan untuk jalan-jalan mutlak memerlukan suatu lompatan bersejarah, sebuah langkah besar, sebentuk revolusi budaya, yaitu: memasak.
Sebagai seorang pemula dan pemuda yang berbahagia dibawah asuhan orang tua memasak bukanlah bagian dari budaya. Sehingga perjuangan untuk menghasilkan masakan bermutu mengalami berbagai rintangan berarti. Akhirnya seorang adik di rumah, yang mana berjenis kelamin wanita, menjembatani itu semua, dengan mengirimkan berbagai resep ala ibu di rumah.
Dialog itu biasanya terangkum sebagai berikut:
Abang: “Dek, cara mbikin capcay ato sayur buncis itu cemmana?”
Setelah berhari-hari menahan lapar, biasanya akan mendapat jawaban dari si adek.
Adek: “Sorry baru bales my bro.. :p. Pertama, potong sayur tipis-tipis, iris bawang merah sama bawang putih dan cabe kalau mau agak pedas.. bla bla..”
Abang: “Persentase bawang merah terhadap bawang putih dan proporsi masing-masing bawang terhadap keseluruhan sayur seberapa? Teknik memotong apakah vertikal, horizontal, diagonal atau mungkin sinusoidal? tolong dibalas, asap.”
Adek: “bzzzzt..”
Karena terlalu lama menunggu, yang kemungkinan besar disebabkan si adek sedang sibuk menguji takaran tiap elemen pembentuk sayur tersebut, akhirnya setiap proses harus dilalui dengan belajar sambil mencoba, dengan bantuan om google tentunya.
Setelah sekian bulan penuh perjuangan untuk mewujudkan budaya memasak ini, singkat kata singkat cerita singkat pula perjumpaan kita, akhirnya penulis sampai pada beberapa kesimpulan sebagai berikut.
Memasak dan seni kuliner secara langsung dan tidak langsung merupakan pengejawantahan cinta kasih dari Yang Maha Kuasa kepada umat manusia, karena kehadiran segala sesuatu yang tumbuh di atas muka bumi yang memiliki ragam citra rasa dan rupa yang bisa dibawa ke dapur dan dimanfaatkan oleh daya kreasi manusia untuk memenuhi kebutuhannya serta memuaskan indra dan seleranya.
Memasak adalah perilaku yang mulia, yang bagi ibu/bapak rumah tangga menjelma jadi pengabdian dan ibadah untuk membahagiakan keluarganya, yang bagi mahasiswa (single) menjelma jadi penyelamat uang sakunya.
Memasak merupakan perjuangan melatih kesabaran, karena berbagai cobaan bisa tiba-tiba datang, semisal ketika sedang menggoreng mendadak minyak panas itu memuncrat ke muka diantara belantara jerawat nakal sehingga menambah sangar raut wajah.
Memasak merupakan refleksi peristiwa sehari-hari, ketika kehidupan di luar sana terasa terlalu pahit, maka kita tambahkan rasa manis dan asin diantara masakan, ketika kehidupan terasa kejam, maka kita tambahkan segepok cabe rawit dengan segenap emosi jiwa untuk membuat masakan tak kalah kejam, semakin kejam kehidupan semakin pedas masakan tersaji. Ketika kesedihan tak tertahankan, maka mata merah serta uraian airmata menemukan dalih yang sempurna jika diriring dengan mengiris bawang merah. Ditambah hipothesis sementara bahwa penulis cerita bawang merah dan bawang putih tentu memulai proses kreatifnya di dapur saat menyadari bahwa bawang merah itu jahat dan bawang putih itu baik.
Memasak merupakan sebuah proses iterasi dimana proporsi bumbu satu sama lain memiliki peran sedemikan rupa untuk mendapatkan integrasi citra rasa, semua proses seringkali membutuhkan waktu menahun, layaknya riset mahasiswa doktoral.
Memasak merupakan proses pengembangan soft skill bagi mahasiswa rantau, sehingga ketika kembali pulang ke kampung halaman, memiliki bekal untuk membuka usaha warung pecel lele, nasi goreng, atau sedikitnya usaha roti bakar.
Memasak adalah perwujudan dan puncak dari kebudayaan nasional, dimana para mahasiwa bisa membawa berbagai menu tradisional untuk dipersembahkan pada malam international. Setiap pelajar dari berbagai Negara pun mencicipi resep sambal bawang dari Indonesia dan membuat mereka sampai pada kesimpulan bahwa: masakan Indonesia adalah hal terakhir yang harus dicoba dari semua jenis kuliner mancanegara.
 |
| ekspresi harap-harap cemas pelajar inggris saat mencoba sambal |
Demikianlah sedikit cerita mengenai seni kuliner dalam perspektif mahasiswa rantau kontemporer, satu dan lain hal bisa diselesaikan dalam tempo sesingkatnya di meja makan. cheers..
March 17, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at March 17, 2012 04:20 PM
Mantan pacar sudah menikah. Setelah menjalani empat tahun masa pacaran, dua tahun lebih pun berlalu sejak perpisahan yang menyakitkan itu. Dia menjalani hubungan dengan orang lain, hingga berakhir, lalu perasaan kita pernah dekat lagi setahun yang lalu, hingga berpisah lagi. Akhirnya baru-baru ini dia menikah, dengan laki-laki lain, bukan denganku.
Dan, bagaimana rasanya ditinggal menikah oleh orang yang (masih) dicintai? Rasanya, seperti pasrah karena tak berdaya melawan takdir. Tangan takdir menggenggam kita begitu erat, menarik ke arah yang diinginkannya, tak peduli kita meronta atau menerima. Suatu malam itu, aku pernah bermimpi bahwa dia menikah, yang menjadi kenyataan beberapa minggu kemudian. Sehingga, telah kupersiapkan sebentuk perasaan ikhlas, agar tidak ada kekhawatiran lagi dari diriku untuk diri sendiri, atas perasaan ku kepada dirinya.
Aku tau, tak seharusnya seseorang terlalu mengagungkan cinta kepada sesama manusia, cinta yang rampuh dan pamrih. Aku tau hampir semua teori, aku membaca buku psikologi manusia, psikologi cinta, buku the art of loving, aku membaca petunjuk praktis how to move on, aku mendengar berbagai pengalaman untuk menghadapi permasalahan serupa, aku mencoba mengalihkan perhatian pada sosok lain, hanya sampai pada kesimpulan bahwa cinta memang lebih mudah dirasakan daripada dipahami. Kadang kita menjelma jadi orang yang lemah, mengetahui betapa sering perasaan mengalahkan pikiran.
Sekali waktu masih teringat pada serangkai kata-kata cinta yang tak pernah diucap serta permintaan maaf yang tak pernah diungkap, karena tak berhasil menjadikan pengalaman bersamanya sebagai kisah yang sempurna untuk dikenang.
Tentu saja aku tak akan penah hadir lagi dalam kehidupannya dan dia suatu saat akan hilang dari pikiran maupun perasaanku, sebagaimana yang kita inginkan. Aku menginginkannya berbahagia, seperti diriku sendiri ingin berbahagia, sebagaimana yang kita inginkan. Hanya waktu yang berjalan belum mengizinkanku untuk lupa, bahwa lupa seringkali menjadi sebuah kemewahan bagi seorang yang mengenal cinta.
Memang ada sebagian orang yang menyimpan kenangan, sepertiku, ketika sebagian besar melupakan. Sadar atau tidak sadar aku masih menyimpan berangkai bayangan wajah dan ekspresinya di benakku, terkadang gambar itu mengabur, terkadang menguat lagi. Sebagian kenangan itu tersimpan juga dalam lagu-lagu.
Sewaktu-waktu lagu itu menjadi sebuah mesin waktu, yang bisa membawa ke masa lalu, menerobos batas-batas ruang kekinian menuju suatu tempat dan masa dimana hal-hal indah terjadi.
Ada kisah tak sempurna dari Samson, bukan tipikal musik yang ku sukai, meski lagunya kita dengarkan. Hadir kembali peristiwa dimana kita melalui pertengkaran-pertengkaran kecil, setiap beberapa hari setelah kita menutup kisah, mendengarkan lagu ini, selalu saja salah satu dari kita akan datang mencari kepingan-kepingan yang hilang, lalu kita akan saling melengkapi kembali.
Lebih jauh lagi, ada sebenarnya cinta dari Letto, di waktu dia sangat suka mendengarkannya, pernah kubuatkan sebuah cerita tentang lagu itu yang berusaha menterjemahkan bagaimana cinta yang sebenarnya. Disaat kita bermanja-manja oleh rasa, pernah hadir kekhawatiran bahwa mungkin cinta yang kita rasakan bukan cinta yang sebenarnya.
Lebih lama lagi, ada lagu gemintang dari andin, di sebuah ruang dimana cinta kita bersemi, ketika kita melepas perasaan rindu dalam nuansa, kita yang merasa cinta bisa abadi untuk menyatukan asa. Kita berada dalam dekap hangat perasaan yang menepikan resah.
Lebih awal lagi, ada lagu pengiring film Gie dan puisinya, kembali ke masa ketika kita mula-mula bertatap muka, saling menemukan. Kita yang mencari jalan atas kegelisahan manusia, kita yang tak berhenti berjuang dengan idealisme untuk mencari jawaban atas permasalahan negeri. Kita yang begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.
Terhempas oleh beban rasa yang membuncah, akan kuarahkan mesin waktuku ke masa yang lebih lalu, ketika kita tak saling mengenal. Atau lebih jauh lagi ke masa-masa ketika masih menjadi anak kecil yang memandang dunia dengan warna ceria, yang berlari-lari menyambut istirahat siang, berlari menyambut hujan, dan tidur lelap di awal malam demi mengharapkan esok cepat datang, karena teman-teman akan telah menunggu di halaman sekolahan.
Masa kini yang tak sesuai harapan, masa depan yang penuh ketidakpastian, terkadang membuat kita menjelejahi waktu, pergi ke masa lalu, yang tersaji dalam keping-keping memori yang semakin kusam tertutupi debu usia dan pengalaman. Betapapun kusamnya bagian itu, bagian-bagian yang indah tetap akan indah hingga akhir zaman.
*you have my apologize to read such a gloomy story i rarely write these days..
March 16, 2012
by lamiascrittura at March 16, 2012 08:16 AM
Here we go! If you have thousand point of the seabed profile, you may follow the instruction below:
1. Open ABAQUS CAE
2. Go to Part module: Create Part: Name: analytical_rigid_part: select 3D as the Modeling Space, Analytical rigid as the Type, and Extruded shell as the Base Feature
3. Create any model (no need the exact model just rough model)
4. Assembly your model, mesh by instance or by part has no matter
5. Create Referene Point
6. Interaction module: Create Constraint: Rigid body: Analytical Surface: Edit: select analytical_rigid_part
7. Interaction module: Create Interaction: any valid type: select analytical_rigid_part as one of the regions involved in contact
8. Go to Jobs module, create Job-1
9. Write the input file in you Model (default saving folder is Temporary folder)
10. Edit your input file by using your current coordinate, the editing area:
*start, <coordinate x>, <coordinate y>
…
*line, <end of coordinate x>, <end of coordinate y>
11. Back to File: import: Model : Select the edited input file
Jakarta,March 16 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at March 16, 2012 06:41 AM
Embun memberai diri
mantari mengejar-ngejarnya
terasa
tak mungkin pasti
dalam tidur ini
waktu menjalar
merambati ruang menembus jendela
angin diselimuti hangat menyemangat
terasa
tak bisa pasti
masih tertidur disini
sulur-sulur waktu mulai berbunga
harum baunya meliputi menara
kokoh berpijak diatas darah leluhur
angin dikendarai rohnya
menyambangi sekali-kali
Bunga-bunga lalu melayu
Burung pemangsa mengusir angin
Menggerogoti menara
Sungguhpun roboh dibuatnya
Hanya sayup-sayup ditelinga
mimpi terasa lebih nyata
Diujung sana ada pintu
Persepsi namanya
tak pernah terbuka nyata
Sang pemangsa tak ada daya
kitapun tak berusaha
Sementara kelopak waktu lelah memberi tanda
Jatuh tersungkur di halaman
mentari selesai mencerna senja
kita terjaga
mendapati kerjap bintang
bangkit tapi apalah gunanya
tak sempat memberi arti
mengisi kosong diri
@HMS ITB 2005
by Tama (noreply@blogger.com) at March 16, 2012 06:41 AM
Bagi para penggemar bola di seluruh dunia yang terbiasa menonton pertandingan-pertandingan Liga Inggris di televisi, maka menonton tim favorit berlaga di stadion secara langsung adalah mimpi-mimpi yang seperti terlalu mewah untuk terwujud.
Seperti sedang bermimpi di siang bolong, akhirnya kita melangkahkan kaki menuju Stadion Old Trafford, di kota Manchester, Britania Raya. Namun demikian, bukan demi Man United aku melangkahkan kaki ke sana, tetapi demi Chelsea, dalam rangka menghentikan dominasi Man United dari gelar juara.
Tiket untuk pertandingan tim favorit yang disinyalir akan penuh drama antara Man United dan Chelsea sangat sulit didapat, seseorang harus mendaftar menjadi member dengan biaya sekitar 30 pounds, dan mengumpulkan sejumlah point untuk bisa membeli tiket. Sebelum tiket dijual kepada publik, biasanya sudah habis dipesan oleh member.
Adalah sebuah keberuntungan, ketika dua hari sebelum pertandingan aku mendapatkan tiket itu di loket penjualan tiket Stamford Bridge, Chelsea. Dan adalah suatu keajaiban bisa mendapat satu tiket lagi dari seorang wanita penggemar Chelsea yang berhalangan hadir, dan sedang bersusah hati karena tiket yang sudah dibeli tidak bisa dire-fund. Para akhirnya, kepentingan kami bertemu dalam sebuah transaksi yang ideal.
Berbekal dua tiket itu, dengan penuh percaya diri kita berangkat menuju Manchester. Dari stasiun kereta api, Old Trafford bisa ditempuh dengan menggunakan Tram, tiket Tram sekitar 3 pounds bolak-balik. Setelah turun di stasiun Exchange Quay, perlu lima belas menit jalan kaki untuk menuju ke stadion.
Sebuah jembatan merah bernama Trafford Road Bridge menjadi landmark bahwa lokasi stadion kian dekat. Di pinggir jalan menelusuri tepi sungai, banyak orang berjualan berbagai aksesoris MU seperti kaos, syal, bendera, kupluk dan berbagai pernak-pernik lainnya. Semakin mendekati stadion, semakin banyak pedagang-pedagang aksesoris beserta penjual makanan dan minuman fast food kaki lima, seperti di indonesia.
Akhirnya dari kejauhan terlihat stadion yang berdiri kokoh dengan kemegahannya. Orang-orang mulai berduyun-duyun berdatangan memadati sekeliling stadion. Rata-rata berseragam merah-merah untuk mendukung tim kesayangan mereka bermain di kandang.
Seperti juga di Indonesia, terdapat beberapa calo yang menjual tiket di pertadingan, namun harganya empat kali harga normal. Jika kami mendapat tiket dengan harga 42 pounds atau sekitar 600 ribu rupiah, maka tiket dari calo berharga sekitar 2.5 juta rupiah.
Di deretan depan stadion terdapat bagian gedung yang menjual merchandise official MU sedang dipadati pembeli potensial menjelang pertandingan, tempat yang pas untuk mencari oleh-oleh bagi penggemar MU di Indonesia, meskipun ternyata sebagian besar produk adalah made in Indonesia.
Ketika menunggu dipersilahkan masuk, seorang Bapak yang datang dengan dua anaknya, yang semuanya memakai kaos MU, melihat atribut kita yang bertuliskan Chelsea. Bapak itu seketika mencibir, menatap dengan sinis, menunjuk-nunjuk sambil berbisik kepada anak-anaknya, yang boleh jika diasumsikan berbunyi: “Nak, kalau besar nanti, jangan jadi pendukung Chelsea seperti dia. Mau ditaruh dimana muka Bapakmu ini nantinya..”
Akhirnya dua jam sebelum pertandingan kita sudah boleh memasuki stadion. Tempat masuk antara orang berkaos biru-biru dipisah dengan tempat masuk orang berkaos merah-merah yang lebih dominan untuk mencegah pertikaian yang berpotensi terjadi. Kapasitas yang diperuntukkan kepada supporter tim tamu hanya 3000 kursi, dibandingkan dengan total keseluruhan yang mencapai 75 ribu kursi.
Keadaan di dalam stadion cukup menerbitkan rasa takjub. Ketika kosong, seluruh stadion didominasi oleh warna merah. Yang ditengahnya terdapat tulisan besar berwarna putih: MANCHESTER UNITED. Di salah satu bagian lain terdapat spanduk panjang bertuliskan MANCHESTER IS MY HEAVEN dan MU FC FOR EVERY MANC A RELIGION. Di salah satu tribun terdapat julukannya yang terkenal sebagai THE THEATRE OF DREAMS. Melihat tulisan itu, aku hanya bisa berkata dalam hati: “Bersiaplah, pertandingan ini akan menjadi mimpi buruk bagi kalian..” sambil terkekeh-kekeh.
Para supporter mulai memenuhi stadium. Para pemain mulai bermunculan di lapangan dan melakukan pemanasan. Timbul perasaan sumringah bahwa detik ini, aku hadir dan melihat mereka secara langsung, di tempat yang sangat jauh dari rumah.
Akhirnya peluit tanda mulai pertandingan disemprit oleh wasit. Menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion, setelah biasanya hanya menonton dari televisi, terasa seperti menambah efek 3D, membebaskan sudut pandang dari yang sekedar gambar yang ditangkap kameramen, menambah surround sound sampai pada level maksimal, kengurangi suara komentator, serta sayangnya meniadakan siaran ulang untuk kejadian-kejadian penting. Secara umum, jalannya pertandingan ini dari sudut pandang yang sangat subyekti adalah: Chelsea mendominasi pertandingan dan menyia-nyiakan begitu banyak kesempatan-kesempatan emas.

Adalah sebuah hal luar biasa, akhirnya bisa membaur bersama keriuhan para supporter Chelsea yang bernyanyi-nyanyi demi mendukung satu-persatu pemain agar lebih bersamangat, supporter yang bersorak-sorai untuk mendukung Torres agar (setidaknya) mencetak gol (setelah sekian lama), yang lalu meneriakkan yel yel yang mengejek satu persatu pemain lawan, serta menyanyikan berbagai lagu kebangsaan.
Adalah sebuah hal luar biasa, menyaksikan dari dekat para supporter yang mengekspresikan kesedihan saat Chelsea kebobolan satu gol oleh sundulan Smalling. Mereka yang mengekspresikan kesedihan yang lebih mendalam saat Chelsea kebobolan satu gol lagi oleh tendangan jarak jauh Nani. Mereka yang serentah berteriak setengah putus asa saat Rooney mencetak gol ketiga. Serta menyaksikan momen penuh harapan akan kebangkitan saat tiba-tiba Torres mencetak gol yang sangat indah ciamiks dan brilliant.
Adalah sebuah hal luar biasa, bisa ikut serta mencemooh Ronney yang terjatuh saat mengeksekusi penalty. Bisa ikut serta merasakan perasaan campur aduk antara marah, menyesal, dan takjub saat menyaksikan Torres yang berhasil dengan teknik cemerlang mengecoh kipper De Gea, berhadapan degnan gawang yang kosong, dan gagal mencetak gol. Kejadian yang belakangan dijuluki sebagai “One of the most extraordinary misses in the history of Barclays Premier League”.
Semua pengalaman dan perasaan itu terangkum menjadi sebuah euforia, perasaan senang dan marah, pengalaman akan militansi, perasaan mencintai dengan sepenuh hati, perasaan menyatu dalam kebersamaan. Sebuah kesempatan langka yang ketika mendekat, tak boleh disia-siakan. Theatre of Dream, adalah benar panggung pertunjukkan tempat terwujudnya mimpi-mimpi, meskipun kali ini resmi menjadi salah satu pertunjukan mimpi buruk bagi kita penggemar Chelsea.
March 05, 2012
by Okto Silaban at March 05, 2012 05:42 AM
Saya sering membaca tulisan dari orang – orang yang berkecimpung di dunia digital, yang “mengecam” maraknya perusahaan yang menggunakan asset digital (Facebook, Twitter, YouTube), dll tetapi hanya satu arah. Menurut mereka, social media itu harusnya dua arah. Penggunaan satu arah itu, salah kaprah.. Perusahaan – perusahaan ini harusnya aktif menggunakan Facebook, Twitter dan YouTube nya untuk merespon komunikasi yang datang dari user.
Menurut saya tidak begitu. Tidak semua social-media harus dua arah. Ada beberapa tipe penggunaan social media yang satu arah saja sudah cukup. Saya fokuskan disini untuk Twitter.
Sebagai contoh, saya mengikuti akun @kompasdotcom. Alasan saya mengikuti akun ini, karena ketika saya melihat timeline Twitter saya, pada dasarnya saya ingin tahu apa yang terjadi “saat ini”. Entah itu dari lingkungan teman – teman saya, atau dunia yang saya sukai (musik, open source, dll). Nah, jika saya mengikuti akun @kompasdotcom, harapannya saya juga bisa mendapatkan informasi apa yang terjadi “saat ini” di taraf lebih luas. Saya sendiri memang berasumsi bahwa twit dari @kompasdotcom memang bertujuan untuk “hanya” menyampaikan berita saja.
Analogi saya adalah seperti ketika ada rekan kantor yang nyolek saya sambil bilang “Eh.., tau gak, tadi ada pesawat alien jatuh di Sulawesi”. Kalau saya tertarik, saya akan tanya, info darimana? Lalu rekan saya itu memberitahukan darimana dia dapat infonya. Kalau dikembalikan ke contoh akun @kompasdotcom tadi, jika saya ingin tahu lebih lanjut, saya klik link yang diberikan.
Dengan jumlah pengikut (follower) yang sampai 1juta lebih, dan dengan sistem Twitter yang “menerima input” nya hanya via “mention”, secara praktis, tidak mungkin akun Twitter @kompasdotcom tersebut menjadi media komunikasi dua arah. Semua twit yang me-mention akun @kompasdotcom akan masuk ke “tab mention”, sulit dibedakan, mana yang memberi input, cuma komentar sambil numpang RT, atau sekadar mention iseng. (para “social-media-admin” pasti mengerti ribetnya hal ini). Kecuali, kalau bentuk Twitter seperti Plurk, dimana setiap “status” ditanggapi dalam kolom komentar masing – masing “status”, ini masih agak masuk akal.
Lalu bagaimana jika ada user yang mau memberikan input ke Kompas.com via Twitter? Anggap saja, misal selama 1 jam terakhir semua link yang di-twit @kompasdotcom error semua (beneran pernah kejadian), maka akun mana yang bisa digunakan untuk menyampaikan info ini? Hmm..,kalau dulu sih saya mention akun bosnya Kompas.com, om @etaslim
(maaf ya om, kalau habis ini jadi banyak yg mention).
Nah, mungkin untuk kasus di atas ini perlu dibuatkan akun satu lagi, misal : @kompas_admin. Akun @kompas_admin ini yang bertugas sebagai akun yang me-respon input dari user. Setiap mention ke akun ini, masuk ke sebuah sistem (bisa saja sesederhana forward ke email Corporate Affairs Kompas.com). Dari sistem ini, tim internal Kompas.com bisa mengekskalasi ke bagian – bagian terkait, untuk kemudian direspon lagi via Twitter. (sepertinya ribet memang, tetapi biasanya perusahaan – perusahaan besar itu memiliki protokol komunikasi yang cukup ketat, jadi maklum saja). Bagaimana pengikut akun @Kompasdotcom bisa tahu ada akun @kompas_admin? Ya selama beberapa waktu harus sering dipromosikan lewat akun @kompasdotcom. Setelah pengikutnya aware, maka tinggal diinfokan secara periodik (misal sehari 1 kali).
Jadi, Kompas.com maintain 2 akun dong? Ribet beneeeerr.. Ya dengan kondisi seperti di atas, setidaknya ini menjadi solusi. Mungkin teman – teman punya solusi yang lebih baik? Silahkan share di bawah.
CATATAN : Akun @kompasdotcom ini cuma contoh, untuk akun portal berita lainnya pun kurang lebih sama.
[disunting kembali barusan, postingnya via email, pemisah alinea nya berantakan tadi]
by Tama (noreply@blogger.com) at March 05, 2012 05:37 AM
Aku suka menggambar, sejak dulu kala, sejak kecil. Waktu SMP, nilai pelajaran kesenian, terutama yang melibatkan seni rupa selalu tinggi, selalu lebih tinggi beberapa derajat dari seorang Firman (nama sebenarnya), sainganku untuk meraih rangking satu, seorang yang sungguh jauh dari seni. Dulu pernah juga ikut semacam lomba-lomba menggambar begitu (dan tak pernah menang :D ). Tapi, setidaknya gambar-gambarku populer. Berbagai tawaran menggambar datang dari teman-teman satu sekolahan.
Akhirnya ku gambar buku-buku tulis mereka, untuk mengisi jam pelajaran yang membosankan, dengan gambar-gambar apa saja. Dari buku-buku tulis, akhirnya gambar-gambar itu merambah ke buku pelajaran, akhirnya ke buku Lembar Kerja Siswa (LKS). Sehingga LKS matematika yang menanyakan soal-soal pelik pada zamannya itu diisi dengan gambar kapal, mobil, dragon ball, doraemon dsb. Akhirnya ibu guru marah, dan pembuatnya lepas tangan..
 |
| gambar penutup buku cerita tentang teman-teman satu SMP |
Sewaktu SMA kebiasan menggambar masih berlanjut, yaitu dengan mengambil penjurusan seni rupa di kelas dua, seingatku pesertanya tak sampai lima orang. Betebaranlah kami, pada jam pelajaran kesana kemari, mencorat-coret rupa apa saja seperti orang gila.
Lalu, sejak kuliah di teknik sipil, yang sebenarnya aku ingin mengambil jurusan arsitektur, hobi menggambar dihentikan. Sehari-hari biasanya hanya menatap kagum anak-anak jurusan seni rupa yang bertebaran melukis di sudut-sudut kampus. Sejak bekerja juga tak menyentuh pensil, karena telah tersedia teknologi untuk menggambar konstruksi gedung, jalan dsb secara praktis di komputer.
Lalu, sejak patah hati, putus dengan pacar, akhirnya mulai menggambar lagi. Niatnya untuk melepaskan perasaan secara perlahan-lahan, ke bentuk tulisan dan gambar. Aku menulis banyak, juga menggambar banyak. Perasaan konsentrasi saat menggoreskan pensil di kertas itu terasa menyenangkan, melatih kesabaran, menghaluskan perasaan, membuatku melupakan kesedihan-kesedihan.
 |
| very pathetic, gambar mantan yang kubuat di atas meja rapat dengan uang seratus |
 |
| masih gambar mantan, di atas kertas A4 |
Suatu waktu, saat sudah berhenti bekerja, kuputuskan untuk mengisi waktu senggang dengan kembali menggambar, mencari guru melukis. Aku menemui salah seorang tokoh pelukis lokal, kulihat lukisan-lukisannya yang sangat luar biasa yang akan segera dipamerkan di gallery. Saat ku katakan padanya untuk minta diajarkan melukis, dia tidak bersedia, karena tidak pernah menerima murid. Ya sudahlah, tapi dia juga memberi beberapa petuah seperti “practise makes perfect” dan “an eraser is illegitimate for a painter”, pesan yang kedua itu cukup filosofis.
Kutangkap maknanya bahwa ketika salah menggores di sketsa atau lukisan, tak perlu dihapus, karena kesalahan itu sendiri pada akhirnya akan memperkaya dan memberi bentuk lukisan itu, membuatnya lebih bermakna dan special. Seperti juga kesalahan-kesalahan kita dalam hidup, tak perlu dihapus, tak perlu dilupakan, tak perlu disesali, karena itu akan memperkaya jiwa kita membuat kita lebih arif menyingkapi tantangan-tantangan hidup lainnya. Luar biasa, master Tobing.
Lalu, mengikuti pesannya, aku mulai berlatih dengan menggambar beberapa teman dekat selain juga menjadikan diri sendiri sebagai objek dalam rangka mengejawantahkan perasaan narsis. Setelah lama berlatih, sepertinya tak juga banyak perkembangan, ya sudahlah, toh aku menggambar cuma sebagai hobi dan mengisi waktu senggang, bukan untuk menjadi sebenar-benar seniman.
Salah satu hasilnya seperti gambar di samping ini, adalah gambar buat hadiah ulang tahun seorang teman sekelas di Jogja, yang waktu itu sudah bertunangan, dan sekarang telah menikah. Seorang wanita yang cantik dan baik hati. Begitu saja, cerita berakhir, tamat.
Di bawah ini adalah gambar seorang teman juga, seorang wanita yang unik, kalau tidak dikatakan aneh. Digambar untuk memenuhi permintaannya, karena udah terlanjur mengiyakan. Ketika mendapat berita buruk bahwa nilai-nilai tidak ada yang A, terjangkit stress, perlu pelampiasan, akhirnya aku mulai menggambar ini.

Sekedar menyimpulkan, sebenarnya aku tidak terlalu berbakat, karena begitu dilihat lagi, selalu masih ada kekurangan-kekurangan di gambar-gambarku, tapi kegiatan ini cukup bermanfaat untuk mengusir stress atau menenangkan diri. Ketika butuh menenangkan diri, selain dengan beribadah dan sejenisnya, biasanya aku menggambar, atau menulis, atau membaca buku, atau (dulu) bermain gitar, atau mencari satu dua teman untuk berbica satu dua hal, begitu saja..
by Okto Silaban at March 05, 2012 04:06 AM
Quote yang penting untuk kelas menengah di Indonesia.
“Jadi, biarkanlah mereka berdiri di atas panggung utama Indonesia untuk saat ini. Beri mereka kesempatan untuk mengajar di Indonesia Mengajar, menjadi relawan yang menanam pohon sembari menjadi advokat di konsultan tambang, menjadi pegawai bank sembari mencicil Nissan Juke, berkicau di twitter tentang orang utan sembari menabung di bank Sinarmas. Ngeblog tentang Lapindo dengan modem Aha.
Setidaknya mereka semua mendukung timnas ketika bertanding di GBK. Setidaknya. ”
Tulisan lengkap : http://everlastinggaze.net/?p=523
February 28, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at February 28, 2012 09:33 PM
Karena itu salju, sehingga untuk mencarinya kami harus menempuh perjalanan jauh melewati berbagai benua dan samudera.
Karena itu salju, sehingga kami menembus dinginnya udara kota menuju yang lebih dingin lagi di pedesaan dan perbukitan.
Karena itu salju, sehingga dengan mata berbinar akhirnya kami menatap bulir-bulir kecil yang perlahan turun dari langit sebagai sebuah berkah yang menjawab panjatan doa-doa selama musim dingin.
Karena itu salju, sehingga bulir-bulir halus itu berubah menjadi gumpalan-gumpalan perpaduan Kristal dan kapas yang luruh begitu di sentuh, yang mengisi seluruh ruang dan waktu.
Karena itu salju, sehinga kami melangkahkan kaki dengan riang, menapaki karpet putih di jalanan yang terasa lembut dan lumer ditapaki.
Karena itu salju, sehingga kami tergesa mendaki bukit demi melihat lebih jelas peradaban dan segala sesuatu yang memutih serta menimbulkan pesona magis.
Karena itu salju, sehingga tumpukan itu kami raup, dan kami lemparkan kepada orang-orang yang membutuhkan, yang mengakibatkan terjadinya perang.
Karena itu salju, yang membuat orang-orang belajar memaknai momen penciptaan dengan berkreasi mebuat manusia salju yang selalu bisa tersenyum.
Karena itu salju, yang membuat rumah yang selama ini membosan dan mendingin menjadi terasa lebih hangat dan nyaman.
Karena itu salju, yang telah lama kami nanti-nantikan, sehingga yang kini kami butuhkan hanyalah seorang puteri, untuk melengkapinya menjadi kue puteri salju.
by Tama (noreply@blogger.com) at February 28, 2012 09:33 PM
Name: WTA
Nationality: Indonesian
ITS Programme: MSc (Eng) Transport Planning and Engineering
Funding/Scholarship: Scholarship from Ministry of Education and Ministry of Transportation Republic of Indonesia
Undergraduate/Bachelors degree & University: Civil Engineering, Bandung Institute of Technology (ITB)
ITS dissertation topic: Transport in developing countries: Willingness to pay estimates for travel & transport facilities
What is it about transport that interests and motivates you to study it?
Transport is something we find in our daily life and closely related to the economic performance, society and welfare. It is an interesting area because we can manage to provide an efficient use of transport system, which will reduce transport cost for both passenger and goods, so that people can use their money to other purposes such as health, education and entertainment, in other words, it improves their quality of life.
Why did you decide to study at ITS? [rather than somewhere else]
ITS from University of Leeds is one of the best university in the world for transport studies. Many transport experts and teacher from my former University studied in ITS, in addition to numbers of great transport experts and well known writers from all over the world. I like to follow the paths of those great people and also intended to feel the experience of British educational system, that’s why I chose ITS.
How would you describe the experience of being an ITS Masters student?
The experience of being ITS master student can be just described as amazing. The lecturers were great, the materials were up to date and the facilities complemented it into an amazing experience. I found the libraries provide a huge collection of books, videos, recordings and other collections. Moreover, the electronic resources were remarkable, where we can find papers, journals and other transport resources related to the study easily by using unlimited access from the university login.
What have you enjoyed most about the first semester and what are you looking forward to in the next semester?
I enjoyed the experience of being a policy maker, we set several objectives to be implemented through many policies and then we got the specific results on several indicators. It gave me the understanding and feeling of being a policy maker where the objectives usually constrained by resources and need to be managed into the effective and efficient way.
I’m looking forward to improve my knowledge about transport infrastructure and modelling technique. I’m also struggling with the time management strategy, to manage my time through dissertation, modules assignment and all other social activities.
What have the lecture and seminars been like? And the teaching staff?
The lectures and modules have been great; along with the seminars it gave us recent issues of transport applications, how to solve the problems, and how to improve the result after the evaluation. The lectures usually begin with some general understanding to come into small details and examples.
The teaching staffs were the experts of each program. We have a discussion board to get our questions regarding the coursework answered. At the beginning of each module the teaching staffs give their email to contact if we have other inquiries. Sometimes the lecturers deliver the material in a compact way, so that we need to do a lot of self study to understand all the materials.
How have you found living in Leeds and being part of the University?
Leeds is a small city, which is suitable for studying. Living in Leeds has been wonderful, the people were friendly, and many of them were students from all over the world. We have a lot of cultural differences, but people give their respect each other in term of this. Sometimes to see people got drunk made me feel inconvenient, because I’m a Moslem. However, I can easily found halal food in the city center as well as around the university. The university also provide green room for student doing daily praying in the university. It makes me feels comfortable ever since the beginning when I step foot in the University.
What do you aim to do once you’ve completed your Masters? [next steps, career plans etc]
My scholarship is from Ministry of Transportation and Ministry of Education with the requirement to work there after the study, therefore I will try to do my best to implement as much as possible everything that I’ve got from my study. I hope the knowledge will be useful to make a better transport system in order to make better life for people in my country.
Do you have any advice for anyone thinking about studying for a Masters in transport at ITS?
Anyone willing to study in ITS should try harder to get into the university. Prepare for all the new experience, self-discipline and self-study. Get ready for the English accent, which is slightly different to American English. Be prepared for the weather as well, although eventually we don’t mind it.
February 25, 2012
by Takodok! at February 25, 2012 12:03 PM
Choose your future. Choose your life. But why would I want to do a thing like that?
I chose not to choose life. I chose something else. And the reasons?
There are no reasons. Who needs reasons when you’ve got heroin? (Renton, Trainspotting)
Sepupu saya pernah merekomendasikan film ini. Dan ternyata seleranya memang bagus. Berkisah tentang Mark Renton, “a bad person” dan pemadat yang bermain yoyo dengan nasibnya. Sebentar menantang sistem kenormalan, besoknya berusaha keras ikut arus.
Rasanya ini juga film anak muda, tidak melulu Dead Poet Society. Ada benang merahnya kok; young and reckless. Tapi tentu tonton lah dengan jernih.
.
Kebiasaan menumpuk buku ternyata jadi distraksi ampuh. Saat membongkar tumpukan yang belum terbaca, atau hanya sempat dibaca sekilas, saya menemukan Mademoiselle Fifi-Kumpulan Cerpen Guy de Maupassant yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Seperti biasa, terjemahannya bagus sekali dan membuat saya makin salut kepada pekerjaan ini karena tidak mudah mentransfer satu bahasa ke bahasa lain.
Dari 25 cerita pendek, baru 11 cerita yang saya lahap. Yang paling menarik adalah cerita yang berjudul Kumis. Seorang istri mengeluh panjang lebar kepada teman korespondensinya tentang sang suami yang mencukur kumisnya dan bahwa kumis adalah gaya khas pria Prancis. Hahaha.
.
Cukup dua ditraksi saja yang saya bocorkan. Ah, tak apa. Kan akhir minggu. Selamat bersenang-senang!
February 24, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at February 24, 2012 06:32 PM
I was having so much stress preparing my research progress report, while an email from the beloved supervisor came, he said: "Hi Wahyu, I may not be in tomorrow. Can we meet on Monday?"
Should i replied: "That's very unfortunate sir. I've missed you already, I can't wait to meet you.."
While in my heart i said: "Horeeeeey yess yess yess!!"
Then i made this fried rice as a modest celebration.. cheers.. :D
 |
| makan, makan sendiri. minum, minum sendiri. cuci baju sendiri, tidur pun sendiri.. :p |
February 22, 2012
by Okto Silaban at February 22, 2012 09:41 AM
Dulu saya selalu bertanya – tanya, kenapa perusahaan – perusahaan besar itu tidak mau atau sulit sekali untuk pindah ke Linux. (Maksud saya tidak sekadar pindah server ya, tetapi pindah desktop full). Melihat lebih dekat, sekarang saya lebih mengerti kenapa. Uraian lengkapnya nanti saya buat dalam tulisan tersendiri.
Nah buat yang bener – bener mau migrasi desktopnya ke Linux (dalam hal ini Ubuntu) mungkin bisa lebih siap dengan membaca PDF Five Golden Rules for A Sucessful Ubuntu Desktop Migration dari Ubuntu ini. > http://pages.canonical.com/rs/canonical2/images/enterprise-desktop-migration-ebook2.pdf
February 21, 2012
by Okto Silaban at February 21, 2012 10:03 AM
Kalau ini bisa muncul, berarti posting dari email sudah bisa jalan. *cuma penasaran aja dengan plugin ini.
February 20, 2012
by Takodok! at February 20, 2012 09:11 AM
Dahulu kala ada sebuah Kerajaan yang semua penghuninya hidup abadi. Tapi masalahnya dengan tak ada orang yang meninggal, Kerajaan menjadi penuh sesak. Maka Sang Raja yang terjepit di istananya sendiri memberikan sebuah titah.
“Rakyatku, silahkan pilih satu orang dari keluarga kalian untuk mati. Kita akan mengadakan eksekusi massal yang akan memberikan ruang yang dibutuhkan. Maaf karena akan menyingkirkan yangg lain, tapi begitulah aturannya.”
Dan masing-masing keluarga datang bersama martir mereka. Semua, kecuali satu keluarga.
“Yang Mulia, kami tak bisa memutuskan. Kami saling menyayangi satu sama lain jadi kami semua ingin mati bersama.” kata sang Ayah.
“Oh tidak, mereka semua tidak boleh mati. Mereka punya toko roti. Mereka membuat roti kayu manis terbaik di pulau ini.” kata nenek pemilik toko rempah-rempah.
Lalu sang Ayah menawarkan “Bagaimana jika kami masing-masing memotong bagian tubuh kami? Dan dengan semua bagian tubuh itu digabungkan, itu akan seperti satu orang berkurang di kota ini.”
“Menarik. Hmmm… Lanjutkan!” Raja pun setuju.
Tapi anak perempuannya menolak. “Tapi Ayah, aku suka bagian tubuhku.”
“Jangan egois. Apa kau lebih suka salah satu dari kami mati?” hardik sang Ayah.
“Kalian boleh potong lenganku.” kata sang Kakak Laki-laki.
“Aku akan berikan telinga kananku.” sang Ibu menambahkan.
“Aku tak bermasalah kehilangan beberapa jari.” sang Kakek juga berpartisipasi.
“Aku akan berikan hidungku.” ujar sang Ayah.
“Berikan aku sepotong kaki, dan kita sepakat.” kata Raja.
Lalu anak perempuan yang sudah tersudut akhirnya berkata, “Yah.. setidaknya aku masih punya kaki satunya lagi. Baiklah, aku setuju.”
Maka anggota keluarga itu masing-masing menyumbangkan satu bagian tubuhnya.
Setelah penjagal melakukan tugasnya, keluarga itu tak enak dipandang dan bisnis mereka menjadi buruk. Jadi keluarga itu mulai menjual roti kayu manis mereka melalui kiriman ke Kerajaan sebelah. Dan karena tak ada yang perlu melihat mereka, mereka laku keras, dan mereka menghasilkan banyak uang. Lalu sang Ayah berkata pada puterinya,
“Kau lihat apa yang bisa kita capai jika kita selalu bersama?”
Tamat
Sumber: An Invisible Sign
.
Kalimat and they live happily ever after tidak cocok untuk dongeng di atas. Sudah lama kita, para orang dewasa (bah!), sepakat bahwa akhir bahagia cenderung dipertanyakan karena di manakah sebenarnya letak akhir itu? Kelulusan? Pekerjaan nyaman? Pernikahan? Keluarga? Masa pensiun yang damai? Kematian? Surga? Neraka? Surganya neraka? Purgatory?
Di hari yang cerah ketika rasa optimis bersinar terang, kita, para orang dewasa (bah!), akan mengingatkan diri bahwa yang terpenting adalah bagaimana kita mengisi proses perjalanan ini. Apa makna manis yang bisa kita cecap nantinya saat beristirahat di hari (lebih) tua, ketika kita menoleh ke belakang dan berujar, “Saya sudah berusaha dan saya bangga karenanya.”
Tapi saat pendar kesinisan menyeruak di hari kelam, bahkan kita, para orang dewasa (bah!), ingin berteriak, “Screw this!” lalu lari ke hutan belok ke pantai kemudian piknik di Gunung Padang.
And this is one of that gloomy day. Dear my new crush, screw you!
February 18, 2012
by Takodok! at February 18, 2012 05:07 PM
Segelas coklat hangat menemani saya mendengarkan lagu ini, berulang-ulang, tadi sore. Perlahan kerutan di kening mengendur dan cengiran jelek terbentuk di wajah. Mendadak langsung merasa berbunga-bunga. Padahal tak ada yang sedang melempar perhatian berselubung kalimat sarkas
.
She may be the face I can’t forget, the trace of pleasure or regret, may be my treasure or the price I have to pay.
She may be the song that summer sings, may be the chill that autumn brings, may be a hundred different things within the measure of a day.
She may be the beauty or the beast, may be the famine or the feast, may turn each day into a heaven or a hell.
She may be the mirror of my dreams, the smile reflected in a stream.
She may not be what she may seem inside her shell.
She, who always seems so happy in a crowd, whose eyes can be so private and so proud, no one’s allowed to see them when they cry.
She may be the love that cannot hope to last, may come to me from shadows of the past, that I’ll remember till the day I die.
She may be the reason I survive, the why and wherefore I’m alive, the one I’ll care for through the rough in ready years.
Me, I’ll take her laughter and her tears and make them all my souvenirs, for where she goes I’ve got to be, the meaning of my life is she..
She, oh she…
——————————–She – Elvis Costello
Simon Cowell bilang Charles Aznavour’s “She” is “one of the most beautiful songs of all time. Setuju. Liriknya bikin merinding. Terimakasih Rise sudah mengingatkan pada lagu ini
.
Dan malam ini saya tiba-tiba tersadar betapa hidup hanyalah soal coba-coba. Empat tahun lalu saya akan mati-matian mencari bahan obrolan. Sekarang? Jika ia tidak tahan bersama dalam hening lantas menjadi canggung, yah.. Selamat tinggal
by Tama (noreply@blogger.com) at February 18, 2012 05:12 AM
(21:00:00 GMT) Yeah I'm awesome, I'm feeling great, tonight I'll do the same thing I do every night, try to take over the world!
(21:00:10 GMT) It needs some resources to conduct, a literature would help in determining the methods, stated preference modeling would be perfect..
(21:00:30 GMT) Hmm, the book consists of too many alphabets, need more concentration and convenient position to get a comprehensive understanding..
(21:01:05 GMT) yeah, as i predict, the method to take over the world is not as simple as it seems, it really confusing, i have to carry on reading..
(21:05:10 GMT) No, I just contemplating about one or two things from the book..
(21:11:12 GMT) Zzzzzzttttttttt...... Yeah, I'm dreaming about take over the world..
This is my daily problem, the literature, the lights, the musics, the weather, the warm duvet, it just perfect to slips me into unconsciousness..
February 12, 2012
by Ferdy Ferdian at February 12, 2012 03:57 PM
I got the chance to meet one of Liverpool legend, Dietmar Hamann, tonight in Brunei Darussalam. ‘Didi’ Haman was playing for Liverpool from 1999 to 2006. In 191 of his appearances, our own ‘Didi’ managed to score 8 goals. Hamann very much gain his first English trophies in 2000-2001 season: FA Cup, UEFA Cup, and [...]
by Takodok! at February 12, 2012 02:20 AM
Hari Selasa kemarin saya berceloteh tentang blog. Lalu jadi malu sendiri karena frekuensi menulis di sini makin menurun dari hari ke hari. Apa daya, babak baru menyita perhatian dan adaptasi di sana agak kurang mulus. Mudah-mudahan satu tahun lagi saya bisa menertawakan diri sendiri di tempat baru, atau di rumah, mana saja yang terbaik. Minta doanya ya?
Oke itu curhatnya. Sekarang ke bagian menyenangkan. Apa lagi kalau bukan bacaan dan tontonan yang membuat tetap waras dari bulan Januari-pertengahan Februari.
Sherlock TV Series
Saya terlambat tau serial keren ini. Sebagai bukan-penggemar-berat-Sherlock dan punya kecenderungan jatuh hati pada tokoh antagonis dan pemeran figuran, tentu mata langsung tertuju pada Martin Freeman. Lama-kelamaan hubungan Sherlock-John Watson di serial ini makin menarik hati dan mata. Apalagi “cinta segitiga” Sherlock-John-The Woman atau Sherlock-John-Moriarty. Uhhhh.. gemas!
One Day
Sudah cukup lama saya mendengar film ini dari twitter penulis Entrok, mbak Okky Madasari. Dua minggu lalu saya dapat file-nya dari seorang teman. Ceritanya bittersweet, jenis yang biasanya membuat saya kecanduan. Tapi tidak untuk yang satu ini. Mungkin karena jalinan adegan per adegan (bagi saya) kurang mulus? Entah. Mungkin perlu membaca novelnya? Bisa jadi.
Real Steel
Mau liat aktor pujaan wanita? Ada. Adegan bak-buk-bak-buk? Ada. Keren banget. Plus robot-robotan. Ceritanya pun pas kriuknya. Ditambah saya tonton tanpa tau sama sekali garis besar ceritanya. Awalnya malah saya kira sejenis robocop
Durasi memang terasa agak lama, tapi untung saja penyelesaian ceritanya asik.
Ra-One
Ahem. Kalo mau banyak ketawa, tontonlah film ini. Untung saja ada Arjun Rampal yang memanjakan mata. Ahem.
Green Lantern
Superhero satu ini baru pertama saya dengar. Ya maap, memang kuper sih. Baca di wiki, katanya dapat banyak kritik negatif. Rotten banget malah. Terus kok masih ditonton? Bukannya Captain America aja bikin ketiduran? Ngggg… (1) ada Ryan Renolds, (2) iseng, (3) green is the colour of will!
Win-Win
Film satu ini kayaaaaa banget. Salah satu favorit saya sejauh ini. Bercerita tentang pengacara baik hati yang menjadi wali bagi kliennya yang tua dan pikun dengan tujuan mendapat dana pengasuhan 1500 dolar per bulan. Curang? Yah, dia cuma bertahan hidup. Masalah timbul saat cucu si klien datang berkunjung dan akhirnya tinggal bersama sang pengacara dan keluarga. Kalo suka Little Miss Sunshine, kemungkinan besar akan suka film ini juga.
Hangover Part II
Mengulang formula film pertama dengan setting tempat berbeda dengan hasil cukup mengundang tawa. Nuffsaid.
.
Untuk bacaan, selama bulan Januari ada dua novel Jeffery Deaver (awesome!) dan beberapa graphic novel/komik. Salah satunya The Quitter yang sudah dibahas sebelumnya. Sedangkan di bulan Februari saya baru menyelesaikan tiga novel ringan.
- Dexter In The Dark : Cerita detektif psycho ini.. kurang memuaskan. Mungkin otak saya yang terlampau kusut untuk memahami humor di dalamnya.
- Mr. Monk Goes To Firehouse : Kalo yang ini, juara! Penyelesaian kasusnya tidak luar biasa tapi sisi pribadi Monk yang digambarkan eksentrik dan gila keteraturan membuatnya jadi bacaan yang menyegarkan. Tsaaahh bahasanya.
- The Ghost : mirip sekali dengan filmnya. Kalo disuruh memilih, saya pilih bukunya. Maaf ya, mas Ewan
Lumayan banyak juga ya? Seperti kata orang bijak; study hard, play harder.
Cheerio!
February 04, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at February 04, 2012 06:09 AM
Jika menjejakkan kaki di tanah Inggris, maka salah satu tujuan wisata yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari seorang pembaca karya-karya Andrea Hirata adalah Edensor. Edensor adalah desa yang dideskripsikan Andrea Hirata di novel Laskar Pelangi dengan kutipan-kutipan dari buku If Only They Could Talk karya James Herriot, desa yang diceritakan menjadi tujuan perjalanan Ikal di buku Edensor.
Edensor berada di wilayah Peak District, dekat kota Sheffield. Perjalanan dari Leeds menuju Sheffield bisa ditempuh dalam waktu satu jam dengan kereta yang tiketnya seharga 7 Pounds. Bus yang melewati Edensor bisa didapat di Stasiun Bus yang jaraknya lima menit jalan kaki dari Stasiun kereta Sheffield. Frekuensi bus adalah setengah jam sekali pada hari kerja dan hanya sejam sekali pada hari libur dengan tiket pulang-pergi 5 pounds.
Perjalanan dengan bus yang berhiaskan pemandangan kota-kota kecil yang di latarbelakangi bukit dan lembah kehijauan berlangsung selama satu jam. Jalan berkelok-kelok persis seperti dalam deskripsi buku Edensor. Semakin lama ditempuh, semakin kota-kota tersebut beralih menjadi desa, semakin kecil, semakin hijau.
 |
| Bus Stop at Chatsworth |
Bus berhenti di pemberhentian Chatsworth, dimana terdapat objek wisata Chatsworth House, adalah rumah besar tempat tinggal Dukes of Devonshire. Tempat yang menjadi salah satu setting adegan di film Pride and Prejudice, film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Jane Austen. Bangunan kuno megah yang dikelilingi dengan taman dan air mancur yang indah serta tetumbuhan menjalar yang berbentuk labirin besar merupakan daya tarik wisata utama di sekitar tempat ini.
 |
| Chatsworth House |
Namun, bagi orang Indonesia pembaca Laskar Pelangi, menemukan Edensor tetap merupakan prioritas utama, tak tergantikan. Dari Chatsworth House, Edensor bisa dicapai dengan berjalan kaki melalui sebuah bukit.
 |
| Autumn Leaves |
Sejauh mata memandang terhampar landscape hijau diantara pepohonan dengan dedaunan yang memerah menjelang musim gugur. Hidup dari rerumputan hijau itu beribu domba yang bertebaran dan menjalani hidup dengan damai, tanpa beban, hanya perlu makan. Orang-orang yang memiliki penyakit sulit tidur sebaiknya segera datang ke sini dan mulai menghitung domba-domba tersebut.
 |
| count the sheep |
Setelah berjalan menelusuri jalan setapak berbatu yang menembus bukit, berpapasan dengan beberapa turis lokal yang ramah, akhirnya sampai di sebuah gereja dengan rumah-rumah di sekelilingnya. Papan nama gereja itulah satu-satunya bukti formal bahwa ini adalah Edensor. Gerbang desa berukir ayam jantan dan papan nama Edensor tak ditemukan, sehingga menerbitkan niat di dalam hati untuk membuat sendiri papan nama itu di rumah dan memasangnya di salah satu jalan ke arah desa, lalu berfoto di sana.
 |
| Edensor |
 |
| Edensor Sign |
Namun demikian, suasana desa, hawa sejuknya, udara yang sangat segar sehabis hujan, bebukitan yang menghampar tak beraturan, sungai berair tenang yang berliku membelah ladang, rumah-rumah petani yang terbuat dari batu berwarna kelabu, tanaman bunga di pekarangan dan pagar, aneka pohon apel yang bertebaran di antara rerumputan hijau. Semua terangkai dengan bingkai langit biru dan sekelompok awan sisa hujan yang berarak mengejar burung-burung yang terbang bebas, melengkapi gambaran indah yang menciptakan suasana damai. Edensor, sungguh tempat dengan pesona surgawi yang dapat menentramkan hati, layaknya seorang kekasih.
 |
| farm house |
Jika memiliki kekasih, maka tempat ini akan menghadirkan keinginan untuk membawanya duduk dan bercengkrama di bawah salah satu pohon apel itu, di musim dimana bunga-bunga bersemi, mekar berwarna-warni yang harum semerbak mewangi.
 |
| take you to there |
Jika telah berpisah dengan kekasih, maka tempat ini akan menghadirkan berbagai pengandaian bahwa mesin waktu bisa ditemukan untuk kembali ke masa lalu, sekedar menculiknya dan membawanya duduk dan berbagi cerita di bawah salah satu pohon apel itu, di musim dimana bunga-bunga sedang berseri sehingga dapat membuat cinta bersemi kembali.
 |
| the river knows |
Jika mempunyai domba, maka tempat ini akan menghadirkan pengandaian untuk membawa domba itu dan melepasnya untuk bergabung dengan domba-domba lain yang sedang berbahagia memakan buah apel yang jatuh sebagai kudapan diantara rerumputan hijau dan tanaman berbuah ceri.
 |
| shaun the peaceful sheep |
Jika hanya seorang diri, tidak punya kekasih, tidak punya mantan kekasih, dan tidak punya domba, betapapapun menyedihkannya, cukuplah duduk berdiam diri di bawah salah satu pohon apel itu, dengan kemungkinan menemukan teori gravitasi baru, yang kabarnya ditemukan Newton karena di ilhami kejatuhan buah apel itu.
 |
| to find gravity theory |
Edensor, selalu akan menjadi sumber dari berbagai inspirasi. Menjadi inspirasi bagi banyak orang Indonesia untuk berkelana ke negeri Britania Raya, menjadi inspirasi untuk menulis novel dan film romantis, menjadi inspirasi untuk menemukan teori gravitasi, sebagaimana juga menjadi inspirasi untuk menulis cerita perjalanan di blog ini. Suatu saat di musim semi, kita akan ke sana lagi.
“Sure Love, It’s Edensor.”
***
February 02, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at February 02, 2012 08:00 PM
Ayahku, sekarang sudah berpulang ke tempat yang dituju semua manusia. Rangkaian peristiwa yang mengiringi kepergiannya berjalan begitu cepat, sehingga kami sekeluarga terkadang masih merasa heran, seperti sedang mengalami mimpi buruk dan berharap akan ada orang-orang yang terjaga yang segera membangunkan.
Ayahku, semasa hidupnya adalah orang yang polos dan sederhana. Beliau selalu berkata-kata dengan lugas. Memaksudkan apa yang dia ucapkan dan mengucapkan apa yang dia maksudkan. Selalu mengajarkan kejujuran dan kerendahan hati. Seorang yang terkadang tak terlalu banyak bicara, tetapi sering mengajak kami bercanda-tawa.
Ayahku, semasa hidupnya seorang yang selalu memiliki teman di mana saja, kemana kami pergi selalu ada satu dua orang yang akan bertegur sapa dengannya, selalu ada satu dua orang yang akan diajaknya berbicara. Selalu ada orang-orang yang memandang suka padanya dan bercanda-tawa.
Ayahku disamping pekerjaannya yang baru setahun menjalani pensiun, telah didaulat menjadi seorang ketua RT seumur hidup oleh para tetangga, tentu saja bukan karena beliau sangat cocok untuk jabatan itu, tapi sejak beliau terpilih tak direlakan untuk melepas jabatannya dan tak ada yang mau bersusah-susah menggantikannya. Seperti para pemilihnya memilih cuci tangan. Sehingga panggilan Ibu RT masih melekat pada ibu sampai jauh hari setelah kepergiannya.
Ayahku, terlihat seperti sudah ingin memiliki cucu, selalu mengajak bermain anak-anak yang datang ke rumah. Sesekali menyindir abangku kenapa tak segera menikah, juga menanyakan padaku apakah tak ingin segera punya anak. Aku yang tak terlalu menanggapi dan belum sanggup menyanggupi perkatannya dulu.
Ayahku, senang mendengarkan lagu-lagu berirama nostalgia, lagu-lagu berbahasa jawa atau Qur’an Syeikh Gomidi di waktu senggangnya. Sesekali mendendangkan lagu-lagu itu dengan cara yang sangat kurindukan, sesekali mengikuti melantunkan bacaan-bacaan Qur’an. Sekali waktu dia akan menanyakan padaku ini itu ini itu tentang permasalah agama yang sedang dikajinya, yang kujawab dengan itu ini itu ini sepengatahuanku. Sesekali dia akan menanyakan apa-apa yang ku kerjakan, yang tak selalu ku jawab dengan cara yang benar.
Ayahku, dalam pada itu selalu dalam kondisi sehat. Badannya yang berisi, yang selalu mengisi waktu senggang dengan berkebun. Beliau yang mulai menceritakan mimpinya untuk kembali ke desa tanah kelahirannya yang katanya sangat subur dan hijau, untuk menjadi seorang petani. Sampai kami menyadari, ternyata dalam fisik yang terlihat sehat itu terdapat sebuah penyakit yang berbahaya, yang sudah menggerogoti lima tahun lamanya.
Ayahku, ketika keluar dari ruang dokter bersama ibu, terlihat tertekan karena diagnose tumor ganas itu. Namun dalam perjalanan pulang beliau hanya mengajak kami bersenda gurau dan tertawa-tawa, sehingga tak terasa pedih lagi hati kami akibat berita itu. Sehingga bisa kami tersenyum meski sebelumnya mata memerah. Sehingga kami belajar bagaimana tegar terhadap suatu masalah.
Ayahku, akhirnya berjuang dengan mencari berbagai pengobatan, tapi tak sabar menunggu hasilnya karena tekanan perasaan sakit itu. Kejadian-kejadian rumit yang sebegitu rupa sehingga pada akhirnya membuat kami menyerahkan semuanya pada ilmu kedokteran modern yang pada kenyataannya selalu mengutamakan opsi operasi dibanding yang lainnya.
Ayahku, akhirnya dirawat di rumah sakit pusat negeri ini. Sampai suatu waktu datang sebuah surat persetujuan operasi yang terpaksa ayah dan aku tanda tangani untuk menerima semua resiko yang bisa terjadi. Hingga akhirnya beliau terbaring lemah tak bisa berbicara lagi setelah operasi yang kelihatannya berhasil itu. Hingga begitu banyak dan macam obat yang harus diterimanya. Sampai ginjalnya gagal berfungsi, sehingga racun menyebar diseluruh tubuhnya. Air matanya menetes dan hanya menggeleng setiap kali ibu usap. Sehingga kami yakin ada dosanya yang diluruhkan karena perjuangan atau kesabarannya menahan perasaan sakit itu, selama dua bulan di rumah sakit itu.
Ayahku, seolah-olah hanya memikirkan kami pada masa terakhirnya, setelah beberapa hari dinyatakan kritis itu. Sehingga ketika ibuku mengatakan merelakannya, beliau baru bersedia pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Untuk menghilangkan sama sekali rasa sakitnya, dalam keadaan tenang. Selama masa itu ibu menjaga dan memaninya tanpa pernah merasa lelah, tanpa pernah satu kalipun mengeluh, juga tak pernah menunjukkan rasa putus asa akan sebuah kesembuhan.
Ayahku, mungkin tak tau isi pikiranku, bahwa aku merasa tak mungkin bisa menjadi seorang dokter yang layak untuk merawatnya. Yang sangat menghargai arti sebuah nyawa. Yang bisa menganggap seorang pasien seperti keluarganya sendiri. Yang bersedia meluangkan waktu untuk berbicara seperti seorang teman. Yang tidak membedakan seorang pasien berdasarkan uang yang dimiliki. Yang bersedia memberikan senyum yang tulus bukan karena pekerjaan. Yang bisa memilih kata-kata agar tidak menjadi bualan karena berusaha menentramkan dan tidak pula menyakiti karena menyampaikan kebenaran. Yang tidak memberi solusi dengan memberikan obat bagi setiap gejala secara parsial. Yang memahami ada faktor psikis dalam setiap tindakan fisik. Yang tidak menganggap memahami probabilitas, dan menyampaikannya dengan layak, sebagai kemewahan.
Ayahku, mungkin tak mengetahui perasaan anak-anaknya. Perasaan yang campur aduk karena kehilangan. Yang sedang belajar menerima setiap musibah meski kelihatannya selalu bertambah. Yang berusaha memandang semua dari sudut paling baik yang mungkin dilakukan. Yang terkadang merasa menyesal karena belum bisa mempersembahkan apapun yang terbaik seperti yang beliau inginkan.
Ayahku, mungkin tak bisa melihat. Masa-masa ketika aku memeluk dan menenangkan kakak perempuannya yang meratapi kepergiannya. Masa-masa ketika aku menenangkan ibuku yang menangisi kepergiannya. Masa-masa ketika kami terduduk lesu dan tak berdaya mengubah satu dua tindakan di masa lalu. Masa-masa ketika mereka melamun sejenak ketika membicarakannya.
Ayahku, tentu tak bisa melihat rumahnya yang ramai didatangi oleh para tetangga selama seminggu penuh setelah kejadian itu. Tamu-tamu yang datang sampai memenuhi halaman pada hari ke-empat puluh sejak kepergiannya. Orang-orang yang membacakan ayat suci Al Quran dan mendoakan kebaikan baginya. Pak Lurah kenalannya yang selalu datang di setiap kesempatan. Teman-teman dekatnya yang turut menyesal merasa kehilangan. Anaknya yang berkelimpahan air mata saat mengingat dan mendoakannya.
Ayahku, pasti mengetahui betapa sempurna dan mulianya agama kami. Bahwa ketika buku hidupnya telah ditutup masih akan ada amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang bisa menambah catatan kebaikannya. Bahwa suatu saat akan ada masanya ketika dia dan keluarganya bisa dipertemukan kembali.
Ayahku, mungkin bisa merasakan kehadiran anak-anaknya di sekitar pusaranya. Yang terkadang berbicara sendiri seolah-olah beliau ada dan mendengar, yang dalam bicaranta sering mendadak terbata dengan mata berkaca-kaca, yang hanya bisa menyampaikan rindu dengan taburan bunga-bunga yang basah, yang hanya memperlihatkan bakti dengan membersihkan rumput-rumput liar, yang hanya menyampaikan salam dengan doa dan harapan.
Ayahku, boleh jadi bukanlah ayah terbaik di dunia. Tapi tentu saja beliau tetap ayah terbaik untukku, yang telah melimpahkan kasih sayang, perhatian, pengetahuan, harapan dan segala yang dia punya kepada anak-anaknya. Yang menatap anak-anaknya dengan perasaan senang dan bangga, meski tak selalu mengatakannya...

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Ampunilah kesalahan dan kekhilafannya, dengan ampunan yang menyeluruh
Limpahkanlah rahmat kepadanya, dengan rahmat yang luas
Peliharalah dia dari siksa kubur dan azabnya dengan nikmat, rahmat, cahaya, dan keindahan hingga hari berbangkit nanti.
Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Jadikanlah Al-Qur’anul Karim dan amalnya sebagai penghibur di alam kuburnya,
Sebagai pemberi syafaat di hari kiamat
Sebagai sinar, naungan dan penunjuk jalan pada hari perhimpunan semua makhluk
Sebagai pemberat amal baiknya pada hari penimbangan
Sebagai cahaya dan penuntunnya pada shirath
Sebagai penutup dan penghalang terhadap siksa neraka
Dan sebagai temannya di dalam surga.
Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Engkaulah sebaik-baik pemberi peristirahatan, sebaik-baik pemberi nikmat, sebaik-baik pemberi rahmat.
Kami memanjatkan doa dengan penuh pengharapan kepadamu agar dia senantiasa mendapatkan syafaat, nikmat, dan rahmat.
Amin, Yaa Rabbal’alamin
January 30, 2012
by Takodok! at January 30, 2012 02:10 PM
I’m definitely a quitter. But life goes on and at certain point i stop being quitter then make another dull-mistakes. Classy, huh?
Itu curcolnya. Yang jadi inspirasi curcol *halah* adalah komik yang baru-baru ini saya baca; The Quitter.

Pada masa kegelapan yang belum lama berselang, saya berkenalan dengan nama Harvey Pekar. Saat itu kebetulan saja membaca tentang American Splendor yang dipuji oleh sebuah majalah sebagai film yang “berbeda”. Dengan semangat yang selayaknya diaplikasikan di bidang akademis, saya mulai mencari informasi yang berkaitan dengan film ini. Ternyata ia adalah adaptasi dari komik yang cukup populer(?) di negara asalnya. Lalu potongan info ini meredup di tengah gempuran berbagai hal yang dipaksa masuk ke kepala. Sampai akhirnya yang teringat secara samar hanyalah nama Pekar (yang bagi saya) cukup unik.
Dua minggu lalu saya menemukan komik bersampul merah ini di tumpukan diskonan (!), 10 ribu saja. Sewaktu membeli, saya masih belum ingat pernah sangat penasaran terhadap America Splendor. Baru di ujung The Quitter saya berujar, “Ooooohh ini kan…”
Nah, ini bukti bahwa apa yang (pernah) membuatmu penasaran akan bertahan lama pesonanya. Parah.
Berhubung ini masih autobiografi, ceritanya tidak bombastis dan tokoh utamanya kurang menarik simpati. Boleh dibilang Pekar ini benar-benar menyebalkan, egois, selalu mencari pengakuan dari orang lain. Sungguh mengingatkan akan sebagian dari sifat saya sendiri.
Akhir cerita (lagi-lagi) dijabarkan tidak bombastis, seakan-akan punya sederetan karya berupa komik adalah hal yang biasa saja. Memang Pekar hanya seorang pensiunan pegawai administrasi pemerintahan, tapi masa sih sebegitubiasanya? Film adaptasi American Splendor sempat dinominasikan sebagai Best Adapted Screenplay di Academy Award tahun 2003 lho. Apa ini termasuk jurus merendah untuk meninggi?
Malah nuduh yang bukan-bukan. *tepok jidat*
Hikmah dari komik ini: Pekar yang gampang menyerah bisa punya karya. Pekar yang tidak menyerah mungkin bisa jadi profesor di universitas kampung halamannya, tidak membuat komik, lalu tidak akan ada postingan ini dan saya pun kehilangan momen “Ih kok mirip eik yaaaaa…”
Permisi, mau merenungkan masa depan dulu.

by Tama (noreply@blogger.com) at January 30, 2012 02:46 AM
Semakin banyak pengetahuan mengenai akibat buruk rokok baik secara global dan lokal membuat banyak orang semakin antipati terhadap rokok. Sulitnya mengupayakan perubahan secara struktural, kultural dan sosial pada akhirnya membuat pergerakan bergerser ke ranah individual, wilayah yang paling kecil, yaitu bagaimana membuat orang per orang berhenti merokok. Ada banyak kisah sukses orang yang berhenti merokok sebanyak kisah gagalnya.
Buatku, persoalan berhenti merokok ini dulu terasa sangat jauh di mata dekat di hati. Ada keinginan di dalam hati untuk berhenti secepatnya, yang sayangnya selalu berakhir dengan kegagalan. Seorang perokok sering berhenti merokok ketika sakit, ketika batuk, atau sakit yang agak parah seperti gejala tyfus dsb, biasanya rasa rokok menjadi tak enak. Sewaktu kuliah, beberapa kali aku berhenti merokok dengan alasan ini. Beberapa saat setelah sembuh, akhirnya kembali merokok lagi, begitu berulang kali.
Salah satu yang membuat orang bisa berhenti merokok adalah alasan, latar belakang, motivasi. Motivasi bisa membuat orang melakukan hal yang sulit menjadi mudah, hal-hal yang kelihatan tidak mungkin menjadi mungkin.
Salah satu motivasiku adalah keluarga. Saat pulang ke rumah, di sana ada ayah, yang sudah berhenti merokok selama beberapa tahun terakhir. Beliau tak suka melihatku merokok, meski beliau tak menyuruhku berhenti merokok, beliau hanya mengatakan, “Kurangilah rokok itu, nanti badan terasa lebih enak”. Aku tak terlalu mengerti apa yang membuat ayah dulu secara tiba-tiba berhenti merokok, sementara teman-temannya di lingkungan pekerjaan maupun di sekitar rumah tetap dengan kebiasan merokok. Aku juga tak terlalu mengerti bagaimana caranya beliau dengan serta merta berhenti merokok.
Pernah suatu saat, saat ayah sedang di rawat di rumah sakit, satu ruagn dengannya ada pasien yang dirawat karena kerusakan paru-parunya, yang kelihatan sangat menderita. Ayah mengatakan: “Lihat, itu akibatnya karena kebanyakan merokok.” Lagi-lagi tidak menyuruh berhenti merokok. Akhirnya aku malah berjalan keluar dari gedung, mencari sebuah pojok, dan merokok. Adegan itu tersimpan di benakku dan pada akhirnya menguatkan alasan untuk berhenti merokok.
Setelah motivasi, faktor penting berikutnya untuk berhenti merokok adalah momentum, yaitu kapan kita akan berhenti untuk merokok. Momentum ku datang ketika berhenti bekerja dan memulai kuliah. Berhenti bekerja pada umur dua puluhan mengandung konsekuensi untuk menanggung biaya hidup sendiri berbekal tabungan yang sudah terkumpul.
Kuliah master membutuhkan biaya besar, mulai dari tempat tinggal, transportasi, buku, makan, hiburan dsb. Untunglah diterima beasiswa sehingga tidak harus mengeluarkan biaya 38 juta buat SPP. Namun, ternyata dengan pola hidup seperti masih bekerja, mengerucutnya uang tabungan tetap saja jauh lebih cepat daripada menggelembungnya, hal ini menambah motivasi dan menjadi sebuah momentum yang tepat untuk berhenti merokok.
Akhirnya aku memutuskan untuk mulai berhenti merokok, asbak yang baru seminggu dibeli langsung kusingkirkan. Namun, berhenti merokok ternyata cukup sulit untuk dilakukan dengan serta merta, aku menetapkan dalam hati tidak akan membeli berbungkus rokok seperti biasanya. Akan ku kurangi jumlahnya secara signifikan, jika biasanya sebungkus sehari, menjadi sebatang sehari.
Biasanya keinginan untuk merokok datang paling kuat saat selesai makan, maka setiap kali selesai makan daripada menyalakan rokok, aku mengambil permen. Bermacam jenis permen dengan berbagai warna dan rasa pernah menghiasi meja belajar. Padahal terlalu banyak mengkonsumsi permen tidak baik juga karena dapat merusak gigi.
Merokok juga memiliki hubungan dengan konsentrasi. Semakin rutin dan banyak mengkonsumsi rokok disinyalir akan mengurangi kemampuan berkonsentrasi. Mungkin karena merokok itu adalah kegiatan yang berupa kebiasaan, yang dilakukan dengan menggerakkan tangan tanpa perlu konsentrasi. Sehingga aku mencari cara untuk meningkatkan konsentrasi, dengan menekuni hobi seperti menggambar, menulis dsb.
Merokok berhubungan erat dengan stress, setiap kali stress hasrat merokok biasa datang. Itulah kenapa kebanyakan orang miskin justru semakin sulit berhenti merokok seberapa mahal pun harganya, karena rokok membantu mengalihkan perasaan stress mereka. Maka aku harus mencari cara mengurangi stress, bisa dengan berbagai hiburan musik, film, buku, dsb.
Untuk membantu konsentrasi sekaligus mengurangi stress biasanya cara yang efektif berzikir, membaca Qur’an secara rutin, serta sesekali membaca Yasin dan Tahlil. Dengan demikian pikiran menjadi lebih tenang, lebih sedikit stress, dan konsentrasi semakin meningkat. Bisa dipakai buat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti belajar dan sebagainya.
Merokok berhubungan erat dengan pergaulan. Banyak remaja yang memulai rokok dengan alasan pergaulan. Berkumpul dengan perokok akan menyebabkan kita ikut merokok, maka aku kurangi pergaulan. Jika biasanya pada kuliah S1 selesai kuliah segera nongkrong di himpunan melakukan kegiatan apa saja yang ramai-ramai, maka sewaktu kuliah S2 setiap selesai kuliah segera pulang ke rumah, kecuali jika ada ajakan makan siang dari teman-teman.
 |
| freedom! |
Kesemuanya itu saling bantu-membantu untuk membuatku berhenti merokok. Pada akhirnya, pada hari itu, tanggal 28 Oktober 2010, aku tetapkan sebagai hari behenti merokok, sekaligus untuk memperingati hari sumpah pemuda. Dengan semangat para pemuda yang telah berjuang mempersatukan bangsa aku sepenuhnya berhenti merokok.
Semua ternyata bisa dilakukan tanpa perlu biaya besar, tanpa perlu konsultasi ke dokter, tanpa perlu menggunakan hipnotherapi, tanpa alat-alat pengganti nikotin. Dan ternyata benar apa yang pernah ayah katakan, bahwa ketika berhenti merokok badan akan terasa lebih enak, lebih tenang, lebih jarang sakit, lebih hemat, aroma mulut lebih baik, dan bermacam kelebihan lainnya.
Alhamdulillah.
January 29, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at January 29, 2012 06:34 AM
Setelah sebelumnya menulis tentang rokok dan bermacam hal yang berkaitan dengannya, kali ini aku akan menulis tentang merokok, berdasarkan pengalaman pribadi. Ada baiknya aku memulai cerita sedari awal. Sewaktu SD, saat teman-teman mandi di sungai, beberapa orang mulai membawa rokok, entah kebiasaan yang berasal dari mana. Waktu itu aku mencoba, tapi langsung terbatuk-batuk tak menyenangkan. Sewaktu SMP saat beberapa teman semakin banyak yang merokok, aku juga tak mencoba, bahkan termasuk grup anti perokok. Sewaktu SMA, karena disiplin sekolah yang ketat bersama kehidupan asrama, aku pun dijauhkan dari rokok.
Ada sebuah kecendrungan bahwa anak-anak muda belia yang masih berseragam dan bercelana pendek itu akan kelihatan lebih keren dan lebih berani bila mereka sudah mulai merokok. Anggapan yang sangat konyol memang, saat itu mereka merokok karena pergaulan. Hal yang tidak berlaku buatku.
Namun, pada hari yang tidak baik itu, sekitar tahun ketiga kuliah di Bandung, aku duduk seorang diri diantara warung-warung makan di Gelap Nyawang. Itu adalah saat aku memikirkan persoalan yang seakan tak memiliki penyelesaian, sedang tak ada seorang teman untuk berdiskusi atau sekedar bercerita. Lalu kuhampiri abang di salah satu kios, membeli sebatang rokok, rokok Gudang Garam (garpit). Untuk yang tidak mengerti rokok, jenis ini ada pada tingkat yang lebih berat, lebih banyak kadar tar dan nikotinnya dibanding rokok seperti Sampoerna atau Marlboro. Kenapa kupilih merek itu? karena aku telah mencoba Sampoerna dan tak merasa ada sesuatu yang istimewa.

Sejak saat itu, rokok telah jadi salah satu teman saat sepi, saat membaca buku sambil menghirup secangkir kopi, saat mengerjakan tugas-tugas di malam-malam panjang, saat memikirkan hal-hal yang nonlinear. Lalu perlahan rokok juga menjadi teman di saat ramai, saat rapat-rapat di himpunan, saat diskusi-diskusi kemahasiswaan, saat obrolan malam-malam di kampus yang tak jelas juntrungan. Salah satu lagu The Doors favoritku kala itu adalah “Soul Kitchen”, dimana salah satu liriknya “Speaking secret alphabets, I light another cigarette, learn to forget”.
Perokok jenis garpit adalah yang terlangka di himpunan di zaman itu, dimana orang-orang selalu membawa rokok jenis Jarum Super dan mild. Tak ada yang menyukai rokok garpit selain orang-orang tertentu, aku menyebutnya rokok dengan idealisme, out of mainstream. Saat rapat dan biasanya orang melempar rokoknya untuk dibagikan ke forum, maka kulempar sebungkus penuh rokok garpit dengan maksud untuk berbagi, akan dilempar kembali kepadaku dengan penuh juga dengan imbalan cercaan.
Singkat cerita, kebiasaan merokok ini terbawa hingga saat bekerja. Semakin berat beban pekerjaan, semakin banyak merokok, sehingga aku tak terlalu menyukai bekerja di ruangan ber AC yang hanya bisa merokok saat istirahat makan. Saat bekerja di lapangan, semakin banyak pula konsumsi rokok, saat itu bisa mencapai dua bungkus sehari. Sebungkus mild dan sebungkus garpit.
Jadilah sebagai seorang Engineer, yang mengurus pekerjaan di kantor dan di lapangan, mengurus apa saja, selalu dengan dua bungkus rokok di kantong. Orang-orang di lingkungan proyek sudah mengetahui kebiasaanku, bahwa saat aku mengeluarkan garpit, berarti pekerjaan sedang sulit dan suasana hati sedang tidak bersahabat. Sedangkan saat aku mengeluarkan rokok mild, berarti pekerjaan lancar, dan pikiran sedang tenang.
Sebenarnya aku ingin berhenti merokok. Waktu itu aku pernah membuat catatan dalam hati, aku akan berhenti merokok jika sang pacar memintaku untuk berhenti, kemauan dari sang pacar mungkin bisa menjadi motivasi yang kuat untuk itu, namun ternyata sang pacar yang baik hati tidak memintaku untuk berhenti, meski juga tidak suka melihatku merokok. Maka, aku mengurangi kegiatan merokok saat sedang bersamanya. Saat berada di dekatnya, setidaknya dia tak akan terkena oleh asap rokok ku.
Aku pernah dengan konyolnya mengatakan bahwa rokok adalah salah satu bahasa universal, ada saat ketika seorang pria bertemu dengan pria lain, mulanya tidak saling tegur sapa. Salah seorang pria akan menghidupkan rokok, dan menawarkan pada pria di sebelahnya. Pria di sebelahnya tak perlu menjawab, hanya dengan memberikan isyarat tangan bahwa dia tak perlu rokoknya, lalu segera mengeluarkan rokok sendiri. Lalu mereka merokok bersama, dan percakapan pun dimulai, suasana menjadi lebih cair. Mereka menjadi bersahabat secepat frekuensi isapan dan hembusan asap dari rokok yang bergemeretak.
Jika di satu sisi faktor kesehatan dan sebagainya memberikan berbagai dasar dan argumen kenapa orang harus berhenti merokok, di sisi lain para perokok selalu bisa memberi berbagai argumen untuk tetap merokok. Ada sekian banyak argumen untuk merokok, sebanyak argumen untuk tidak merokok.
January 23, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at January 23, 2012 04:24 AM
Baru saja bangun tidur tengah malam, membuka komputer dan mendapati postingan pada facebook mengenai rokok: Vanguard: Sex, Lies, & Cigarettes, "Smoking Baby" and Big Tobacco in Indonesia dari link youtube. Vanguard ini serial dokumenter yang mengeksplorasi tentang isu-isu global yang berdampak sosial luas seperti kriminal, perdagangan obat-obatan dan pemberontakan bersenjata. Dan ternyata kasus perokok di Indonesia termasuk salah satu bagian dari hal-hal diatas.
Tayangan itu dimulai dengan menceritakan pusat kota Newyork yang penuh dengan semua jenis advertising, kecuali satu: rokok, yang sudah dilarang oleh pemerintah. Juga diceritakan bahwa harga sebungkus Marlboro 12 USD. Lalu reporternya terbang ke Indonesia dan mengatakan perjalanan itu seperti perjalanan menembus waktu, dimana dia kembali ke masa lalu di negaranya, masa dimana iklan rokok bertebaran dimana-mana dan industry rokok sangat berkembang. Harga sebungkus rokok hanya 1.2 USD saja. Indonesia adalah the new Marlboro country.
Diceritakan tentang para perokok yang kebanyakan adalah anak muda, tentang anak usia 2 tahun yang sudah kecanduan rokok, tentang industry rokok yang ingin mendapatkan lebih banyak anak muda merokok sebagai investasi untuk masa depan perusahaan, tentang aturan tentang rokok yang selalu gagal disepakati oleh anggota DPR karena intervensi perusahaan, tentang orang-orang yang berjuang untuk mencegah semua itu terus berlanjut beserta pro dan kontra nya.
Iklan rokok di Indonesia memang sangat banyak, bertebaran di sepanjang jalan dari perkotaan hingga pedesaan. Di perkampungan kecil antara Aceh dan medan saja balihonya sangat membius: “Ini Panamas Bung!”. Iklan televisinya selalu jadi salah satu yang terbaik, sangat masal dan keren yang tentunya berbiaya besar. Iklan dari setiap event juga tidak kalah banyak, setiap event musik besar selalu disponsori oleh rokok, sponsor untuk acara olahraga juga rokok, tanpa rokok entah bisa atau tidak orang Indonesia mengelar liga sepakbola indonesia atau menonton liga inggris. Sebuah fakta yang.. menggiriskan.
Industri rokok memang agak susah dihilangkan dari Indonesia. Penyerapan tenaga kerja yang sangat banyak, sekitar 6.1 juta orang bekerja di Industri itu, sekitar 33.2 juta jiwa jumlah orang yang bekerja terkait langsung dengan industry rokok, belum lagi jumlah pedagang asongan yang mendapat penghasilan terutama dari menjual rokok. Dengan kata lain, keberlangsungan hidup banyak orang tergantung di situ. Jumlah para perokok yang terus bertambah, bahkan perkembangan perokok wanita meningkat pesat karena mengikuti perkembangan pergaulan. Pengharaman oleh MUI yang selalu menghadapi pro dan kontra, serta kemungkinan besar adanya campur tangan perusahaan-perusahaan untuk mengatur regulasi melalui anggota DPR. Belum lagi penghasilan Negara yang dihasilkan dari pajak rokok yang katanya mencapai sepuluh persen dari APBN.
Akhir kata, berhubung pagi sudah menjelang dan perlu tidur lagi, aku hanya bisa menyimpulkan bahwa permasalah rokok ini, memang adalah permasalahan sulit, dilematis. Seperti dulu setiap kali seseorang mengingatkanku untuk berhenti merokok, aku selalu bilang. “Untuk memikirkan permasalahan-permasalahan sulit gw perlu merokok, untuk berhenti merokok gw perlu memikirkan kenapa dan bagaiman caranya, karena ini adalah permasalahan sulit.” Sehingga makin sering aku ingin berhenti merokok, semakin banyak aku merokok. Dan, begitulah seterusnya..
Referensi:
http://www.youtube.com/watch?v=hG8vw3MRRyM&feature=related
http://current.com/shows/vanguard/93219795_sex-lies-cigarettes-vanguard-sneak-peek.htm
http://www.smallcrab.com/kesehatan/541-demi-uang-indonesia-korbankan-kesehatan-masyarakat
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/11/02/lu16en-industri-rokok-enggan-cantumkan-gambar-akibat-merokok-di-bungkus-rokok
January 20, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:17 PM
Malam ini, barusan saja tadi.
Aku berjalan-jalan, keliling kota sendirian. Sendirian? ya biasalah, karena kebanyakan teman jauh, dan mantan kekasih juga jauh, sudah biasa aku keliling sendirian. Meski juga kota ini adalah kota kelahiran. Keliling kota sendirian biasanya hanya akan membuat kita merasa gundah, seperti tak punya teman.
Aku bertemu teman, namanya Eca. Teman baru, baru saja berkenalan. Kami bercerita-cerita sebentar, sebentar saja, tak berlama-lama. Dia bercerita tentang pekerjaannya, tentang keluarganya, tentang bagaimana dia merasa bosan dengan pekerjaannya dan ingin berkeluarga, lalu menjadi ibu rumah tangga saja. Umurnya baru 21 mungkin, dia sudah merasakan kegelisahan itu, apalagi aku yang sekarang sudah berumur... entah berapa, tak jadi masalah, hanya belum ketemu jodoh. Kami mempunyai keinginan yang sama, tapi aku tau, kami tidak akan menjalaninya bersama.
Lalu aku pulang, entah kenapa terasa perasaanku berbeda dari sebelum-sebelumnya. Aku mengamati sekeliling, kulihat ada orang-orang berjualan di pinggir jalan. Berjualan apa saja, padahal ini sudah malam, waktunya tidur. Mungkin jam kerja mereka berbeda dengan jam kerja kebanyakan orang lain.
Salah satunya ada yang berjualan martabak bangka, Bangka? Perasaan ku selalu sedikit bergetar mendengar kata bangka, sedikit saja, tak perlu banyak-banyak. Aku hampiri, meski tak begitu lapar, mungkin ada orang-orang lain di rumahku atau di mana saja yang nanti bisa ketemu, yang perlu ku belikan makanan. Kalaupun tak ada, aku tetap akan membeli hanya untuk membuat penjualnya senang.
Yang menjual seorang Bapak memakai kopiah, seorang ibu memakai jilbab yang mungkin isterinya, juga seorang anak perempuan yang sama mungkinnya adalah anak mereka. Mereka bekerjasama dengan sinergis untuk menyediakan pesanan. Aku senang sekali melihat mereka. Mereka berusaha hingga semalam ini, yang kulihat disepakati oleh hampir semua orang sebagai pukul 11 malam. Mereka berusaha mencari penghasilan dengan cara yang baik. Mereka terlihat ceria, dan sepertinya tidak sedang memaki kehidupan yang membuat mereka masih bekerja hingga semalam ini. Dan banyak orang-orang seperti mereka ini. Yang bekerja dari cinta, oleh cinta, untuk cinta. Cinta yang universal maksudku, cinta kepada kehidupan dan pemberi kehidupan, bukan cinta sempit menggebu-gebu yang kurasakan kepada mantan kekasihku sampai saat ini.
Aku seolah-olah mendapat sedikit perasaan dari mereka, tertular sedikit. Aku merasa nyaman, merasa dipenuhi perasaan sayang. Entah fenomena psikologi apa ini namanya. Aku berjalan pulang, mengucapkan terima kasih pada mereka. Aku jadi merasa menyayangi mereka, jadi merasa meyayangi kalian semua yang bekerja untuk untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik, aku menyayangi kalian yang berjuang untuk merawat anak-anak kalian, aku menyayangi kalian yang bekerja demi diri kalian sendiri, aku meyayangi kalian orang-orang yang lewat di jalan, aku meyangi orang yang tadi terlalu ngebut sehingga hampir menabrakku, yang menyadarkanku bahwa hidup perlu disyukuri, aku menyayangi kalian yang malam-malam begini sedang berkumpul di pinggir jalan, entah untuk tujuan apa. Aku meyayangi orang tuaku yang nanti akan terbangun untuk membukakan pintu. Aku meyayangi kalian semua teman-temanku, temanku yang sedang bersama anaknya yang kemarin ku datangi, temanku yang senasib dengan ku yang kemarin sama-sama mendatangi, teman-temanku lainnya yang jauh yang kadang-kadang mengirimkan pesan-pesan untuk menghiburku, juga teman jauh ku yang menceritakan kesedihannya untuk mendapat hiburan dariku. Orang-orang yang telah ku kenal dan yang akan ku kenal. Aku menyayangi kalian semua.
Aku sedang tak membenci kalian, pemerintahku. Karena toh kalian bekerja demi kepentingan banyak orang, dan selalu akan ada hal-hal baik yang kalian hasilkan. Hanya kami saja yang jarang menyadarinya, sehingga selalu mencari hal-hal buruk dari kalian untuk ikut kami sesali, karena sesungguhnya kami menyesali kehidupan kami sendiri, mungkin kami hanya mencari sesuatu dari luar diri untuk melampiaskan sedikit rasa marah. Aku sedang tak membenci artis-artis atau tayangan tentang artis ini artis itu yang sering terasa betapa tak pentingnya, kalian juga manusia yang perlu disayangi, yang perlu pencapaian. Aku sedang tak membenci orang yang telah merebut mantan kekasihku. Aku sedang tak membenci diriku yang tak berhasil menjaga perasaan mantan kekasihku. Aku sedang tak membenci apapun. Karena kita semua sama, hanya sedang menjalani peranan yang sedang dipilihkan untuk kita, jika kita menolak menjalani peran ini, berusaha saja, masih banyak peran lain yang bisa dimainkan.
Entah berapa lama perasan ini akan bertahan, aku sadar, mungkin tak lama. Karena jiwa masih berfluktuasi dan mencari titik kesetimbangannya. Karena selalu akan ada masalah di setiap hari yang kita lalui. Masalah yang selalu saja, jika diurai akan semakin panjang, dan jika digulung akan semakin pendek. Aku masih percaya, semua akan indah, kalau tidak pada saat ini, mungkin sekejap kemudian, atau beberapa kejap kemudian, tak perlulah jumlah kejapan itu kita hitung. Hanya percaya, itu saja yang kita butuhkan.
Aku meyangi kalian semua.
Salam.
Catatan 25 Januari 2010
by Tama (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:14 PM

Sedikit saja berbaring, saat sedang lelah, aku segera tersedot dalam pusaran yang meluruhkan diriku dan menyatukannya lagi pada suatu tempat yang baru kuketahui apa setelah aku tak berada di sana. Aku menjelma pada sosok yang tak kuketahui sebagai aku, aku menjadi sesuatu yang hanya kurasakan, bahwa itu aku.
Aku adalah burung, yang terbang mengepak-ngepak sayap menikmati awan, melayang melalui dorongan angin dan sewaktu-waktu memanjakan sayapku. Aku adalah burung itu yang mendadak jatuh berdebam ke rerumputan, dimana seorang anak kecil menemukanku dan membawaku pulang.
Aku adalah anak itu, yang berlari kegirangan membawa seekor burung tak berdaya yang kiranya terjatuh karena terlalu dalam mengukir jejak pada awan. Aku berlari-lari menuju satu arah. Ingin menujukkan apa yang kudapatkan kepada ayah, yang sedang menungguku di rumah.
Di tengah jalan, kulihat pohon-pohon mengembang meninggalkan gerak yang monoton. Mereka berjatuhan saling bersahut-sahutan membuat ku menghindar ketakutan dan menyelamatkan diri pada tempat yang tak pernah terpikirkan. Hanya satu yang ku tahu, aku terselamatkan.
Yang tak kusadari adalah bahwa pada saat berlari tubuhku mengembang menjadi seorang pemuda. Seorang pemuda yang pada saat melihat sekeliling, mendapari ternyata semua ruang, semua ruang yang ku pandang, hanya berwarna abu-abu. Aku tak bisa membedakan apa itu hitam, atau kah itu putih, semua hanya antara hitam dan putih. Sehingga dengan perasaan tak menentu aku mencari dimana sumber warna-warna berada. Siapa yang menyimpannya?
Aku menemukannya, pada seorang wanita, yang memberikanku setangkai kuas dan beberapa helai warna. Perlahan-lahan aku melukis komposisi sebuah pemandangan, tentu aku haru melukis ruang terlebih dahulu sebelum mulai melukis benda dan kata-kata. Tapi justru ku lukis hijau sebagai merah, biru sebagai kuning, dan hitam sebagai putih. Tidak bisa mewarnai sesuatu dengan komposisi yang sama dengan yang dipahami setiap orang lain.
Aku berlari lagi, ketika melihat bunga berwarna hitam yang berdaun jambu datang hendak menerkam. Mimpi apa ini? aku ingin keluar dari mimpi ini, dan memasuki mimpi yang lebih linear. Tentu harusnya aku berhak membuat dekorasi mimpiku dalam sebuah taman dimana suara air berpadu dengan hembusan angin meniup kelopak bunga ditunggangi lebah ke tempat mana saja yang mereka ingin suburkan.
Sampai suatu ketika kulihat seorang tua berwajah kejam, menatapku dengan sorot tajam, diiringi senyuman yang lebih mirip cibiran. Aku pernah melihat wajah itu, si tua penafsir mimpi sebagai Sigmund Freud, yang mendeteksi kegilaan orang lain dari obsesinya pada kegilaan diri sendiri. Apa kepentinganmu dalam mimpiku? Kusingkirkan manusia yang tidak relefan itu dengan kibasan tangan, dan kembali ke jalan. Kemana aku akan pergi? Bukankah aku tadi ingin pulang ke rumah, untuk menjumpai ayah?
by Tama (noreply@blogger.com) at January 20, 2012 06:09 PM
Yesus menjawab: “Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, aku mempunyai rasa welas asih kepada setan, setelah mengetahui keterusirannya dan aku juga mempunyai welas asih kepada umat manusia yang tergoda oleh setan sehingga berbuat dosa. Oleh karena itu, aku berdoa dan berpuasa untuk Tuhan kita, yang telah berfirman kepadaku melalui malaikat-Nya, Gabriel: “Apa yang ingin engkau peroleh, O Yesus, dan apa permohonanmu?” Aku menjawab: ”Rabb, engkau mengetahui apa yang menyebabkan setan berbuat kejahatan, dan bahwa melalui godaan-godaannya, banyak umat manusia yang binasa; dia adalah makhluk-Mu, Rabb, yang telah Engkau ciptakan; oleh karena itu, Rabb, berilah dia Rahmat-Mu.”
Tuhan menjawab: ”Yesus, perhatikanlah bahwa aku akan mengampuni dia. Hanya dengan mengucap: “Rabb, Tuhanku, aku telah berdosa, berilah aku rahmat-Mu.” dan Aku akan mengampuninya dan mengembalikannya dalam keadaan semula.”
“Aku merasa sangat gembira,” Kata Yesus, “Ketika mendengar ini, merasa yakin bahwa aku telah membuat perdamaian ini. Oleh karena itu, aku memanggil setan, yang kemudian datang berkata: “Apa yang harus aku lakukan untukmu, O Yesus?”
Aku menjawab: “Engkau akan melakukan ini demi dirimu sendiri, O setan, karena aku tidak menyukai layananmu, tetapi demi kebaikanmu sendiri, aku memanggilmu.”
Setan menyahut: “ Jika engkau tidak menghendaki layananku, maka begitu pula aku, tidak menghendakimu; karena aku lebih mulia daripada engkau, oleh karena itu, engkau tidak layak melayaniku-engkau tercipta dari tanah, sedangkan aku dari ruh.”
“Marilah kita tinggalkan ini,” Ucapku, “dan jelaskan kepadaku apakah tidak sebaiknya jika engkau kembali kepada keindahanmu dan keadaanmu pertama kali. Harus engkau ketahui bahwa Malaikat Michael di hari pengadilan nanti, mau tidak mau, akan menebasmu dengan pedang Tuhan sebanyak seratus ribu kali, dan setiap tebasan akan memberimu rasa sakit yang pedih setasa dengan kepedihan sepuluh neraka.”
Setan menyahut: “Kita akan lihat nanti, siapa yang dapat berbuat lebih; pastinya, aku mempunyai banyak malaikat di sampingku dan para penyembah berhala yang paling potensial. Yang akan mengganggu Tuhan, dan Dia akan mengetahui betapa besar kesalahan yang Dia buat dengan mengusirku demi segumpal tanah yang hina.”
Kemudian aku berkata: ”O setan, pikiranmu sangat lemah dan engkau tidak menyadari apa yang engkau ucapkan.”
Kemudian setan, dengan nada mengejek, menganggguk-anggukkan kepala, berkata: “Baiklah, sekarang marilah kita buat perdamaian antara aku dengan Tuhan, dan menurutmu, O Yesus, apa yang harus dilakukan, karena engkau berpikiran cerdas.”
Aku menjawab: “Hanya dibutuhkan dua kalimat untuk diucapkan.”
Setan menyahut: “Dua kalimat?”
Aku menjawab: “Begini: Aku telah berdosa; berilah aku rahmat.”
Setan kemudian berkata: “Sekarang, aku akan berdamai jika Tuhan mengucapkan dua kalimat itu kepadaku.”
“Sekarang, pergilah dariku,” kataku, “O makhluk yang terkutuk, karena engkau adalah dalang kejahatan bagi semua ketidakadilan dan dosa, tapi Tuhan-lah yang Maha Adil, tanpa suatu dosa.” Jawab Yesus.
Setan pergi sambil tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Tidak demikian halnya, O Yesus, tapi engkau menjelaskan suatu kebohongan untuk menyenangkan Tuhanmu.”
“Sekarang pikirkan,” kata Yesus kepada muridnya, “Bagaiman dia akan memperoleh Rahmat.”
Catatan:
Dialog ini adalah pengajaran Yesus kepada murid-muridnya, yang dikutip dari buku terjemah Injil Barnabas.
January 12, 2012
by Okto Silaban at January 12, 2012 03:46 PM
Jogja – Bandung
Suatu hari, beberapa tahun lalu, saya main ke kos seorang saudara di Bandung. Waktu itu saya masih kuliah, di Jogja. Kos saudara saya ini khusus cewek, tapi tamu pria boleh masuk (belakangan saya tahu boleh nginep juga.. *asal ndak ketahuan yang jaga). Setelah melewati beberapa kamar, saya tertegun, ada beberapa kamar yang terlihat ada sepatu atau sandal lelaki di luarnya, dengan pintu tertutup. Spontan saya berbisik ke saudara saya “Ini ada cowok ya di dalam?”. Dengan santai dia jawab, “Iya kali.. Biasa itu mah.”.
Mungkin sebagian dari anda heran, kenapa saya mesti heran. Waktu itu masih tahun pertama saya kuliah, dan saya masih fresh dari “daerah” (istilah orang Jakarta untuk orang dari luar pulau Jawa
). Bagi kultur saya, hal itu agak “janggal”. Terlebih saat itu juga saya anak kos, di Jogja. Di daerah kos – kosan saya, kulturnya serupa dengan kultur di daerah saya. Jadi, kalau di kos – kosan cewek, ada tamu cowok masuk ke kamar, secara otomatis mengikuti aturan tak tertulis “maka pintu wajib terbuka”. Begitu juga sebaliknya, untuk kos cowok yang didatangi tamu cewek.
Saya waktu itu berbisik lagi ke saudara saya dengan polos, “Kok pintunya ditutup ya?”. Dijawab juga dengan polos, “Lha kalau dibuka ya malu lah.. Keliatan dong lagi ngapa – ngapain. Hahaha..”. Terbalik rasanya dengan yang saya pahami kalau itu terjadi di Jogja.
Jakarta
Sekarang saya masih jadi anak kos juga, tapi di Jakarta. Untuk masuk ke kamar saya, melewati beberapa kamar. Sambil lewat, sekilas saya melihat sebuah kamar yang pintunya terbuka. Kamar ini yang menghuni cewek, baru semingguan. Saya melewatinya sambil iseng melirik ke dalam (kepo..), ternyata ada tamunya, cowok. Saya ingat beberapa hari lalu juga pernah pintunya terbuka lebar, ada tamu cowok juga. Sambil melewatinya saya berujar dalam hati, “Lah.. si mbak ini, ada tamu cowok kok pintunya dibuka sih. Tutup aja lah..”.
Bukan kos saya saja yang berubah, sepertinya saya juga berubah. Entah kenapa.
Catatan: Ndak semua kos – kosan di Jogja seperti saya ceritakan tadi. Itu hanya di daerah sekitar kampus saya saja.
January 11, 2012
by Ferdy Ferdian at January 11, 2012 04:13 PM
Well, it’s 2012. Listing out things that I want to achieve is pretty much make sense. In non-priority sequence, here goes: 1. Continue saving fund for further education. I’ve been doing this since I moved to Singapore. I spent quite a lot when I was working in Malaysia, partially because I was engaged at that [...]
January 09, 2012
by Takodok! at January 09, 2012 01:20 PM
..If someone prays for patience, you think God gives them patience? Or does he give them the opportunity to be patient?
If he prayed for courage, does God give him courage, or does he give him opportunities to be courageous?
If someone prayed for the family to be closer, do you think God zaps them with warm fuzzy feelings, or does he give them opportunities to love each other?
–God in Evan Almighty
Jadi, (katanya) hal terbaik yang bisa kita dapatkan adalah kesempatan. Pertanyaannya, seberapa jeli kita melihat dan menghargai kesempatan tersebut?
January 06, 2012
by Ekoputra Arif Budiman at January 06, 2012 11:36 AM
Hallo FM Lovers, Sudah memasuk bulan pertama tahun 2012, sudah sejauh mana pencapaian FM Lovers di jagat managerial klub Sepakbola anda ? apakah sudah treble ? membawa klub menjadi unbeatable ? sudah membawa divisi 3 promosi ke liga utama ? atau membawa Timnas Garuda ke Piala Dunia ? Well, saya teteeep menunggu sharing dari FM […]
January 04, 2012
by Tama (noreply@blogger.com) at January 04, 2012 06:00 PM
Perkembangan tulis menulis ku semenjak aktif menjadi seorang blogger dari tahun ke tahun bisa terlihat dari catatan arsip berikut ini.
2005: 50 posting
2006: 16 posting
2007: 6 posting
2008: 10 posting
2009: 4 posting
2010: 17 posting
2011: 30 posting
Ternyata kecenderungan menulisku berfluktuasi dari tahun ke tahun, alias tidak konsisten. Pada tahun 2005 dimana baru mulai mengenal blog, terasa begitu bersemangat dengan dunia baru dan masih kaya akan ide-ide segar sehingga bisa menghasilkan 50 tulisan setahun, rata-rata seminggu satu tulisan. Lalu intensitas menulis mulai menurun seiring dengan kesibukan mengerjakan Tugas Akhir dan kelulusan.
Karena kesibukan bekerja sejak pertengahan tahun 2006 maka kegiatan menulis menjadi semakin berkurang. Selain faktor kesibukan itu, sepertinya punya pacar merupakan salah satu faktor yang juga dominan. Sampai dengan tahun 2009 sedang berpacaran dengan seseorang, sehingga dalam masa-masa itu berbagai remeh temeh dan cerita sehari-hari hanya kepada sang pacar itulah disampaikan. Hingga dulu pernah menulis surat yang panjangnya 20an halaman sebagai hadiah ulang tahun sang pacar yang ke-20an juga. Diperlukan waktu selama sebulan berangsur-angsur untuk membuat surat itu, serasa seperti mengetik laporan penelitian, laporan yang membuai-buai tentang cinta dan semacamnya.
Jika melihat ke waktu yang lebih lampau, sebenarnya ini bukan pertama kali menulis, sejak kelas satu SMP aku sudah sering menulis. Waktu itu mulai menulis di kertas, dan diedarkan untuk dibaca oleh teman-teman sekelas, ceritanya melulu berisi lelucon dan humor yang panutannya adalah cerita Lupus oleh Hilman. Sejak kelas dua mulai menulis cerita bersambung di buku, bersama beberapa teman hingga menghasilkan dua buku tebal, selain mulai mengisi mading dengan berbagai pusisi abege dan gambar-gambar komik lucu.
Sewaktu SMA, aku menjadi staf OSIS untuk seksi keterampilan dan wiraswasta dimana salah satu pekerjaanya adalah mengurus penerbitan mading sekolah. Juga menulis untuk mading, beberapa buah cerpen dan gambar-gambar. Juga ditunjuk sebagai seksi dekorasi untuk membuat dan memasang rangkaian tulisan latar belakang panggung untuk berbagai acara-acara yang diselenggarakan.
Kembali ke masa kini, berhubung hati sedang sepi, tidak ada tempat berbagi, akhirnya blog menjadi salah satu media ekspresi. Mulai menulis lagi dengan panjang-panjang dan lebar-lebar. Mulai menggambar lagi di sela-sela waktu luang. Mulai membaca berbagai buku pegetahuan dan cerita berbahasa inggris. Mulai mendengar dan mengucapkan kata-kata bahasa Inggris sambil melatih logat british.
Tahun ini hampir berlalu. Setahun yang penuh warna-warni. Tahun depan sedang menanti, semoga membawa warna-warni cerita yang ceria. Akan kuceritakan lebih sering di sini, jika ada yang ingin mengetahui. Selamat tahun baru, sampai bertemu lagi, karena aku sudah harus bersiap-siap akan berangkant ke Scotland untuk merayakan akhir tahun di Edinburgh. Hal yang tahun lalu masih tak pernah terpikirkan akan terjadi tahun ini.
December 30, 2011
by Takodok! at December 30, 2011 01:41 PM
Akhirnya bisa mengakses blog ini lagi! Entah koneksi yang kurang mumpuni atau sebab lain, 2 minggu kemarin saya sama sekali tidak bisa masuk ke dashboard. Proyek postingan per hari di bulan Desember pun gagal. *senyum-senyum karena punya alasan*
Desember adalah bulan yang sangat menyenangkan. Dari sekian banyak alasan, salah satunya karena hari ini, 30 Desember 2011, adalah hari ulang tahun ke-4 Komunitas Blogger Sumatra Barat; Palanta.
Masih jaman ya komunitas-komunitas-an? Hohohohohohoho..
Tidak, kalo yang dicari cuma keuntungan semata.
Iya, ketika kita berniat baik dan berusaha tetap baik. Hehe.
Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya di twitter, ga nyangka setelah 4 tahun saya masih di kota ini, ketemu teman-teman lewat Palanta, dan menulis postingan ini. Dan kembali mengutip Ted Mosby,
“Friendship is an involuntary reflex. It just happens and you can’t help it.”
Saya mensyukuri teman-teman Palanta yang ada saat saya sedang kesusahan, mau ditodong bantuan, dan tentu saja siap sedia diajak berhuru-hara. Karena yang ingin saya temukan di sana adalah teman, maka saya mendapat teman. Memang ada pasang surut, orang-orang yang datang dan pergi, tapi di ujung Desember ini toh masih ada mereka yang bisa diajak berbagi tawa.
Besok kita akan merayakan pergantian tahun juga 4 tahun kebersamaan. Mau dibawa ke mana komunitas ini, biarlah angin yang menentukan. Walaupun si angin tak dapat membaca tapi ia sudah sukses jadi judul sinetron. Cukup bombastis, bukan?
.
Masuk ke area yang lebih pribadi. Tahun ini jelas banyak perubahan terjadi. Tapi biarlah Tuhan dan mereka yang berhak saja yang tau. Untuk resolusi tahun 2012;
BE A BETTER NINJA!
Yay!

December 25, 2011
by Tama (noreply@blogger.com) at December 25, 2011 05:42 AM
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas ibu.. ibu..
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas.. ibu.. ibu..
Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas ibu.. ibu..
Ibu, Iwan Fals.
Ibu, semoga segala berkah selalu tercurah untuknya, adalah orang yang telah mengandungku dengan susah payah, orang yang melahirkanku dengan bertaruh jiwa, dan orang yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang.
Ibu, semoga selalu dalam limpahan kasih sayang, tak pernah mengatakan menyayangiku, menyayangi anak-anak mereka, atau menyayangi siapapun, tapi menunjukkannya dengan tatapanya kepada anggota keluarganya. Menunjukkannya dengan ekspresi dan perbuatannya, dengan memanjakan kemauan anak-anak.
Ibu, semoga senantiasa berada dalam keselamatan, seringkali terlalu mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya, sehingga melarangku mandi di kali yang airnya deras, melarangku bermain jauh-jauh, melarang pulang terlalu malam, melarangku mandi hujan karena akan membuatku demam.
Ibu, semoga pengetahuannya cukup untuk menjadikannya bijaksana, tidak menyulitkan diri dengan membaca berbagai buku pedoman dan panduan. Semua peran dijalaninya seadanya dengan naluri yang sudah dimilikinya sedari awal. Dia mendapatkan perannya yang penting tanpa harus pula berteriak tentang emansipasi. Ibu tidak mencari peran dalam lingkup luas yang meliputi perjuangan nasional, pengentasan kemiskinan, pencerdasan bangsa, yang jelas semua peran untuk mendidik anak dengan baik telah dijalaninya dengan penuh pengabdian, dengan memberi kasih sayang dan tanpa pamrih. Dia yang hanya mencintai dengan sederhana, memberi contoh dengan perilaku, menjalani hidup dengan keikhlasan.
Ibu, semoga selalu dimudahkan segala urusannya, merupakan pengelola kehidupan keluarga yang mengatur anggaran biaya dan berbagai perencanaannya. Perannya di rumah tidak hanya untuk mengasuh anak-anak dan memasak setiap hari, tetapi juga untuk membantu mencari nafkah untuk melengkapi kebutuhan keluarga. Langkahnya akan selalu tegar meski terkadang bersusah-susah.
Ibu, semoga yang terbaik selalu dilimpahkan Allah kepadanya, selalu menuruti perintah dan kata-kata ayah, namun tidak jarang dia ada dibalik keputusan-keputusan penting yang ayah buat. Tidak jarang juga nasehat dan perasaannya terbukti benar, ketika ayah tak mendengarnya. Seperti ketika dia bilang untuk berhati-hati dalam menaruh kepercayaan pada seseorang, terbukti orang tersebut yang membuat kami sekeluarga harus bersusah-susah selama beberapa tahun.
Ibu, semoga senantiasa bahagia dengan kesederhanaan, menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Bekerja, memasak dan membereskan rumah di siang hari, beristirahat di malam hari sambil duduk bercengkarama dan menonton cinta fitri. Sesekali dia akan berkomentar ketika hal-hal tragis terjadi di televisi.
Ibu, semoga tercukupi segala kebutuhannya, di sela-sela hari dia akan menanyakan masakan apa yang anak-anaknya inginkan, ia akan suka menatap keluarganya yang sedang makan dengan lahap. Sesekali dibelikannya kepiting, kerang, dan udang besar-besar favoritku. Sesekali dimasakkannya tumis ikan asin yang selalu kurindukan.
Ibu, semoga selalu dimudahkan dalam urusannya, terbiasa dengan cara berpikir yang optimis yang selalu memandang ada jalan keluar dari semua permasalahan. Ketika aku dihadapkan pada pilihan antara keinginan ayah agar aku medaftar ke sekolah akademi seperti STPDN yang bebas biaya yang bertolak belakang dengan keinginanku untuk mendaftar perguruan tinggi yang membutuhkan biaya besar, Ibu mendukung kemauanku dengan tanpa syarat. “Dicoba saja.” Begitu selalu kata Ibu, hingga luluslah aku di ITB dengan mendapat beasiswa penuh.
Ibu, semoga keselamatan senantiasa bersamanya, selalu mengkhawatirkan keselamatan anaknya yang kesukaannya merantau jauh-jauh ini. Ketika berpamitan, terbesit kesedihan pada tatapan matanya, meski dia hanya tersenyum dan mengikhlaskan. Dalam malam-malamnya tanpa diminta dia selalu mendoakan.
Ibu, semoga selalu dikelilingi orang-orang yang menyenangkan, sehingga ibu-ibu di sekitar rumah selalu menyempatkan waktu mereka di pagi hari untuk datang sekedar bertegur sapa dan bercerita apa saja, yang mungkin menjadi pusat penghiburan mereka untuk mengisi waktu diantara kebosanan rutinitas sehari-hari.
Ibu, semoga selalu dalam lingkungan yang damai dan menyenagkan. Dia selalu membutuhkan kehadiran anggota keluarga di sisinya. Jika adik belum pulang hingga sore menjelang malam, maka dia akan bertanya-tanya sendiri kemana adik pergi, menyuruh menelepon dan mengirim pesan. Bila abang tidak pulang selama beberapa hari, dia bertanya-tanya apa saja kegiatannya. Untuk mengisi waktu kosongnya dia akan berkunjung ke rumah sanak family, bermain dengan cucu-cucunya yang lucu sekaligus nakal. Dia selalu senang mendengar rengekan anak-anaknya, yang menandakan bahwa kehadirannya sangat dibutuhkan, bahkan ketika semua anak sudah besar. Terhadapnya, semua anggota keluarga selalu merasa bisa bermanja. Meski entah kenapa, ketika beranjak dewasa kita jadi terlalu kaku untuk memeluknya. Kelak jika memiliki istri, akan kuminta supaya sering-sering memeluk Ibu, atas namaku.
Ibu, semoga selalu dilingkupi oleh kabar baik, sering menelepon hanya untuk menanyakan makan apa anaknya ini yang jauh dirantau, sering juga menerima telepon untuk mendengar bahwa anaknya sedang kekurangan uang, atau untuk mendengar berita bahwa anaknya sedang sakit demam. Dan seringnya dia hanya memberikan tawa yang menghibur, bahwa sekali-kali sakit sudah biasa dalam kehidupan ini, dan itu tidak akan berlangsung lama.
Ibu, semoga senantiasa diberi kesabaran dan ketabahan, dia yang tak pernah mengeluh ketika harus selama dua bulan lebih menunggu dan menjaga ayah di rumah sakit. Dia yang menjaga optimismenya untuk mengejar kesembuhan. Dia yang menemani ayah hingga saat-saat terakhir yang tak bisa dihindari.
Ibu, semoga airmata kesedihan tidak sering menetes jatuh di pipinya, hampir tidak pernah kulihat menangis. Dia yang hanya menangis saat keadaan benar-benar tidak tertanggungkan. Akhirnya tak ada yang berdaya untuk mencegah airmata itu jatuh di pipinya, karena itu airmata untuk ayah. Saat itu, betapa setiap anak akan berjanji dengan segala upaya untuk mencegah airmata kesedihan seperti itu jatuh lagi dari seorang ibu.
Ibu, semoga kelak bisa bertemu kembali dengan ayah di dalam surga, tidak mengatakan betapa dia kehilangan atau betapa dia merindukan. Tapi menunjukkan perpaduannya ketika menatap foto ayah atau saat mendadak terdiam dengan menekan perasaan yang membuncah.
Ibu, semoga senantiasa berada dalam damai dan cinta, selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya. Setiap kali kami merasa kalah, lelah dan butuh tempat mencari damai, ibu akan selalu menunggu di rumah, tempat dimana segala damai berasal, tempat dimana segala motivasi terkumpul.
Ibu, semoga selalu mendapati anak-anaknya menjadi orang-orang yang berbakti. Anak-anak yang mendengarkan nasehatnya, yang tidak akan menyia-nyiakannya pada masa tuanya, yang menggantungkan kebahagiaan pada kebahagiaannya, yang menyisihkan penghasilan untuknya, yang bersuara lembut dan santun ketika berbicara kepadanya.
Referensi:
Gambar, http://marcestrin.blogspot.com/2010/05/happy-mothers-day.html
December 21, 2011
by Tama (noreply@blogger.com) at December 21, 2011 07:18 AM
Premiere: 16 Desember 2011
Director: Guy Ritchie
Sherlock Holmes: Robert Downer Jr
Dr John Watson: Jude Law
Setelah sekian lama, akhirnya yang ditunggu datang juga. “Sherlock Holmes 2, A Game of Shadows”, sebuah film tentang tokoh ditektif terkenal di Inggris, yang ditulis oleh penulis terkenal Inggris Sir Arthur Conan Doyle dan difilmkan oleh sutradara inggris Guy Ritchie, serta tentunya didukung oleh pemeran film Inggris Jude Law. Akhirnya, kutonton juga film ini di Inggris.
Dengan harga tiket bioskop yang setelah mendapat diskon untuk pelajar jika di kurs rupiahkan, setaraf dengan 90 ribu, maka kubuat catatan dalam hati untuk tidak sering-sering menonton film di bioskop. Tentunya jika ingin menonton bioskop sekali saja selama tinggal di Inggris, film itu adalah film asli inggris ini, Sherlock Holmes.
Sementara Premiere di London berlangsung seru karena menghadirkan para bintang tenar di filmnya dalam berbagai wawancara, premiere di Leeds berlangsung biasa-biasa saja, tidak ada antrian sampai ke pintu keluar bioskop seperti yang biasa terjadi di Indonesia, juga tidak ada poster yang besar tempat untuk berfoto ria. Namun demikian, pada jum’at malam ini ternyata kursi cukup terisi penuh. Film pun dimulai, sialnya tidak ada subtitle, karena sudah sewajarnya ini film Inggris yang bebahasa Inggris dan ditayangkan di Inggris, sehingga mereka tidak perlu subtitle bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia.
Di sini Sherlock Holmes (Robert Downey Jr) harus berhadapan dengan musuh besar yang kecerdasannya setaraf dengannya yaitu Professor Moriaty (Jared Harris), yang dikisahkan adalah seorang Professor jurusan Matematika dari Cambridge University. Moriaty yang juga seorang pemilik pabrik senjata, ada dibalik berbagai kejahatan yang bertujuan memicu terjadinya perang dunia pertama, demi meraih keuntungan besar dari penjualan senjatanya.
Cerita dimulai dengan keterlibatan Holmes, tokoh detektif swasta yang terkenal dengan analisis yang tajam, kecerdasan dan pengetahunnya untuk menggagalkan salah satu kejahatan yang berasal dari Moriaty. Irene Adler (Rachel McAdams), wanita yang merupakan pasangan sejati Holmes, yang ditugaskan untuk misi itu oleh Moriaty harus berakhir dengan meminum racun.
Perseteruan antara Holmes dengan Moriaty pun semakin memanas, Holmes menyelidiki kejahatan apa yang sedang direncanakan oleh Moriaty. Moriaty mengancam dan merencanakan pembunuhan terhadap Dr. Watson (Jude Law) pada saat dia berangkat untuk perjalanan bulan madunya. Kereta yang mereka naiki dibajak, bulan madu Watson beakhir dengan istri barunya Mary (Kelly Reilly) dilempar ke sungai oleh Holmes dari atas kereta ketika melewati sebuah jembatan.
Dengan berbagai adegan perkelahian, yang seringkali dimulai dengan berbagai reka awal dan analisa oleh Holmes, corak film ini masih seperti film “Sherlock Holmes” sebelumnya serta film-film seperti “Snatch” dan “Lock, Stock and Two Smoking Barrels” garapan Guy Ritchie sebelumnya, dengan plot yang berpindah-pindah dengan cepat.
Ceritanya memang menyimpang dari cerita Holmes yang di buku atau yang sebelumya diadaptasi ke dalam berbagai film seri, dengan menghadirkan lebih banyak aksi dibandingkan analisis dan penarikan kesimpulan ala Sherlock Holmes. Bisa dikatakan ini adalah Holmes interpretasi dari Guy Ritchie dkk. Interpretasi yang menurutku menarik, menyenangkan dan mengundang gelak tawa. Secara umum, konflik dan intriknya tidak terlalu rumit sebagaimana seharusnya cerita detektif, akting tokoh Gypsy Simza (Noomi Rapace) juga terasa kaku dan tidak wajar. Sangat disayangkan peran artis di film “The Girl with the Dragon Tattoo” ini yang mungkin dipilih untuk memperoleh ke-Eropaannya. Namun aksen Robert Downer Jr cukup bagus dan aksen British Jude Law tetap brilliant seperti biasanya, sehingga tanpa subtitle banyak kata-kata yang lewat dari ditangkap telinga. Secara umum, tentu saja film ini layak ditonton demi mendapat hiburan segar dan pintar.
December 20, 2011
by Okto Silaban at December 20, 2011 03:57 PM
Dulu saya mendapat informasi sepotong – sepotong soal kenapa ada Occupy Wallstreet (demo dimana – mana di Amerika), terus krisis keuangan di Amerika tahun 2008 silam (dan sekarang sepertinya terjadi lagi). Jadi kebanyakan nebak – nebak juga (dari hasil baca koran, nonton film dokumenter, dll). Nah animasi ini semakin memperjelas bagaimana semua proses itu terjadi.
Selamat menonton.
The Crisis of Credit Visualized – HD
[UPDATE]
Ada juga satu film full yang membahas tentang krisis ekonomi Amerika tahun 2008 tersebut, lebih detail lagi, lengkap dengan wawancara dengan pihak – pihak yang terlibat langsung. Saya tonton sekitar bulan Agustus lalu. Tadi malam mau nulis juga tapi lupa judulnya, baru inget lagi judulnya dari komentar di bawah : Inside Job. *terima kasih om Affan telah mengingatkan saya kembali
Di film Inside Job ini banyak istilah, nama – nama (perusahaan, orang), dan konsep yang mungkin tidak begitu populer di kalangan awam. Saya sendiri sempat mengulangi beberapa bagian untuk bisa mencernanya (dan sekarang pun lupa lagi) hahaha.. Animasi seperti di atas itu ada juga di film ini, tapi lebih detail seingat saya.
December 14, 2011
by Okto Silaban at December 14, 2011 06:14 PM
Jarang – jarang berita tentang Indonesia nyampe di halaman depan Reddit, kalaupun ada biasanya bukan bernuansa positif. Hari ini sepertinya begitu juga.

*klik gambar untuk masuk ke tautan di Reddit
December 13, 2011
by Okto Silaban at December 13, 2011 01:47 AM
Sebuah perusahaan bisa memiliki komputer yang baru, meja kerja yang baru, kursi yang ergonomis, atau malah kantor baru sekalian, ditambah aneka permainan digital yang mengasyikkan.
Tetapi jika kultur, kebiasaan organisasi dan manajemen yang berantakan -nya tetap saja berlangsung, percuma.
Tapi ya.., selama manajemen yang berantakan itu secara de-facto tetap menghasilkan pundi – pundi uang yang nilainya tidak sedikit, apa mau dikata. Pada dasarnya ini adalah bisnis, yang obyektif nya adalah di akhir tiap periode, saldo di rekening perusahaan harus makin bertambah.
December 12, 2011
by Tama (noreply@blogger.com) at December 12, 2011 05:54 PM
Beberapa waktu lalu, aku harus menghadap seorang koodinator disertasi untuk mendiskusikan topic disertasi dan calon pembimbing. Sampai di depan gedung jurusan, ternyata pintu sudah dikunci karena sudah pukul 5pm lewat. Setelah memencet bel, berharap orang di dalam gedung membukanya. Pintu lalu dibuka dari dalam oleh seorang pria muda yang tidak bisa melihat, tunanetra.
Dia menyapa, kukatakan padanya bahwa aku akan menemui Jeremy. “follow me”, Katanya kemudian, sambil mencari jalan dengan menggunakan tongkat. Maka ku ikuti langkah kakinya, dengan perasaan lucu bahwa orang yang bisa melihat dengan normal dituntun oleh orang yang tidak bisa melihat. Dunia terbalik, orang-orang bertukar peran, dengan menyenangkannya.
Setelah masuk lorong, belok kanan dan belok kiri, akhirnya dia menunjuk sebuah tangga dan menyuruhku naik dan mengetuk pintu di ujung tangga. Ku ucapkan terimakasih, lalu dia pergi. Kupikir mungkin dia salah satu karyawan di sini, atau mungkin salah seorang mahasiswa master tahun sebelumnya, atau mungkin mahasiswa program doctoral.
Dua minggu kemudian, aku harus kembali menghadap calon dosen pembimbing, saat berjalan keluar berpapasan lagi dengan orang itu. Kali ini ku sapa dia, dan kami berkenalan. Kami berbicara sebentar yang menimbulkan kesan bahwa dia sangat ramah. Namanya Bryan, ternyata dia adalah salah satu seorang staf peneliti dan pengajar di universitas. Selain mengajar beberapa mata kuliah tentang equity dan transport ekonomi, supervisor untuk mahasiswa master dan Doctoral, dia juga pembicara untuk berbagai seminar. Usia masih muda, mungkin tidak sampai sepuluh tahun di atasku. Kelihat fakta itu, aku pun terbengong-bengong, menatap takjub, sumringah.
Banyak orang-orang yang dilahirkan dengan sempurna, menjalani hidup dengan sempurna, tapi seringkali tak mau memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya, seringkali justru mengeluh pada hal-hal kecil. Ada juga orang yang dilahirkan dengan kekurangan tertentu, yang menyebabkan dia berputus asa akan berbagai kelebihan lainnya, yang lantas menyalahkan takdir buruk yang menimpa dan sering berharap belas kasihan dari orang lain, bisa dikatakan pandangannya negatif terhadap kehidupan.
Sosok Brian ini, adalah sedikit dari orang yang berhasil mengendalikan dirinya, menerima kekurangan yang ada dan berjuang dengan memanfaatkan kelebihan yang dia miliki untuk mencapai sukses, orang yang pandangannya positif terhadap hidup. Sosok yang mengagumkan, sosok yang kuhormati. Suatu saat nanti akan ku upload foto bersamanya disini.
Selain keberadaan dia yang istimewa, tentunya lingkungan tempat dia berada juga kondusif untuk mendukung kegiatannya, dimana orang-orang dengan kekurangan fisik tertentu memiliki akses untuk pendidikan dan pekerjaan yang setara dengan orang biasa, ruang-ruang yang accessible serta didukung oleh sarana dan prasarana lainnya. Prinsip kesetaraan untuk difabel sepertinya sudah sejak lama di aplikasikan oleh negara-negara maju, termasuk di universitas ini. Hal yang sudah “mulai akan” diperhatikan oleh Pemerintah negeriku, Indonesia Raya.
December 08, 2011
by Takodok! at December 08, 2011 11:21 PM
Makin bertambah umur, makin akrab dengan makna kehilangan. Bisa jadi karena orang dewasa lebih mengerti “kerugian” yang timbul akibat kehilangan daripada anak kecil. Kalau ditanya siapa orang yang paling tidak ingin kau lepaskan? Tentu jawaban pertama adalah keluarga; ayah, ibu, adik-adik. Kemudian ada teman dan pasangan yang senantiasa “merecoki” kehidupan sehari-hari kita. Ketika ditanya lebih jauh, siapa yang paliiiingggg tidak ingin kau lepaskan? Maka kebingungan mulai melanda. Apalagi ditambah embel-embel “tapi ternyata mereka pergi juga”.
Teman datang dan pergi. Kadang bukan karena mereka suka, tetapi karena jalan sudah tak bersisian lagi. Setamat sekolah yang satu melancong ke sana, yang lain melenting ke sana kemari. Hubungan tetap baik meski tidak seintensif sebelumnya. Tak apa. Yang penting tidak backstabbing berantem.
Pasangan, bila sudah tercapai masa kadaluarsanya, maka ia kemungkinan akan jadi lebih asing, sampai masa tertentu. Lalu kita akan mencapai titik pemahaman untuk tidak saling mengganggu teritori masing-masing. (lo kata gangster?!)
Maka hubungan yang tidak bisa ditiadakan adalah hubungan darah. Sejauh apapun hatimu dari keluarga, akan tetap ada “kewajiban-kewajiban” yang mengharuskanmu kembali pada mereka. Hanya takdir yang bisa memisahkan kalian.
Kedua nenek saya pergi ketika saya masih belum bisa jadi apa-apa. Sampai saat ini itulah salah dua penyesalan terbesar. Waktu bertindak kejam karena saya sering mengabaikannya. Nampaknya usaha terbesar manusia adalah berdamai dengan penyesalan-penyesalan yang ditimbulkan kebodohannya sendiri…